Skrining Gangguan Pendengaran pada Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD)

Oleh :
dr. Katharina Listyaningrum Prastiwi

Gangguan pendengaran pada anak dengan autism spectrum disorder (ASD) cenderung lebih sulit dideteksi, karena anak dengan ASD memiliki gejala gangguan perilaku sosial yang sulit dibedakan dengan gangguan pendengaran. Sebagai contoh, gangguan perilaku sosial pada anak dengan ASD akan menyebabkan mereka sulit menoleh ketika namanya dipanggil, hal ini juga akan terjadi jika anak mengalami gangguan pendengaran. ASD adalah sindrom yang ditandai dengan defisit interaksi sosial yang persisten baik itu hubungan timbal balik sosial, perilaku komunikatif nonverbal, dan keterampilan dalam mengembangkan, memelihara, dan memahami hubungan, disertai dengan pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas dan berulang.[1,2]

Penurunan Pendengaran pada Anak dengan Autisme

Terdapat bukti ilmiah yang melaporkan bahwa prevalensi gangguan pendengaran pada anak dengan autism spectrum disorder (ASD) mencapai 4-7%. Rata-rata anak dengan ASD yang memiliki gangguan pendengaran baru terdeteksi di atas usia 48 bulan, paling sering pada rentang usia 50-66 bulan. Berbagai kondisi dapat menyebabkan terjadinya penurunan pendengaran pada ASD, termasuk riwayat infeksi cytomegalovirus (CMV)rubella, faktor genetik, usia maternal, dan riwayat konsumsi obat golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) seperti fluoxetine. [1,3,4] Derajat gangguan pendengaran ditemukan tidak berkaitan dengan derajat keparahan ASD.[5,6]

shutterstock_1802950576

Skrining Gangguan Pendengaran pada Anak dengan Autisme

Beberapa gejala dan tanda berikut dapat ditemukan pada anak dengan autism spectrum disorder (ASD) yang disertai gangguan pendengaran :

  • Kata-kata yang tidak jelas
  • Perkembangan bahasa yang atipikal (gerak tubuh minimal, pelafalan yang tidak tepat)
  • Sulit beradaptasi dengan lingkungan
  • Sulit memahami makna simbol dan gerak tubuh
  • Kurangnya kontak mata
  • Terhambatnya perkembangan sosial, motorik, dan sensorik tubuh
  • Tidak mampu mengikuti rutinitas harian[3]

Sebanyak 18,3% gangguan pendengaran pada anak ASD dilaporkan berupa tuli konduktif, dan 18% pasien mengalami hiperakusis.[7]

Sekilas Mengenai Skrining pada Autism Spectrum Disorder

American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan setiap anak untuk menjalani skrining terkait perkembangan dan disabilitas, termasuk autism spectrum disorder (ASD), ketika kunjungan rutin dokter pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 30 bulan. Jadwal skrining tambahan diperlukan pada anak dengan faktor risiko, misalnya kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah, pada usia 18 dan 24 bulan. Penyaringan adanya ASD perlu dilakukan dalam kunjungan rutin ini, terutama jika anak memiliki tanda dan gejala ke arah ASD atau faktor risiko seperti saudara kandung dengan ASD. Bahkan, pada tahun 2016, United States Preventive Services Task Force mengeluarkan rekomendasi agar dokter melakukan skrining ASD pada seluruh anak berusia < 3 tahun tanpa terkecuali.

