Pilihan Jenis Jarum untuk Pungsi Lumbar

Oleh dr. Hunied Kautsar

Terdapat dua pilihan jenis jarum suntik yang dapat digunakan untuk melakukan prosedur pungsi lumbar, yakni jarum atraumatik (pencil point) dan jarum traumatik/konvensional (cutting point). Perbedaan desain dari ujung jarum tersebut menjadi penting karena penelitian membuktikan bahwa perbedaan desain ujung jarum menjadi salah satu faktor risiko terjadinya komplikasi pasca prosedur pungsi lumbar.

Sumber: Brainhell, Wikimedia commons, 2006. Sumber: Brainhell, Wikimedia commons, 2006.

Postdural-Puncture Headache

Postdural-puncture headache adalah komplikasi yang paling sering terjadi setelah prosedur pungsi lumbar. Sakit kepala dikatakan sebagai postdural-puncture headache jika terjadi dalam kurun waktu 5 hari setelah prosedur pungsi lumbar dan semakin parah ketika berdiri atau duduk namun sakit kepala berkurang ketika posisi berbaring.[1] Postdural-puncture headache terjadi karena kebocoran cairan serebrospinal akibat dari defek pada jaringan dural. Defek pada jaringan dural terjadi karena penusukan jarum ke jaringan dural ketika prosedur pungsi lumbar.[2]

Faktor risiko postdural-puncture headache di antaranya adalah ukuran jarum, desain ujung jarum, orientasi bevel dan sudut penusukan jarum, posisi pasien, dan keahlian operator. Salah satu faktor yang paling signifikan adalah ukuran jarum. Semakin kecil ukuran jarum maka insiden terjadinya postdural-puncture headache semakin rendah.[3] Penggunaan jarum dengan ukuran 29G secara teori akan mengurangi komplikasi, namun jarum ini terlalu kecil. Jarum yang terlalu kecil akan meningkatkan risiko kegagalan anestesi spinal sehingga prosedur harus diulang beberapa kali. Pengulangan tersebut akan meningkatkan risiko terjadinya postdural-puncture headache.[4] Selain itu, terkadang cairan serebrospinal terlalu kental untuk dapat mengalir melalui jarum yang kecil.[5] Berdasarkan fakta tersebut, penggunaan jarum dengan ukuran kecil untuk menghindari komplikasi menjadi kurang tepat sehingga diperlukan alternatif lain yakni pemilihan desain ujung jarum.

Jarum Atraumatik vs. Jarum Traumatik (Konvensional)

Jarum traumatik (konvensional) memiliki cutting point yang lebih mudah menembus kulit dan ligamen. Pada ujung jarum, terdapat lubang untuk memfasilitasi aliran cairan serebrospinal atau injeksi cairan anestesi. Sedangkan jarum atraumatik memiliki pencil point yang tumpul serta lubang pada bagian lateral untuk injeksi cairan anestesi atau pengambilan cairan serebrospinal. Berdasarkan teori, jarum atraumatik akan merenggangkan serat-serat dural selama prosedur berlangsung sehingga ketika jarum tersebut dicabut serat-serat dural dapat kembali ke posisi semula secara perlahan, sedangkan jarum traumatik yang memiliki cutting point akan merobek dan menyebabkan jejas pada pada jaringan dural. Hal ini didukung oleh hasil penelitian post-mortem yang menunjukkan bahwa penggunaan jarum traumatik menyebabkan laserasi iregular yang berpotensi meningkatkan risiko kebocoran cairan serebrospinal sehingga pasien kelak mengalami postdural-puncture headache.[6]

Uji kontrol terkendali diadakan untuk melihat efek penggunaan jenis jarum yang berbeda pada prosedur pungsi lumbar. Jarum yang digunakan adalah jarum atraumatik (Sprotte) dan jarum traumatik (Quincke). Kriteria inklusi adalah pasien berusia di atas 14 tahun yang dijadwalkan untuk menjalani prosedur diagnostik maupun terapeutik pungsi lumbar. Pasien secara acak dibagi ke dalam dua kelompok yakni kelompok yang menggunakan jarum atraumatik dan kelompok yang menggunakan jarum traumatik untuk prosedur pungsi lumbar. Untuk melihat efek dari penggunaan jenis jarum yang berbeda, pasien dalam penelitian ini diwawancara pada hari ke-2 dan ke-7 pasca prosedur pungsi lumbar mengenai gejala postdural-puncture headache. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa insidensi postdural-puncture headache pada kelompok yang menggunakan jarum atraumatik sebesar 8,51%. Angka ini lebih rendah secara signifikan jika dibandingkan dengan insidensi postdural-puncture headache pada kelompok yang menggunakan jarum traumatik, yakni sebesar 22,43%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan jarum atraumatik efektif untuk mencegah terjadinya postdural-puncture headache.[7]

Penelitian pada Anak-anak

Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh penelitian lain yang melibatkan 414 pasien anak-anak usia 2-17 tahun yang menjalani operasi dengan prosedur anestesi spinal. Jarum yang digunakan dalam penelitian ini adalah jarum atraumatik 27G (Pencan) dan jarum traumatik 26G (Atraucan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua jenis jarum memiliki first-atttempt succes rate yang hampir sama yakni 91% pada kelompok jarum atraumatik dan 87% pada kelompok jarum traumatik. Insidensi postdural-puncture headache pada kelompok jarum atraumatik lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok jarum traumatik, yakni 0,4% dibandingkan dengan 4,5%. Kedua jenis jarum mengakibatkan nyeri punggung yang sama. Tidak ada gejala neurologik yang parah pada kedua kelompok pasien. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan jarum atraumatik 27G (Pencan) dapat mengurangi risiko terjadinya postdural-puncture headache pada pasien pediatri.[8]

Meta Analisis

Sebuah studi meta analisis diadakan untuk memperkuat rekomendasi penggunaan jarum atraumatik dalam prosedur pungsi lumbar. Studi meta analisis ini melibatkan 110 uji kontrol terkendali yang diadakan dari tahun 1989 sampai 2017 dengan total 31.412 partisipan. Dari studi meta analisis ini ditemukan bahwa insidensi postdural-puncture headache lebih rendah secara signifikan pada kelompok yang menggunakan jarum atraumatik yakni 4,2% dibandingkan dengan kelompok jarum traumatik yang memiliki insidensi postudral-puncture headache sebesar 11,0%. Jarum atraumatik juga diasosiasikan dengan penurunan kebutuhan cairan intravena atau analgesik terkontrol, kebutuhan epidural blood patch, insidensi sakit kepala ringan maupun berat, iritasi syaraf, dan gangguan pendengaran. Tingkat keberhasilan prosedur dari kedua jenis jarum tidak menunjukkan perbedaan. Hasil studi meta analisis ini masuk dalam kategori high quality evidence setelah diuji dengan menggunakan grading of recommendations assessment, development, and evaluation (GRADE).[9]

Kesimpulan

Penggunaan jarum atraumatik memiliki efektivitas yang sama dengan jarum traumatik dalam prosedur pungsi lumbar. Jarum atraumatik terbukti dapat menurunkan risiko terjadinya postdural-puncture headache dan mengurangi kebutuhan pasien kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan terapi tambahan yang disebabkan oleh komplikasi pasca pungsi lumbar.

Referensi