Farmakologi Retinol
Secara farmakologi, retinol merupakan bentuk alkohol dari vitamin A yang setelah absorpsi usus akan dikonversi menjadi retinal dan selanjutnya menjadi asam retinoat. Asam retinoat adalah bentuk aktif biologis yang berikatan dengan retinoic acid receptor (RAR) dan retinoid X receptor (RXR), yang berperan dalam transkripsi gen, diferensiasi sel epitel, fungsi imun, reproduksi, dan integritas mukosa.[1,2,4,5]
Farmakodinamik
Retinol dalam bentuk kapsul oral diserap di usus halus bersama lemak makanan, kemudian diesterifikasi menjadi retinil ester dan diangkut melalui sistem limfatik menuju hati untuk disimpan. Saat dibutuhkan, retinol dilepaskan ke sirkulasi terikat pada retinol-binding protein (RBP) dan transthyretin, lalu diambil oleh jaringan perifer untuk dioksidasi menjadi retinal dan asam retinoat.
Asam retinoat berikatan dengan reseptor nuklir RAR dan RXR yang mengatur transkripsi gen terkait diferensiasi epitel, fungsi imun, dan integritas mukosa. Dengan mekanisme ini, suplementasi retinol mencegah defisiensi vitamin A dengan mempertahankan homeostasis epitel, mendukung respons imun, serta mencegah manifestasi klinis seperti xerophthalmia dan keratinisasi epitel.
Pada kulit, retinol topikal mengalami konversi bertahap menjadi retinal dan asam retinoat di dalam keratinosit. Asam retinoat kemudian berikatan dengan RAR/RXR di inti sel, memodulasi ekspresi gen yang mengatur proliferasi dan diferensiasi epidermis serta sintesis matriks ekstraseluler.
Pada acne vulgaris, retinol menormalkan deskuamasi folikel, mengurangi hiperkeratinisasi dan pembentukan mikrokomedo, serta memiliki efek antiinflamasi tidak langsung. Dalam konteks penuaan kulit, retinol meningkatkan produksi kolagen tipe I dan III, menurunkan ekspresi matrix metalloproteinase (MMP), serta mempercepat turnover epidermal.[1,2,4,5,11]
Farmakokinetik
Vitamin A, termasuk retinol, adalah kofaktor yang berperan dalam berbagai proses biologis manusia, khususnya pada jaringan epitel dan adaptasi visual di kegelapan.[4]
Absorpsi
Retinol dapat diabsorpsi dengan baik melalui traktus gastrointestinal, khususnya di duodenum dan jejunum, kecuali pada keadaan malabsorpsi lemak, asupan protein rendah, serta gangguan fungsi hepar atau pankreas. Karena sifatnya yang larut lemak, absorpsi retinol sangat membutuhkan garam empedu, enzim lipase pankreas, protein, dan lemak.[4]
Distribusi
Setelah diabsorpsi, 65% retinol disimpan di hepar dan dapat disimpan hingga 2 tahun. Kurang dari 5% retinol bersirkulasi dan berikatan dengan lipoprotein di dalam darah, dan dalam jumlah yang kecil juga disimpan di jaringan paru dan ginjal.
Ketika dilepaskan dari hepar, retinol berikatan dengan retinol-binding protein (RBP) dan kebanyakan retinol didistribusikan dalam bentuk ikatan ini. Retinol juga ditemukan dalam ASI.[4]
Metabolisme
Metabolisme retinol terjadi di hepar. Zinc diperlukan dalam proses mobilisasi vitamin A yang berada di hepar.
Retinol dikonjugasikan dengan asam glukoronat, membentuk B-glukuronida, yang selanjutnya akan mengalami proses sirkulasi enterohepatik dan teroksidasi menjadi retinal dan asam retinoat.
Asam retinoat adalah metabolit bioaktif dari vitamin A yang bekerja pada sel untuk memproses atau mengubah pola genetik. Retinol diubah menjadi asam retinoat dengan bantuan dua enzim, yaitu retinol dehidrogenase dan retinal dehidrogenase.[4]
Eliminasi
Metabolit vitamin A berupa asam retinoat dieliminasi utamanya melalui empedu dan diekskresikan ke dalam feses. Sementara itu, metabolit dalam bentuk retinal, asam retinoat, dan metabolit larut air lain akan diekskresikan melalui urin dan feses. Retinol dalam bentuk utuh umumnya tidak ditemukan diekskresikan melalui urin.[6]
Penulisan pertama oleh: dr. Reren Ramanda