Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Tamoxifen
Penggunaan tamoxifen pada ibu hamil tidak dianjurkan, demikian pula pada ibu yang sedang menyusui. Obat ini masuk kategori D oleh FDA. Pada ibu menyusui, tamoxifen telah dikaitkan dengan penekanan prolaktin.[2,4,6]
Penggunaan pada Kehamilan
Tamoxifen dikategorikan D oleh FDA yang mana berarti terdapat bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya.[2,6]
Menurut TGA, tamoxifen masuk dalam kategori B3 yang berarti obat yang telah dikonsumsi oleh sejumlah kecil wanita hamil atau wanita usia subur, tanpa peningkatan frekuensi cacat lahir atau efek membahayakan baik langsung maupun tidak langsung pada janin. Penelitian pada hewan menunjukkan bukti peningkatan angka kejadian gangguan janin hewan coba. Pada manusia, gangguan janin akibat obat kategori ini masih belum dapat ditentukan.[7]
Pada wanita hamil, tamoxifen dan metabolitnya berinteraksi dengan jaringan embrionik dan fetus sehingga dapat menimbulkan efek teratogenik. Berdasarkan salah satu studi pada manusia didapatkan 16 bayi dengan malformasi kongenital dan 122 bayi lainnya tanpa malformasi kongenital. AstraZeneca Safety Database melaporkan 11 kejadian malformasi kongenital dari 44 bayi, disertai 18 fetal loss dan 3 stillbirth.
Terdapat pula laporan kasus bayi dengan sindrom Goldenhar dan Pierre Robin Sequence dalam pemberian tamoxifen pada kehamilan. Berbagai panduan mengkontraindikasikan penggunaan tamoxifen dalam kehamilan dan menggunakan kondom hingga 2 bulan setelah penghentian tamoxifen oleh karena pemanjangan waktu paruh dari metabolitnya.[4,14,15]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Tamoxifen tidak dianjurkan digunakan pada ibu menyusui. Pada suatu laporan, kadar tamoxifen dalam ASI meningkat secara bertahap selama penggunaan 20 mg/hari, dan metabolit aktif seperti 4-hydroxytamoxifen dan Z-endoxifen juga terdeteksi serta meningkat dari waktu ke waktu.
Meskipun belum terdapat laporan yang memadai mengenai efek langsung pada bayi yang mendapat ASI, keberadaan obat dan metabolit aktif dalam ASI menimbulkan potensi risiko sehingga menyusui sebaiknya dihindari selama ibu memerlukan terapi tamoxifen.
Selain itu, tamoxifen diketahui dapat menekan laktasi dan produksi ASI, bahkan telah menunjukkan efek supresi laktasi yang lebih besar dibandingkan plasebo dalam beberapa penelitian pada ibu postpartum. Oleh karena itu, apabila tamoxifen diperlukan untuk terapi kanker payudara, ibu perlu mendapatkan konseling mengenai penghentian menyusui dan penggunaan alternatif pemberian nutrisi untuk bayi.[16]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha