Kontraindikasi dan Peringatan Tamoxifen
Kontraindikasi utama penggunaan tamoxifen adalah hipersensitivitas terhadap tamoxifen atau bahan lain dalam formulasi obat. Selain itu, pada ductal carcinoma in situ (DCIS) atau untuk menurunkan risiko kanker payudara pada perempuan berisiko tinggi, tamoxifen kontraindikasi pada pasien dengan riwayat deep-vein thrombosis (DVT) atau emboli paru. Peringatan penggunaan perlu mencakup peningkatan risiko keganasan uterus.[2,4]
Kontraindikasi
Kontraindikasi tamoxifen adalah hipersensitivitas terhadap tamoxifen atau bahan lain dalam formulasi obat.
Selain itu, pada penggunaannya untuk DCIS atau untuk menurunkan risiko kanker payudara pada perempuan berisiko tinggi, tamoxifen dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat deep-vein thrombosis (DVT) atau emboli paru (PE), serta pada pasien yang sedang membutuhkan terapi warfarin.
Untuk pasien yang sudah didiagnosis kanker payudara, riwayat tromboemboli tidak selalu menjadi kontraindikasi absolut, tetapi manfaat terapi harus dipertimbangkan secara hati-hati terhadap peningkatan risiko tromboemboli.[4]
Peringatan
Penggunaan tamoxifen perlu dipertimbangkan dan diberikan pengawasan khusus pada pasien-pasien yang memiliki keadaan berikut:
- Polimorfisme CYP2D6
- Metastasis tulang
- Trombositopenia
- Kolestasis, perlemakan hati, nekrosis hepar dan hepatitis
- Leukopenia
- Hiperlipidemia
- Penurunan fungsi penglihatan, perubahan kornea dan trombosis vena retina
- Flushing dan peningkatan nyeri pada tumor dan tulang, yang terkadang berkaitan dengan respon tumor yang baik
- Terapi tamoxifen jangka panjang untuk pencegahan kanker payudara (meningkatkan risiko stroke, emboli paru, kanker endometrium, sarkoma uterus dan katarak).[2]
Peningkatan Risiko Keganasan Uterus
Peringatan penting terkait tamoxifen adalah peningkatan risiko keganasan uterus, terutama adenokarsinoma endometrium dan, lebih jarang, sarkoma uterus. Risiko ini lebih diperhatikan pada penggunaan jangka panjang, terutama lebih dari dua tahun. Oleh karena itu, pasien perlu menjalani pemeriksaan ginekologis secara rutin dan segera dievaluasi apabila mengalami perdarahan vagina abnormal, perubahan menstruasi, nyeri atau rasa tertekan pada panggul.
Pemeriksaan payudara, mammografi, dan pemeriksaan ginekologi juga dianjurkan sebelum terapi dan secara berkala selama terapi. Tamoxifen juga dapat menyebabkan perubahan non-keganasan pada uterus, seperti hiperplasia atau polip endometrium, serta dapat menyebabkan gangguan menstruasi atau amenore. Kista ovarium juga pernah dilaporkan pada sebagian perempuan premenopause.[4]
Risiko Tromboemboli
Tamoxifen juga perlu digunakan dengan kewaspadaan karena dapat meningkatkan risiko kejadian tromboemboli, termasuk DVT, emboli paru, dan stroke, yang pada beberapa kasus dapat berakibat fatal. Risiko ini dapat semakin meningkat bila tamoxifen digunakan bersamaan dengan kemoterapi.[4]
Risiko Hiperkalsemia
Pada pasien dengan kanker payudara metastatik yang mengalami metastasis tulang, tamoxifen juga dapat menyebabkan hiperkalsemia, sehingga kadar kalsium perlu diperhatikan dan pada kondisi berat terapi dapat perlu dihentikan.[4]
Efek pada Organ
Selain itu, tamoxifen dapat menimbulkan gangguan hati, mulai dari perubahan enzim hati hingga kondisi yang jarang tetapi berat seperti hepatitis, kolestasis, perlemakan hati, dan nekrosis hati. Karena itu, pemeriksaan fungsi hati secara berkala dianjurkan.
Efek pada mata juga perlu diperhatikan, karena tamoxifen dapat menyebabkan gangguan penglihatan, perubahan kornea, gangguan persepsi warna, retinopati, trombosis vena retina, serta peningkatan risiko katarak.
Tamoxifen juga dapat menyebabkan kelainan hematologis seperti trombositopenia, neutropenia, leukopenia, atau pansitopenia, sehingga pemeriksaan darah lengkap termasuk jumlah trombosit perlu dilakukan secara berkala.
Pada pasien dengan hiperlipidemia sebelumnya, kadar trigliserida dan kolesterol juga perlu dipantau karena tamoxifen dapat memperburuk hiperlipidemia.[4]
Kehamilan
Kehamilan merupakan aspek penting untuk diperhatikan karena tamoxifen dapat menyebabkan gangguan pada janin, termasuk keguguran, cacat lahir, dan kematian janin. Oleh sebab itu, status kehamilan perlu dipastikan sebelum memulai terapi pada perempuan yang memiliki potensi reproduksi.
Pasien harus diberi tahu untuk tidak hamil selama menggunakan tamoxifen dan selama 2 bulan setelah terapi dihentikan, serta dianjurkan menggunakan kontrasepsi nonhormonal yang efektif selama periode tersebut. Jika kehamilan terjadi selama terapi atau dalam sekitar dua bulan setelah penghentian, pasien perlu segera diberi konseling mengenai potensi risiko terhadap janin.[4]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha