Penggunaan Vitamin B untuk Penanganan Kasus Kelelahan

Oleh dr. Alexandra Francesca

Dalam praktik sehari-hari, sering kali pasien dengan keluhan kelelahan diresepkan vitamin B, baik dalam bentuk gabungan multivitamin (vitamin B kompleks) maupun satuan (umumnya vitamin B12) – meskipun tanpa pemeriksaan laboratorium sebelumnya yang menunjukkan adanya defisiensi vitamin B. Akan tetapi hingga saat ini belum ada bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa vitamin B benar bermanfaat untuk menangani keluhan kelelahan.

Vitamin B adalah jenis vitamin larut dalam air yang telah diketahui berperan dalam berbagai proses metabolisme sel, baik sebagai koenzim maupun sebagai prekursor dalam proses biologis, yang penting dalam menjaga optimalnya fungsi sistem saraf pusat (terutama vitamin B6/Pyridoxin, B12/Sianokobalamin, dan B9/Asam folat).[1, 2]

Bentuk sediaan vitamin B yang diberikan untuk mengatasi kelelahan pun bermacam-macam, dari sediaan oral tablet hingga injeksi, baik intramuskular maupun intravena. Ada jenis sediaan vitamin B yang terpisah untuk setiap jenis vitamin B, ada pula sediaan yang merupakan kombinasi multivitamin – misalnya vitamin B kompleks (kombinasi dari vitamin B1/Tiamin, B2/Riboflavin, dan B6), juga yang dikenal dengan merek dagang Beneuron atau Neurobion (kombinasi dari vitamin B1, B6, dan B12).

exhausted person

Bukti Ilmiah Penggunaan Vitamin B untuk Penanganan Kasus Kelelahan

Tidak banyak publikasi ilmiah yang meneliti manfaat vitamin B terhadap perbaikan kondisi kelelahan dan regimen dosis yang digunakan pun inkonsisten antara studi satu dengan yang lainnya. Studi-studi yang ada hanya meneliti suplementasi vitamin B dalam bentuk kombinasi vitamin-mineral atau hanya dalam bentuk vitamin B12 saja namun setiap studi tetap menggunakan dosis yang bervariasi.

Pemberian Vitamin B dalam Bentuk Kombinasi Multivitamin untuk Kelelahan

Sebuah double-blind randomized controlled trial (RCT) pada 215 pria sehat berusia 30-55 tahun di Newcastle, Inggris, menunjukkan bahwa suplementasi kombinasi vitamin-mineral (vitamin B kompleks, C, serta magnesium, zinc, dan kalsium) dapat memperbaiki kondisi lelah secara bermakna yang diukur dengan skala Profile of Mood States (POMS). Namun, perlu dicatat bahwa keterbatasan studi ini adalah tidak adanya data mengenai kebiasaan makan (dietary habit) dan konsumsi suplemen pre-intervensi pada subjek penelitian.[2]

RCT serupa di tahun 2010 yang meneliti pemberian suplementasi multivitamin-mineral (vitamin A, B kompleks, C, D, E, K, magnesium, iodine, zinc, kalsium, dan berbagai mineral lainnya) pada 216 wanita sehat berusia antara 25-50 tahun juga melaporkan bahwa terdapat perbaikan kondisi kelelahan pada kelompok yang diberikan suplementasi multivitamin mineral dibandingkan plasebo.Namun, harus dicatat bahwa studi ini juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya adalah masa intervensi yang pendek dan pendekatan statistik yang digunakan. [1]

Pemberian Vitamin B12 untuk Kelelahan

Vitamin B12 biasanya diberikan dalam bentuk hidroksikobalamin (umumnya di negara Eropa) atau sianokobalamin (di Amerika Serikat). Umumnya terapi rumatan sianokobalamin diberikan dalam dosis harian 1 mg per oral atau dosis bulanan 1 mg secara intramuskular.[3]

Meski klaim bahwa vitamin B12 dapat memperbaiki kondisi kelelahan sudah ada sejak tahun 1952, uji klinis suplementasi vitamin B12 dengan pembanding plasebo baru dilakukan pertama kali pada tahun 1973.[3] Pada studi tahun 1973 ini diteliti pemberian 5mg vitamin B12 melalui injeksi intramuskular pada 29 subjek dengan kadar B12 normal, di mana ditemukan tidak adanya perbedaan bermakna pada tingkat kelelahan kelompok vitamin B12 dengan kelompok plasebo.[4]

Uji klinis pada seorang subjek (N of 1 trial) berusia 45 tahun telah meneliti manfaat pemberian 3 mg vitamin B12 atau plasebo sebanyak 2 kali per minggu secara intramuskular untuk sindroma kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome). Keluaran studi diukur menggunakan skala kelelahan 1-10 dan Mini-Mental State Examination (MMSE). Pemberian vitamin B12 tidak berbeda bermakna dengan plasebo dalam memperbaiki kelelahan.[5, 6]

Studi double-blind crossover trial mengevaluasi kombinasi asam folat-sianokobalamin dibandingkan dengan plasebo untuk chronic fatigue syndrome. Pemberian vitamin B12 secara intramuskular yang mengandung 0.8mg asam folat dan 200mcg dilaporkan tidak berbeda bermakna dengan plasebo dalam meredakan gejala kelelahan.[7]

Kesimpulan

Pemberian vitamin B untuk kelelahan tidak sesuai dengan bukti klinis yang ada meskipun hal ini merupakan praktik yang umum ditemukan di berbagai layanan kesehatan di Indonesia. Hanya sedikit bukti yang tersedia terkait penggunaan vitamin B untuk menatalaksana kasus kelelahan, apalagi berbagai publikasi menggunakan regimen dosis yang berbeda-beda. Hasil dari beberapa uji klinis berskala kecil pun tidak mendukung klaim adanya perbaikan kondisi kelelahan dengan adanya suplementasi vitamin B. Masih dibutuhkan studi lebih lanjut sebelum vitamin B dapat direkomendasikan untuk pengobatan kelelahan walaupun studi-studi ini juga tidak melaporkan adanya kerugian medis ataupun adverse effect.

Referensi