Efek Kolkisin pada Luaran Kardiovaskular Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Infark Miokard – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Hendra Gunawan SpPD

Low-Dose Colchicine in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus and Recent Myocardial Infarction in the Colchicine Cardiovascular Outcome Trial (COLCOT)

Roubille F, Bouabdallaoui N, Kouz S, et al. Low-Dose Colchicine in Patients With Type 2 Diabetes and Recent Myocardial Infarction in the Colchicine Cardiovascular Outcomes Trial (COLCOT). Diabetes Care. 2024 Mar 1;47(3):467-470. doi: 10.2337/dc23-1825.

studilayak

Abstrak

Tujuan: manfaat kardiovaskular dari kolkisin dosis rendah telah dilaporkan pada pasien dengan penyakit jantung koroner. Efek tersebut ingin dievaluasi dalam analisis terhadap pasien diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) dari uji klinis COLCOT.

Desain dan metode: COLCOT adalah uji klinis acak yang buta ganda tentang kolkisin 0.5 mg per hari vs. plasebo, yang diinisiasi dalam 30 hari setelah infark miokard.

Hasil: ada 959 pasien dengan DMT2 yang terdaftar dan dievaluasi dalam median 22.6 bulan. Luaran primer terjadi pada 8.7% pasien dalam kelompok kolkisin dan 13.1% pasien dalam kelompok plasebo (HR 0.65; 95%IC: 0.44-0.96, p=0.03). Mual didapatkan pada 2.7% dan 0.8% pasien dalam kelompok-kelompok studi tersebut (p=0.03), dan pneumonia terjadi pada 2.4% dan 0.4% (p=0.008).

Kesimpulan: pada pasien dengan DMT2 dan infark miokard yang baru saja terjadi, pemberian kolkisin 0.5 mg per hari menunjukkan penurunan kejadian kardiovaskular yang signifikan. Hasil ini mendukung hasil studi COLCOT-T2D dalam prevensi primer kardiovaskular.

Colchicine,Drug,In,Prescription,Medication,Pills,Bottle

Ulasan Alomedika

Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyebab mortalitas kardiovaskular tertinggi. Penyakit ini telah diketahui berhubungan dengan proses inflamasi yang bisa berujung pada aterosklerosis. Terjadinya aterosklerosis dilaporkan melibatkan aktivasi bermacam sitokin proinflamasi. Sitokin proinflamasi lalu meningkatkan migrasi monosit ke celah subintimal dan meningkatkan diferensiasinya menjadi sel-sel foam. Sel foam adalah makrofag yang berisi lipoprotein kaya kolesterol teroksidasi.

Kolkisin dilaporkan mempunyai sifat antiinflamasi, sehingga efeknya terhadap penyakit jantung koroner mulai banyak dipelajari. Studi ini ingin menganalisis dampak pemberian kolkisin dosis rendah terhadap risiko kejadian kardiovaskular pada pasien yang memiliki diabetes mellitus tipe 2 dan juga infark miokard akut yang baru saja terjadi.

Ulasan Metode Penelitian

Uji klinis COLCOT merupakan uji klinis acak yang buta ganda, dengan kontrol plasebo dengan rasio 1:1. Uji klinis ini merupakan uji multisenter yang melibatkan 167 pusat layanan kesehatan dalam 12 negara. Kriteria inklusi partisipan adalah adanya riwayat infark miokard dalam 30 hari terakhir.

Sementara itu, kriteria eksklusi adalah gagal jantung kelas III/IV, fraksi ejeksi ventrikel kiri <35%, riwayat stroke 3 bulan terakhir, tipe II infark miokard, dan riwayat bypass koroner 3 tahun terakhir. Kriteria eksklusi lain adalah riwayat kanker non-kulit 3 tahun terakhir, inflammatory bowel disease atau diare kronis, dan kelainan neuromuskular. Gangguan fungsi hepar dan ginjal parah, gangguan hematologi, penyalahgunaan obat dan alkohol, terapi kortikosteroid sistemik kronis, dan hipersensitivitas kolkisin juga menjadi kriteria eksklusi.

Ulasan Hasil Penelitian

Luaran primer penelitian ini adalah mortalitas karena penyakit kardiovaskular, henti jantung, infark miokard, stroke, maupun perawatan baru karena angina. Analisa statistik dilakukan dengan ITT (intention-to-treat).

Penelitian ini melibatkan 4.745 pasien dalam waktu 3 tahun dengan waktu pengamatan rerata 22.6 bulan. Sebanyak 959 pasien memiliki riwayat DMT2 dan terbagi dalam kelompok kolkisin dan plasebo. Rerata usia partisipan penelitian ini adalah 62.4 tahun dan memiliki rerata riwayat infark miokard dalam 14 hari.

Dalam analisis, tampak luaran primer terjadi pada 8.7% pasien dalam kelompok kolkisin dan 13.1% pasien dalam kelompok plasebo (HR 0.65; 95%IC: 0.44-0.96, p=0.03). Lebih lanjut, insiden efek samping kelompok kolkisin dibandingkan kelompok plasebo adalah 14.6% vs. 12.8%. Manifestasi efek samping yang sering didapatkan adalah manifestasi gastrointestinal, dengan diare dan mual lebih sering didapatkan.

Kelebihan Penelitian

Kelebihan penelitian ini adalah desain penelitian yang berupa uji klinis acak terkontrol, yang baik untuk menilai efikasi suatu intervensi medis. Peneliti juga melakukan proses buta ganda (double-blind) untuk mengurangi risiko bias. Penelitian ini juga melibatkan jumlah sampel yang cukup besar dan waktu observasi yang cukup panjang. Luaran primer yang dinilai juga bermakna secara klinis, yaitu mortalitas kardiovaskular, henti jantung, infark miokard, stroke, dan angina yang perlu revaskularisasi di rumah sakit.

Kekurangan Penelitian

Penelitian ini hanya membandingkan intervensi (kolkisin) dengan plasebo. Selanjutnya, penelitian yang secara head-to-head membandingkan kolkisin dengan obat-obatan lain yang mempunyai efek serupa mungkin perlu dilakukan. Penelitian ini juga tidak dapat memastikan apakah ada pengaruh dari obat-obatan antihiperglikemik yang berbeda yang digunakan oleh partisipan untuk terapi diabetesnya.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 dan infark miokard yang baru saja terjadi, penggunaan kolkisin dosis rendah dapat mengurangi risiko berbagai kejadian kardiovaskular, termasuk kematian kardiovaskular.

Temuan tersebut sejalan dengan hasil beberapa penelitian lain yang telah dipublikasi sebelumnya. Efek samping kolkisin pun terbilang ringan. Oleh karena itu, kolkisin dosis rendah dapat menjadi pertimbangan untuk reduksi kejadian kardiovaskular. Namun, ke depannya, bukti klinis lebih lanjut, terutama studi yang membandingkan kolkisin dengan obat preventif kardiovaskular lain secara langsung, masih diperlukan sebelum kolkisin dapat dijadikan bagian dari pedoman prevensi kardiovaskular.

Referensi