Penanganan Autism Spectrum Disorders dengan Early Intensive Behavioral Intervention

Oleh :
dr.Citra Amelinda, SpA., MKes., IBCLC

Early Intensive Behavioral Intervention (EIBI) / Terapi Perilaku Intensif Dini merupakan pendekatan pada Autism Spectrum Disorders (ASD) yang paling diakui. Sejumlah penelitian menunjukkan EIBI dapat menghasilkan peningkatan pada beberapa aspek seperti perilaku adaptif (kemandirian dan kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan), intelektual, kemampuan sosial, komunikasi, dan kualitas hidup.

Namun, bukti ilmiah yang ada masih terbatas sehingga penerapan EIBI pada autism spectrum disorders masih perlu dipertimbangkan.

Meningkatnya prevalensi Autism Spectrum Disease (ASD) meningkatkan kebutuhan akan terapi perilaku berbasis bukti untuk mengurangi dampak dari gejala ASD. Saat ini belum ada terapi kuratif atau psikofarmakologi yang terbukti efektif dapat mengobati semua gejala ASD.[1]

asd with ebi comp

Sekilas Tata Laksana ASD

Berbagai macam tata laksana dilakukan dengan tujuan mengurangi berbagai gejala ASD. Terapi psikofarmakologi belum ada yang terbukti efektif dalam mengatasi gejala ASD. Pendekatan applied behavior analysis (ABA) menunjukkan adanya perbaikan kognitif, adaptif, dan sosial anak dengan ASD dalam empat dasawarsa terakhir. EIBI merupakan implementasi dari prinsip-prinsip perilaku berdasarkan ABA.[1-3]

Penanganan ASD sebaiknya dimulai sedini mungkin (usia 3,5–5 tahun). Semakin awal dilakukan intervensi, hasilnya akan semakin baik. Hal ini disebabkan oleh adanya plastisitas otak, sehingga diharapkan kesenjangan antara kemampuan anak ASD dan tingkat perkembangan yang seharusnya sudah mampu dilakukan oleh anak seusianya tidak terlalu jauh.[4,5]

Beberapa penelitian juga menunjukkan hasil positif pada terapi perilaku dengan intensitas yang tinggi (15-40 minggu) dalam peningkatan perilaku adaptif, kemampuan berbahasa, serta berkurangnya gejala ASD dan perilaku sulit.[6-9]

Tujuan utama tata laksana autism spectrum disorders adalah untuk mengatasi gejala terberat ASD, yaitu gangguan komunikasi dan sosial, keterbatasan minat, kemampuan bermain, dan melakukan imitasi. Intervensi dilakukan secara terstruktur dan dalam suasana yang jelas.[1]

Early Intensive Behavioral Intervention

Terapi EIBI pada anak ASD sudah mencakup semua rekomendasi di atas. Satu orang terapis untuk satu anak, dalam suasana yang terstruktur (klinik atau rumah) selama 25 jam per minggu atau lebih. Instruksi yang diberikan harus sistematis dan dalam suasana kehidupan sehari-hari (kelas, sekolah, di tempat umum).

Terapi EIBI berfokus pada gangguan utama ASD dan disusun khusus sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak (misalnya komunikasi dan bersosialisasi). Selain itu, pendekatan yang digunakan juga bersifat personal tergantung dari perilaku sulit yang ditemukan. Peranan orang tua sangat besar dalam hal pengaturan waktu, penerapan, dan membantu dalam menyusun program.[1]

Terapi EIBI dibuat berdasarkan prinsip prosedur ABA yang banyak digunakan untuk autisme. Komponen utamanya yaitu:

  1. Pemberian stimulus awal (instruksi)
  2. Anak memberikan respons (perilaku)
  3. Anak mendapatkan konsekuensi (reinforcement) dari perilakunya
  4. Ada kalanya anak diberikan bantuan (prompt) untuk memunculkan respons perilaku yang diharapkan

Stimulus Awal (Instruksi)

Setiap anak dengan atau tanpa disadari akan melakukan suatu perilaku tertentu. Akan tetapi, hal yang terpenting adalah perilaku tersebut harus sesuai dengan situasi dan kondisi. Misalnya, seorang anak akan menyebutkan mobil saat melihat mobil atau saat ditanya tentang kendaraan, bukan secara tiba-tiba di luar konteks menyebutkan mobil.

