Durasi Protokol Puasa sebelum Tindakan Operasi

Oleh :
dr. Sunita

Puasa sebelum operasi dilakukan untuk mencegah terjadinya aspirasi makanan ke saluran napas. Praktik puasa berkepanjangan sejak tengah malam sudah menjadi dogma yang sulit untuk diubah. Walau demikian, durasi ideal puasa sebelum tindakan operasi masih terus diperdebatkan.

Depositphotos_84587358_m-2015_compressed

Rekomendasi mengenai puasa sebelum tindakan operasi mulai merupakan suatu bentuk respons atas kekhawatiran praktisi bedah terhadap risiko aspirasi makanan ke saluran napas. Kekhawatiran ini mulai muncul di pertengahan abad 19 ketika terdapat laporan kasus kematian pasca operasi pada tentara di Burma yang berkaitan dengan adanya muntahan di jalan napas. Walaupun panduan sederhana tentang puasa sebelum operasi telah diperkenalkan sejak awal abad 20, praktik puasa berkepanjangan sejak tengah malam sebelum operasi telah menjadi suatu dogma yang agaknya sulit untuk diubah. Bahkan, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa prosedur puasa preoperatif yang berkepanjangan masih tetap dipertahankan hingga saat ini[1]. Bukti terkini menunjukkan bahwa secara fisiologis cairan bening dikosongkan dari lambung dalam kurun waktu 2 jam sejak dikonsumsi, dan tidak terdapat perbedaan bermakna volume cairan lambung antara individu yang terakhir minum 2 jam sebelum operasi dengan yang puasa sejak 12-16 jam sebelum operasi elektif[2]. Temuan tersebut dan banyak bukti ilmiah lainnya mengantarkan para ahli anestesi modern pada perubahan paradigma tentang durasi optimal puasa bagi pasien yang hendak menjalani operasi, termasuk tipe makanan yang boleh dikonsumsi mendekati waktu operasi dan yang perlu dihentikan sejak beberapa jam sebelumnya[3,4]. Dalam tinjauan ini, akan dibahas aspek-aspek yang berkaitan dengan lama puasa, tipe makanan dan minuman yang boleh dikonsumsi, serta dampaknya terhadap risiko aspirasi selama tindakan pembiusan.

Tujuan Puasa sebelum Tindakan Operasi

Secara umum, puasa sebelum tindakan operasi bertujuan untuk menurunkan risiko terjadinya pneumonia aspirasi. Insidensi dan keparahan pneumonia aspirasi pasca operasi diduga berkaitan dengan volume dan keasaman cairan lambung yang masuk ke jalan napas. Atas alasan etik yang cukup jelas, sejauh ini belum ada penelitian pada manusia yang mempelajari pengaruh berbagai volume dan tingkat keasaman cairan lambung yang masuk ke saluran napas terhadap kejadian pneumonia aspirasi. Pada akhirnya, para ahli berpendapat bahwa nilai kritis pH cairan lambung kurang dari 2,5 dan volume cairan lambung kurang dari 0,4 ml/kg menjadi batasan konvensional berdasarkan konsensus, alih-alih bukti eksperimental, untuk volume dan keasaman cairan lambung yang masuk ke jalan napas yang dianggap meningkatkan risiko pneumonia aspirasi. Untuk menurunkan volume dan keasaman cairan lambung yang berpotensi menyebabkan aspirasi, protokol puasa preoperatif menjadi rekomendasi rutin bagi semua pasien dari berbagai kelompok usia[5,6].

Efek Puasa Preoperatif terhadap Volume Plasma dan Status Hidrasi

Tindakan puasa terhadap pasien sebelum operasi (pra operatif) diduga dapat menyebabkan perubahan status hidrasi (dehidrasi) dan volume plasma (kondisi hipovolemia). Pada kenyataannya, hingga kini belum ada penelitian yang membandingkan volume darah pasien sebelum dan setelah dilakukan tindakan puasa untuk menguji dugaan tersebut. Terdapat data dari penelitian terhadap 53 pasien wanita yang menjalani tindakan pembiusan umum didahului puasa preoperatif selama 10 jam. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa nilai rerata volume plasma para partisipan dalam penelitian tersebut tidak berbeda bermakna dengan nilai rerata individu normal yang tidak puasa (4123 ± 589 ml vs 3882 ± 366 ml; p > 0,05)[7]. Namun, hasil tersebut perlu dicermati secara hati-hati mengingat pengukuran volume plasma sebelum puasa tidak dilakukan dan keseluruhan partisipan merupakan pasien dengan keganasan serviks yang akan menjalani histerektomi sehingga tak representatif untuk spektrum pasien pembedahan lainnya.

