Penanganan Hand Dermatitis pada Tenaga Kesehatan di Era Pandemi COVID-19

Oleh :
dr.SK Sulistyaningrum, Sp.KK

Tenaga Kesehatan harus secara rutin mencuci tangannya, terutama di era pandemi COVID-19. Oleh karena itu, prevalensi hand dermatitis pada tenaga kesehatan meningkat, baik akibat sering mencuci tangan dengan larutan antiseptik maupun akibat menggunakan dua lapis sarung tangan dan sarung tangan khusus.[1-3]

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Coronavirus disease-19 (COVID-19) yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 merupakan infeksi yang mengancam nyawa dan cepat menyebar. Walaupun transmisi utama melalui droplet, tetapi virus juga dapat menular melalui kontak dari benda dan permukaan yang terkontaminasi. Sehingga WHO merekomendasikan mencuci tangan sebagai salah satu upaya paling penting untuk memutus rantai penularan COVID-19.[1]

Occupational Contact Dermatitis dan Hand Dermatitis

Dermatitis kontak terkait pekerjaan (occupational contact dermatitis) sering terjadi pada tangan, atau disebut dengan hand dermatitis. Kondisi ini menyebabkan gangguan pada performa individu dalam bekerja. Pekerjaan yang memiliki risiko paling besar mengalami hand dermatitis adalah pekerjaan di bidang kebersihan, konstruksi, metal, kesehatan, rumah tangga, dan mekanik. Hand dermatitis pada tenaga kesehatan meningkat karena sawar kulit tangan mengalami kerusakan akibat frekuensi mencuci tangan dan durasi penggunaan sarung tangan[2-5]

The,Woman,Doctor,Sat,Using,Alcohol,Gel,To,Wash,Her

Patogenesis Hand Dermatitis

Mekanisme terjadinya hand dermatitis dapat akibat dermatitis kontak iritan maupun kontak alergi. Frekuensi mencuci tangan yang meningkat dan mencuci tangan menggunakan zat kimia dan fisika tertentu dapat menginduksi perubahan sawar epidermis kulit, seperti kelainan keratinosit, pelepasan sitokin proinflamasi, aktivasi sistem imunitas pada kulit, dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat.[9]

Hand hygiene dengan zat detergen maupun alkohol dapat mengemulsi/melarutkan lipid pada sawar kulit. Lipid yang hilang akan diikuti dengan denaturasi protein, sehingga sawar kulit menjadi lemah atau rusak. Sawar kulit yang lemah akan meningkatkan transepidermal water loss  (TEWL) dan penetrasi senyawa iritan/alergen melalui epidermis, yang kemudian menimbulkan respon inflamasi.[9]

Faktor Risiko Hand Dermatitis

Beberapa faktor predisposisi yang meningkatkan risiko hand dermatitis adalah tingginya frekuensi mencuci tangan dan rendahnya frekuensi penggunaan pelembab setelah mencuci tangan. Risiko hand dermatitis dilaporkan meningkat pada individu yang mencuci tangannya lebih dari 10 kali dalam sehari.[9,10]

Selain itu, faktor lain adalah genetik dan riwayat alergi sebelumnya, termasuk riwayat dermatitis atopik. Jenis kelamin perempuan, usia lebih muda, dan waktu kerja yang lebih lama juga dilaporkan sebagai faktor risiko hand dermatitis.[6,7,10,11]

Manifestasi Klinis Hand Dermatitis

Gejala yang paling sering dikeluhkan adalah kulit tangan terasa kering, diikuti dengan gatal, vesikel atau lesi melepuh, fisura, serta perdarahan. Area yang paling banyak ditemukan kelainan adalah punggung tangan (77%), dan area sela jari (75%). Tanda yang ditemukan pada area ini terutama kulit kemerahan. Area tangan lain yang lebih jarang mengalami hand dermatitis adalah telapak tangan, pergelangan tangan, jari, dan paling jarang adalah ujung jari.[12,15]

