Manfaat Suplementasi Vitamin B pada Pasien dengan Infeksi Virus Akut

Oleh :
Sunita

Peresepan vitamin B pada kasus infeksi virus akut adalah sesuatu yang sering dilakukan dokter di praktik. Meski demikian, tidak banyak dokter yang mengetahui pasti mengenai apakah efikasi vitamin B pada kasus infeksi virus akut sudah didukung oleh basis bukti ilmiah yang mumpuni.[1]

Kasus infeksi virus akut, khususnya yang bermanifestasi sebagai infeksi saluran napas atas, sangat umum ditemukan di praktik klinis. Infeksi virus akut semacam ini lebih sering ditemukan pada populasi anak usia sekolah dan prasekolah dibandingkan kelompok usia dewasa, dan menyebabkan beban ekonomi yang signifikan terhadap sistem kesehatan maupun kepada individu yang mengalaminya karena adanya absenteeism.[2-4]

Manfaat Suplementasi Vitamin B pada Pasien dengan Infeksi Virus Akut

Meski belum ada analisis yang khusus untuk populasi di Indonesia, sebuah studi di negara maju menemukan bahwa beban finansial tersebut terutama berasal dari biaya obat tanpa resep (over-the-counter) yang dapat menyebabkan peresepan berlebihan serta biaya konsultasi dengan dokter.[4,5]

Bukti Manfaat Vitamin B Pada Infeksi Virus Akut

Bukti ilmiah yang mendukung manfaat konsumsi vitamin B kompleks maupun multivitamin dalam menurunkan insidens, morbiditas, maupun mortalitas akibat infeksi virus akut masih terbatas. Penelitian pada hewan coba dan manusia menunjukkan bahwa vitamin B6 dan B12 berperan penting dalam pembentukan komponen imunitas humoral maupun seluler sebab keduanya esensial dalam sintesis nukleotida dan pertumbuhan sel.[1,6]

Sementara itu, studi lain menemukan bahwa terdapat interaksi antara keseimbangan asam folat (B9) dan vitamin B12 terhadap parameter sistem imun, khususnya kemampuan sel natural killer (NK) dan berbagai subpopulasi limfosit B. Defisiensi vitamin B12 dapat menyebabkan penurunan aktivitas sel NK, proporsi limfosit CD4+, serta peningkatan rasio CD4/CD8.

Mengingat bahwa aktivitas sel NK dan limfosit CD4+ sangat penting dalam menekan replikasi virus serta optimalisasi pembersihan virus dari tubuh, supresi terhadap keduanya yang dimodulasi oleh defisiensi vitamin B12 berpotensi menyebabkan individu yang mengalami defisiensi vitamin B12 mengalami perjalanan infeksi virus akut yang lebih lama daripada individu normal.[7-10]

Adakah Bukti Manfaat Vitamin B pada Pasien dengan Infeksi Virus Akut Menurut Uji Klinis?

Sebuah uji klinis acak tersamar ganda dengan desain faktorial dilakukan di daerah perkotaan Tigri dan Dakshinpuri, New Delhi, India, untuk menilai pengaruh suplementasi asam folat dan vitamin B12 terhadap kejadian diare dan infeksi saluran napas bawah akut pada anak usia 6–30 bulan. Sebanyak 1000 anak dibagi secara acak ke dalam empat kelompok:

  • Plasebo (249 anak)
  • Asam folat dosis 2 kali angka kecukupan gizi (RDA) (249 anak),
  • Vitamin B12 dosis 2 kali RDA (252 anak)
  • Kombinasi asam folat serta vitamin B12 (250 anak).

Suplementasi diberikan setiap hari selama 6 bulan dalam bentuk suplemen berbasis lipid yang tampilan dan rasanya identik antar kelompok sehingga peserta maupun peneliti tidak mengetahui alokasi intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi vitamin B12 maupun asam folat tidak menurunkan angka kejadian diare ataupun infeksi saluran napas bawah akut dibandingkan plasebo.

Selain itu, kelompok yang menerima asam folat justru mengalami lebih banyak episode diare yang berlangsung lebih dari 3 hari dan lebih banyak kasus diare persisten. Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada kejadian pneumonia klinis antar kelompok intervensi. Walaupun demikian, suplementasi terbukti meningkatkan kadar vitamin B12 dan folat plasma serta menurunkan kadar homosistein, yang menunjukkan perbaikan mikronutrien.[11]

Adakah Manfaat Vitamin B dalam Mencegah Infeksi Virus Akut?