Sejalan dengan temuan tersebut, studi lain menemukan bahwa puasa 8 jam sebelum operasi tidak berkaitan dengan perubahan hemodinamik maupun hipovolemia. Dengan menggunakan elevasi tungkai secara pasif sebagai pengganti indikator respons hemodinamik, 100 pasien dipuasakan 8 jam sebelum tindakan operasi untuk kemudian dinilai responsnya terhadap uji elevasi tungkai dan pemeriksaan tekanan pengisian dan volume sekuncup jantung dengan ekokardiografi. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa puasa 8 jam tidak meningkatkan proporsi pasien yang menunjukkan hasil uji elevasi tungkai positif maupun perubahan bermakna pada indikator hemodinamik saat diperiksa menggunakan ekokardiografi. Temuan ini mendukung hasil penelitian sebelumnya bahwa belum terdapat bukti yang tegas tentang pengaruh puasa preoperatif secara negatif terhadap perubahan volume plasma dan status hidrasi pasien pembedahan.[7]

Bukti Ilmiah tentang Durasi Puasa Preoperatif yang Aman

Walaupun puasa hingga 8-10 jam preoperatif tidak menunjukkan efek fisiologis yang membahayakan status volume plasma pasien, hal tersebut bukan menjadi landasan bukti ilmiah utama dan aman untuk menyarankan pasien puasa sejak tengah malam sebelum operasi. Bukti terkini bahkan menunjukkan bahwa konsumsi cairan bening (air, jus bening, kopi dan teh tanpa susu) hingga 2 jam sebelum operasi dianggap aman untuk dilakukan pada pasien yang akan menjalani operasi elektif[3,4]. Hal ini didasarkan pada temuan meta analisis dari banyak uji klinis bahwa puasa 2-4 jam sebelum operasi, dibandingkan puasa lebih dari 4 jam sebelumnya, berkaitan dengan penurunan keluhan haus dan lapar secara subjektif dari pasien serta penurunan volume cairan lambung < 25 ml dan pH lambung > 2,5 yang merupakan indikator tak langsung risiko aspirasi jalan napas yang minimal[4].

Namun, untuk saat ini, belum ada bukti ilmiah untuk menegaskan batasan waktu puasa makanan padat yang aman sebelum operasi. Sebuah studi menunjukkan bahwa makanan ringan (roti panggang dan teh) yang dikonsumsi 2-4 jam sebelum operasi tidak meningkatkan volume cairan lambung saat induksi anestesi dilakukan. Tapi, hubungannya dengan risiko pneumonia aspirasi masih perlu diteliti lebih lanjut karena masih terdapat kemungkinan adanya residu makanan padat di lambung yang belum dapat dievaluasi secara sempurna berdasarkan metode yang ada saat ini. Atas dasar pertimbangan tersebut, para ahli menetapkan konsensus untuk membatasi asupan makanan padat setidaknya 6 jam sebelum tindakan operasi guna mengurangi risiko aspirasi jalan napas[3].

Sementara itu, bukti ilmiah terkini tentang batasan waktu puasa makan dan minum preoperatif bagi anak-anak yang akan menjalani pembedahan menunjukkan bahwa konsumsi cairan 2 jam sebelum operasi tidak berkaitan dengan penurunan volume cairan lambung saat induksi anestesi. Lebih lanjut lagi, tidak ada perbedaan bermakna volume lambung pasca konsumsi makanan ringan baik 4 jam maupun 6 jam sebelum operasi. Akibatnya, sebagian ahli mempertimbangkan untuk kembali ke praktik puasa total (nil by mouth) untuk berjaga-jaga dari risiko aspirasi. Sebagian klinisi justru berpendapat agar durasi puasa diperpendek menjadi 2 jam saja mengingat hal tersebut tidak berkaitan dengan penurunan volume lambung yang menjadi prediktor risiko aspirasi[8].

Anak-anak secara fisiologis memiliki laju metabolik yang lebih tinggi dan cadangan glikogen yang lebih rendah daripada orang dewasa. Hal tersebut meningkatkan risiko populasi ini terhadap hipoglikemia akibat puasa yang terlalu lama sebelum operasi. Bahkan, terdapat bukti adanya insidens hipoglikemia sebesar 28% pada balita yang dipuasakan 6 jam atau lebih sebelum operasi. Atas pertimbangan tersebut, pasien anak yang akan menjalani tindakan pembedahan disarankan untuk puasa makanan padat (termasuk makanan semi padat dan produk susu) sejak 6 jam dan puasa cairan bening sejak 2 jam sebelum induksi anestesi[8]. Hal ini dianggap bermanfaat untuk memastikan agar pasien anak menjadi tenang, tidak rewel akibat lapar maupun haus berlebihan, serta terhindar dari risiko gangguan metabolik akibat puasa yang berkepanjangan.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pada pasien dewasa dan anak-anak disarankan untuk puasa minum cairan bening (termasuk air, teh, dan kopi tanpa susu) sejak 2 jam sebelum dilakukan induksi anestesi. Sementara itu, puasa makanan padat (termasuk makanan semi padat dan produk susu) pada pasien dewasa dan anak-anak sebaiknya dilakukan sejak 6 jam sebelum induksi. Namun, penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan untuk mengevaluasi apakah durasi puasa makan dan minum pada anak-anak dapat lebih dipersingkat serta meninjau ulang relevansi parameter tradisional volume dan keasaman lambung yang selama ini dijadikan indikator risiko pneumonia aspirasi.

Referensi