Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Tetrahydrozoline
Keamanan penggunaan tetrahydrozoline pada kehamilan dan ibu menyusui belum didukung data klinis yang adekuat pada manusia. Menurut FDA, obat ini masuk dalam Kategori C untuk penggunaan pada ibu hamil. Pada ibu menyusui, tidak diketahui apakah obat diekskresikan ke ASI.[5,13]
Penggunaan pada Kehamilan
Menurut klasifikasi lama dari Food and Drug Administration (FDA), tetrahydrozoline masuk dalam kategori C. Hal ini berarti belum terdapat studi terkontrol pada wanita hamil dan risiko terhadap janin tidak dapat disingkirkan, sehingga obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.[3,5]
FDA saat ini telah mengganti sistem kategori tersebut dengan Pregnancy and Lactation Labeling Rule (PLLR), yang menggunakan pendekatan naratif berbasis risiko. Hingga saat ini, tidak tersedia data yang memadai dalam format PLLR untuk tetrahydrozoline, sehingga penilaian keamanan pada kehamilan tetap didasarkan pada keterbatasan data yang ada dan pertimbangan klinis.[5,13,14]
Pada ibu hamil dengan mata merah, lakukan penanganan terhadap etiologi yang mendasari. Jika tetrahydrozoline akan digunakan, pastikan manfaat yang didapat melebihi risiko.[5]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Belum terdapat penelitian yang memadai terkait penggunaan tetrahydrozoline pada ibu menyusui. Berdasarkan sifat farmakologinya, absorpsi sistemik dari penggunaan topikal relatif rendah, sehingga paparan terhadap bayi diperkirakan minimal. Namun, karena belum diketahui apakah obat ini diekskresikan ke dalam ASI, risiko terhadap bayi tidak dapat dipastikan.
Selain itu, sebagai agonis α1-adrenergik, terdapat potensi efek sistemik seperti depresi sistem saraf pusat dan efek kardiovaskular, terutama bila terjadi paparan tidak sengaja. Oleh karena itu, penggunaan pada ibu menyusui dianjurkan dengan dosis minimal efektif dan durasi sesingkat mungkin serta dilakukan pemantauan terhadap kemungkinan efek samping pada bayi.[5,13]