Penggunaan Pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Zidovudin
Penggunaan zidovudin atau zidovudine pada kehamilan termasuk dalam kategori C oleh FDA. Pada ibu menyusui, zidovudin dapat diekskresikan melalui ASI, sehingga pemberiannya harus dipertimbangkan dengan hati-hati.[1,10]
Penggunaan pada Kehamilan
Kategori C (FDA): studi pada binatang percobaan memperlihatkan ada efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko pada janin.
Kategori B3 (TGA): obat ini sudah dikonsumsi sejumlah ibu hamil dan ibu menyusui tanpa adanya peningkatan frekuensi malformasi atau efek langsung dan tidak langsung yang berbahaya lainnya. Namun, studi pada hewan menunjukkan adanya peningkatan frekuensi kecacatan fetus.
Studi hewan menunjukkan toksisitas embrio pada dosis sangat tinggi. Data manusia dalam jumlah besar tidak menunjukkan peningkatan risiko cacat bawaan, sehingga risiko teratogenik dianggap rendah.
Zidovudin dapat melintasi plasenta dengan baik sehingga mencapai kadar yang bermakna pada janin, yang mendukung pencegahan transmisi HIV. Efek samping yang dilaporkan pada bayi umumnya ringan dan sementara, seperti anemia atau peningkatan laktat, tanpa bukti kuat adanya dampak neurologis jangka panjang.[1,4,10,11]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Zidovudin diekskresikan ke dalam ASI. Dahulu, direkomendasikan agar seluruh ibu dengan HIV tidak menyusui agar dapat mencegah penularan HIV setelah kelahiran dan mencegah efek samping pada bayi yang mendapatkan ASI dari ibu yang terinfeksi virus HIV. Namun, rekomendasi terbaru menyatakan bahwa ibu dengan infeksi HIV yang sudah mendapatkan terapi antiretroviral boleh menyusui bayinya.[1,4,8,11]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha