Pemilihan Cuff Tensimeter dalam Pengukuruan Tekanan Darah

Oleh :
dr. Anastasia Feliciana

Pemilihan cuff tensimeter dalam pengukuran tekanan darah penting untuk dipahami oleh tenaga medis agar tercapai hasil pemeriksaan tekanan darah yang akurat. Pemilihan cuff yang tidak sesuai dengan pasien dapat menyebabkan misdiagnosis hipertensi.

Diagnosis dan terapi hipertensi sangat bergantung pada pengukuran tekanan darah yang akurat. Namun, pengukuran tekanan darah ternyata merupakan salah satu pemeriksaan yang paling sering mengalami ketidakakuratan. Metode pengukuran yang kurang tepat, termasuk pertimbangan pemilihan ukuran cuff  yang tidak sesuai, dapat menyebabkan misdiagnosis hipertensi pada pasien yang normotensi.[1]

shutterstock_1723177633

Aspek yang Perlu Diperhatikan Terkait Pengukuran Tekanan Darah

Metode pengukuran tekanan darah bisa mempengaruhi tekanan darah secara signifikan. Aspek yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

  • Waktu pengukuran: istirahat sebelum pemeriksaan, tidak ada konsumsi kafein atau nikotin dalam 60 menit sebelum pemeriksaan, sudah mengosongkan kandung kemih sebelum pemeriksaan
  • Alat periksa yang tepat: standar baku masih menggunakan tensimeter raksa. Pastikan alat dikalibrasi secara berkala, setiap 6 bulan sekali
  • Lokasi pengukuran: regio antebrachii dengan stetoskop diletakkan di fossa cubiti
  • Ukuran cuff yang tepat
  • Posisi tubuh pasien yang tepat: Duduk atau berbaring, posisi lengan yang diperiksa dibandingkan dengan atrium kanan, posisi punggung dan kaki
  • Cara pengukuran yang tepat: tidak berbicara saat pemeriksaan, ukuran cuff yang tepat, inflasi dan deflasi udara secara perlahan[1,2,4]
  • Kemampuan pemeriksa saat auskultasi

Faktor yang Menyebabkan Inakurasi Pengukuran Tekanan Darah

Terdapat tinjauan pustaka yang meneliti mengenai bagaimana pengaruh faktor-faktor yang membuat pengukuran tekanan darah tidak akurat terhadap hasil pemeriksaan tekanan darah dalam kondisi istirahat. Dibandingkan hasil dari pengukuran terstandar, pengukuran yang tidak akurat membuat perbedaan hasil yang cukup luas, yaitu tekanan darah sistolik -23.6 sampai +33 mmHg dan tekanan darah diastolik -14 sampai +23 mmHg.[4]

Di antara aspek-aspek metode pengukuran tekanan darah tersebut, ukuran cuff  sering luput dari perhatian dokter, terutama pada pengukuran tekanan darah pasien dengan lingkar lengan atas yang terlalu kecil atau terlalu besar. Padahal, studi menunjukkan ukuran cuff  tensimeter yang tidak tepat akan menyebabkan kekeliruan hasil pembacaan yang signifikan.

Ukuran Cuff  Tensimeter yang Tepat

Ukuran cuff tensimeter yang tepat perlu disesuaikan dengan usia dan ukuran lingkar lengan atas. Kesalahan terkait ukuran cuff tensimeter seringnya terjadi pada cuff untuk bayi yang sering kali tetap menggunakan cuff untuk anak karena tidak tersedianya cuff ukuran khusus bayi <1 tahun, dan pada dewasa.

Pengukuran tekanan darah pada dewasa, khususnya jika menggunakan tensimeter aneroid, umumnya hanya dilakukan menggunakan satu ukuran default cuff untuk dewasa saja, 16x30 cm tanpa memperhitungkan ukuran lengan. Padahal, ukuran cuff  seharusnya dibedakan berdasarkan lingkar lengan atas pasien .[2]

Berikut adalah pertimbangan ukuran cuff  berdasarkan usia dan lingkar lengan atas pasien.

Pertimbangan Ukuran Cuff  Tensimeter pada Anak

Pada anak-anak, pertimbangan ukuran cuff  didasarkan pada usia pasien:

  • Neonatus dan bayi prematur: 4x8 cm (neonate cuff size)
  • Bayi <1 tahun: 6x12 cm (infant cuff size)
  • Anak: 9x18 cm (child cuff size)[2]

Pertimbangan Ukuran Cuff  Tensimeter pada Dewasa

Pada dewasa, pertimbangan ukuran cuff didasarkan pada ukuran lingkar lengan atas pasien:

  • 22 – 26 cm: 12x22 cm (small adult cuff size)
  • 27 – 34 cm: 16x30 cm (adult cuff size)
  • 35 – 44 cm: 16x36 cm (large adult cuff size)
  • 45 – 52 cm: 16x42 cm (adult thigh cuff size)

Pengukuran lingkar lengan ini dilakukan pada pertengahan lengan atas, pertengahan antara bahu dan fossa antecubiti.[2]

