Epidemiologi Obstructive Sleep Apnea
Data epidemiologi obstructive sleep apnea (OSA) menunjukkan bahwa penyakit ini memengaruhi sekitar 936 juta orang di seluruh dunia, dengan rentang usia 30 hingga 69 tahun.[10]
Global
Obstructive sleep apnea (OSA) adalah penyakit yang cukup sering ditemukan bukan hanya di negara maju, namun juga di negara-negara berkembang. Sebuah studi melaporkan bahwa OSA dialami oleh hampir 1 miliar orang di seluruh dunia, di mana OSA derajat sedang–berat dialami oleh 425 juta pasien dewasa berusia 30–69 tahun.[5,10,11]
Penelitian yang dilakukan di Eropa dan Amerika Serikat memperkirakan bahwa sebanyak 14-49% laki-laki paruh baya memiliki OSA. Selain itu, sebuah studi dari National Commision on Sleep Disorder Research memperkirakan sebanyak 7-18 juta orang mengalami OSA di Amerika Serikat.
Prevalensi kasus OSA lebih tinggi seiring pertambahan usia. Laki-laki juga lebih banyak mengalami kondisi ini dibandingkan perempuan. Obesitas dan faktor genetik juga telah dilaporkan memengaruhi peningkatan kejadian OSA.[5,7,12,13]
Indonesia
Data epidemiologi mengenai obstructive sleep apnea (OSA) di Indonesia masih sangat terbatas.
Mortalitas
Mortalitas dan morbiditas pada OSA terutama berkaitan dengan dampak hipoksia intermiten dan gangguan tidur berulang yang dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kardiometabolik dan neurologis. OSA yang tidak tertangani berhubungan dengan peningkatan morbiditas berupa hipertensi, atrial fibrilasi, gagal jantung, penyakit arteri koroner, dan stroke.
OSA juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja akibat kantuk di siang hari. Lebih lanjut, OSA berat juga meningkatkan risiko mortalitas secara bermakna. Meta-analisis menunjukkan bahwa OSA berat atau sedang-berat berkaitan dengan sekitar 2 kali lipat risiko mortalitas semua penyebab.[1,4,5,9]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha