Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Etiologi Syringoma annisa-meidina 2026-06-10T15:40:24+07:00 2026-06-10T15:40:24+07:00
Syringoma
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Etiologi Syringoma

Oleh :
dr. Siti Solichatul Makkiyyah
Share To Social Media:

Etiologi syringoma belum diketahui secara pasti, tetapi diduga ada pengaruh ketidakseimbangan hormon karena sering muncul pada usia dewasa muda. Faktor lain seperti cedera, penyakit autoimun, atau paparan suhu ekstrem juga diduga berperan.[1,2]

Etiologi

Etiologi syringoma belum sepenuhnya dipahami, namun secara umum dianggap sebagai proliferasi jinak dari duktus kelenjar keringat ekrin akibat faktor genetik dan hormonal. Lesi ini sering muncul pada masa pubertas atau dewasa muda, menunjukkan kemungkinan peran hormon dalam patogenesisnya, dan lebih sering ditemukan pada perempuan.

Selain itu, terdapat hubungan syringoma dengan kondisi genetik tertentu seperti sindrom Down serta dapat muncul secara familial, sehingga mengindikasikan adanya predisposisi genetik. Beberapa kasus juga dikaitkan dengan kondisi seperti diabetes mellitus, meskipun hubungan kausalnya belum sepenuhnya jelas.[2-5,7-9,11,12]

Faktor Risiko

Ketidakseimbangan hormon diduga berperan karena syringoma sering muncul pada usia dewasa muda. Faktor lain seperti cedera, penyakit autoimun, atau paparan suhu ekstrem juga diduga memengaruhi munculnya syringoma.

Selain itu, syringoma diketahui terkait dengan diabetes melitus pada jenis tertentu. Ada juga kemungkinan faktor genetik karena beberapa kasus dalam keluarga menunjukkan pola pewarisan dominan autosom.[1]

Kelainan Genetik

Syringoma telah ditemukan berhubungan dengan beberapa sindrom sistemik, terutama sindrom Down, diabetes melitus, sindrom Marfan, dan sindrom Ehlers-Danlos. Dalam kasus yang sangat langka, syringoma dapat terkait dengan sindrom Brooke-Spiegler, yaitu penyakit autosomal dominan yang ditandai dengan munculnya multipel silindroma, trikoepitelioma, dan kadang-kadang spiradenoma.[2,4]

Syringoma juga telah ditemukan pada kasus sindrom Nicolau-Balus yang ditandai dengan milia dan atrophoderma vermiculatum, serta pada sindrom Costello yang ditandai dengan berbagai manifestasi kulit seperti hiperkeratosis, hiperpigmentasi, papilloma, dan lipatan telapak tangan dan kaki yang dalam. Dalam kasus yang jarang, syringoma dapat terkait dengan steatocystoma multiplex.[4]

Ras atau Etnis

Syringoma eruptif lebih sering ditemukan pada individu berkulit hitam dan Asia dibandingkan kelompok etnis lain.[4]

Sindrom Down

Pada sindroma Down, prevalensi syringoma dilaporkan sekitar 18-40%, biasanya berlokasi di area periorbita. Namun, kasus langka syringoma eruptif yang meluas dan terkait dengan sindrom Down juga pernah dilaporkan.

Syringoma pada pasien sindrom Down memiliki tingkat kalsifikasi yang lebih tinggi, yang dapat berkembang menjadi kalginosis kutis atau penimbunan kalsium di kulit.[4]

Diabetes

Beberapa kasus syringoma juga terkait dengan diabetes melitus. Gangguan metabolisme glukosa pada diabetes diduga dapat menyebabkan gambaran sel jernih (clear-cell) pada syringoma.[1,4]

Kondisi Medis Lain

Sebuah laporan kasus menggambarkan seorang pasien yang mengalami syringoma eruptif meluas setelah menjalani transplantasi hati, yang menunjukkan kemungkinan peran obat imunosupresan dalam proses terjadinya penyakit ini.[4]

Referensi

1. Geist R., Crane JS. Syringoma. StatPearls Publishing. 2024. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK603740/
2. Płachta I., Kleibert M., Czarnecka AM., et al. Current diagnosis and treatment options for cutaneous adnexal neoplasms with apocrine and eccrine differentiation. International Journal of Molecular Sciences. MDPI AG; 2021. DOI:10.3390/ijms22105077
3. Deo PN., Pawar SR., Karandikar M., Deshmukh RS. Syringoma – a rare tumour: Case report and review of literature. Journal of Oral and Maxillofacial Pathology. Wolters Kluwer Medknow Publications; 2023; 27(4): 768–771. DOI:10.4103/jomfp.jomfp_415_23
4. Shea CR., Elston DM. Syringoma. Medscape. 2025. https://emedicine.medscape.com/article/1059871-overview
5. Kim TM., Cho S. Correlation of mast cell density and histopathological characteristics of syringoma: An immunohistochemical study. Indian Journal of Dermatology, Venereology and Leprology. Scientific Scholar; 2025; 91(6): 776–782. DOI:10.25259/IJDVL_1893_2024
7. Yahya H. Generalized Eruptive Syringoma in a Nigerian Woman: A Case Report and a Brief Literature Review. Nigerian Journal of Clinical Practice. Wolters Kluwer Medknow Publications; 2021. pp. 1252–1254. DOI:10.4103/njcp.njcp_438_19
8. Mohaghegh F., Amiri A., Fatemi Naeini F., Rajabi P., Soltan M. Acral Eruptive Syringoma: An Unusual Presentation with Misdiagnosis. Case Reports in Dermatological Medicine. Hindawi Limited; 2020; 2020. DOI:10.1155/2020/5416285
9. Yaldiz M., Cosansu C., Erdem MT., Dikicier BS., Kahyaoğlu Z. Familial eruptive syringoma. Hong Kong Medical Journal. Hong Kong Academy of Medicine Press; 2018. pp. 200–202. DOI:10.12809/hkmj144415
11. Eittidachachote T., Triyangkulsri K., Rutnin S., Suchonwanit P. Late-Onset Eruptive Clear Cell Syringoma: A Case Report and Literature Review. Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology . Dove Medical Press Ltd; 2024; 17: 2823–2828. DOI:10.2147/CCID.S497426
12. Lin LY., Lee NG., Yoon MK., Stagner AM. Clear Cell Syringoma of the Eyelids, a Distinctive Histopathologic Variant Associated with Diabetes Mellitus. Ophthalmic Plastic and Reconstructive Surgery. Wolters Kluwer Health; 1 January 2023; 39(1): E20–E22. DOI:10.1097/IOP.0000000000002254

Patofisiologi Syringoma
Epidemiologi Syringoma

Artikel Terkait

  • Terapi Laser pada Xanthelasma
    Terapi Laser pada Xanthelasma
  • Terapi Terkini Xanthelasma Palpebrarum
    Terapi Terkini Xanthelasma Palpebrarum
Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 22 Januari 2025, 07:12
Bintik pada Kelopak Mata Bertahun-Tahun
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo dokter. Saya memiliki pasien perempuan berusia 27 tahun datang ke klinik dengan keluhan ada bintik di kelopak mata tidak terasa nyeri, cukup banyak....
dr.Yusman Akbar
Dibalas 03 September 2019, 07:38
Apakah bintik di wajah ini Xanthelasma dan bagaimana terapinya
Oleh: dr.Yusman Akbar
14 Balasan
Ijin bertanya sejawat semua, apakah ini xhantelasma atau apa yaa, terapi obat apakah bisa atau kauterisasi? Terimakasih atas masukan sejawat semua

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.