Indikasi dan Dosis Retinol
Indikasi retinol adalah defisiensi vitamin A, serta untuk terapi acne vulgaris dan perawatan tanda penuaan kulit seperti keriput dan hiperpigmentasi. Dosis vitamin A dalam bentuk retinol oral yang digunakan dalam pencegahan defisiensi vitamin A masal di Indonesia adalah 100.000-200.000 IU. Sementara itu, dosis retinol topikal bervariasi, umumnya digunakan dalam konsentrasi 0,1-1% satu kali seminggu atau lebih.[3,6,12,13,16,17]
Defisiensi Vitamin A
Retinol diindikasikan untuk terapi dan pencegahan defisiensi vitamin A, termasuk manifestasi klinis seperti xerophthalmia. Suplementasi juga direkomendasikan pada pasien dengan gangguan absorpsi lemak atau kelainan penyimpanan dan transport vitamin A, seperti sindrom malabsorpsi dan abetalipoproteinemia.
Suplementasi vitamin A perlu mewaspadai risiko hipervitaminosis. Meski begitu, berdasarkan rekomendasi WHO, UNICEF, dan International Vitamin A Consultative Group (IVACG), suplementasi dosis tinggi diberikan secara periodik pada populasi berisiko tinggi di negara berkembang seperti Indonesia, serta diberikan segera pada kasus defisiensi vitamin A dengan xerophthalmia aktif karena risiko destruksi kornea yang mengancam penglihatan.[6]
Dosis Anak
Pada anak usia >8 tahun dengan defisiensi vitamin A, dosis awal retinol diberikan 100.000 IU/hari selama 3 hari, dilanjutkan 50.000 IU/hari selama 2 minggu, kemudian 10.000–20.000 IU/hari selama 2 bulan sebagai fase pemeliharaan untuk memulihkan cadangan hepatik dan kadar serum.[6]
Di Indonesia, retinol digunakan untuk pencegahan masal defisiensi vitamin A sebagai bagian dari program nasional. Obat ini diberikan pada balita setiap bulan Februari dan Agustus melalui Puskesmas dan Posyandu. Dosis yang digunakan adalah:
- Retinol 100.000 IU untuk bayi usia 6-11 bulan (kapsul biru)
- Retinol 200.000 IU untuk anak 12-59 bulan dan ibu nifas (kapsul merah).[3,12,13]
Tabel 1. Kebutuhan Asupan Harian Vitamin A pada Anak dan Dewasa
| Usia | Dosis | Usia | Dosis |
| Bayi ≤6 bulan | 400 µg (1320 IU) | Wanita 14-18 tahun | 700 µg (2310 IU) |
| 7-12 bulan | 500 µg (1650 IU) | Pria 14-18 tahun | 900 µg (3000 IU) |
| 1-3 tahun | 300 µg (1000 IU) | Wanita ≥19 tahun | 700 µg (2310 IU) |
| 4-8 tahun | 400 µg (1320 IU) | Pria ≥19 tahun | 900 µg (3000 IU) |
| 9-13 tahun | 600 µg (2000 IU) | ||
Sumber: dr. Bedry Qintha, Alomedika, 2026.[6]
Dosis Dewasa
Pada pasien dewasa dengan defisiensi vitamin A, regimen yang direkomendasikan serupa, yaitu 100.000 IU/hari selama 3 hari, diikuti 50.000 IU/hari selama 2 minggu, kemudian 10.000–20.000 IU/hari selama 2 bulan.[6]
Perhatian Khusus
Dosis tinggi tidak digunakan secara rutin. Terapi vitamin A juga harus mempertimbangkan risiko toksisitas hipervitaminosis A. Retinol juga perlu digunakan secara hati-hati pada ibu hamil karena adanya risiko paparan pada janin yang menyebabkan deformitas.[4,6]
Campak
Setiap anak yang terdiagnosis campak perlu mendapat 2 dosis vitamin A (retinol) secara oral dengan interval 24 jam. Pemberian retinol oral bertujuan untuk menurunkan risiko komplikasi okular dan mortalitas akibat campak.
Dosis yang dianjurkan adalah:
- 000 IU untuk anak usia ≥12 bulan
- 000 IU untuk usia 6–11 bulan
- 000 IU untuk usia <6 bulan.
Tambahan dosis retinol oral bisa diberikan 2–4 minggu kemudian pada:
- Anak dengan defisiensi vitamin A sebelumnya, atau
- Anak yang mengalami komplikasi mata terkait campak.[18-20]
Acne Vulgaris
Retinol dan retinoid lainnya masih menjadi terapi pilihan pada penanganan acne vulgaris. Efek penggunaan retinoid pada acne adalah sebagai komedolitik, antiinflamasi, serta untuk menormalisasi hiperproliferasi dan hiperkeratinisasi folikular.
Sediaan retinol memiliki beberapa kekuatan, tetapi biasanya digunakan dari potensi terendah terlebih dulu dan bisa ditingkatkan perlahan sesuai kebutuhan. Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan retinol 0,15% efektif dalam mengatasi hiperpigmentasi pasca acne.
Jika pasien menggunakan retinol, maka pembersih wajah atau cleanser yang dipakai sebaiknya yang bersifat lembut untuk mengurangi iritasi. Pasien juga perlu diminta untuk tidak menggosok wajah terlalu keras, serta tidak memecahkan jerawat dengan tangan. Tabir surya perlu digunakan untuk mengatasi efek fotosensitivitas akibat retinol.[15,21]
Photoaging
Retinol topikal digunakan dalam tata laksana photoaging karena mampu meningkatkan proliferasi dan diferensiasi epidermis serta merangsang sintesis asam hyaluronat, kolagen tipe I dan III, dan elastin. Efeknya adalah memperbaiki keriput halus, tekstur kulit, dan elastosis akibat paparan UV kronis. Berbagai uji klinis menunjukkan perbaikan parameter penuaan kulit setelah penggunaan retinol, meskipun banyak studi memiliki keterbatasan metodologis.
Konsentrasi retinol dalam produk topikal untuk wajah dan tangan umumnya berkisar 0,075–0,5%. Studi komparatif menunjukkan bahwa formulasi retinol 0,25–1% dapat memberikan efikasi yang setara dengan tretinoin 0,025–0,1% bila digunakan dengan protokol step-up (pemberian dimulai dari dosis rendah dan ditingkatkan bertahap) dan dikombinasikan dengan pelembap untuk meningkatkan tolerabilitas.[16,17,22]
Penulisan pertama oleh: dr. Reren Ramanda