Etiologi Syringoma
Etiologi syringoma belum diketahui secara pasti, tetapi diduga ada pengaruh ketidakseimbangan hormon karena sering muncul pada usia dewasa muda. Faktor lain seperti cedera, penyakit autoimun, atau paparan suhu ekstrem juga diduga berperan.[1,2]
Etiologi
Etiologi syringoma belum sepenuhnya dipahami, namun secara umum dianggap sebagai proliferasi jinak dari duktus kelenjar keringat ekrin akibat faktor genetik dan hormonal. Lesi ini sering muncul pada masa pubertas atau dewasa muda, menunjukkan kemungkinan peran hormon dalam patogenesisnya, dan lebih sering ditemukan pada perempuan.
Selain itu, terdapat hubungan syringoma dengan kondisi genetik tertentu seperti sindrom Down serta dapat muncul secara familial, sehingga mengindikasikan adanya predisposisi genetik. Beberapa kasus juga dikaitkan dengan kondisi seperti diabetes mellitus, meskipun hubungan kausalnya belum sepenuhnya jelas.[2-5,7-9,11,12]
Faktor Risiko
Ketidakseimbangan hormon diduga berperan karena syringoma sering muncul pada usia dewasa muda. Faktor lain seperti cedera, penyakit autoimun, atau paparan suhu ekstrem juga diduga memengaruhi munculnya syringoma.
Selain itu, syringoma diketahui terkait dengan diabetes melitus pada jenis tertentu. Ada juga kemungkinan faktor genetik karena beberapa kasus dalam keluarga menunjukkan pola pewarisan dominan autosom.[1]
Kelainan Genetik
Syringoma telah ditemukan berhubungan dengan beberapa sindrom sistemik, terutama sindrom Down, diabetes melitus, sindrom Marfan, dan sindrom Ehlers-Danlos. Dalam kasus yang sangat langka, syringoma dapat terkait dengan sindrom Brooke-Spiegler, yaitu penyakit autosomal dominan yang ditandai dengan munculnya multipel silindroma, trikoepitelioma, dan kadang-kadang spiradenoma.[2,4]
Syringoma juga telah ditemukan pada kasus sindrom Nicolau-Balus yang ditandai dengan milia dan atrophoderma vermiculatum, serta pada sindrom Costello yang ditandai dengan berbagai manifestasi kulit seperti hiperkeratosis, hiperpigmentasi, papilloma, dan lipatan telapak tangan dan kaki yang dalam. Dalam kasus yang jarang, syringoma dapat terkait dengan steatocystoma multiplex.[4]
Ras atau Etnis
Syringoma eruptif lebih sering ditemukan pada individu berkulit hitam dan Asia dibandingkan kelompok etnis lain.[4]
Sindrom Down
Pada sindroma Down, prevalensi syringoma dilaporkan sekitar 18-40%, biasanya berlokasi di area periorbita. Namun, kasus langka syringoma eruptif yang meluas dan terkait dengan sindrom Down juga pernah dilaporkan.
Syringoma pada pasien sindrom Down memiliki tingkat kalsifikasi yang lebih tinggi, yang dapat berkembang menjadi kalginosis kutis atau penimbunan kalsium di kulit.[4]
Diabetes
Beberapa kasus syringoma juga terkait dengan diabetes melitus. Gangguan metabolisme glukosa pada diabetes diduga dapat menyebabkan gambaran sel jernih (clear-cell) pada syringoma.[1,4]
Kondisi Medis Lain
Sebuah laporan kasus menggambarkan seorang pasien yang mengalami syringoma eruptif meluas setelah menjalani transplantasi hati, yang menunjukkan kemungkinan peran obat imunosupresan dalam proses terjadinya penyakit ini.[4]