Cognitive Behavioral Therapy (CBT) VS Antidepresan pada Penatalaksanaan Depresi

Oleh dr.Irwan, SpKJ, PhD.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa manfaat yang didapatkan dari obat antidepresan maupun cognitive behavioral therapy (CBT) adalah sama. Obat antidepresan merupakan terapi lini pertama dalam berbagai pedoman penatalaksanaan depresi, terutama pada kasus depresi sedang sampai berat. Namun banyak pasien yang mendapatkan obat antidepresan tidak mendapatkan respon yang adekuat, bahkan terdapat pasien yang dikategorikan sebagai treatment resistant depression [1].

Rasionalitas Penatalaksanaan Depresi dengan Obat Antidepresan

Penggunaan obat antidepresan diawali dengan ditemukannya properti psikoaktif dari iproniazid (obat tuberculosis) yang mampu memperbaiki gejala depresi. Iproniazid masuk ke dalam kelas monoamine oxidase inhibitor (MAOI). Berikutnya ditemukan obat antidepresan golongan trisiklik (TCA) imipramine. Karena profil efek samping dan keamanan, obat antidepresan generasi pertama (MAOI dan TCA) tidak lagi direkomendasikan. Namun di Indonesia golongan TCA masih banyak digunakan [2, 3].

Saat ini rekomendasi farmakoterapi untuk depresi adalah obat antidepresan generasi ke dua. Di Indonesia, yang tersedia luas adalah golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) dan selective serotonin norepinephrine reuptake inhibitor (SNRI) dan keduanya merupakan terapi pilihan lini pertama untuk depresi [3] Umumnya pilihan obat antidepresan dilakukan berdasarkan pertimbangan profil pasien, efek samping obat, dan faktor ekonomi.

Response rate obat antidepresan sebagai monoterapi relatif rendah. Hal ini diperberat oleh banyaknya pasien yang menghentikan terapi karena mengalami efek samping [1].

Keterbatasan farmakoterapi untuk depresi yang ada saat ini adalah onset yang lambat dan efikasi yang relatif rendah. Terapi depresi dengan obat antidepresan membutuhkan durasi panjang sehingga menimbulkan berbagai efek jangka panjang, seperti pertambahan berat badan dan discontinuation syndrome [1, 2, 4, 5].

Masalah lain yang mungkin timbul adalah resistensi terhadap terapi obat antidepresan. Treatment resistant therapy merupakan masalah yang cukup sering ditemukan. Di Inggris, 55% pasien yang mendapatkan obat antidepresan di layanan primer selama > 6 minggu ternyata memenuhi kriteria untuk treatment resistant depression [6] dan sebesar 22% pada pasien di Kanada [7].

psychotherapist

 

Rasionalitas Penatalaksanaan Depresi dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

Tujuan dari psikoterapi (seperti cognitive behavioral therapy/CBT) adalah mengidentifikasi bagaimana faktor-faktor yang terjadi di masa lalu dan masa kini bisa mempengaruhi kondisi depresi saat ini, sekaligus mengajari pasien bagaimana mengatasi faktor-faktor ini secara efektif [1].

CBT mengkombinasikan prinsip-prinsip perilaku dan kognitif dasar. Secara singkat, teknik ini akan membantu pasien memahami pikiran, mood, dan perilaku mereka saling berinteraksi untuk menimbulkan atau memperberat depresi. Pasien diajari untuk merubah dan mengganti pikiran dan perilaku disfungsional dengan pikiran dan perilaku yang lebih adaptif yang bisa mengurangi stress dan memperbaiki mood.

Salah satu masalah dalam melakukan penelitian mengenai psikoterapi adalah variasi yang ada. Ada pendekatan psikoterapi yang sebenarnya mirip namun disebut dengan nama-nama yang berbeda, dan sebaliknya, satu terapi yang sama bisa bermanifestasi dalam bentuk yang berbeda sesuai dengan terapisnya [1].