Pengaruh Ukuran Cuff  Tensimeter yang Tidak Tepat terhadap Hasil Pengukuran Tekanan Darah

Apabila cuff  terlalu kecil, akan terjadi overestimasi. Pada pasien obesitas, cuff  yang lebih panjang dan lebar dibutuhkan untuk dapat menekan arteri brakialis. Pada anak, lebar cuff sebaiknya minimal 40% dari lingkar lengan atas di pertengahan antara olekranon dengan akromion, dan cuff sebaiknya menutup ≥80% lingkar lengan atas.[1,2]

Sebuah studi meta analisis menunjukkan bahwa dibandingkan pengukuran tekanan darah invasif yang merupakan standar baku emas untuk tekanan darah, pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dengan cuff lengan atas yang ukurannya tepat memiliki sensitivitas 87% dan spesifisitas 85%. Lain halnya bila pengukuran dilakukan dengan ukuran cuff yang tidak tepat, sensitivitasnya menurun menjadi 73% dan spesifisitas menjadi 76%.

Studi tersebut menyarankan apabila ukuran cuff yang tepat tidak bisa dipasang di lengan atas, pemeriksaan bisa dilakukan di pergelangan tangan. Hasil pengukuran di pergelangan tangan bila dibandingkan dengan pengukuran di lengan atas yang benar memiliki sensitivitas 92% dan spesifisitas 92%.[3]

Studi lain meneliti 104 pasien anak dan remaja yang obesitas dibandingkan dengan 50 subjek kontrol, di mana dilakukan pengukuran tekanan darah dengan ukuran cuff berdasarkan lingkar lengan:

  • Kecil: lingkar lengan <23 cm
  • Sedang: lingkar lengan ≥23 cm dan <32 cm
  • Besar: lingkar lengan ≥32 cm

Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa ukuran cuff memberi pengaruh signifikan terhadap hasil pengukuran tekanan darah. Selain itu, tekanan darah cenderung lebih tinggi pada kelompok subjek yang obesitas.[5]

Hasil pengukuran akan overestimated bila menggunakan cuff berukuran lebih kecil dan underestimated bila menggunakan cuff berukuran lebih besar. Perbedaan tekanan darah akibat pengukuran menggunakan ukuran cuff yang tidak tepat adalah sebagai berikut:

  • Cuff berukuran terlalu kecil: Sistolik +6,64 mmHg (+2,08 sampai +11,2), Diastolik +4,11 (+1,61 sampai +6,6)
  • Cuff berukuran terlalu besar: Sistolik -2,58 mmHg (-1,45 sampai -3,7 mmHg), Diastolik -2,83 (-0,96 sampai -4,7)[4]

Sebagai tambahan, sebuah studi membandingkan akurasi pemeriksaan tekanan darah dengan sphygmomanometer aneroid dan digital dibandingkan dengan sphygmomanometer raksa. Didapatkan sensitivitas dan spesifisitas sphygmomanometer aneroid adalah 86.7% dan 98.7%, sedangkan sensitivitas dan spesifisitas sphygmomanometer digital adalah 80% dan 67%.[6]

Kesimpulan

Meskipun terlihat sederhana, metode pemeriksaan tekanan darah yang sesuai standar sangat dibutuhkan dalam pengukuran tekanan darah, mulai dari posisi pasien, ukuran cuff yang sesuai, langkah pemeriksaan, pengulangan dan penyesuaian pada kondisi tertentu.

Faktor yang menyebabkan inakurasi pengukuran tekanan darah dapat menyebabkan terjadinya misdiagnosis hipertensi, terbagi menjadi faktor pasien, faktor alat, faktor prosedur pengukuran tekanan darah, dan faktor pemeriksa.

Di antara faktor-faktor tersebut, pemilihan ukuran cuff yang tepat merupakan faktor yang sering luput dari perhatian dokter. Pemilihan ukuran cuff yang tidak tepat ini paling sering terjadi pada pasien bayi karena cuff untuk bayi tidak tersedia, dan pada pasien dewasa obesitas yang seringnya menggunakan cuff standar yang terlalu kecil untuk lengan pasien obesitas.

Pemilihan cuff yang terlalu kecil akan menyebabkan overestimasi hasil, sedangkan pemilihan cuff yang terlalu besar akan menyebabkan underestimasi hasil.

Untuk menghindari inakurasi pengukuran tekanan darah, tenaga kesehatan perlu memastikan hal-hal berikut ini dilakukan:

  • Kalibrasi alat dilakukan secara berkala
  • Pastikan pasien duduk bersandar setidaknya 5 menit sebelum pemeriksaan dilakukan
  • Pastikan posisi lengan sudah benar
  • Pastikan ukuran cuff sudah tepat, yaitu melingkupi 80% atau 2/3 lengan atas
  • Tidak memompa tensimeter terlalu jauh di atas estimasi tekanan darah sistolik
  • Tidak mengempiskan tensimeter dengan terlalu cepat
  • Pemeriksaan diulang sebanyak 2 kali dengan jeda waktu yang cukup

Referensi