Konsumsi Paracetamol saat Hamil dan Risiko ADHD pada Anak

Oleh dr. Gisheila Ruth

Paracetamol merupakan analgetik dan antipiretik lini pertama bagi ibu hamil. Namun, ternyata konsumsi paracetamol jangka panjang saat hamil ditemukan berkorelasi dengan peningkatan risiko terjadinya gangguan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada anak.

Paracetamol merupakan obat yang direkomendasikan sebagai analgetik atau antipiretik yang aman bagi ibu hamil. Berdasarkan FDA, paracetamol merupakan obat dengan kategori B pada kehamilan, yaitu tidak ditemukannya risiko pada manusia. Lebih dari 50% wanita hamil menggunakan paracetamol untuk mengurangi rasa nyeri ataupun meredakan demam. Namun, beberapa studi menyatakan bahwa penggunaan paracetamol jangka panjang dapat mengganggu perkembangan sistem saraf janin dan dapat berdampak bertahun-tahun setelah pajanan paracetamol. Oleh karena itu, beberapa studi dilakukan untuk melihat apakah penggunaan paracetamol memiliki dampak terhadap peningkatan risiko gangguan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada anak nantinya.[1,2]

Depositphotos_139361530_m-2015_compressed

Rasionalisasi Penggunaan Paracetamol selama Kehamilan

Sampai saat ini, belum ada Randomized Controlled Trials (RCT) yang menentukan keamanan pasti dari analgetik dan antipiretik seperti paracetamol, ibuprofen, atau naproksen pada kehamilan. Paracetamol masih merupakan drug of choice bagi ibu hamil apabila mengalami demam atau nyeri. Namun, paracetamol dapat melewati lapisan plasenta sehingga dapat menyebabkan efek langsung kepada fetus. Pada studi di hewan, pengunaan kronik paracetamol dapat menurunkan diameter duktus arteriosus dan meningkatkan risiko Tetralogy of Fallot, namun belum didapatkan hubungan yang definitif. Studi lain menyatakan bahwa paracetamol dapat menyebabkan risiko terjadinya alergi dan asma pada anak. Beberapa studi kohort terbaru menyatakan adanya kemungkinan hubungan antara penggunaan paracetamol selama kehamilan dengan gangguan ADHD atau hiperkinetik lainnya.

Di sisi lain, penggunaan paracetamol saat hamil juga memiliki efek protektif mencegah defek pada janin. Studi menunjukkan demam saat hamil diasosiasikan dengan peningkatan risiko defek pada janin.[3,4]

Bukti Klinis Pengaruh Paracetamol terhadap Risiko Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Salah satu faktor risiko ADHD yang telah terbukti adalah hipertensi dalam kehamilan. Penelitian terkini menemukan bahwa penggunaan paracetamol saat hamil juga berkorelasi dengan peningkatan risiko ADHD pada anak.

Studi kohort dilakukan pada 2246 anak ADHD untuk meneliti hubungan antara penggunaan paracetamol selama masa kehamilan terhadap terjadinya ADHD pada anak. Pada studi tersebut ditemukan bahwa pajanan paracetamol prenatal kurang dari tujuh hari tidak berasosiasi dengan kejadian ADHD pada anak. Penggunaan paracetamol lebih dari tujuh hari memperlihatkan peningkatan risiko ADHD pada anak. Peningkatan risiko ini terlihat signifikan pada penggunaan selama 29 hari atau lebih. Penggunaan paracetamol untuk demam dan infeksi prenatal selama 22-28 hari memiliki asosiasi kuat dengan ADHD. Pada studi ini ditemukan beberapa keterbatasan, yaitu adanya faktor-faktor perancu yang bisa menyebabkan bias dan diagnosis ADHD tidak divalidasi di klinik penelitian, namun hanya berdasarkan diagnosis dari dokter spesialis pelayanan kesehatan setempat.[1]

Studi subkohort dilakukan oleh Liew Z, et al. untuk menilai pengaruh penggunaan paracetamol selama kehamilan terhadap fungsi atensi dan eksekutif anak pada usia 5 tahun. Terdapat hubungan antara fungsi atensi atau eksekutif yang subnormal pada anak dengan penggunaan paracetamol selama kehamilan. Selain itu, didapatkan pula adanya kesulitan atensi selektif dan kesulitan fungsi eksekutif berdasarkan indeks metakognisi. Penggunaan paracetamol selama trimester pertama dinilai memiliki risiko yang paling tinggi. Studi ini juga menilai bahwa peningkatan lama penggunaan paracetamol berhubungan dengan peningkatan risiko untuk kesulitan atensi dan fungsi eksekutif. Pada studi ini dilakukan blinding dan analisis regresi untuk meminimalisir kemungkinan bias seleksi. Namun, pada studi tetap terdapat kemungkinan adanya faktor perancu, seperti indikasi penggunaan obat dan faktor gaya hidup.[5]

Meta analisis dilakukan oleh Masarwa, et al. menilai hubungan antara pajanan paracetamol selama kehamilan terhadap risiko ADHD dan gangguan spektrum autisme. Enam studi kohort memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan penggunaan paracetamol selama kehamilan terhadap peningkatan risiko kejadian ADHD. Lima studi kohort memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan paracetamol selama kehamilan terhadap peningkatan risiko gangguan autisme. Selain itu, terdapat beberapa studi yang menilai adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan paracetamol selama kehamilan terhadap gejala hiperaktivitas dan gangguan perilaku. Meta analisis ini merupakan meta analisis pertama dari semua studi yang menilai hubungan antara penggunaan paracetamol selama kehamilan terhadap gangguan neurokognitif anak. Pada studi ini dilakukan analisis sensitivitas untuk memperkuat asosiasi. Namun, pada meta analisis ini beberapa studi memiliki bias dan heterogenitas.  

Berdasarkan dua kohort dan satu meta analisis di atas, ditemukan bahwa penggunaan paracetamol selama kehamilan terbukti memiliki pengaruh terhadap berkembangnya gangguan kognitif anak, seperti adanya ADHD ataupun autisme. Peningkatan risiko gangguan kognitif ini meningkat tajam pada penggunaan paracetamol dalam durasi lama. Walau demikian, hubungan ini hanya bersifat hubungan korelasi, bukan hubungan kausal. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan penyebab peningkatan risiko ADHD pada anak, misalnya apakah risiko ADHD tersebut memang disebabkan oleh paracetamol atau akibat penyakit yang mendorong ibu mengonsumsi paracetamol.

Kesimpulan

Paracetamol merupakan analgesik dan antipiretik yang menjadi drug of choice bagi ibu hamil. Meskipun demikian, beberapa penelitian menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan paracetamol jangka panjang terhadap timbulnya risiko ADHD dan gangguan autisme pada anak nantinya. Penggunaan paracetamol lebih dari tujuh hari meningkatkan risiko gangguan ADHD. Oleh karena itu, penggunaan obat paracetamol dalam kehamilan sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter dan tidak dikonsumsi secara bebas.

Referensi