Senyawa Iritan atau Alergen Penyebab Hand Dermatitis

Beberapa senyawa yang dapat mengiritasi kulit adalah iodoform, detergen, alkohol, serta zat antiseptik seperti klorheksidin glukonat, chloroxylenol, dan triklosan. Derajat iritasi yang ditimbulkan bervariasi, tergantung pada konsentrasi senyawa, durasi kontak, dan sifat iritan.[5]

Kombinasi iritan kimia dan fisika, seperti misalnya deterjen dan air panas, dapat menyebabkan sitokin proinflamasi lebih tinggi oleh keratinosit. Reaksi iritasi kulit dapat timbul akut atau setelah sekali terpapar bahan kimia, biasanya akibat senyawa yang keras. Dapat juga timbul secara kronis akibat paparan kumulatif senyawa yang lemah, misalnya paparan sabun dan air yang berulang dalam jangka waktu lama.[5,9]

Tabel 1. Senyawa Alergen yang Banyak Ditemukan Dalam Produk Hand Hygiene

sponsor

Prevalensi Hand Dermatitis Meningkat di Era Pandemi COVID-19

Kebiasaan hand hygiene sebagai upaya pencegahan infeksi COVID-19 menyebabkan peningkatan prevalensi hand dermatitis, baik pada tenaga kesehatan maupun populasi umum. Sebelum pandemi, prevalensi hand dermatitis pada populasi umum dalam setahun adalah 10%, dan prevalensi sepanjang hidup adalah 15%. Selama pandemi angka tersebut meningkat, di mana prevalensi hand dermatitis pada populasi umum berdasarkan penelitian di Thailand mencapai 20,87%.[5,6]

Penelitian di China melaporkan 74,5% tenaga medis yang berada di garda terdepan COVID-19 mengalami hand dermatitis. Penelitian lain bahkan melaporkan 76,47% tenaga kesehatan mengalami hand dermatitis tipe iritan sejak dimulainya pandemi. Sedangkan survei di Amerika Serikat menunjukkan 55% perawat bagian rawat inap rumah sakit mengalami hand dermatitis.[3,7,8]

Sebagaimana dermatitis kontak pada umumnya, hand dermatitis pada tenaga kesehatan dapat terjadi akibat reaksi iritasi maupun alergi. Penelitian melaporkan bahwa 80% hand dermatitis yang ditemukan pada tenaga kesehatan berhubungan dengan bahan iritan, yaitu karena selalu mencuci tangan dengan desinfektan atau alkohol dan menggunakan sarung tangan secara rutin.[9]

Pencegahan Hand Dermatitis dengan Perawatan Sawar Kulit

Penelitian di Cina menunjukkan bahwa selama pandemi 66% tenaga kesehatan mencuci tangannya lebih dari 10 kali/hari, tetapi hanya 22,1% yang mengaplikasikan pelembab setelah mencuci tangan. Penelitian di Inggris juga melaporkan bahwa selama pandemic sebagian besar tenaga kesehatan lebih sering mencuci tangan, tetapi tidak menggunakan pelembab/emolien setelah mencuci tangan. Hal ini yang memicu peningkatan prevalensi hand dermatitis pada tenaga kesehatan selama pandemi. [6,7]

Mencuci Tangan dengan Sabun

Untuk mencegah terjadinya hand dermatitis, sawar kulit perlu dipertahankan dan diperbaiki. Cara mencuci tangan dengan sabun yang baik adalah:

  • Memilih sabun tipe ringan, dengan kandungan pH netral dan komposisi yang sesuai dengan kondisi kulit. Perlu diketahui bahwa sabun konvensional memiliki pH alkali/basa (pH 10,2) yang dapat menghilangkan minyak alami kulit.
  • Mengeringkan tangan dengan cara ditepuk-tepuk menggunakan handuk atau tisu kering dan bersih, jangan digosok keras.
  • Mengaplikasikan pelembab/emollient segera saat kulit masih terasa lembab. [9,11,12]

Mencuci Tangan dengan Hand Sanitizer

Hand sanitizer berbahan dasar alkohol direkomendasikan apabila air dan sabun tidak tersedia. Metode hand hygiene ini bermanfaat selama masa pandemi, karena lebih murah, mudah diaplikasikan, dan tetap efektif membunuh virus. Terdapat penelitian yang membuktikan bahwa hand sanitizer berbahan dasar alkohol dapat lebih banyak membunuh kuman daripada mencuci tangan dengan sabun antiseptik konvensional.[13,14]

Selain itu, hand sanitizer berbahan dasar alkohol dianggap lebih aman karena efek melarutkan lipid yang lebih kecil. Hand sanitizer yang mengandung pelembab juga dapat menurunkan risiko hand dermatitis. Oleh karena itu, penting untuk memilih komposisi produk hand sanitizer yang akan digunakan.[9]

Menggunakan Sarung Tangan

Sarung tangan dari bahan karet/lateks lebih sering menimbulkan reaksi alergi. Pilihan lain seperti sarung tangan vinil juga masih dilaporkan dapat menyebabkan reaksi alergi. Saat ini, sarung tangan yang disarankan adalah bahan nitril atau neoprene, karena lebih sedikit menimbulkan reaksi alergi dan tetap dapat melindungi tangan dari pajanan virus.[9]

Pada tenaga kesehatan yang harus menggunakan sarung tangan, hand hygiene yang direkomendasikan adalah senantiasa mencuci tangan dan menggunakan pelembab setiap sarung tangan dilepas. Selain itu, sarung tangan harus diganti secara rutin pada tangan yang kering. Untuk individu yang kulitnya kering dan sensitif, penggunaan kortikosteroid mungkin dibutuhkan untuk mengurangi gejala dan tanda inflamasi.[13]

Pelembab untuk Mencegah Hand Dermatitis

Pelembab digunakan untuk mengurangi kerutan halus, menghaluskan kulit, meningkatkan hidrasi, dan memperbaiki tampilan kulit. Baik pada kulit yang normal maupun kulit yang mengalami kelainan, penggunaan pelembab secara teratur sangat memberi manfaat. Termasuk pada kondisi hand dermatitis, pelembab dapat menjaga kelembaban kulit, membantu penyembuhan luka, serta memberikan efek anti-inflamasi.[18]

Secara umum, sediaan salep dianggap sebagai pelembab yang paling baik jika dibandingkan sediaan krim, losion, dan gel. Namun, salep hanya dianjurkan untuk kondisi xerosis dan eksim derajat berat. Salep lebih lengket sehingga terkadang tidak nyaman digunakan rutin sehari-hari.[13]

Bahan pelembab yang dapat dipilih untuk mempertahankan dan memperbaiki sawar kulit antara lain:

  • Oklusif (petrolatum dan beeswax), bekerja sebagai sawar fisika untuk menurunkan TEWL dan menahan konten air dalam stratum korneum
  • Humektan (urea dan gliserin), merupakan senyawa hidrofilik yang dapat menarik air dari dua sumber, yaitu dari dermis ke epidermis dan dari lingkungan luar ketika lembab
  • Emolien (ceramide dan asam lemak bebas), merupakan lipid dan minyak yang menambah membran lipid pada sawar kulit
  • Protein rejuvenator (keratin dan kolagen), merupakan protein dengan berat molekul kecil yang dapat menambah protein sawar kulit yang hilang saat mencuci tangan[18,19]

Pelembab merupakan salah satu bagian terpenting dari tata laksana hand dermatitis, karena hampir seluruh hand dermatitis mengalami gangguan sawar kulit. Tata laksana awal hand dermatitis biasanya bertujuan untuk mengontrol inflamasi, kemudian dilanjutkan dengan memperbaiki dan menjaga sawar kulit. Pada sebagian besar kasus, tata laksana dimulai dengan terapi simtomatik, yang diikuti dengan manajemen perawatan kulit sehari-hari termasuk penggunaan pelembab.[20]

