Kaitan Paparan Cahaya pada Malam Hari Dengan Penyakit Kardiovaskular – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr.Wendy Damar Aprilano

Light Exposure at Night and Cardiovascular Disease Incidence

Windred DP, Burns AC, Rutter MK, et al. JAMA Network Open. 2025. 8(10):e2539031. doi: 10.1001/jamanetworkopen.2025.39031.

studilayak

Abstrak

Latar belakang: Paparan cahaya pada malam hari menyebabkan gangguan ritme sirkadian, yang merupakan faktor risiko yang telah diketahui untuk berbagai luaran kardiovaskular yang merugikan. Namun, hubungan antara paparan cahaya dan kejadian penyakit kardiovaskular masih belum sepenuhnya dipahami.

Tujuan: Menilai apakah paparan cahaya pada siang dan malam hari berhubungan dengan insidensi penyakit kardiovaskular, serta apakah hubungan tersebut berbeda menurut kerentanan genetik, jenis kelamin, dan usia.

Desain, Lokasi, dan Partisipan: Studi kohort prospektif ini menganalisis data penyakit kardiovaskular selama 9,5 tahun (Juni 2013 hingga November 2022) dari peserta UK Biobank yang mengenakan sensor cahaya dalam kondisi kehidupan sehari-hari. Analisis data dilakukan antara September 2024 hingga Juli 2025.

Paparan: Sekitar 13 juta jam data paparan cahaya yang dikumpulkan menggunakan sensor cahaya yang dikenakan di pergelangan tangan (selama 1 minggu per peserta), yang kemudian dikategorikan ke dalam persentil 0–50, 51–70, 71–90, dan 91–100.

Luaran Primer dan Pengukuran: Insidensi penyakit arteri koroner, infark miokard, gagal jantung, atrial fibrilasi, dan stroke setelah periode pemantauan cahaya diperoleh dari catatan National Health Service (NHS) Inggris. Risiko penyakit kardiovaskular dianalisis menggunakan model hazard proportional Cox (tiga model utama dengan tiga tingkat penyesuaian) dan dilaporkan sebagai hazard ratio (HR).

Hasil: Sebanyak 88.905 individu dianalisis (usia rata-rata [SD] 62,4 [7,8] tahun; 50.577 perempuan [56,9%]). Dibandingkan dengan individu yang mengalami malam hari paling gelap (persentil 0–50), individu yang terpapar cahaya malam paling terang (persentil 91–100) memiliki risiko yang secara bermakna lebih tinggi untuk mengalami:

  • Penyakit arteri koroner (adjusted HR/aHR 1,32; IK 95% 1,18–1,46)
  • Infark miokard (aHR 1,47; IK 95% 1,26–1,71)
  • Gagal jantung (aHR 1,56; IK 95% 1,34–1,81)
  • Atrial fibrilasi (aHR 1,32; IK 95% 1,18–1,46)
  • Stroke (aHR 1,28; IK 95% 1,06–1,55).

Hubungan ini tetap kuat setelah penyesuaian terhadap faktor risiko kardiovaskular yang telah diketahui, termasuk aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, pola makan, durasi tidur, status sosioekonomi, dan risiko poligenik.

Hubungan paparan cahaya malam dengan risiko gagal jantung dan penyakit arteri koroner lebih kuat pada perempuan. Selain itu, hubungan dengan risiko gagal jantung dan atrial fibrilasi lebih kuat pada individu yang lebih muda dalam kohort ini.

Kesimpulan: Dalam studi kohort ini, paparan cahaya pada malam hari merupakan faktor risiko yang bermakna untuk terjadinya penyakit kardiovaskular pada orang dewasa usia di atas 40 tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa, selain upaya pencegahan yang sudah ada, menghindari paparan cahaya di malam hari dapat menjadi strategi tambahan yang berguna untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

Kaitan Paparan Cahaya Pada Malam Hari Dengan Penyakit Kardiovaskular

Ulasan Alomedika

Paparan cahaya pada malam hari dapat mengganggu ritme sirkadian, sehingga diduga dapat menjadi faktor risiko penyakit kardiovaskular. Meski demikian, basis bukti ilmiah yang mengaitkan paparan cahaya malam dengan risiko kardiovaskular masih minim.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan studi kohort prospektif berbasis populasi menggunakan data UK Biobank, bertujuan menilai hubungan antara paparan cahaya di malam hari (light exposure at Night/LAN) dengan kejadian penyakit kardiovaskular (CVD). Kohort prospektif dipilih karena memungkinkan penilaian hubungan temporal paparan–outcome, mengurangi recall bias, serta mendukung analisis risiko jangka panjang pada paparan lingkungan yang bersifat kronik.

Studi dilakukan dengan mengukur Paparan LAN menggunakan data satelit VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite) yang memetakan tingkat kecerahan malam hari di wilayah tempat tinggal peserta. Data satelit kemudian dipetakan ke alamat rumah yang telah melalui proses geocoding.

Intensitas cahaya dihitung dalam satuan nanowatts/cm²/steradian (nW/cm²/sr), kemudian dikategorikan menjadi kuintil (Q1 paling gelap dan Q5 paling terang). Q5 memiliki median intensitas 72,6 nW/cm²/sr, sedangkan Q1 memiliki median intensitas 0,5 nW/cm²/sr. LAN dianalisis sebagai paparan lingkungan luar rumah (ambient), bukan cahaya dalam kamar.

Peneliti melakukan penyesuaian multivariat luas untuk mengontrol perancu, termasuk usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, status diabetes, dislipidemia, dan faktor gaya hidup (kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik), serta paparan kebisingan dan polusi udara.