CBT dilaporkan efektif dalam penanganan kasus-kasus depresi bahkan di layanan primer. Twomey et almelaporkan dalam sebuah meta analisis bahwa CBT lebih efektif dibandingkan dengan no treatment dan terapi standar untuk gejala-gejala kecemasan dan depresi di layanan primer [8]. Ijaz et al juga melaporkan bahwa psikoterapi efektif digunakan sebagai adjunct therapy pada kasus-kasus depresi. Mereka juga melakukan analisa spesifik untuk CBT dan menemukan bahwa penambahan CBT berhubungan dengan penurunan skor depresi pada jangka sedang (dalam 12 bulan) dan jangka panjang (dalam 46 bulan) [9].

Kombinasi CBT dan Obat Antidepresan

Dalam sejumlah pedoman penatalaksanaan untuk depresi, direkomendasikan kombinasi antara obat antidepresan dan CBT dalam terapi untuk depresi. Sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan apakah keduanya mempunyai efek terapeutik yang saling melengkapi ataukah mempunyai efek terpisah. Namun sebuah meta analisis pada tahun 2012 menyebutkan bahwa efek terapeutik psikoterapi dan farmakoterapi bersifat independen tetapi additif, tidak saling mengganggu, dan keduanya memberikan kontribusi yang setara dalam perbaikan gejala depresi [10, 11].

Sebuah tinjauan sistematik terhadap 11 penelitian dengan total 1511 pasien untuk membandingkan antara CBT dan obat antidepresan menemukan bahwa baik pasien yang mendapatkan CBT maupun obat antidepresan mempunyai kecenderungan yang setara dalam merespon terapi dan mengalami perbaikan. Mereka menemukan bahwa pasien depresi yang mendapatkan obat antidepresan saja, CBT saja, atau kombinasi CBT dan obat antidepresan mempunyai respon terapi yang sama. Baik respon, remisi, maupun adverse event di antara kelompok-kelompok terapi ini tidak berbeda bermakna [1].

Namun sebuah meta analisis terbaru melaporkan bahwa penambahan psikoterapi ke dalam regimen terapi standar depresi (dengan obat antidepresan) memberikan manfaat terhadap response dan remission rate pasien dengan depresi, bahkan pada pasien dengan treatment resistant depression [9]. Namun analisa yang mereka lakukan tidak terbatas pada penggunaan CBT saja, tapi juga modalitas psikoterapi lainnya pada depresi.

Baik obat antidepresan maupun CBT bisa digunakan sebagai modalitas tunggal dalam penanganan depresi, namun penggunaan secara kombinasi menunjukkan efikasi yang lebih baik dibandingkan penggunaan obat antidepresan saja, terutama pada kasus-kasus dengan depresi berat. Bahkan pada pemantauan jangka panjang, terapi kombinasi secara signifikan lebih efektif dibandingkan farmakoterapi saja. Efikasi dari terapi kombinasi obat antidepresan dan CBT dilaporkan tidak tergantung pada jenis obat antidepresan yang digunakan [10]. Khan et al (2012) menyebutkan bahwa kombinasi antara psikoterapi dan obat antidepresan memberikan manfaat yang lebih bila dibandingkan dengan terapi antidepresan atau psikoterapi saja [12].

Untuk depresi sedang sampai berat, terapi yang direkomendasikan adalah kombinasi psikoterapi dengan antidepresan. Sementara untuk depresi ringan, terapi lini pertama adalah psikoterapi.[13]

Kekurangan dari farmakoterapi adalah efek terapeutiknya berakhir setelah obat dihentikan, sedangkan CBT mengajarkan kepada pasien untuk mengatasi masalahnya sendiri. Disebutkan bahwa 75% pasien yang pernah mengalami depresi berat akan mengalami relaps setidaknya satu kali dalam hidupnya Karena depresi seringkali mengalami relaps, CBT merupakan salah satu modalitas terapi yang bisa digunakan untuk mencegah hal ini. [14].

Kesimpulan

CBT maupun obat antidepresan mempunyai efektifitas yang cukup setara dalam penatalaksanaan depresi. Kedua modalitas terapi ini sebaiknya tersedia dan diberikan sebagai pilihan kepada pasien. Hasil penelitian lebih banyak merekomendasikan CBT dan obat antidepresan sebagai terapi kombinasi. CBT juga akan lebih baik digunakan sebagai modalitas untuk pencegahan relaps depresi.

Referensi