Alat skrining yang bisa digunakan antara lain Communication and Symbolic Behavior Scales (CSBS), Modified Checklist for Autism in Toddlers (MCHAT), dan Screening Tool for Autism in Toddlers and Young Children (STAT). Alat skrining ini menggunakan daftar pertanyaan yang dapat dijawab orang tua dan dilanjutkan dengan evaluasi oleh dokter atau psikolog untuk menilai ada atau tidaknya ASD. [8]

Skrining Gangguan Pendengaran pada Anak dengan Autisme

Untuk mendeteksi adanya gangguan pendengaran pada anak dengan autism spectrum disorder (ASD) , dapat dilakukan pemeriksaan kemampuan komunikasi. Pada pemeriksaan ini, aspek yang dinilai mencakup ekspresi dalam berbahasa, artikulasi kata, fonologi, dan nada suara ketika berbicara. Lakukan juga pemeriksaan fisik untuk mendeteksi adanya kelainan anatomi pada telinga yang bisa menyebabkan gangguan pendengaran, misalnya adanya akumulasi cairan kronik pada telinga tengah akibat otitis media.

Selain itu, pada pasien yang dicurigai memiliki gangguan pendengaran, perlu dilakukan pemeriksaan audiologi. Pemeriksaan audiologi yang memerlukan kerjasama anak secara ekstensif mungkin akan sulit dilakukan pada pasien ASD. Oleh karenanya, pemilihan pemeriksaan dilakukan berdasarkan kondisi klinis masing-masing pasien.

Beberapa pemeriksaan yang bisa dimanfaatkan untuk menilai fungsi pendengaran pada pasien ASD adalah audiometri, otoacoustic emission test (OET), dan auditory brainstem response (ABR).[4,9]

ABR adalah pemeriksaan yang noninvasif dan dapat dilakukan dengan cepat. Earphone dimasukkan ke dalam telinga anak dan akan dipasang elektroda pada kepala anak untuk mendeteksi aktivitas elektrikal pada saraf. Di negara maju, pemeriksaan ini sering dilakukan secara rutin pada neonatus sebelum keluar dari rumah sakit. Tetapi, studi WHO menunjukkan bahwa pemeriksaan ABR secara rutin pada anak dengan ASD tidak perlu pada setting negara berpenghasilan rendah atau menengah.[10-12]

Sama seperti ABR, pemeriksaan OET juga sering dilakukan secara rutin sebagai bagian skrining fungsi pendengaran neonatus di negara maju. Pemeriksaan ini mengevaluasi respon terhadap bunyi pada telinga dalam atau koklea. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan probe yang mengandung mikrofon dan speaker pada telinga anak, kemudian mendeteksi apakah koklea mampu memproses bunyi yang penting bagi perkembangan komprehensi wicara pada anak.

Pemeriksaan audiometri yang bisa digunakan adalah visual reinforcement audiometry (VRA) ataupun conditioned play audiometry (CPA). VRA lebih cocok dilakukan pada anak usia 6 bulan sampai 2 tahun, sedangkan CPA bisa dilakukan pada anak usia 2-5 tahun.

VRA dilakukan dengan menilai ketika anak menoleh pada sumber bunyi yang diberikan, kemudian anak diberikan hadiah setiap kali respon benar. CPA dilakukan dengan meminta anak mengerjakan perintah ketika terdengar suara, misalnya menyusun balok atau cincin.[11,12]

Kesimpulan

Gangguan pendengaran sering sulit dideteksi pada anak dengan autism spectrum disorder (ASD), karena adanya kemiripan manifestasi dan disabilitas yang dimiliki pasien ASD.

ASD dapa dideteksi melakukan skrining tumbuh-kembang dan manifestasi autisme pada kunjungan rutin pasien di usia 9,18, dan 30 bulan. Alat skrining yang bisa digunakan antara lain Communication and Symbolic Behavior Scales (CSBS), Modified Checklist for Autism in Toddlers (MCHAT), dan Screening Tool for Autism in Toddlers and Young Children (STAT). Sementara itu, gangguan pendengaran pada ASD dapat diskrining dengan menilai gangguan komunikasi pada anak (mencakup ekspresi, artikulasi, dan fonologi), pemeriksaan fisik telinga secara menyeluruh, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang bisa membantu menyaring gangguan pendengaran pada ASD mencakup visual reinforcement audiometry (VRA), conditioned play audiometry (CPA), otoacoustic emission test (OET), dan auditory brainstem response (ABR).

Referensi