Deteksi Prakonsepsi Risiko Diabetes Gestasional

Oleh dr. Queen Sugih

Hingga saat ini, skrining diabetes gestasional dilakukan pada usia kehamilan di atas 24 minggu. Namun, beberapa penelitian menemukan biomarka yang berpotensi mendeteksi risiko diabetes gestasional pada masa prakonsepsi. [1]

Diabetes gestasional didefinisikan sebagai suatu keadaan intoleransi glukosa dengan onset atau baru terdiagnosis saat kehamilan. Diabetes gestasional berkaitan dengan mortalitas dan morbiditas pada ibu dan janin. Diabetes gestasional berkaitan dengan komplikasi maternal seperti preeklampsia, harus menjalani sectio caesarea, diabetes mellitus tipe 2, dan sindrom metabolik. Pada janin, diabetes gestasional dapat menyebabkan mortalitas perinatal, malformasi kongenital, makrosomia, hiperbilirubinemia, dan distosia bahu.

Pencegahan yang dilakukan sejak prakonsepsi diharapkan dapat meningkatkan prognosis ibu dan janin. Namun sampai saat ini belum ada konsensus khusus untuk menilai risiko diabetes gestasional pada masa prakonsepsi. [2-5]

Faktor Risiko Terjadinya Diabetes gestasional

Diabetes gestasional dapat dideteksi lebih dini dengan mengetahui faktor risiko pasien. Faktor risiko yang sudah banyak ditemukan berkaitan dengan diabetes gestasional antara lain:

  • Overweight atau obesitas sebelum maupun selama kehamilan

  • Riwayat diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya
  • Riwayat melahirkan bayi makrosomia (lebih dari 4 kg) pada kehamilan sebelumnya
  • Hipertensi
  • Riwayat sindrom ovarium polikistik

  • Usia di atas 25 tahun
  • Anggota keluarga yang mengalami diabetes [1,6-9]

Pedoman Skrining Diabetes Gestasional Saat Ini

Beberapa organisasi telah mengeluarkan pedoman skrining diabetes gestasional. Namun, seluruhnya menganjurkan skrining dilakukan setelah konsepsi.

American Family Physician (AFP) menyarankan skrining dilakukan di usia kehamilan di atas 24 minggu pada seluruh wanita hamil tanpa faktor risiko. Skrining harus dilakukan lebih dini (direkomendasikan pada kunjungan antenatal care pertama) jika pasien memiliki faktor risiko diabetes gestasional. Tes yang dilakukan adalah pendekatan 2 langkah menggunakan tes toleransi glukosa 50 gram tanpa puasa pada usia kehamilan 24-28 minggu, dilanjutkan tes toleransi glukosa 100 gram dengan puasa jika pemeriksaan pertama positif. [10]

Pedoman American Diabetes Association 2016 menyarankan hal serupa, yaitu skrining dilakukan pada usia kehamilan 24-28 minggu pada seluruh wanita hamil tanpa riwayat diabetes. Pada wanita dengan faktor risiko, skrining dilakukan menggunakan modalitas pemeriksaan diabetes standar pada kunjungan antenatal care pertama. [11]

Sedikit berbeda, The Royal Australian College of General Practitioners (RACGP) menyarankan skrining diabetes gestasional dilakukan pada seluruh wanita hamil di usia kehamilan 26-28 minggu. Pada wanita dengan risiko tinggi, skrining dilakukan sedini mungkin. Jika hasil negatif, maka tes diulangi di usia kehamilan 24-28 minggu. [12]

Skrining Diabetes Gestasional pada Masa Prakonsepsi

Beberapa biomarka prakonsepsi telah diteliti sebagai prediktor kejadian diabetes gestasional. Sebuah studi oleh Hedderson et al pada awal tahun 2014 menunjukkan bahwa kadar sex hormone-binding globulin (SHBG) yang rendah di masa pra kehamilan berasosiasi dengan peningkatan risiko diabetes gestasional. [13]

Studi lain pada tahun yang sama menemukan bahwa kadar gamma glutamyl transferase (GGT) yang rendah sebelum kehamilan berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes gestasional hingga 2 kali lipat. Studi ini menemukan bahwa kadar enzim hepar lainnya (alanine aminotransferase dan aspartate aminotransferase) tidak berkaitan dengan peningkatan risiko. [14]

Studi yang terbaru mengenai hal ini adalah studi oleh Badon et al, dipublikasikan pada akhir 2018. Studi ini meneliti mengenai manfaat berbagai biomarka prakonsepsi untuk mendeteksi dini risiko diabetes gestasional. Pada studi ini, biomarka yang ditemukan berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes gestasional antara lain SHBG, kadar glukosa, adiponektin total, dan indeks resistensi insulin.

Penelitian ini mengelompokkan tiap komponen biomarka ke dalam risiko tinggi jika SHBG <44,2 nM, glukosa > 90 mg/dL, adiponektin total <7,2 mcg/mL, dan indeks resistensi insulin > 3,9. Studi ini menemukan bahwa kadar biomarker SHBG, glukosa, adiponektin, dan indeks resistensi insulin yang tinggi, secara mandiri meningkatkan risiko diabetes gestasional 2 kali lipat.

Parameter SHBG, glukosa, adiponektin, dan indeks resistensi insulin, kemudian dimasukkan ke dalam skor risiko. Setiap peningkatan 1 unit skor risiko berhubungan dengan peningkatan kemungkinan diabetes gestasional sebanyak 2 kali lipat. Skor risiko ini mampu meningkatkan akurasi prediksi diabetes gestasional, dengan sensitivitas 73% dan spesifisitas 67%. [1]

Kesimpulan

Hingga saat ini, berbagai pedoman klinis masih merekomendasikan skrining diabetes gestasional dilakukan pada usia kehamilan di atas 24 minggu. Namun, beberapa penelitian menunjukkan adanya biomarka yang berpotensi mendeteksi risiko diabetes gestasional pada masa prakonsepsi.

Studi yang ada menemukan bahwa kadar sex hormone-binding globulin (SHBG) yang rendah, kadar gamma glutamyl transferase (GGT) yang rendah, kadar glukosa yang tinggi, dan indeks resistensi insulin yang tinggi sebelum kehamilan berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes gestasional. Tetapi, sampai saat ini belum ada konsensus khusus untuk menilai risiko diabetes gestasional pada masa prakonsepsi. Masih dibutuhkan studi lebih lanjut untuk menilai rasio manfaat dan bahaya dari stratifikasi risiko diabetes gestasional di masa prakonsepsi.

Referensi