Respons (Perilaku)

Target respons perilaku yang diharapkan muncul dari seorang anak harus dengan jelas ditetapkan kriterianya. Respons yang benar dapat muncul sendiri atau dibantu (prompt). Apabila anak menunjukkan respons perilaku yang benar, terapis segera memberikan konsekuensi berupa hal yang ia sukai (pujian, mainan, atau makanan).

Apabila respons perilaku yang muncul tidak sesuai atau anak tidak merespons sama sekali, maka terapis dapat memberikan petunjuk verbal. Selanjutnya anak diminta mengulangi kembali.

Konsekuensi (Reinforcement)

Konsekuensi merupakan inti dari pembelajaran. Setiap anak berbeda, ada yang menyukai pujian, makanan, atau mainan tertentu. Tugas terapis adalah menemukan  respons mana yang paling disukai anak. Caranya yaitu dengan bertanya pada orang tua, mengamati anak dari jauh, atau memberikan anak berbagai macam konsekuensi alternatif.

Konsekuensi diberikan langsung setelah anak merespons dengan benar terhadap stimulus sehingga anak paham perilaku apa yang sebaiknya dilakukan. Konsekuensi dapat berubah disesuaikan dengan situasi.

Bantuan (Prompt)

Tujuan pemberian bantuan adalah untuk memudahkan anak memberikan respons yang sesuai dengan stimulus. Misalkan anak disuruh untuk menyentuh hidung,  maka bantuan yang dapat diberikan adalah memegang tangan anak untuk menyentuh hidungnya. Harapannya adalah kelak anak dapat merespons tanpa harus selalu dibantu.

Analisis Tugas

Semua tugas yang sulit untuk dilakukan harus dipecah menjadi berbagai tugas sederhana agar lebih mudah dipelajari. Misalnya, tugas bermain kereta dipecah menjadi menyusun bagian kereta, menyatukan bagian menjadi kereta, kemudian mendorong kereta agar berjalan. Belajar berbicara dapat dipecah menjadi belajar mengucapkan per suku kata, lalu mempelajari tiap jenis kata, sampai kemudian bisa merangkai satu kalimat.[10]

Discrete Trial Training

Anak dengan autism spectrum disorders cenderung lebih lambat belajar, sulit memusatkan perhatian dalam jangka waktu lama, dan lebih sulit memahami konsep abstrak. Oleh karena itu, pembelajaran akan lebih mudah apabila pelajaran dibuat pendek dan sederhana. Setiap program pelajaran harus dievaluasi apakah berhasil atau tidak dalam penilaian yang terukur.

Selain itu, anak juga harus dapat mengaplikasikan hal yang sudah dipelajarinya dalam suasana di luar kelas, misalnya saat bermain. Program dinyatakan sukses apabila anak berhasil masuk ke sekolah biasa.[11]

Efektivitas Early Intensive Behavioral Intervention terhadap Autism Spectrum Disorder

Sebuah Penelitian dengan metode case control  meneliti 35 anak yang mendapatkan EIBI dan 24 anak yang mendapatkan terapi umum selama 1 tahun. Kelompok EIBI menunjukkan peningkatan dalam fungsi adaptif dan penurunan gejala autisme.[8]

Fava dkk membandingkan 12 anak yang dilakukan EIBI dan 10 anak yang dilakukan terapi umum. Durasi terapi per minggu tidak berbeda jauh, 14 jam per minggu untuk kelompok EIBI dan 12 jam per minggu untuk kelompok umum. Setelah enam bulan, kelompok EIBI menunjukkan peningkatan intelektual, serta berkurangnya gejala autisme dan perilaku sulit.[9]

