Membedakan Meningitis Viral dan Bakterial Akut Menggunakan Kadar Laktat Cairan Serebrospinal

Oleh dr. Audric Albertus

Penggunaan kadar laktat pada cairan serebrospinal sebagai alat diagnosis untuk membedakan meningitis viral dan bakterial sudah dilaporkan pada beberapa studi. Akan tetapi, terdapat studi lainnya yang berpendapat bahwa peningkatan kadar laktat merupakan penemuan yang bersifat nonspesifik dan tidak dapat digunakan sebagai alat diagnostik.

Meningitis masih menjadi masalah yang serius pada masyarakat. Setiap tahunnya, terdapat sekitar 1,2 juta kasus meningitis bakterial di seluruh dunia. Pada Asia Tenggara sendiri telah dilaporkan tingkat mortalitas 8%. Selain itu, komplikasi defisit neurologis dan gangguan kognitif sering kali dialami pasien meningitis. Oleh karena itu, klinisi harus dapat menentukan etiologi meningitis dalam waktu yang sesingkat mungkin untuk dapat melakukan terapi yang tepat pada pasien. Deteksi dini  meningitis bakterial sangat penting supaya antibiotik bisa segera diberikan serta untuk profilaksis kontak.

Depositphotos_104910360_m-2015_compressed

Sampai sekarang, klinisi masih sulit dalam membedakan antara meningitis viral dan bakterial. Pemeriksaan kadar laktat cairan serebrospinal (CSS) merupakan marker yang dipercayai dapat menjadi alat diagnosis untuk membedakan bakterial dengan viral. Akan tetapi, spesifisitas dan sensitivitas dari pemeriksaan ini masih dipertanyakan pada beberapa studi. [1-3]

Membedakan Meningitis Viral dan Bakterial

Dalam membedakan meningitis viral dan bakterial biasanya membutuhkan pungsi lumbal untuk menganalisa cairan serebrospinal pasien. Pemeriksaan karakteristik CSS selama ini merupakan baku emas untuk mendiagnosis meningitis. Setiap etiologi memiliki karakteristik CSS yang berbeda-beda. Meningitis karena bakteri biasanya memiliki peningkatan protein (> 1 g/L) dengan penurunan kadar glukosa. Selain itu, peningkatan opening pressure dan konsentrasi sel darah putih yang disertai penampakan cairan CSS purulen dan keruh dengan predominasi sel neutrofil juga merupakan ciri khas meningitis bakterial. Berbeda dengan meningitis viral, dimana biasanya memiliki kadar glukosa CSS normal atau menurun dengan kadar protein yang hanya sedikit meningkat (0,5 – 1 g/L). Penampakan CSS pasien meningitis viral juga biasanya jernih dengan opening pressure yang normal dengan predominan sel limfosit. [4,5]

Perbedaan karakteristik CSS ini pada umumnya dapat membantu klinisi dalam menentukan etiologi virus atau bakteri pada pasien meningitis. Akan tetapi, pada beberapa pasien meningitis bakterial terkadang memiliki karakteristik yang tidak pada umumnya. Pada pasien yang memiliki manifestasi CSS atipikal ini memiliki karakteristik glukosa CSS yang meningkat dengan predominansi monosit. Hal ini dapat membuat klinisi salah menentukan etiologi yang menyebabkan kesalahan terapi pada pasien. Selain itu, kadar glukosa CSS sering kali dipengaruhi oleh konsentrasi glukosa serum sehingga terkadang memiliki hasil yang tidak akurat. Pemeriksaan kadar laktat CSS sudah dilaporkan memiliki keuntungan dibandingkan dengan kadar glukosa CSS. Hasil pemeriksaan kadar laktat CSS dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis pada pasien dengan manifestasi CSS atipikal.[6,7]

Laktat Cairan Serebrospinal

Pemeriksaan laktat CSS merupakan pemeriksaan yang relatif murah dengan hasil pemeriksaan yang tergolong cepat. Penggunaan parameter kadar laktat pada CSS sampai sekarang masih diteliti penggunaannya. Nilai referensi normal parameter ini berbeda-beda pada setiap fasilitas, akan tetapi terdapat studi yang melaporkan dalam rentang 1,0 – 2,2 mmol/L. Peningkatan kadar laktat CSS telah dihubungkan dengan adanya kondisi kekurangan oksigen pada otak. Kondisi gangguan sawar darah otak, disfungsi mitokondrial neuron, dan peningkatan katekolamin juga dihipotesiskan dapat meningkatkan kadar laktat CSS.  Meningitis bakterial merupakan salah satu penyebab yang paling sering dihubungkan dengan peningkatan kadar laktat pada CSS. Penyebab lainnya, seperti kerusakan perdarahan subaraknoid, trauma kepala, dan hypoxic cerebral injury juga sudah dilaporkan memiliki peran dalam peningkatan laktat pada CSS. [8-10]

Kadar Laktat pada Meningitis Viral dan Bakterial

Perbedaan kadar laktat CSS pada meningitis viral dan bakterial telah ditemukan pada beberapa studi. Sebuah studi kohort terbaru pada 176 pasien dewasa dengan neuroinfeksi menemukan bahwa terdapat perbedaan hasil laktat CSS pada meningitis viral dan bakterial. Kadar laktat CSS ditemukan lebih tinggi pada meningitis bakterial dibandingkan dengan viral (11,2 vs 2,3 mmol/L). Studi Abro AH et al. juga menunjukkan hasil kadar laktat CSS pada pasien dengan etiologi bakterial jauh lebih besar dibandingkan viral (14,96 vs 2,38 mmol/L). Hasil ini juga didukung oleh dua studi meta analisis yang menunjukkan hal yang sama.[7,11-13] Berdasarkan penemuan ini, maka pengukuran kadar LCS ini dipikirkan dapat menjadi alat diagnosis meningitis bakterial.

Studi meta analisis menunjukkan bahwa kadar laktat CSS dapat digunakan untuk membedakan etiologi bakterial dan viral pada pasien meningitis. Pemeriksaan kadar laktat CSS ditemukan memiliki sensitivitas 93% dan spesifisitas 96% pada studi ini. Penggunaan antibiotik juga ditemukan tidak mempengaruhi akurasi klinis dari pemeriksaan ini. Ambang batas kadar laktat CSS sebesar 35 mg/dl ditemukan memiliki sensitivitas dan spesifisitas tertinggi dan dapat digunakan untuk membedakan antara meningitis bakterial dan viral. Sebuah studi kohort juga menunjukkan hal yang sama, dimana kadar laktat CSS ditemukan memiliki nilai diagnostik yang lebih baik dibandingkan karakteristik CSS lainnya, seperti rasio glukosa, protein, dan leukosit. Ambang batas kadar laktat CSS dalam membedakan etiologi virus dan bakterial yang ditemukan pada studi ini sedikit berbeda, dimana ditemukan sebesar 3,5 mmol/L dengan sensitivitas 96% dan spesifisitas 85%. Beberapa studi lainnya juga telah menunjukkan hasil uji diagnosis dengan ambang batas dan tingkat akurasi yang serupa.[3,7,11,14] Pemeriksaan ini juga ditemukan dapat membedakan meningitis bakterial pasca operasi saraf dan meningitis viral, dengan ambang batas kadar laktat 4 mmol/L. Kadar laktat CSS ditemukan tidak ada perbedaan pada pasien dengan hasil CSS gram positif maupun negatif. Selain sebagai diagnostik, kadar laktat CSS juga ditemukan dapat digunakan sebagai alat prognosis, di mana prognosis baik biasanya ditemukan berhubungan dengan penurunan kadar laktat. [15,16]

Rekomendasi Pemeriksaan Kadar Laktat CSS

Pemeriksaan kadar laktat CSS pada pasien meningitis juga telah direkomendasikan pada beberapa panduan. Pada panduan konsensus Inggris, merekomendasikan untuk menganalisis pemeriksaan laktat CSS dalam menentukan manajemen pada pasien meningitis. Selain itu, panduan European Society for Clinical Microbiology and Infectious Disease (ESCMID) juga menyatakan bahwa pemeriksaan kadar laktat CSS memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang baik dalam perannya membedakan meningitis viral dan bakterial. Akan tetapi, panduan ini masih tidak menyarankan pemeriksaan ini pada pasien yang telah menerima antibiotik atau adanya penyakit sistem saraf pusat lainnya. [17,18]

Kesimpulan

Pemeriksaan CSS merupakan pemeriksaan yang murah, cepat, dan dapat dilakukan langsung di sebelah ranjang pasien. Peningkatan kadar laktat CSS pada pasien meningitis bakterial ditemukan berbeda signifikan dengan meningitis viral. Studi menunjukkan bahwa pengukuran kadar laktat CSS dapat membedakan etiologi bakterial dan viral pada pasien meningitis sehingga bermanfaat untuk menegakkan diagnosis pada hasil pemeriksaan CSS yang atipikal. Akan tetapi, peningkatan kadar laktat CSS juga dapat dipengaruhi oleh beberapa diagnosis lainnya, seperti riwayat operasi saraf dan penggunaan antibiotik. Studi dan rekomendasi penggunaan kadar laktat CSS pada pasien meningitis masih diperlukan lebih lanjut.

Referensi