Ceramide

Ceramide merupakan asam lemak bebas dan kolesterol yang membentuk lipid bilayer pada stratum korneum. Komponen ini penting untuk menjaga integritas sawar kulit. Lipid bilayer ini tidak hanya mencegah air dan elektrolit keluar dari kulit, tetapi juga mencegah masuknya senyawa kimia, alergen, dan patogen dari luar ke dalam kulit. Ceramide juga dilaporkan dapat menurunkan TEWL pada kulit.[21]

Penggunaan ceramide telah terbukti dapat meningkatkan hidrasi kulit dan fungsi sawar kulit secara signifikan. Spada et al melaporkan bahwa ceramide 1, ceramide 3, dan ceramide 6-2 yang terkandung dalam krim berperan dalam melembabkan kulit dan mengurangi TEWL bila dibandingkan dengan plasebo.[21]

Selain itu, ceramide dilaporkan tidak menimbulkan sensitisasi atau iritasi pada kulit. Ceramide telah banyak direkomendasikan untuk penanganan dermatitis atopik, hand dermatitis, dan xerosis pada lansia.[21]

Niacinamide

Niacinamide atau vitamin B3 merupakan senyawa hidrofilik endogen. Niacinamide dapat meningkatkan fungsi sawar kulit dengan dua cara, yaitu meningkatkan produksi ceramide dan lipid lainnya, serta menstimulasi diferensiasi keratinosit. Peningkatan sintesis ceramide dibuktikan melalui penelitian in vivo setelah emulsi niacinamide 2% diaplikasikan 2 kali/hari selama 4 minggu.[22,23]

Niacinamide juga dapat berperan sebagai antioksidan, sehingga dapat mengurangi hiperpigmentasi kulit, kerutan halus, dan kemerahan, serta dapat meningkatkan elastisitas kulit.[22-3]

Phytosphingosine

Phytosphingosine (PS) adalah lipid alami yang terdapat di stratum korneum, baik dalam bentuk bebasnya maupun sebagai bagian dari ceramide. Sebagaimana ceramide, PS berperan sebagai komponen lipid bilayer pada sawar kulit dan penjaga kelembaban kulit. Selain itu, PS dilaporkan memiliki efek antiinflamasi, antimikroba, dan menstimulasi diferensiasi epidermis.[24]

Minyak Biji Bunga Matahari dan Canola

Emolien bekerja pada celah antar sel stratum korneum dan berperan penting dalam menjaga arsitektur kulit. Minyak biji bunga matahari atau sunflower oil didapatkan dari biji Helianthus annuus, yang utamanya terdiri dari asam loelat dan asam linoleat. Konsentrasinya lebih besar daripada minyak zaitun. [25]

Minyak biji bunga matahari terbukti dapat menjaga integritas kulit dan hidrasi kulit tanpa menyebabkan eritema. Asam linoleat pada minyak biji bunga matahari juga dapat meningkatkan proliferasi keratinosit dan sintesis lipid, sehingga dapat meningkatkan sawar kulit. Di sisi lain, minyak canola selain berguna sebagai pelembab, secara spesifik juga dapat mengurangi iritasi akibat sodium lauryl sulfate (SLS).[25]

Gliserin

Gliserin (glycerol) adalah salah satu humektan yang paling banyak digunakan dalam produk pelembab saat ini. Gliserin dapat menarik air dari dermis dan dari lingkungan ke epidermis. Berguna untuk memperbaiki hidrasi stratum korneum dan fungsi sawar kulit, mencegah terjadinya iritasi kulit, meningkatkan degradasi desmosom, dan mempercepat proses penyembuhan luka. Banyak penelitian membuktikan bahwa gliserin sama efektifnya dengan urea dalam memperbaiki sawar kulit, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif urea.[26]

