Yang Harus Dilakukan Ketika Pasien Menangis

Oleh :
dr. Felicia Sutarli

Pada praktik sehari-hari, tidak jarang kita menemukan pasien menangis. Sebuah studi di Spanyol melaporkan bahwa insidensi pasien menangis di tempat praktik mencapai 8,4 per 1000 pasien yang datang. Pada studi ini, alasan yang banyak menyebabkan pasien menangis adalah depresi, tinggal sendiri, masalah dengan pasangan, dan ansietas.[1,2]

Bagi beberapa dokter, berurusan dengan emosi pasien yang intens adalah suatu tanggung jawab yang berat. Pasien bisa saja frustrasi atau marah dan mengungkapkan emosisnya secara kuat kepada dokter. Hal lain yang bisa menyebabkan pasien menangis di ruang praktik adalah diagnosis penyakit ganas yang sifatnya terminal, masalah keluarga, kematian orang terdekat, penyakit kronis, trauma, rasa kesepian, dan kondisi sosial tertentu seperti kemiskinan.[1-3]

shutterstock_474673009-min

Sekilas Mengenai Fisiologi Menangis

Menangis adalah respons sekretomotor yang ditandai dengan adanya ekskresi air mata dari aparatus lakrimalis tanpa adanya iritasi pada struktur okular. Terkadang hal ini diikuti dengan respon otot-otot yang berperan dalam menunjukkan ekspresi wajah, vokalisasi, dan ekspresi terisak.[4–6] Neurotransmitter yang berperan dalam regulasi sekresi kelenjar lakrimalis adalah asetilkolin (neurotransmitter parasimpatis), serta norepinefrin dan neuropeptida (neurotransmitter simpatis). Aktivitas simpatis dan parasimpatis sama-sama meningkat saat akan menangis. Namun, persarafan parasimpatis meningkat lebih lama setelah awitan menangis, sedangkan simpatis berhenti setelah awitan. Setelah menangis, sistem parasimpatis berperan menghemat energi dan menurunkan denyut jantung untuk memberikan kesempatan recovery dan relaksasi.[6]

Pada saat menangis, air mata mengandung hormon stress (seperti adrenocorticotropic hormone) dan substansi lain yang diproduksi saat stress. Hal ini terjadi untuk membersihkan tubuh dari substansi tersebut, dan inilah sebabnya seseorang merasa lebih lega setelah menangis.[4,5]

Yang Selama Ini Sudah Dilakukan Dokter saat Melihat Pasiennya Menangis

Sebuah studi semikualitatif di Kroasia melibatkan 127 responden dokter umum yang mendapatkan pasien menangis pada praktik. Dalam studi ini, 83,5% responden adalah dokter dengan jenis kelamin perempuan. Dilaporkan respon dokter sebagai berikut:

  • Kebanyakan dokter membiarkan pasiennya menangis, karena menangis memiliki nilai terapeutik, sembari memberikan dukungan verbal dan nonverbal
  • Dokter membiarkan pasien mengekspresikan kesedihannya. Dokter menjadi pendengar untuk pasien
  • Mempertahankan kontak dengan pasien dengan mengatur waktu follow up. Ada pula yang meminta pasien menuliskan hal-hal yang dikhawatirkan, sehingga dapat didiskusikan kemudian
  • Ada pula dokter yang merasa canggung, sehingga tidak tahu harus berbuat apa dan mereka hanya menulis atau mengalihkan pembicaraan
  • Ada pula dokter yang acuh tak acuh pada pasien yang menangis, misalnya dengan berpura-pura mendengarkan pasien atau merasa bahwa tidak ada gunanya menangis di tempat praktik karena tidak akan mengubah apapun[3]

Yang Seharusnya Dilakukan Dokter saat Pasiennya Menangis

Pada saat menangis, pasien memerlukan dukungan emosional serta informasi dan pertolongan medis. Selain itu, pasien juga memerlukan teman dan keluarga sebagai support system, terutama jika dokter akan menyampaikan berita buruk atau kematian yang merupakan isu sensitif bagi pasien.[1,7]

Pendekatan yang dilakukan kepada pasien dalam keadaan ini tergantung dari kultur dan individu, sehingga setiap negara dan individu memiliki pendekatan yang berbeda. Salah satu metode yang cukup umum digunakan, terutama di bidang onkologi, adalah SPIKES. Metode ini terdiri dari 6 langkah yaitu:

  1. Setting up the interview: yaitu dengan memberikan privasi pada pasien, mempersilakan pasien duduk rileks, menanyakan apakah pasien perlu ditemani orang terdekat, menjaga koneksi (misalnya dengan menjaga kontak mata), dan mengurangi interupsi

  2. Persepsi pasien:  yaitu mencoba memahami persepsi pasien, misalnya dengan menanyakan apa saja yang sudah pasien ketahui tentang situasi atau kondisi medisnya
  3. Invitation: beberapa pasien ingin mengetahui selengkap mungkin mengenai detail penyakitnya, namun ada juga yang tidak. Tanyakan pada pasien apa dan bagaimana ia ingin informasi tersebut disampaikan

  4. Knowledge and information giving: memberi ancang-ancang pada pasien ketika akan menyampaikan kabar buruk bisa membantu mengurangi rasa syok yang mungkin dialami pasien. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti pasien dan kata-kata yang bersifat nonteknikal

  5. Emotions and empathic response: merespon emosi pasien adalah salah satu hal yang tersulit. Dalam praktik, pasien bisa saja mengekspresikan kesedihannya dengan penolakan, marah, atau menangis tersedu. Identifikasi emosi pasien dan berikan respon yang empatik

  6. Strategy and summary: sebelum melanjutkan pembicaraan medis dan klinis, pastikan bahwa pasien sudah siap untuk menjalani diskusi tersebut. Jika belum, pasien bisa diminta menenangkan diri terlebih dulu dan kembali lain waktu untuk membicarakan langkah terapeutik yang akan diambil

Dalam sebuah artikel, dr. Gyawali B berpendapat bahwa metode SPIKES kurang bisa digunakan di negara-negara berkembang dengan penghasilan menengah ke bawah. Salah satunya karena tidak semua dokter bisa menyediakan ruangan dengan privasi yang cukup bagi pasien, sehingga metode SPIKES sudah sulit diaplikasikan bahkan dari langkah pertama.[7,8]

Jika dokter merasa metode SPIKES kurang bisa diterapkan dalam setting klinisnya, beberapa hal sederhana berikut dapat dilakukan untuk menghadapi pasien yang menangis saat kunjungan:

  • Perlu diketahui berbagai tipe menangis, misalnya menangis karena cemas, kesedihan, atau nyeri. Pada saat pasien menangis, biarkan mereka menangis, sambil memberikan sesuatu yang membuat mereka merasa lebih nyaman, seperti selimut yang hangat, minuman, sambil mendorong mereka untuk menangis
  • Hindari mengatakan bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih baik pada akhirnya, ganti dengan “Saya ada di sini untuk anda, mendengarkan anda, saya tahu apa yang anda rasakan dan saya mengerti.” Beberapa pasien akan merasa tidak nyaman menangis di depan orang lain, hargai hal tersebut dan biarkan mereka menangis terlebih dahulu
  • Menawarkan dukungan saat pasien menangis sesungguhnya lebih berkaitan dengan memberi waktu untuk menemani mereka dan menunjukkan empati. Kedekatan emosional dan fisik berperan penting dalam hal ini, tetapi tidak selalu pantas dilakukan, misalnya pada pasien lawan jenis. Bila perlu, kontak fisik dapat dilakukan dengan memegang tangan pasien erat, atau berikan pelukan yang ringan, berikan sentuhan, dan memijat mereka. Apabila kontak fisik dirasa tidak pantas dilakukan, dokter bisa duduk di samping pasien, menawarkan tisu, menunggu pasien hingga tenang, dan secara perlahan mendekati pasien
  • Tunggu sampai pasien lebih tenang, kemudian lakukan percakapan yang dapat membuat pasien lebih bersemangat dan menenangkan. Pasien tidak dapat berbicara banyak pada saat mereka menangis. Percakapan dapat diawali dengan menanyakan hal yang membuat pasien menangis dan menanyakan pertanyaan terbuka. Kadang percakapan dapat terjadi lebih baik apabila keluarga terdekat pasien tidak ada di tempat tersebut, karena pasien terkadang merasa harus terlihat lebih kuat
  • Berikan pasien kesempatan untuk mengungkapkan emosinya dan fasilitasi pasien untuk mengekspresikan masalah yang dihadapi
  • Lakukan evaluasi dan sebisa mungkin mempertahankan kontak dengan pasien, misalnya dengan menjadwalkan follow up[1,2,3,8]

Cara Menyampaikan Kabar Buruk

Pada saat menyampaikan kabar buruk mengenai sesuatu (misalnya penyakit terminal), yang terpenting adalah memastikan pasien menyadari bahwa dokter peduli kepada mereka. Pasien dapat diingatkan untuk selalu kuat demi keluarga dan orang terdekatnya.[7]

Dalam menyampaikan berita yang sifatnya emosional, seorang klinisi harus dapat mempersiapkan dirinya sendiri. Untuk memudahkan, hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti mnemonik “ABCDE”, yaitu:

  • A: Advance preparation

  • B: Building the therapeutic

  • C: Communicating well

  • D: Dealing with patient and family reaction

  • E: Encouraging or validating emotions[3,9]

A : Advance Preparation

Dokter harus familiar dengan berbagai informasi klinis. Idealnya, dokter harus menjelaskan kondisi klinis pasien sambil memegang hasil laboratorium atau hasil pemeriksaan pasien. Selain itu, dokter juga harus tau prognosis dan kemungkinan terapi yang akan diberikan kepada pasien.