Penelitian meta analisis yang dilakukan di Los Angeles menunjukkan ada 1 penelitian dengan luaran kelompok terapi umum mempunyai hasil hampir sama atau sedikit lebih baik daripada kelompok EIBI. Sedangkan, 4 penelitian lainnya menunjukkan bahwa terdapat peningkatan intelektual dan perilaku adaptif secara signifikan pada kelompok EIBI.[2,5,12-15]

Sebuah penelitian yang dilakukan di Roma, Italia, membandingkan 24 anak yang dilakukan EIBI setiap minggu dan 20 anak yang dilakukan 12 jam terapi umum setiap minggu selama enam bulan. Kelompok intervensi menunjukkan hasil yang lebih baik dalam bahasa, perkembangan mental, dan tingkat keparahan gejala. Namun, kelompok intervensi umum mencapai hasil yang lebih besar dalam sosialisasi perilaku adaptif dan keterampilan motorik.[7]

Penelitian meta analisis lainnya telah dilakukan terhadap satu uji klinik randomisasi  dan empat uji klinik tanpa randomisasi, yang membandingkan antara EIBI dan terapi biasa. Selain membandingkan IQ, gejala autisme, dan perilaku adaptif, hal yang turut diamati adalah kemampuan bahasa, komunikasi, bersosialisasi, dan kemampuan hidup sehari hari.

Hasil penelitian meta analisis ini memang menunjukkan bahwa EIBI lebih unggul dalam semua aspek tersebut. Namun, bukti ilmiahnya tidak kuat karena metode yang digunakan tidak optimal, pemberian intervensi tidak random, dan perbedaan karakteristik sampel terlalu jauh sehingga menimbulkan risiko terjadinya bias terhadap hasil penelitian.[1]

Efektivitas EIBI dan Tingkat Stres Orang Tua

Walaupun begitu, penelitian-penelitian lain menunjukkan bahwa tingkat stres pada orang tua kelompok umum lebih rendah dibandingkan dengan kelompok intervensi.[7,9]

Tantangan EIBI

Salah satu tantangan EIBI adalah belum adanya suatu uji klinis acak skala besar yang membuktikan terapi EIBI memiliki dasar ilmiah yang kuat. Hal ini sulit dilakukan karena protokol terapi autism spectrum disorders sangat bervariasi dan disesuaikan dengan kebutuhan personal setiap anak.

Anak dengan autism spectrum disorders memiliki IQ, perilaku adaptif, kemampuan sosial, bahasa, dan berbagai karakter lainnya yang sangat beragam, sehingga perlu lebih diteliti secara spesifik hal apa yang cocok diterapkan untuk individu tertentu.[3,15,16]

Berbagai aspek EIBI juga perlu diteliti lebih lanjut, antara lain:

  1. Dampak EIBI terhadap kesejahteraan orang tua dan kualitas hidup anggota keluarga lain secara keseluruhan, karena pengaruhnya (misalnya stres yang dialami orang tua) mempengaruhi respons anak terhadap terapi
  2. Modifikasi yang perlu dilakukan terhadap EIBI bagi kelompok anak ASD yang tidak mengalami perbaikan
  3. Kelompok usia yang paling efisien dan efektif dalam memberikan dampak pada otak dan perilaku
  4. Durasi terapi minimal yang dibutuhkan untuk memberikan efek menetap jangka panjang
  5. Penanda biologis yang dapat diperiksa untuk membantu evaluasi terapi[17]

Kesimpulan

Hasil terapi EIBI menunjukkan perbaikan terutama pada Intelektual, perilaku adaptif, bahasa, keparahan gejala, dan kemampuan hidup sehari hari. Namun, pada penelitian lain ditemukan EIBI tidak terlalu berpengaruh dalam mengurangi derajat berat autism spectrum disorders.

Oleh karena itu, dalam memilih pendekatan terhadap anak ASD sebaiknya mempertimbangkan juga keadaan klinis masing-masing pasien, pengalaman klinis, dan kondisi keluarga.

Referensi