Manfaat Suplementasi Vitamin B pada Pasien dengan Infeksi Virus Akut

Oleh :
dr. Sunita

Peresepan vitamin B pada kasus infeksi virus akut adalah praktik yang awam ditemukan sehari-hari. Infeksi virus akut, khususnya yang bermanifestasi sebagai infeksi saluran napas, merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang umum dijumpai dalam praktik klinis. Infeksi virus akut semacam ini lebih sering ditemukan pada balita dibandingkan kelompok usia dewasa dan menyebabkan beban ekonomi yang signifikan terhadap sistem kesehatan maupun kepada individu yang mengalaminya karena adanya absenteeism[1,2,3]. Meskipun belum ada analisis yang khusus untuk populasi di Indonesia, sebuah studi di negara maju menemukan bahwa beban finansial tersebut terutama berasal dari biaya obat tanpa resep (over-the-counter) serta biaya konsultasi dengan dokter[3].

Sementara itu, peresepan vitamin B kompleks maupun jenis multivitamin lainnya pada kasus infeksi saluran napas akut masih sering ditemukan dalam praktik klinis sehari-hari pada level layanan kesehatan primer hingga tersier[4,5]. Vitamin bentuk tunggal dan multivitamin ditemukan pada 5%-15% resep yang diberikan pada pasien rawat jalan[6], dan angka ini meningkat hingga 20% dari total resep yang diberikan pada pasien yang berasal dari ruang rawat inap[7]. Meskipun demikian, bukti ilmiah tentang manfaat vitamin B dalam mengubah perjalanan penyakit sangat minimal.

male cold pil

 

Bukti Manfaat Vitamin B Pada Infeksi Virus Akut

Bukti ilmiah yang mendukung manfaat konsumsi vitamin B kompleks maupun multivitamin dalam menurunkan insidens, morbiditas, maupun mortalitas akibat infeksi virus akut masih terbatas. Penelitian pada hewan coba dan manusia menunjukkan bahwa vitamin B6 dan B12 berperan penting dalam pembentukan komponen imunitas humoral maupun seluler sebab keduanya esensial dalam sintesis nukleotida dan pertumbuhan sel. Bukti lain juga menyebutkan bahwa suplementasi vitamin B6 dapat memperbaiki fungsi sel imun pada pasien dengan artritis reumatoid dan infeksi human immunodeficiency virus (HIV) namun peran vitamin B6 dalam respons imun terhadap infeksi virus akut masih belum diketahui. [8]

Sementara itu, studi lain menemukan bahwa terdapat interaksi antara keseimbangan asam folat (B9) dan vitamin B12 terhadap parameter sistem imun, khususnya kemampuan sel natural killer (NK) dan berbagai subpopulasi limfosit B. [9] Defisiensi vitamin B12 dapat menyebabkan penurunan aktivitas sel NK, proporsi limfosit CD4+, serta peningkatan rasio CD4/CD8[9,10]. Mengingat bahwa aktivitas sel NK dan limfosit CD4+ sangat penting dalam menekan replikasi virus serta optimalisasi pembersihan virus dari tubuh, supresi terhadap keduanya yang dimodulasi oleh defisiensi vitamin B12 berpotensi menyebabkan individu yang mengalami defisiensi vitamin B12 mengalami perjalanan infeksi virus akut yang lebih lama daripada individu normal. [11,12] Namun, hipotesis tersebut belum didukung oleh penelitian lanjutan yang menghubungkan keterlibatan defisiensi vitamin B12 maupun subset vitamin B lainnya terhadap parameter seluler dan molekuler sistem imun, serta luaran penyakit pada pasien yang mengalami infeksi virus akut.

Terlepas dari berbagai keterbatasan tersebut, beberapa penelitian telah dilakukan untuk mempelajari dampak suplementasi vitamin B terhadap luaran penyakit infeksi pada populasi anak-anak dan lansia[13–15].

Sebuah studi oleh Taneja et al terhadap populasi anak-anak berusia 6 hingga 30 bulan di India mengungkapkan bahwa suplementasi vitamin B12 dan asam folat (B9) tidak berkaitan dengan penurunan insidens infeksi saluran napas bawah maupun diare. Bahkan, pemberian asam folat (B9) dengan atau tanpa vitamin B12 berpotensi meningkatkan insidens diare persisten pada populasi ini. Keunggulan dari penelitian ini antara lain terletak pada desain yang acak, buta ganda, dan terkontrol plasebo serta keterlibatan partisipan dalam jumlah yang besar (n=1000). Namun, studi Taneja et al masih memiliki beberapa keterbatasan dalam mengungkap peran vitamin B12 dan asam folat (B9) terhadap insidens penyakit infeksi pada anak-anak. Kurangnya bukti manfaat suplementasi asam folat (B9) dan vitamin B12 pada penelitian ini dapat memiliki beberapa kemungkinan penyebab. Pertama, dosis asam folat (B9) dan vitamin B12 yang diberikan masih belum cukup untuk memicu terjadinya manfaat yang diharapkan. Kedua, penggunaan parameter homosistein total  untuk menilai kecukupan pemberian suplemen kurang menggambarkan respons imun yang dipicu oleh pemberian kedua vitamin tersebut. Ketiga, kendati terdapat perubahan kadar vitamin B12 dan asam folat (B9) yang bermakna pada kelompok intervensi dibandingkan kontrol, nilai rerata kedua parameter vitamin tersebut masih rendah dan sangat mungkin untuk ditingkatkan lebih baik lagi. Keempat, adanya defisiensi vitamin lain yang tidak diukur dalam penelitian ini dapat memodifikasi efek suplementasi asam folat (B9) dan vitamin B12. [13,16].