Suatu tinjauan sistematik dan meta-analisis menilai efektivitas suplementasi multivitamin dan mineral terhadap kejadian infeksi pada populasi lansia. Dari 1490 abstrak yang disaring, hanya 8 uji klinis yang memenuhi kriteria inklusi.

Secara umum, ditemukan bahwa pemberian multivitamin dan mineral secara rutin pada individu berusia lebih dari 65 tahun dapat menurunkan jumlah hari sakit karena infeksi sebanyak 17,5 hari. Selain itu, insidens penyakit infeksi 11% lebih rendah pada lansia yang mendapat suplementasi multivitamin dan mineral dibandingkan kelompok kontrol walaupun secara statistik tidak bermakna.

Meski demikian, perlu diketahui bukti bahwa suplementasi tersebut dapat mencegah terjadinya infeksi baru atau menurunkan angka kejadian infeksi secara keseluruhan masih belum konsisten. Lebih lanjut, karena intervensi yang diteliti berupa kombinasi berbagai vitamin dan mineral, penelitian ini juga tidak dapat memastikan apakah manfaat yang terlihat secara khusus disebabkan oleh vitamin B saja.[12]

Beberapa Bukti Terbatas Mengenai Manfaat Suplementasi Vitamin B pada Infeksi COVID-19

Suatu studi eksperimental laboratorium mengevaluasi aktivitas antivirus berbagai vitamin terhadap tiga jenis coronavirus, yaitu SARS-CoV-2, MERS-CoV, dan HCoV-229E. Peneliti menguji 20 jenis vitamin menggunakan kombinasi metode in vitro dan in silico. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa vitamin, terutama vitamin B12 (hydroxocobalamin, methylcobalamin, dan cyanocobalamin), memiliki aktivitas antivirus yang menjanjikan.

Hydroxocobalamin dan methylcobalamin menunjukkan aktivitas kuat terhadap SARS-CoV-2, MERS-CoV, dan HCoV-229E, sedangkan cyanocobalamin paling efektif terhadap SARS-CoV-2. Selain vitamin B12, vitamin B lain juga memperlihatkan aktivitas antivirus pada beberapa virus dengan indeks selektivitas yang baik. Meski demikian, perlu diingat bahwa temuan ini masih terbatas pada penelitian laboratorium dan belum membuktikan efikasi pada manusia.[13]

Dalam hal uji klinis, bukti yang ada masih sangat terbatas. Sebuah uji klinis kecil (n=34 partisipan) di Iran menunjukkan adanya penurunan biomarker infeksi pada pasien COVID-19 yang mendapat vitamin B12. Meski demikian, bukti yang disajikan masih kurang meyakinkan karena jumlah sampel yang kecil, temuan yang tidak signifikan secara statistik, dan parameter luaran yang tidak merefleksikan praktik klinis sebenarnya.[14]

Potensi Efek Samping Konsumsi Vitamin B

Potensi efek samping konsumsi vitamin B perlu diperhatikan, sehingga penggunaannya tanpa indikasi yang jelas atau tanpa bukti manfaat yang adekuat harus dihentikan. Ada beberapa laporan efek samping serius yang dikaitkan dengan penggunaan vitamin B berlebihan, seperti peningkatan risiko kanker kandung kemih, katarak, obesitas, dan toksisitas.[15-18]

Lebih lanjut, dosis piridoksin (B6) berlebihan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom neuropati yang bisa bersifat reversibel pada sebagian individu, namun ireversibel pada individu yang lain. Kadar niasin (B3) berlebih dalam tubuh diketahui dapat meningkatkan prevalensi obesitas, khususnya pada anak-anak.[19-21]

Kesimpulan

Meskipun beberapa uji preklinis mengindikasikan adanya manfaat pemberian vitamin B pada pasien dengan infeksi virus akut, termasuk COVID-19, belum ada bukti klinis kuat yang mengonfirmasi manfaatnya. Terlebih lagi, penggunaan vitamin B berlebihan atau tanpa indikasi yang jelas telah dilaporkan membawa risiko signifikan, termasuk neurotoksisitas, katarak, obesitas, dan peningkatan risiko kanker kandung kemih.

Oleh sebab itu, praktik rutin pemberian suplemen vitamin B pada pasien dengan infeksi virus akut seyogyanya ditinggalkan hingga nantinya sudah ada uji klinis acak terkontrol dengan metode dan besar sampel adekuat yang menunjukkan manfaat dan keamanannya.

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi