Rute Pemberian Suplementasi Vitamin B12 pada Pasien Defisiensi Vitamin B12

Oleh dr. Alexandra Francesca

Suplementasi vitamin B12 pada pasien defisiensi vitamin B12 umumnya diberikan secara intramuskular. Rute pemberian per oral tidak dipilih baik karena ketidaktahuan mengenai pilihan rute pemberian tersebut atau karena keraguan mengenai efektifitasnya dibandingkan dengan pemberian secara intramuskular.

Defisiensi vitamin B12 adalah kondisi yang cukup sering terjadi. Insidensi defisiensi vitamin B12 bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Saat ini, sebagian besar pasien defisiensi vitamin B12 ditangani pada fasilitas kesehatan primer dengan pemberian suplementasi vitamin B12 secara intramuskular. Banyak dokter yang tidak memilih untuk menggunakan suplementasi vitamin B12 oral, hal ini mungkin dikarenakan oleh banyak dokter yang tidak sadar akan pilihan pemberian oral, ataupun masih ragu mengenai efektifitas pemberian vitamin B12 secara oral.[1]

Depositphotos_96430094_m-2015_compressed

Vitamin adalah sekelompok substansi yang diperlukan tubuh manusia untuk metabolisme yang efektif. Vitamin B12 (kobalamin) merupakan vitamin yang penting dalam pembentukan sel darah merah, pertumbuhan, serta perawatan sistem saraf. Satu-satunya sumber makanan yang mengandung vitamin B12 adalah produk hewani, yakni telur, ikan, dan daging.[1] Kebutuhan sehari-hari vitamin B12 berhubungan dengan usia, pada dewasa 1,5 mcg dan pada bayi 0,4 mcg.[2] Vitamin B12 diserap di ileum terminal, penyerapan tersebut bergantung pada keberadaan faktor intrinsik (glikoprotein yang disekresi sel parietal pada mukosa lambung). Faktor intrinsik akan berikatan dengan vitamin B12 membentuk suatu kompleks yang akan diangkut melewati membran sel dengan berikatan ke glikoprotein lain yang disebut transkobalamin.

Penyebab Defisiensi Vitamin B12

Penyebab paling sering dari defisiensi vitamin B12 adalah penyakit autoimun anemia pernisiosa, sebuah kondisi di mana absorpsi vitamin B12 terganggu oleh karena destruksi sel parietal secara autoimun. Penyebab lain defisiensi vitamin B12 yang lebih jarang terjadi antara lain:

  • Gastrektomi
  • Reseksi ileus
  • Insufisiensi pankreas
  • Sindrom-sindrom malabsorpsi (penyakit Crohn's dan penyakit celiac)
  • Malabsorpsi yang disebabkan pertumbuhan bakteri pencernaan yang berlebihan
  • Defek kongenital
  • Infestasi[1]

Defisiensi yang murni disebabkan oleh faktor nutrisi sangat jarang terjadi, jika terjadi, biasanya pada vegetarian.[3] Selain itu,atrofi lambung juga dapat menjadi penyebab malabsorpsi vitamin B12. Atrofi lambung dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti adanya bakteri Helicobacter pylori secara kronis dalam lambung serta penggunaan obat metformin dan proton pump inhibitor (PPI) dalam jangka panjang.[4-6]

Mekanisme Suplementasi Vitamin B12 Intramuskular dan Oral

Mekanisme yang mendasari pemberian suplementasi vitamin B12 secara intramuskular adalah sifat vitamin B12 yang dapat diserap dan diangkut melalui difusi cairan. Dulu, para klinisi yakin bahwa penyebab utama defisiensi vitamin B12 adalah karena kurangnya faktor intrinsik, adanya reseksi lambung, atau karena penyakit sistem pencernaan. Gangguan penyerapan vitamin B12 pada sistem pencernaan dapat diatasi dengan pemberian vitamin B12 secara intramuskular.[1]

Mekanisme untuk rute oral kemungkinan didasari pada sifat vitamin B12 yang dapat diserap baik secara pasif (tanpa berikatan dengan faktor intrinsik) dan aktif (berikatan dengan faktor intrinsik) pada ileum terminal. Difusi pasif berperan pada 1,2% dari total penyerapan vitamin B12. Oleh karena itu, pemberian vitamin B12 oral dosis tinggi (misal 1000 mcg per hari) mungkin dapat menghasilkan absorpsi vitamin B12 yang cukup bahkan pada kondisi defisiensi faktor intrinsik, sehingga rute oral sebenarnya dapat menjadi alternatif rute intramuskular yang saat ini banyak digunakan.[1]

Vitamin B12 intramuskular dapat diberikan dengan dua sediaan, yakni sianokobalamin dan hidroksikobalamin. Namun sianokobalamin telah digantikan oleh hidroksikobalamin karena hidroksikobalamin dapat bertahan lebih lama dalam tubuh dan dapat  diberikan dengan interval hingga 3 bulan.[1]

Perbandingan Suplementasi Vitamin B12 Secara Intramuskular dan Oral

Sebuah meta analisis Cochrane membandingkan beberapa studi yang mempelajari pemberian suplementasi vitamin B12 baik secara intramuskular maupun oral. Meta analisis tersebut mempelajari hasil atau luaran dari pemberian vitamin B12 dengan kedua rute tersebut.[1] Terdapat dua studi yang melaporkan tingkat vitamin B12 serum.[1,7,8] Satu studi mempelajari pemberian vitamin B12 secara oral dan intramuskular dengan dosis 1 mg per hari, dengan dosis total sebesar 15 mg dalam waktu 3 bulan pengobatan. Dari studi tersebut, didapatkan bahwa pemberian vitamin B12 oral dengan dosis demikian memberikan hasil perbedaan nilai vitamin B12 serum rata-rata sebesar -11,7 pg/mL. Artinya nilai vitamin B12 serum dengan pemberian oral dan dosis demikian tidak lebih efektif dari pemberian secara intramuskular dengan dosis yang sama. Setelah 3 bulan, nilai vitamin B12 serum rata-rata pada pasien yang diberikan suplementasi secara oral adalah 213,8 pg/mL sedangkan dengan pemberian intramuskular didapatkan hasil 225,5 pg/mL. Namun kedua nilai akhir tersebut juga masih belum melebihi nilai normal vitamin B12, yakni > 300 pg/mL.[1, 7]

Studi lain pada meta analisis tersebut membandingkan pemberian vitamin B12 oral dengan dosis sebesar 2 mg per hari selama 120 hari (dosis total = 240 mg), dan pemberian secara intramuskular dengan dosis sebesar 1 mg per hari selama 9 kali pada 90 hari (diberikan pada hari 1, 3, 7, 10, 14, 21, 30, 60, 90, dosis total = 9 mg). Pemberian oral dengan dosis demikian ternyata terbukti lebih mampu meningkatkan kadar vitamin B12 dengan perbedaan rata-rata sebesar 680 pg/mL. Pada 4 bulan pasca pemberian, nilai konsentrasi vitamin B12 serum rata-rata pada kelompok pemberian oral adalah sebesar 1005 pg/mL, lebih tinggi dibandingkan kelompok intramuskular dengan nilai 325 pg/mL.[1,8]

Penelitian lain yang dilakukan oleh Saraswathy, et al. mempelajari pemberian vitamin B12 oral dengan dosis 1 mg (dosis total = 90 mg) selama 3 bulan dengan pemberian intramuskular dengan dosis 1 mg selama 3 bulan (diberikan setiap hari pada minggu pertama, dilanjutkan dengan sekali seminggu selama 8 minggu, total 15 kali pemberian, dosis total = 15 mg). Dengan menggunakan nilai target normalisasi kadar vitamin B12 serum yang sebesar ≥ 200 pg/mL, dilaporkan bahwa 90% pasien pemberian intramuskular mencapai target, sedangkan pada pasien pemberian oral, hanya 66,7% pasien yang mencapai target. Walau lebih sedikit pasien mencapai target pada pemberian oral, perbedaan yang ditemukan dinilai tidak signifikan.[9] Namun jika dosis pemberian oral dinaikkan (menjadi dosis total 240mg) dan dosis intramuskular diturunkan (menjadi dosis total 9 mg), maka didapatkan bahwa hanya 71,4% pasien yang mencapai target pada pemberian intramuskular, sedangkan 100% pasien mencapai target pada pemberian oral.[8]

Efek samping pemberian vitamin B12 dilaporkan oleh dua studi dari meta analisis tersebut.[1] Satu studi melaporkan tidak ada efek samping dari pemberian vitamin B12 secara oral dan intramuskular.[7] Namun pada studi lain, dilaporkan bahwa terdapat dua subjek yang mengundurkan diri dari penelitian karena mengalami efek samping pemberian suplementasi vitamin B12.[9]

Tidak ada studi yang melaporkan mengenai luaran kualitas hidup setelah pemberian vitamin B12. Selain itu, penerimaan (acceptability) pasien terhadap pemberian vitamin B12 juga tidak dilaporkan. Hanya satu studi yang melaporkan mengenai pengukuran tingkat hemoglobin, namun tidak ditemukan perbedaan yang berarti antara tingkat hemoglobin pada subjek yang menerima suplementasi secara oral maupun intramuskular [7].Dua studi melaporkan tingkat mean corpuscular volume (MCV= volume rata-rata sel darah merah). Sebuah studi melaporkan bahwa terdapat nilai MCV yang lebih tinggi pada pemberian oral (perbedaan = 0,20 fL).[7] Studi lain melaporkan bahwa MCV pada pemberian oral lebih rendah (perbedaan rata-rata = -1,00 fL).[8]

Sebuah studi membandingkan tingkat homosistein total, dan didapatkan bahwa nilai homosistein pada pemberian oral lebih rendah dibandingkan pemberian intramuskular (perbedaan rata-rata = 1,6 μmol/L). Studi  yang sama juga melaporkan tingkat asam metilmalonik serum dan didapatkan bahwa tingkat asam metilmalonik serum kebih rendah pada pemberian oral dengan perbedaan rata-rata sebesar 96 nmol/L.[7]

Dari segi sosioekonomi, ditemukan bahwa pemberian vitamin B12 secara oral lebih murah dibandingkan pemberian intramuskular. Biaya pemberian vitamin B12 oral adalah sekitar 1 juta Rupiah per orang, sedangkan biaya pemberian secara intramuskular adalah sekitar 3 juta Rupiah per orang.[7]

Kesimpulan

Pemberian vitamin B12 secara oral terbukti baik dan patut dipertimbangkan, mengingat biaya yang lebih murah dan tidak ada efek samping yang berarti. Efektifitas pemberian vitamin B12 secara oral juga ditemukan lebih baik dari pemberian intramuskular apabila diberikan dengan dosis yang cukup, berkisar antara 1-2 mg per hari. Tidak ditemukan adanya perbedaan yang berarti antara pemberian vitamin b12 secara oral maupun intramuskular pada beberapa variabel yang dipelajari.

Pemberian vitamin B12 oral juga dinilai efektif bahkan pada kondisi defisiensi faktor intrinsik. Suplementasi oral vitamin B12 ini juga ditemukan dapat memperbaiki kondisi pasien dengan atrofi lambung. Dokter perlu mempertimbangkan pemberian suplementasi vitamin B12 secara oral dibandingkan intramuskular pada pasien defisiensi vitamin B12 dengan penyebab apapun.

Referensi