Ulasan Hasil Penelitian

Penelitian kohort prospektif ini melibatkan 88.905 partisipan UK Biobank (usia rerata 62,4 tahun; 56,9% perempuan) yang seluruhnya bebas penyakit kardiovaskular pada saat pemantauan cahaya dan diikuti selama hampir 8 tahun setelahnya. Paparan cahaya diukur secara objektif menggunakan sensor di pergelangan tangan selama 1 minggu dan dianalisis terhadap kejadian penyakit arteri koroner, infark miokard, gagal jantung, atrial fibrilasi, dan stroke.

Hasil menunjukkan bahwa paparan cahaya malam yang lebih terang berhubungan dengan peningkatan risiko kardiovaskular secara dose-dependent. Dibandingkan dengan kelompok persentil 0–50 (paling gelap), individu yang berada pada persentil tertinggi paparan cahaya malam (91–100) memiliki risiko 32% lebih tinggi untuk penyakit arteri koroner, 47% lebih tinggi untuk infark miokard, 56% lebih tinggi untuk gagal jantung, 32% lebih tinggi untuk atrial fibrilasi, dan 28% lebih tinggi untuk stroke.

Dengan kata lain, paparan cahaya malam yang sangat tinggi meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular. Hubungan ini tetap signifikan setelah penyesuaian terhadap faktor risiko seperti aktivitas fisik, merokok, alkohol, pola makan, tidur, status sosioekonomi, komorbiditas, dan risiko genetik.

Sebaliknya, paparan cahaya siang hari yang lebih terang bersifat protektif pada analisis awal, dengan penurunan risiko penyakit arteri koroner sekitar 13%, gagal jantung sekitar 28%, dan stroke sekitar 25% pada kelompok dengan paparan cahaya siang paling terang, meskipun sebagian efek ini melemah setelah penyesuaian gaya hidup.

Kelebihan Penelitian

Pada penelitian ini, paparan cahaya diukur secara objektif dan kontinu menggunakan sensor cahaya yang dikenakan di pergelangan tangan, sehingga menghindari recall bias dan salah klasifikasi yang lazim pada penggunaan kuesioner.

Lebih lanjut, desain kohort prospektif dengan tindak lanjut hampir 8 tahun dan penggunaan data rekam medis nasional (NHS) untuk penetapan diagnosis kardiovaskular meningkatkan validitas temporal dan akurasi luaran. Analisis juga komprehensif, dengan penyesuaian terhadap faktor sosiodemografis, gaya hidup, komorbiditas, parameter tidur, serta risiko genetik poligenik.

Kekuatan lain adalah pendekatan analitik yang baik dan replikatif. Peneliti menunjukkan hubungan dosis–respon (log-linear) antara intensitas cahaya malam dan semua luaran kardiovaskular utama, serta melakukan berbagai analisis sensitivitas (misalnya mengecualikan kasus sebelumnya, memajukan awal observasi, dan menyesuaikan berbagai mediator dan perancu) yang sebagian besar menghasilkan temuan yang konsisten.

Sampel yang sangat besar juga memberi kekuatan statistik tinggi, mampu mendeteksi efek moderat hingga kecil, serta mendukung analisis subkelompok. Luaran yang dinilai juga telah diverifikasi, yang mana diagnosis penyakit kardiovaskular yang menjadi penilaian dampak diambil dari sistem kesehatan nasional, bukan self-report.

Limitasi Penelitian

Paparan cahaya hanya diukur selama satu minggu pada periode 2013–2016, sehingga mungkin tidak sepenuhnya merepresentasikan kebiasaan paparan cahaya jangka panjang. Hal ini juga berpotensi menyebabkan misclassification non-differential yang biasanya mengarah pada underestimation efek.

Selain itu, desain observasional tidak memungkinkan inferensi kausal sepenuhnya, sehingga residual confounding masih tetap mungkin ada. Mayoritas partisipan juga berasal dari ras Kaukasia (97%) dan berusia >60 tahun, sehingga generalisasi ke populasi yang lebih muda atau pasien dari latar belakang ras lain menjadi terbatas. Kohort UK Biobank juga bias ke arah individu dengan tingkat kesehatan lebih baik.

Lebih lanjut, sensor di pergelangan tangan yang digunakan untuk mengukur paparan hanya mengukur intensitas cahaya lingkungan, bukan paparan retinal yang sesungguhnya. Padahal, paparan retinal merupakan mediator biologis yang lebih adekuat untuk gangguan sirkadian. Ditambah lagi, paparan blue light dan white light tidak dibedakan, padahal paparan blue light telah diketahui lebih memengaruhi irama sirkadian.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Secara klinis, penelitian ini menunjukkan bahwa paparan cahaya pada malam hari merupakan faktor risiko kardiovaskular yang independen, bermakna, dan dapat dimodifikasi, sementara paparan cahaya siang hari yang memadai bersifat relatif protektif.

Dalam praktik pencegahan penyakit kardiovaskular, penelitian ini mendukung aplikasi edukasi ‘light hygiene’ (higiene cahaya), misalnya dengan meminimalkan lampu dan layar terang setelah tengah malam, penggunaan pencahayaan redup dan spektrum hangat di malam hari, serta peningkatan paparan cahaya terang alami di siang hari.

Intervensi ini dapat diintegrasikan sebagai bagian dari intervensi gaya hidup bersama modifikasi diet, aktivitas fisik, dan pengendalian faktor risiko kardiometabolik untuk menurunkan beban penyakit kardiovaskular. Meski demikian, perlu diingat bahwa penelitian ini hanya menunjukkan korelasi, bukan hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui apakah ada hubungan sebab-akibat antara paparan cahaya malam hari dengan penyakit kardiovaskular.

Referensi