Peran Dokter dalam Edukasi Keamanan Berkendara Mobil untuk Ibu Hamil dan Anak

Oleh :
dr. Apri Haryono Hafid

Dokter memiliki peran dalam edukasi keamanan berkendara mobil, baik untuk ibu hamil maupun anak. Tips aman berkendara untuk ibu hamil dan anak harus diedukasikan kepada masyarakat agar angka morbiditas dan mortalitas maternal dan anak akibat kecelakaan dapat diturunkan. Materi edukasi keamanan berkendara mobil untuk ibu hamil dan anak yang dapat disampaikan oleh dokter meliputi bahaya berkendara mobil tanpa sabuk pengaman pada ibu hamil, serta cara penggunaannya yang aman. Demikian juga dengan  bahaya berkendara mobil tanpa car seat untuk anak, serta cara penggunaannya yang aman. Car seat terdiri dari kursi untuk neonatus, bayi atau anak. Pemberian edukasi dapat dilakukan melalui berbagai cara yang menarik sehingga dapat meningkatkan kepatuhan berkendara mobil secara aman.[1-3]

Bahaya Berkendara Mobil tanpa Sabuk Pengaman pada Ibu Hamil

Kecelakaan berkendara mobil selama kehamilan merupakan penyebab utama intrauterine fetal death (IUFD) akibat traumatik, dan penyebab kesakitan yang serius hingga kematian pada ibu hamil di Amerika Serikat. Laju kecelakaan pada ibu hamil setiap tahun sekitar 13 per 1.000 orang per tahun, dengan jumlah kasus kejadian kecelakaan berkendara mobil sekitar 92.500 ibu hamil setiap tahun.[1-3]

revisi berkendara

Di Indonesia, hingga saat ini belum ada data yang jelas mengenai jumlah kecelakaan mobil yang melibatkan ibu hamil secara khusus. Namun, berdasarkan data dari Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia Korps Lalu Lintas pada tahun 2013, jumlah kecelakaan mobil di Indonesia mencapai 21.304 kasus. [4]

Dari 382 ibu hamil yang berpartisipasi dalam penelitian Brown et al., sejumlah 359 ibu hamil (94%) menggunakan sabuk pengaman, sedangkan 23 ibu hamil (6%) tidak menggunakan sabuk pengaman selama berkendara ke klinik. Penelitian ini mendapatkan data dari hasil laporan melalui telepon. Sedangkan data dari New Mexico tahun 1997 menyebutkan sekitar 77% dari ibu hamil yang mengalami kecelakaan mobil tidak menggunakan sabuk pengaman.  Dan dari keseluruhan kematian maternal yang berhubungan dengan kecelakaan, tidak menggunakan sabuk pengaman. [1,5]

Masalah dan bahaya yang dapat terjadi pada ibu hamil yang mengalami kecelakaan mobil tanpa sabuk pengaman dapat berupa solusio atau abrupsio plasenta, laserasi atau ruptur uteri, dan cedera janin yang dapat menyebabkan persalinan preterm, berat bayi lahir rendah, bahkan kematian janin. Faktor lain yang berperan pada kejadian ruptur uteri di antaranya kecelakaan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi dan usia kehamilan trimester ketiga.[1,2,7,8]

Ibu hamil yang berkendara mobil tanpa sabuk pengaman memiliki risiko trauma abdominal dengan derajat yang lebih berat, membutuhkan operasi segera, dan rawat inap lebih lama. Risiko tersebut secara statistik berbeda bermakna dibandingkan dengan ibu hamil yang menggunakan sabuk pengaman, meskipun angka kejadian trauma abdominal tidak berbeda bermakna di antara kedua kelompok.[6]

Bahaya Berkendara Mobil Tanpa Car Seat

Kecelakaan mobil merupakan salah satu penyebab kematian anak yang cukup sering terjadi di Amerika Serikat. Pada tahun 2017, sejumlah 675 anak usia di bawah 12 tahun meninggal dan hampir 116.000 anak mengalami cedera akibat kecelakaan mobil, baik anak sebagai penumpang di bagian depan atau belakang mobil. Dari anak yang meninggal tersebut, sekitar 35% tidak terikat dengan sistem pengaman berkendara. Di Indonesia, hingga saat ini belum ada data mengenai jumlah kecelakaan yang terjadi pada anak yang tidak menggunakan sistem pengaman. [9,10]

Penggunaan sistem pengaman pada anak saat berkendara mobil meliputi penggunaan sabuk pengaman pada anak yang lebih besar, dan penggunaan car seat atau booster seat disertai sabuk pengaman pada anak yang lebih kecil. Hampir sekitar 40% anak yang ikut berkendara mobil dengan pengemudi tanpa sabuk pengaman, juga tidak terikat dengan sistem pengaman berkendara. Sehingga, penggunaan sistem pengaman berkendara oleh anak tergantung pada penggunaan sabuk pengaman oleh pengemudi.[9,11,12]

Berdasarkan data yang ada, penggunaan kursi khusus untuk bayi dan anak (car seat) dapat menurunkan risiko cedera sebanyak 71−82%, dan menurunkan risiko kematian sebanyak 28%, dibandingkan dengan hanya menggunakan sabuk pengaman tanpa tambahan car seat.[13,14]

Cara Penggunaan Sabuk Pengaman pada Ibu Hamil

Ibu hamil perlu menggunakan sabuk pengaman yang melingkari bahu (shoulder belt) dan pangkuan (lap belt) saat berkendara mobil. Perilaku ini merupakan perlindungan terbaik agar ibu hamil dan janin dapat selamat apabila terjadi kecelakaan mobil. Penggunaan sabuk pengaman pada ibu hamil memiliki cara yang berbeda. Di Indonesia, belum ada panduan khusus mengenai cara penggunaan sabuk pengaman pada ibu hamil.[15,16]

Beberapa ketentuan yang perlu diikuti saat menggunakan sabuk pengaman mobil untuk ibu hamil berdasarkan panduan di dunia, yaitu:

  • Sabuk pangkuan (lap belt) dikencangkan di bagian bawah perut, sehingga sesuai dan tepat melewati atas pinggul dan tulang panggul
  • Sabuk pangkuan tidak ditempatkan di atas atau di tengah perut
  • Sabuk bahu (shoulder belt) ditempatkan di dada, di antara kedua payudara, di atas bagian tengah tulang selangka, jauh dari leher,
  • Sabuk bahu tidak ditempatkan di bawah lengan atau di belakang punggung
  • Sabuk pengaman dipastikan tidak longgar[15,16]

Apabila mobil memiliki sistem kantung udara, ketentuan yang perlu diikuti adalah menjaga jarak sekitar ± 25 cm antara kemudi mobil dan dada. Apabila tidak dapat menjaga jarak karena bertambahnya volume perut dan usia kehamilan, maka memastikan kemiringan kemudi mobil ke arah tulang dada. Sistem kantung udara yang ada harus dipastikan dalam mode aktif. [15,16]

Kategori Car Seat yang Aman Digunakan Neonatus, Bayi, dan Anak

Kursi khusus bayi (baby car seat) sebaiknya dipersiapkan orang tua minimal 3 minggu sebelum waktu perkiraan persalinan. Orang tua seharusnya tidak diperbolehkan membawa bayi baru lahir dari rumah sakit jika di mobil tidak terpasang car seat. Perencanaan yang baik diharapkan dapat bermanfaat untuk memastikan kursi tersebut terpasang di dalam mobil secara benar, dan orang tua dapat mempelajari cara pemakaiannya secara tepat. Di Indonesia, belum ada panduan khusus mengenai kategori car seat yang aman untuk neonatus, bayi, dan anak. [11,15,17]

Anak sampai usia di bawah 13 tahun harus duduk di kursi belakang mobil, karena sistem kantung udara di kursi depan dapat menyebabkan cedera serius pada anak. American Academy of Pediatrics (AAP) memberikan lima rekomendasi berbasis bukti mengenai keamanan anak saat berkendara (child passenger safety), yaitu:

  • Bayi hingga anak usia 2 tahun harus menggunakan rear-facing car safety seat, atau kursi menghadap ke kaca belakang mobil, hingga mencapai berat atau tinggi maksimal yang diizinkan oleh produsen kursi pengaman
  • Anak usia 2 tahun atau lebih, yang telah melebihi batas berat atau tinggi untuk kursi menghadap ke belakang, harus menggunakan forward-facing car safety seat atau kursi menghadap ke kaca depan mobil, hingga mencapai berat atau tinggi maksimal yang diizinkan oleh produsen kursi pengaman
  • Anak usia 8‒12 tahun dengan tinggi ± 145 cm harus menggunakan belt-positioning booster seat, yaitu kursi khusus untuk menaikkan dan memposisikan tubuh anak agar sabuk pengaman mobil dapat terpasang dengan baik dan tepat
  • Seluruh anak yang sudah cukup besar harus dipastikan menggunakan sabuk pengaman mobil saja tanpa kursi tambahan secara optimal[11,15,17]

Selain itu, harus dipastikan apakah mobil memiliki sabuk pengaman dewasa dan sistem LATCH (Lower Anchors and Tethers for Children). Sistem LATCH adalah pengait dan pengikat khusus untuk menahan car seat pada kursi belakang mobil. Apabila mobil tidak memiliki sistem LATCH, maka car seat diikat menggunakan sabuk pengaman dewasa. Saat memilih dan hendak membeli car seat, harus dicoba untuk mengunci dan membuka sabuk pengaman, mengubah panjang tali sabuk pengaman, dan membaca label untuk mengetahui batas maksimal tinggi dan berat anak.[11,15,17]

shutterstock_1416930449

Gambar 1. Cara Mengikat Car Safety Seat

Peran Tenaga Medis dalam Meningkatkan Kesadaran untuk Berkendara Mobil Yang Aman

Seluruh tenaga medis, termasuk dokter, di fasilitas kesehatan harus dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berkendara mobil yang aman melalui edukasi kesehatan. Edukasi mengenai berkendara mobil yang aman bagi ibu hamil dan anak perlu diberikan agar dapat mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada ibu hamil, janin, atau anak saat terjadi kecelakaan lalu lintas. [18-20]

Berdasarkan rekomendasi American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG), seluruh ibu hamil sebaiknya mendapatkan konseling mengenai sabuk pengaman saat kunjungan prenatal. Akan tetapi, hanya sedikit ibu hamil yang mendapatkan konseling tersebut. Dari penelitian di Amerika Serikat, didapatkan bahwa prevalensi konseling prenatal yang dilaporkan mengenai penggunaan sabuk pengaman berkisar dari 38% di Arkansas, 59% di Washington State, dan 21% di California yang melaporkan bahwa mendapatkan informasi mengenai penggunaan sabuk pengaman yang tepat dari tenaga medisnya.[18-20]

Penelitian oleh Lam et al. di Hongkong menunjukkan hasil kepatuhan penggunaan sabuk pengaman menurun selama kehamilan, dan penurunannya seiring dengan penambahan usia kehamilan. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan mengenai penggunaan sabuk pengaman yang tidak adekuat, dan hanya sebagian yang mendapatkan informasi yang relevan.[18-20]

Edukasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui pemberian leaflet mengenai penggunaan sabuk pengaman yang tepat. Penelitian oleh Morikawa et al. menilai efektivitas pemberian leaflet tentang penggunaan sabuk pengaman pada ibu hamil. Hasil penelitian adalah proporsi ibu yang selalu menggunakan sabuk pengaman selama hamil pada kelompok intervensi (91,3%) secara bermakna lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (86,7%; p=0.0005). Sehingga pemberian leaflet dinilai efektif untuk meningkatkan kesadaran penggunaan sabuk pengaman secara konsisten selama kehamilan.[18-20]

Kesimpulan

Di Indonesia, hingga saat ini belum ada data dan panduan khusus mengenai keamanan berkendara mobil pada ibu hamil dan anak. Berdasarkan data penelitian yang ada di dunia, berkendara mobil tanpa sabuk pengaman pada ibu hamil dan tanpa car seat pada anak dapat menyebabkan cedera hingga kematian saat terjadi kecelakaan. Mengenakan sabuk pengaman lebih aman bagi ibu hamil daripada tidak memakainya. Dokter dan tenaga medis lain memiliki peran penting, salah satunya yaitu memberikan edukasi mengenai keamanan berkendara mobil, termasuk cara penggunaan sabuk pengaman pada ibu hamil, serta cara pemilihan dan pemakaian car seat untuk anak dengan mengikuti berbagai panduan yang ada di dunia.

 

Penulisan pertama: dr. Hunied Kautsar

Referensi