Sucrose Stearate

Sucrose stearate merupakan kombinasi dari sukrosa dan asam stearat. Pada produk perawatan kulit, sucrose stearate berfungsi sebagai emolien yang melembutkan dan menghaluskan. Selain itu, dapat berfungsi sebagai pengemulsi, pengawet, dan antioksidan.[27]

Palmitoylethanolamide (PEA)

PEA adalah asam lemak endogen, yang merupakan derivat asam lemak atau minyak sawit nabati. Dalam tubuh, PEA diproduksi ketika terdapat kerusakan jaringan atau peradangan. PEA merupakan salah satu bahan yang digunakan untuk membantu meredakan rasa gatal akibat dermatitis.[28]

Gatal terjadi akibat aktivasi sel mast, mediator inflamasi, sitokin proinflamasi, dan neuromediator yang menstimulasi rangsangan nosiseptif. PEA terbukti dapat mengatasi gatal karena dapat menghambat pelepasan mediator inflamasi, histamin, sitokin proinflamasi, dan neuromodulator.[28]

Steroid Topikal pada Kasus Hand Dermatitis

Steroid topikal merupakan pilihan pertama untuk mengatasi inflamasi. Berbagai jenis steroid topikal, seperti desonide, mometasone furoate, clobetasol propionate, dan  betamethasone dipropionate, dapat digunakan sebagai terapi hand dermatitis. Steroid topikal ini dapat bekerja dengan cepat dan efektif pada sebagian besar pasien.

Namun, penggunaannya terbatas karena terdapat berbagai efek samping, misalnya atrofi kulit dan telangiektasia akibat penggunaan jangka panjang. Masalah lain yang dapat timbul akibat penggunaan steroid topikal adalah efek rebound dan tachyphylaxis akibat berhenti dari penggunaan rutin. Oleh karena itu, penggunaan steroid topikal diperbolehkan untuk kasus derajat sedang hingga berat, dalam jangka waktu yang singkat.[20]

Penggunaan steroid topikal dalam jangka panjang sebaiknya dihindari karena banyaknya efek samping yang dapat timbul, seperti efek perusakan sawar kulit. Tenaga medis dengan riwayat dermatitis atopik harus diberi edukasi cara perawatan sawar kulit terutama di era pandemi COVID-19, agar dapat menghindari penggunaan steroid topikal jangka lama.[20]

Penutup

Hand dermatitis pada tenaga kesehatan meningkat secara signifikan di era pandemi COVID-19. Kejadian hand dermatitis tersebut tidak hanya menyebabkan keluhan jangka pendek, tetapi juga dapat terjadi konsekuensi jangka panjang yang serius. Paparan kulit yang berulang terhadap iritan ringan, sebelum kulit pulih dari peradangan sebelumnya, dapat menyebabkan dermatitis kontak iritan kronis.

Kejadian hand dermatitis yang meningkat tidak boleh menyebabkan tenaga kesehatan mengabaikan rekomendasi hand hygiene yang dianjurkan untuk memutus rantai penularan COVID19. Oleh karena itu, panduan hand hygiene di era pandemi yang telah diimplementasikan sebaiknya disertai dengan informasi yang tepat mengenai perawatan dan proteksi sawar kulit, karena hand dermatitis dapat disembuhkan dan dicegah.

Penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga sawar kulit, salah satunya dengan menggunakan pelembab segera setelah mencuci tangan. Terdapat beberapa pilihan bahan yang aman dan baik untuk digunakan dalam pelembab. Komposisi bahan spesifik pelembab yang baik untuk kasus hand dermatitis adalah ceramide 1,3,6, phytosphingosine, gliserin, sucrose stearate, minyak bunga matahari, canola, serta palmitoylethanolamide (PEA).

Referensi