Di sisi lain, sebuah tinjauan sistematik untuk menilai peran multivitamin dan mineral (dengan atau tanpa komponen vitamin B kompleks) dalam mencegah kejadian infeksi pada lansia melaporkan bahwa dari delapan penelitian yang memenuhi kriteria inklusi, hanya sebagian saja yang dimasukkan dalam analisis karena setiap penelitian tersebut sangat bervariasi dalam metode pelaporan hasil penelitian. Secara umum, ditemukan bahwa pemberian multivitamin dan mineral secara rutin pada individu berusia lebih dari 65 tahun secara bermakna menurunkan jumlah hari sakit karena infeksi sebanyak 17,5 hari. Selain itu, insidens penyakit infeksi 11% lebih rendah pada lansia yang mendapat suplementasi multivitamin dan mineral dibandingkan kelompok kontrol walaupun secara statistik tidak bermakna. Kesimpulan yang dapat dicapai dari penelitian tersebut adalah bukti manfaat pemberian multivitamin dan mineral untuk mengurangi infeksi pada lansia masih belum cukup dan saling bertentangan[14].

Meskipun penelitian tersebut memiliki keunggulan dalam hal desain penelitian yang berupa tinjauan sistematik dan meta analisis, ada beberapa keterbatasan dalam menegaskan manfaat suplementasi multivitamin dengan atau tanpa komponen vitamin B kompleks untuk mengurangi risiko infeksi pada lansia. Pertama, beragam bukti ilmiah yang ada memiliki desain penelitian yang heterogen, cara pengukuran luaran yang diamati berbeda-beda, serta komposisi vitamin dalam multivitamin yang diuji sangat bervariasi. Kedua, mekanisme kerja berbagai vitamin dan mineral dalam mencegah infeksi masih belum jelas sehingga tidak diketahui apakah hal ini berkaitan langsung dengan perubahan sistem imun, perbaikan defisiensi semata, atau terdapat pengaruh lain yang belum pernah diamati. Ketiga, bukti yang ada umumnya secara parsial mempelajari kaitan status nutrisi terhadap penanda imunologis maupun luaran klinis saja[14]. Penelitian lanjutan dengan desain uji klinis acak, buta ganda, yang menggabungkan pengukuran parameter sistem imun serta dampak klinis (misalnya insidens infeksi, morbiditas, mortalitas akibat infeksi) perlu dilakukan guna memahami lebih jauh manfaat suplementasi vitamin B tunggal maupun sebagai multivitamin terhadap berbagai populasi.

Potensi Efek Samping Konsumsi Vitamin B

Potensi efek samping konsumsi vitamin B sebagai bagian dari pengobatan infeksi virus akut belum dipelajari secara luas. Meskipun penelitian oleh Taneja et al menemukan bahwa pemberian asam folat (B9) berpotensi meningkatkan insidens diare persisten pada anak-anak, efek samping pemberian vitamin B12 tidak dilaporkan secara khusus dalam penelitian tersebut[13]. Kurangnya pelaporan terkait efek samping pemberian vitamin dan mineral juga dapat diamati dalam berbagai sampel penelitian yang ditinjau oleh El-Kadiki et al[14]. Sejauh ini memang belum ada penelitian yang menghubungkan peningkatan level vitamin B12 dalam tubuh terhadap risiko penyakit tertentu walaupun kadar kobalamin dapat meningkat dalam darah sebagai salah satu tanda dari kondisi medis tertentu seperti leukemia mielositik, promielositik, polisitemia vera, dan sindrom hipereosinofilik[17].

Sementara itu, piridoksin (B6) dan niasin (B3) merupakan bagian dari vitamin B kompleks yang sejak lama dipelajari memiliki efek samping tertentu. Dosis piridoksin (B6) berlebih diduga berkaitan dengan peningkatan risiko sindrom neuropati yang bisa bersifat reversibel pada sebagian individu, namun ireversibel pada individu yang lain[18,19]. Kadar niasin berlebih dalam tubuh diketahui dapat meningkatkan prevalensi obesitas, khususnya pada anak-anak[20,21]. Meskipun keduanya lebih berpeluang untuk terjadi pada konsumsi yang lama dan dosis yang melebihi asupan harian yang disarankan, fakta tentang efek samping piridoksin (B6) dan niasin (B3) ini tentu tidak dapat diabaikan. Hal ini dapat menjadi potensi masalah yang serius khususnya di negara berkembang dengan fasilitas pemeriksaan kadar piridoksin (B6) dan niasin (B3) yang terbatas.

Kesimpulan

Saat ini, bukti yang ada mengenai manfaat vitamin B kompleks dalam penanganan infeksi virus akut belum cukup untuk mendukung pemberian rutin vitamin B kompleks baik sebagai bentuk tunggal maupun sebagai multivitamin pada kasus infeksi virus akut. Selain itu, suplementasi vitamin B dalam bentuk multivitamin terbukti tidak bermanfaat dalam menurunkan insidens penyakit infeksi pada lansia. Hal ini juga dibatasi oleh kurangnya pelaporan yang sistematis terkait efek samping vitamin B terhadap kesehatan. Oleh sebab itu, praktik rutin pemberian suplemen vitamin B pada pasien dengan infeksi virus akut seyogyanya ditinggalkan hingga ada bukti lanjutan yang menegaskan profil manfaat dan keamanan vitamin B pada kasus infeksi virus akut.

Referensi