Intervensi untuk Meningkatkan Sanitasi Sebagai Pencegahan Diare

Oleh :
dr. Utari Nur Alifah

Intervensi untuk meningkatkan sanitasi merupakan salah satu langkah pencegahan penyakit diare. Intervensi tersebut bertujuan untuk memperkenalkan, memperbaiki, dan memperluas cakupan penggunaan fasilitas atau sistem pembuangan dan pengelolaan kotoran manusia. Akses terhadap sanitasi yang baik dapat mencegah kejadian diare dan akan mengurangi kematian serta kesakitan akibat diare.[1]

Diare merupakan salah satu penyakit penyebab dehidrasi yang menimbulkan kematian di dunia yang mengancam anak-anak di bawah usia 5 tahun dan masyarakat di negara berpendapatan rendah. Hampir satu dari setiap lima kematian anak, atau sekitar 1,6 juta setiap tahunnya, disebabkan oleh diare. Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri, virus, dan protozoa, yang diekskresikan melalui feses manusia maupun hewan.[1–3]

sanitasimencegahdiare

Dampak Diare pada Anak

Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap diare. Diare merupakan penyebab kedua pada kematian global untuk anak berusia di bawah 5 tahun. Diare terjadi akibat sekresi usus yang berlebihan atau gangguan penyerapan cairan dan elektrolit di epitel usus.[1,2,4]

Selain itu, diare juga menyebabkan terhambatnya nutrisi pada anak, sehingga dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang. Kejadian infeksi diare berulang dapat mengakibatkan gangguan fungsi intestinal, dan dapat menyebabkan anak menjadi stunting.[1,4]

Strategi preventif terbaik untuk mencegah diare adalah penerapan air minum yang aman, sanitasi dan kebersihan yang memadai, dan cuci tangan memakai sabun. Pencegahan sekunder yaitu vaksinasi rotavirus, karena rotavirus merupakan virus yang paling sering menyebabkan diare dan penggunaan vaksinasi rotavirus terbukti efektif untuk mencegah diare.[2]

Peran Peningkatan Sanitasi Terhadap Kejadian Diare

Fasilitas sanitasi telah terbukti berperan penting dalam mengurangi penularan diare. Hal ini disebabkan oleh rute penularan diare yang merupakan rute fekal-oral sering difasilitasi oleh air dan makanan yang tercemar. Fasilitas sanitasi merupakan pelindung pertama untuk memisahkan patogen yang diekskresikan melalui feses manusia dari lingkungan.[1]

Fasilitas sanitasi yang baik dideskripsikan sebagai fasilitas jamban dengan penyiraman yang mengalirkan kotoran ke sistem pembuangan berpipa dan tertutup atau septic tank. Pembuangan kotoran melalui jamban cemplung, jamban cemplung dengan ventilasi, atau toilet kompos yang tidak digunakan bersamaan dengan rumah tangga lain.[1]

Dampak Kurangnya Fasilitas Sanitasi Terhadap Kejadian Diare

Penelitian oleh Workie, et al (2019) di Distrik Jama, Ethiopia menyimpulkan bahwa kurangnya fasilitas sanitasi, sumber air yang tidak terlindungi, pembuangan limbah yang tidak tepat, dan usia anak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare pada anak.[5]

Namun, penelitian tersebut tidak menjelaskan sejauh mana intervensi sanitasi mempengaruhi tingkat kejadian diare secara langsung, sehingga diperlukan penelitian tambahan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang lebih spesifik.

Penelitian lain yang dilakukan oleh pada tahun 2020 di Jalur Gaza menunjukkan bahwa kondisi kepadatan penduduk, kemiskinan yang parah, dan pengelolaan limbah yang tidak efektif di Jalur Gaza terus menjadikan wilayah tersebut berkaitan erat dengan angka kejadian diare akut pada balita.[6]

Penelitian Wahyudi dan Patunru (2019) juga mengungkapkan bahwa sanitasi dan kualitas air yang buruk menjadi salah satu penyebab tingginya angka prevalensi diare di Indonesia. Selain itu, tingkat pendidikan kepala rumah tangga yang rendah, kebiasaan buang air besar sembarangan, jenis lantai rumah yang tidak berkeramik/tanah, serta kemiskinan juga menjadi faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare di Indonesia.[7]

Manfaat Peningkatan Sanitasi Terhadap Kejadian Diare

Penelitian Gozali, et al (2023) mengungkapkan bahwa fasilitas sanitasi yang baik, disertai ketersediaan air bersih dan tempat pembuangan sampah berpengaruh terhadap kejadian diare pada anak usia 12–59 bulan di Desa Pojok, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro.[8]

Penelitian Malick et al juga menyebutkan bahwa faktor-faktor lain, seperti kesadaran akan kebersihan dan kesehatan, peningkatan pendidikan di kalangan perempuan, dan partisipasi petugas kesehatan yang lebih aktif di lapangan, juga perlu ditingkatkan untuk menekan angka kejadian diare.[9]

Selain itu, penelitian oleh Komarulzaman et al (2017) menunjukkan bahwa sanitasi dan pasokan air minum yang aman perlu ditingkatkan agar dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap angka diare. Jika hanya perbaikan sanitasi atau hanya peningkatan pasokan air saja yang ditingkatkan, dampak terhadap insidensi diare tidak akan signifikan.[10]

Pilihan Intervensi untuk Meningkatkan Fasilitas Sanitasi sebagai Pencegahan Diare

Dalam Sustainable Development Goals (SDGs) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, sanitasi merupakan salah satu prioritas utama. SDGs memiliki target ketersediaan dan pengelolaan air dan sanitasi berkelanjutan untuk semua. Berbagai intervensi untuk meningkatkan sanitasi telah dilakukan di berbagai negara dengan tujuan meningkatkan akses terhadap sanitasi yang baik.[1,11]

Intervensi terhadap peningkatan fasilitas sanitasi bertujuan untuk memperkenalkan, meningkatkan, dan memperluas cakupan penggunaan fasilitas pembuangan kotoran manusia. Intervensi sanitasi mencakup tahapan untuk mengurangi buang air besar sembarangan dengan cara membangun toilet atau jamban ideal, mendorong perubahan perilaku untuk menggunakan jamban atau toilet, serta meningkatkan fasilitas untuk mencapai tingkat pelayanan yang lebih tinggi.[1]

Tinjauan sistematis oleh Bauza et al (2023) mengevaluasi tiga jenis intervensi sanitasi, yaitu menyediakan akses terhadap fasilitas sanitasi, memperbaiki fasilitas sanitasi, dan membuat pesan untuk mengubah perilaku.

Menyediakan Akses terhadap Fasilitas Sanitasi

Pilihan intervensi ini memberikan akses terhadap beberapa jenis fasilitas sanitasi kepada peserta yang tidak memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi. Hal ini termasuk membangun atau memberikan subsidi pembangunan fasilitas sanitasi kepada peserta yang buang air besar sembarangan.

Memberikan akses terhadap fasilitas sanitasi di rumah tangga atau sekolah yang tidak mempunyai fasilitas sanitasi dapat mengurangi prevalensi diare pada semua umur. Namun, bukti secara statistik masih lemah, meskipun menggunakan beberapa metode penelitian.[1,12]

Memperbaiki Fasilitas Sanitasi

Pilihan intervensi ini dilakukan dengan memperbaiki fasilitas sanitasi yang telah ada sebelumnya. Selain itu, intervensi ini dilakukan dengan mendorong pembangunan fasilitas baru. Fasilitas sanitasi baru di antaranya jamban, jamban dengan ventilasi, toilet kompos, dan toilet siram atau toilet siram dengan penutup air, selama fasilitas tersebut merupakan pengembangan dari fasilitas yang telah ada.

Intervensi ini juga mencakup perbaikan dalam pembuangan, pengaliran, dan pengolahan lumpur tinja dengan aman. Selain itu, intervensi ini juga mencakup penyediaan jamban perorangan bagi masyarakat yang mengandalkan sanitasi bersama Pengolahan lumpur tinja yang aman dilakukan dengan memisahkan tempat penyimpanan tinja dan mencegah patogen dari feses manusia masuk ke lingkungan sekitar.[1]

Pesan Perubahan Perilaku

Intervensi perubahan perilaku bertujuan untuk mendorong masyarakat agar meningkatkan akses dan menggunakan fasilitas sanitasi yang sudah ada, tanpa perlu menyediakan atau meningkatkan fasilitas tersebut. Pendekatan ini juga melibatkan penyampaian pesan untuk mendorong masyarakat agar membangun atau memperbaiki jamban sendiri, menggunakan dana atau tenaga mereka sendiri.[1]

