Pedoman Puasa Sebelum Tindakan Operasi pada Anak

Oleh :
dr.Citra Amelinda, SpA., MKes., IBCLC

Pedoman puasa sebelum tindakan operasi pada anak bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya aspirasi pneumonia akibat regurgitasi isi lambung dan hilangnya refleks proteksi jalan napas karena obat-obatan anestesi. Rekomendasi yang berlaku sejak tahun 1970an adalah anak dipuasakan sejak tengah malam sebelum hari tindakan operasi. Namun penelitian menunjukkan kejadian aspirasi pneumonia jarang dijumpai pada anak, sedangkan anak yang dipuasakan dalam jangka waktu yang terlalu lama berdampak kurang baik terhadap fisik dan psikis anak. Oleh karena itu, pedoman puasa sebelum tindakan operasi pada anak yang berlaku saat ini menjadi lebih singkat. Anak masih boleh minum air putih hingga 2 jam sebelum tindakan operasi.[1-4]

Mekanisme Terjadinya Aspirasi Pneumonia

Terdapat tiga mekanisme yang melindungi paru-paru terhadap aspirasi isi lambung, yaitu kontraksi sfingter esofagus bagian bawah, kontraksi sfingter esofagus bagian atas, serta refleks pelindung jalan napas seperti batuk dan spasme laring. Hal yang dapat meningkatkan risiko isi lambung masuk ke saluran napas adalah:

  • Regurgitasi meningkat karena refluks gastroesofageal, striktur, dan tonus sfingter esofagus bawah menurun.
  • Refleks pelindung jalan napas menghilang, misalnya karena gangguan neuromuskular atau pengaruh dari anestesi umum.
  • Volume lambung meningkat karena puasa yang tidak adekuat atau pengosongan lambung yang terlambat[5]

 

shutterstock_368931749-min

Faktor yang dapat dimodifikasi untuk mencegah aspirasi pneumonia, adalah pengosongan isi lambung sebelum operasi. Selain itu, pencernaan akan berbeda saat pasien berpuasa dimana motilitas lambung lebih lambat dan sekresi saliva-gastrik lebih sedikit, sehingga dapat mengurangi risiko regurgitasi.[5]

Penelitian di Inggris, tahun 2013, menyebutkan bahwa kejadian aspirasi pneumonia jarang dijumpai pada anak. Dalam waktu 1 tahun, dilaporkan 24 kasus aspirasi pneumonia dari sekitar 120.000 tindakan bedah anak di 11 rumah sakit. Angka insiden adalah 2,0 per 10.000 pasien operasi elektif, dan 2,2 per 10.000 pasien operasi darurat.[3]

Fisiologi Pengosongan Lambung

Kecepatan pengosongan isi lambung tergantung perbedaan tekanan dalam lambung, terutama kontraksi bagian antral, dengan tekanan duodenum, atau resistensi bagian pilorus. Kontraksi antral dipengaruhi volume lambung, sekresi enzim pencernaan, dan komposisi chyme atau bubur hasil pencernaan yang masuk ke dalam duodenum.[5]

Kecepatan pengosongan lambung dipengaruhi oleh jenis makanan dan minuman. Minuman tanpa kalori, seperti air putih, meninggalkan lambung dengan cepat dalam waktu 30 menit. Minuman manis, mengandung kalori dan osmolaritas lebih tinggi, akan meninggalkan lambung lebih lama walaupun secara klinis perbedaannya dengan air putih tidak terlalu relevan. Pengosongan lambung setelah minum ASI lebih cepat daripada susu formula, tetapi lebih lambat daripada air putih. ASI dapat meninggalkan lambung setelah 4 jam karena memiliki rasio whey to casein yang tinggi.[5,6]

Susu formula lebih lama meninggalkan lambung karena lebih tinggi asiditas, osmolaritas, dan konsentrasi asam lemaknya. Selain itu, susu formula memiliki dua komponen cair dan padat sehingga mengalami pencernaan bifasik atau dua fase. Fase pertama adalah komponen cair dan partikel <2 mm dicerna dalam fundus hingga meninggalkan lambung maksimal 30 menit. Kemudian komponen padat membutuhkan waktu hingga 6 jam untuk meninggalkan lambung. Karena itu, susu formula diperkirakan memiliki kecepatan pengosongan lambung sama dengan makanan padat yaitu 6 jam. Sedangkan Makanan padat lainnya dengan kandungan lemak tinggi membutuhkan waktu lebih panjang antara 8-9 jam. Makanan yang sulit dicerna seperti serat yang mengandung selulosa dikosongkan dengan mekanisme lain saat perut kosong.[5-7]