Dokter juga harus mempersiapkan dirinya secara mental dan emosional untuk menyampaikan “kabar buruk” tersebut. Apabila dokter memiliki pengalaman yang terbatas untuk hal tersebut, maka dokter dapat berdiskusi dengan koleganya.[9]

B : Building A Therapeutic Environment/Relationship

Dokter harus mengetahui apa dan seberapa banyak informasi yang ingin diketahui pasien. Selain itu, apabila pasien menghendaki, “kabar buruk” dapat diinformasikan bersama dengan anggota keluarga pasien. Sebelum memberikan informasi, dokter perlu memperkenalkan diri terlebih dahulu dan mengawali pemberian informasi dengan memberikan isyarat atau tanda yang halus sebelumnya, misalnya seperti “Maaf Bu/Pak,...”

Kontak fisik dapat dilakukan sebagai bentuk empati. Namun, hal ini juga perlu disesuaikan dengan latar belakang kebudayaan dan agama pasien.[9]

C : Communicate Well

Tanyakan kepada pasien atau keluarga apa yang mereka sudah ketahui dan apa yang ingin diketahui. Dokter harus menjelaskan kepada pasien tanpa menggunakan bahasa atau istilah kedokteran yang sulit dimengerti. Biarkan pasien menangis, sambil memberikan perhatian kepada pasien.

Pasien yang baru menerima kabar buruk biasanya tidak menangkap seluruh isi penjelasan. Pada keadaan ini, penjelasan diberikan dengan lebih sederhana sambil mengacu kata kunci tertentu. Gunakan sketsa atau diagram untuk membantu menjelaskan. Buat kesimpulan untuk setiap pertemuan dan rencana untuk follow up.[9]

D : Deal with Patient and Family Reactions

Lakukan penilaian reaksi emosional dan respon pasien dan keluarga. Dokter harus berhati-hati terhadap cognitive coping strategies pasien yang terdiri dari denial, blame, intellectualization, disbelief, dan acceptance. Pada setiap pertemuan, dokter juga harus memantau status emosional pasien dan menilai adanya keputusasaan atau ide bunuh diri. Dokter harus berempati kepada pasiennya. Apabila dilakukan rujukan, hindari untuk berargumen atau mengkritik sejawat.[9]

E : Encourage and Validate Emotions

Sesuai dengan keadaan klinis pasien, berikan harapan yang realistis kepada pasien. Apabila memang penyakit pasien tidak dapat disembuhkan, maka berikan semangat kepada pasien serta informasi mengenai pilihan terapi yang dapat diberikan yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup.[9]

Kesimpulan

Pada praktik, tidak jarang ditemukan pasien yang menangis karena hal-hal tertentu, seperti diagnosis mengenai penyakit terminal, masalah keluarga, kematian orang terdekat, serta penyakit kronis. Selain memberikan informasi klinis mengenai gambaran penyakit, prognosis dan terapi sesuai dengan keadaan klinis pasien, dokter juga harus memiliki rasa empati kepada pasien. Pasien perlu mengetahui bahwa dokter sebagai individu yang menangani pasien peduli kepadanya.

Apabila pasien menangis, pertama biarkan pasien menangis dan mengungkapkan perasaannya. Dokter dapat menunjukkan empati dengan memberi kontak fisik yang sesuai norma dan budaya, atau memberikan perhatian, misalnya dengan kontak mata, duduk di samping pasien, atau memberikan tisu.

Percakapan dengan pasien dilakukan saat pasien tenang dan diperkirakan dapat menerima informasi klinis yang diberikan. Pada penyakit terminal dimana harapan hidup lebih kecil, pasien juga perlu tahu tentang terapi paliatif. Prognosis yang dijelaskan kepada pasien harus sesuai dengan keadaan klinis. Dokter harus mempertahankan kontak dengan pasien dengan cara menjadwalkan follow up selanjutnya. Selain untuk memantau klinis pasien, dokter juga harus memantau kondisi emosional pasien.

Referensi