Strategi ini menekankan perubahan perilaku yang dapat membawa dampak positif terhadap kesehatan tanpa menyediakan perbaikan akses fisik ke fasilitas sanitasi. Dengan mendorong masyarakat untuk lebih proaktif dalam membangun atau memperbaiki fasilitas sanitasi mereka sendiri, intervensi ini tidak hanya dapat meningkatkan kondisi sanitasi secara keseluruhan, tetapi juga dapat membantu mengurangi prevalensi diare pada anak balita.[1,12]

Penerapan Intervensi untuk Meningkatkan Sanitasi di Indonesia

Penerapan intervensi untuk meningkatkan sanitasi di Indonesia dilakukan dengan pelaksanaan program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM). STBM merupakan program yang terdiri atas 5 pilar, yaitu:

  • Stop buang air besar sembarang
  • Mencuci tangan dengan sabun
  • Pengolahan air minum dan makanan rumah tangga
  • Pengelolaan sampah rumah tangga
  • Pengelolaan air limbah domestik rumah tangga[13]

Kelima pilar dalam program tersebut dilengkapi dengan tiga komponen yang saling mendukung, yaitu menciptakan lingkungan yang kondusif, meningkatkan kebutuhan sanitas, dan meningkatkan penyediaan akses sanitasi. Jika salah satu dari komponen STBM ini tidak ada, maka pencapaian kelima pilar STBM menjadi tidak maksimal.[13]

Studi oleh Indah et al (2021) mengenai penerapan STBM di Kelurahan Keranggan Kecamatan Setu Kota Tangerang Selatan membuktikan bahwa dari kelima pilar STMB, perilaku buang air besar sembarangan secara signifikan berhubungan dengan kejadian diare. Balita lebih rentan 6,7 kali lebih besar mengalami diare pada lingkungan masyarakat yang masih melakukan buang air besar sembarangan.[14]

Pilihan Intervensi Paling Efektif untuk Pencegahan Diare

Berdasarkan penelitian Bauza et.al, efektivitas intervensi sanitasi dapat bervariasi berdasarkan tipe intervensi yang spesifik. Beberapa bukti pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa intervensi sanitasi yang paling baik adalah kombinasi dari penyediaan akses terhadap fasilitas sanitasi, meningkatkan fasilitas sanitasi yang sudah ada, dan edukasi untuk perubahan perilaku dapat berkontribusi untuk mencegah diare.

Ketiga pilihan intervensi ini diimplementasikan dalam 5 pilar program STBM yang dilaksanakan di Indonesia.[1,12,13]

Namun, penelitian lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi intervensi terhadap peningkatan sanitasi secara lebih komprehensif. Selain itu, perlu pelaksanaan program yang sistematis, berkelanjutan, dan mencakup seluruh kelompok masyarakat dengan akses serta kesadaran sanitasi yang masih kurang untuk menurunkan prevalensi diare di Indonesia.

Kesimpulan

Intervensi sanitasi memiliki peran penting dalam pencegahan diare, yang merupakan penyebab utama kematian anak di bawah usia lima tahun di negara-negara berpendapatan rendah. Anak-anak merupakan kelompok yang rentan mengalami dampak diare, seperti gangguan pertumbuhan dan stunting akibat terhambatnya nutrisi.

Strategi pencegahan diare mencakup penerapan air minum yang aman, sanitasi yang memadai, dan kebersihan diri, seperti mencuci tangan dengan sabun. Fasilitas sanitasi, seperti toilet, berperan penting dalam mengurangi penularan diare, dengan peningkatan fasilitas sanitasi menunjukkan efek protektif. Diperlukan intervensi peningkatan sanitasi yang bersifat holistik dengan menggabungkan upaya perbaikan lingkungan dan perubahan perilaku.

Kombinasi penyediaan akses, perbaikan fasilitas, dan edukasi perubahan perilaku menjadi pilihan intervensi peningkatan sanitasi yang terbaik untuk pencegahan diare. Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat menjadi salah satu upaya untuk menurunkan prevalensi diare yang telah mencakup ketiga pilihan intervensi untuk meningkatkan sanitasi di Indonesia.

Referensi