Faktor-faktor individual yang mempengaruhi kecepatan pengosongan lambung misalnya kelainan saluran pencernaan (obstruksi usus, trauma saluran cerna, kelainan esofagus), dan penggunaan obat opioid (methadone, codeine, morfin). Pada bayi, terutama prematur, dilaporkan memiliki waktu pengosongan lambung yang lebih lambat karena neuromodulation motilitas lambung masih imatur. Namun, berdasarkan studi metaanalisis pada 1.457 pasien, dari bayi prematur, neonatus, hingga anak besar, menunjukkan kecepatan pengosongan isi lambung berdasarkan usia tidak berbeda secara signifikan.[1,5]

Dampak Puasa Berkepanjangan

Puasa berkepanjangan pada anak dapat menimbulkan beberapa dampak yang tidak diinginkan. Puasa akan menyebabkan metabolisme menjadi lambat, terjadi glikogenolisis hepatik untuk memenuhi kebutuhan glukosa sebagai sumber energi, sehingga terjadi ketoasidosis pada anak. Terutama pada anak usia di bawah 36 bulan yang berpuasa lebih dari 7 jam. Konsekuensinya, anak akan mengalami hipotensi saat induksi anestesi.[1,5]

Sebaliknya, stress yang dipicu trauma operasi menyebabkan metabolisme tubuh meningkat sehingga simpanan glikogen dalam hepar dan otot menurun, asam lemak bebas dan asam amino dilepaskan, sehingga terjadi insulin resistensi. Hal ini dapat dikaitkan dengan lama perawatan setelah operasi yang memanjang. Selain itu, puasa berkepanjangan membuat anak tidak nyaman, merasa mual bahkan muntah, dehidrasi, atau semakin rewel hingga mengganggu stabilitas kardiovaskuler, sehingga anak butuh diberikan analgesik.[1,5]

Pedoman Puasa Sebelum Operasi pada Anak

Sejak tahun 1990an, berbagai asosiasi anestesi dari beberapa negara telah menerapkan pedoman puasa sebelum operatif pada anak yang lebih singkat, menggeser kebijakan puasa semua makanan dan minuman dari sejak tengah malam sebelum hari operasi. Pedoman puasa yang digunakan adalah interval 6-4-2, yaitu:

  • 6 jam puasa makanan padat, termasuk susu formula dan produk susu lainnya
  • 4 jam puasa ASI
  • 2 jam puasa air putih[10-12]

Sejak diterapkan pedoman tersebut, telah dilakukan beberapa studi yang mempelajari kejadian kasus aspirasi pneumonia pada anak saat operasi. Tinjauan metaanalisis Cochrane, 2005, mempelajari 23 penelitian perbandingan terkontrol acak, melibatkan 2.350 anak yang tidak memiliki kondisi berisiko mengalami regurgitasi. Hasil menyebutkan hanya satu kejadian aspirasi dan regurgitasi yang dilaporkan. Tidak terbukti pasien anak yang dipuasakan lebih lama memiliki manfaat volume dan pH lambung yang lebih baik daripada pasien anak yang masih boleh minum air putih hingga 2 jam sebelum operasi. Anak-anak yang diizinkan minum air putih hingga 2 jam sebelum operasi juga dinilai lebih nyaman dalam hal kehausan dan kelaparan.[9]

Penelitian di Inggris, 2013, melaporkan dari 120.000 operasi elektif maupun darurat pada pasien anak, ditemukan 24 kasus aspirasi pneumonia. Semua pasien melakukan puasa sebelum operasi dengan pedoman 6-4-2, tetapi pada anak yang mengalami aspirasi tercatat memiliki faktor risiko, yaitu gangguan saluran napas, kelainan saluran cerna, obesitas, sepsis, gagal ginjal, dan pemberian opioid sebelum operasi.[3]

Kesimpulan

Pedoman puasa sebelum tindakan operasi pada anak dimaksudkan untuk mengurangi risiko aspirasi pneumonia, serta untuk memfasilitasi pelaksanaan anestesi yang aman dan efisien. Pedoman puasa untuk anak saat ini lebih singkat, hingga 2 jam sebelum operasi anak masih diizinkan minum air putih. Banyak manfaat anak berpuasa sesingkat mungkin, termasuk kepuasan anak dan orang tua meningkat, pH lambung tidak terlalu asam, kalori dalam tubuh tidak defisit sehingga risiko hipoglikemia dan lipolisis menurun, serta homeostasis cairan tubuh terjamin.

Perlu dipahami bahwa pedoman interval puasa sebelum tindakan operasi harus disesuaikan dengan kondisi klinis anak. Anak yang berisiko mengalami pengosongan lambung lambat disarankan untuk puasa sejak malam hari, misalnya anak dengan kelainan saluran napas, saluran cerna, gagal ginjal, dan pemberian opioid sebelum operasi.

Referensi