Pedoman Penanganan Infeksi Saluran Kemih Komplikata – Ulasan Guideline Terkini

Oleh :
Meili Wati

Pedoman penanganan infeksi saluran kemih komplikata dikeluarkan Infectious Diseases Society of America (IDSA) pada tahun 2025. Pada pedoman ini, dilakukan pembaruan dalam klasifikasi infeksi saluran kemih (ISK) komplikata dan nonkomplikata. Selain itu, ada pula rekomendasi penggunaan antibiotik dalam durasi yang lebih pendek pada kasus yang menunjukkan perbaikan klinis.

Pembaruan klasifikasi ISK komplikata dan nonkomplikata dibuat lebih sederhana. Sementara itu, durasi antibiotik dapat dipersingkat menjadi 5-7 hari jika menggunakan fluorokuinolon dan 7 hari jika menggunakan antibiotik nonfluirokuinolon apabila pasien menunjukkan respon klinis yang baik (dibandingkan durasi 10-14 hari yang dahulu dianjurkan).[1]

Pedoman Penanganan Infeksi Saluran Kemih Komplikata

Tabel 1. Tentang Pedoman Klinis Ini

Penyakit Infeksi Saluran Kemih
Tipe Penatalaksanaan
Yang Merumuskan Infectious Diseases Society of America
Tahun 2025
Negara Asal Amerika
Dokter Sasaran Spesialis Urologi, Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Umum, dan Dokter Jaga IGD

Penentuan Tingkat Bukti

Penentuan bukti dalam pedoman klinis ini dilakukan menggunakan kerangka Infectious Diseases Society of America dan pendekatan GRADE (Grading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation). Proses dimulai dari perumusan pertanyaan klinis berbasis format PICO, kemudian panel menetapkan outcome yang relevan dan penting bagi pasien sebelum analisis dilakukan (a priori).

Outcome tersebut diprioritaskan berdasarkan dampaknya terhadap pengambilan keputusan klinis, dengan penekanan pada outcome yang berorientasi pasien dibandingkan parameter laboratorium seperti eradikasi mikrobiologis. Selanjutnya, dilakukan tinjauan sistematis terhadap literatur melalui basis data besar seperti Medline, EMBASE, dan Cochrane, dengan seleksi studi yang ketat, terutama mengutamakan uji klinis terkontrol acak (RCT).

Setelah data terkumpul, kualitas atau kepastian bukti dinilai menggunakan domain dalam GRADE, yaitu risiko bias, inkonsistensi hasil, indirectness, imprecision, dan bias publikasi, yang dapat menurunkan tingkat kepercayaan terhadap bukti. Sebaliknya, faktor seperti efek yang besar atau hubungan dosis-respons dapat meningkatkan kepastian bukti.

Selain itu, risiko bias tiap studi dinilai dengan alat khusus seperti Cochrane risk of bias tool dan ROBINS-I. Hasil sintesis bukti ini kemudian digunakan dalam kerangka Evidence-to-Decision untuk merumuskan rekomendasi dengan mempertimbangkan keseimbangan manfaat dan risiko, nilai pasien, serta aspek praktis seperti biaya dan kelayakan. Rekomendasi akhir diklasifikasikan menjadi “kuat” atau “kondisional” berdasarkan kekuatan bukti dan pertimbangan klinis.[1]

Rekomendasi Utama untuk Diterapkan dalam Praktik Klinis Anda

Pedoman IDSA ini membahas mengenai penanganan infeksi saluran kemih (ISK) komplikata. Beberapa rekomendasi penting dalam pedoman ini akan dijabarkan di bawah.

Klasifikasi Infeksi Saluran Kemih

Pedoman ini melakukan penyederhanaan dalam klasifikasi ISK. Sebuah kasus bisa dianggap ISK nonkomplikata jika gejala ISK terlokalisir pada kandung kemih (disuria, urgensi, peningkatan frekuensi dan nyeri suprapubis) tanpa disertai dengan adanya gejala sistemik lainnya.

Di lain pihak, pada ISK komplikata, gejala ISK tidak hanya terbatas di kandung kemih, namun juga disertai dengan adanya gejala sistemik, seperti demam dan nyeri area pinggang atau nyeri pada sudut kostovertebra. Kasus pielonefritis, ISK dengan gejala sistemik pada pasien dengan kondisi khusus seperti pemasangan kateter (transurethral, suprapubis dan intermiten), pasien dengan kelainan neurogenik, dan obstruksi saluran kemih juga termasuk dalam klasifikasi ini.[1]

Pemilihan Terapi Antibiotik Empiris pada ISK Komplikata

Pemberian antibiotik pada ISK komplikata ditentukan berdasarkan:

  • Tingkat keparahan ISK: sepsis atau tidak sepsis
  • Kondisi pasien, termasuk riwayat alergi obat dan interaksi obat
  • Paparan antibiotik sebelumnya dan risiko resistensi antibiotik pada pasien.

Pada pasien ISK komplikata dengan sepsis, pemberian antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga atau keempat, karbapenem, piperacillin-tazobactam, dan fluorokuinolon lebih disarankan dibandingkan dengan golongan beta laktam atau aminoglikosida.

Pada pasien ISK komplikata tanpa sepsis, pemberian antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga atau keempat, piperacillin-tazobactam, dan fluorokuinolon lebih diutamakan dibandingkan dengan golongan karbapenem atau aminoglikosida.[1]

Tabel 2. Dosis Antibiotik Oral untuk ISK Komplikata yang Digunakan dalam Uji Klinis

Antibiotik Dosis Pemberian (pada pasien dengan fungsi ginjal yang normal)
Cefixime 400mg sekali sehari
Cefpodoxime 200mg setiap 12 jam
Ceftibuten 400mg sekali sehari atau 200mg setiap 12 jam
Cefuroxime 500mg setiap 12 jam
Cephalexin 500-1000mg setiap 6 jam
Ciprofloxacin 500-750mg setiap 12 jam
Levofloxacin 500-750mg sekali sehari
Trimethoprim - sulfamethoxazole 80/160mg setiap 12 jam

Sumber: dr. Meili Wati, Alomedika, 2026.[1]

Tabel 3. Dosis Antibiotik Intravena untuk ISK Komplikata yang Digunakan dalam Uji Klinis

Antibiotik Dosis Pemberian (pada pasien dengan fungsi ginjal yang normal)
Cefepime 1-2 gram setiap 8-12 jam
Cefepime – enmetazobactam 2 gram/0,5gram (infus habis dalam 2 jam) setiap 8 jam
Cefiderocol 2 gram (infus habis dalam 3 jam) setiap 8 jam
Cefotaxime 1-2 gram setiap 8 jam
Ceftazidime 1-2 gram setiap 8 jam
Ceftazidime – avibactam 2,5 gram (infus habis dalam 3 jam) setiap 8 jam
Ceftolozane - tazobactam 1,5 gram setiap 8 jam
Ceftriaxone 1-2 gram sekali sehari
Ertapenem 1 gram sekali sehari
Fosfomisin 6 gram setiap 8 jam
Imipenem - cilastatin 500mg setiap 6 jam atau 1 gram setiap 8 jam
Imipenem - cilastatin - relebactam 500mg/125mg setiap 6 jam
Meropenem 1 gram setiap 8 jam
Meropenem - vaborbactam 2 gram/2 gram (infus habis dalam 3 jam) setiap 8 jam
Piperacillin - tazobactam 4,5 gram setiap 8 jam
Plazomicin 10-15mg/kgBB sekali sehari

Sumber: dr. Meili Wati, Alomedika, 2026.[1]

Tidak disarankan pemberian antibiotik fluorokuinolon pada pasien dengan riwayat penggunaan antibiotik yang sama dalam jangka waktu 12 bulan terakhir. Selain itu, tidak disarankan pemberian antibiotik yang sudah resisten pada patogen tertentu apabila sudah ada hasil kultur urin sebelumnya.

Pemberian antibiotik sesuai dengan data antibiogram pada kasus sepsis meningkatkan keberhasilan terapi antibiotik empiris pada pasien, sedangkan pada kasus nonsepsis tidak ada panduan khusus.

Terapi antibiotik definitif pada pasien ISK komplikata dapat diberikan secara langsung, tanpa perlu menunggu durasi pemberian antibiotik empiris, sesuai dengan hasil kultur urin pada pasien.[1]

Durasi Pemberian Antibiotik pada ISK Komplikata

Pada ISK komplikata yang menunjukkan perbaikan klinis setelah pemberian terapi, lebih disarankan pemberian antibiotik selama 5-7 hari untuk golongan fluorokuinolon, atau 7 hari untuk golongan antibiotik non-fluorokuinolon, dibandingkan dengan pemberian antibiotik dengan durasi lebih lama (10-14 hari). Selain itu, pasien yang awalnya diobati dengan terapi intravena, dapat segera beralih ke oral selama sisa durasi pengobatan bila pasien menunjukkan perbaikan.[1]

Pada kondisi khusus, seperti pasien dengan gangguan imun, pasien yang menjalani bedah urogenital dengan risiko infeksi tinggi, dan pasien yang tidak menunjukkan perbaikan gejala klinis signifikan, pemberian jenis antibiotik dan lama durasi pemberian antibiotik dapat disesuaikan dengan skenario klinis masing masing individu.[1]

Perbandingan dengan Pedoman Klinis di Indonesia

Di Indonesia, pedoman penanganan infeksi saluran kemih komplikata dikeluarkan oleh Ikatan Ahli Urologi Indonesia dalam buku Panduan Tata Laksana Infeksi Saluran Kemih dan Genital Pria edisi ke 3 tahun 2020. Pedoman lain dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan berupa PNPK Infeksi Saluran Kemih  tahun 2025.

Serupa dengan pedoman IDSA, di Indonesia pemberian antibiotik definitif pada ISK komplikata disesuaikan dengan hasil kultur dan kepekaan antibiotik. Pemberian antibiotik golongan beta laktam atau aminoglikosida sudah tidak disarankan digunakan sebagai terapi empiris mengingat mikroorganisme penyebab ISK komplikata memiliki spektrum yang lebih luas dan cenderung membentuk resistensi terhadap antibiotik tertentu.

Meski begitu, terdapat perbedaan rekomendasi dalam hal durasi terapi. Pedoman yang digunakan di Indonesia masih menyarankan durasi terapi yang relatif lebih panjang. Sementara itu, IDSA sudah merekomendasikan secara tersurat bahwa durasi bisa diperpendek pada kasus di mana pasien menunjukkan perbaikan klinis.[1-3]

Kesimpulan

Pedoman tata laksana infeksi saluran kemih (ISK) dipublikasikan oleh Infectious Diseases Society of America (IDSA) pada tahun 2025. Beberapa rekomendasi yang perlu diperhatikan adalah:

  • Pemilihan antibiotik empiris didasarkan pada derajat keparahan, kondisi pasien, dan risiko resistensi. Pilihan antibiotik juga disesuaikan dengan riwayat penggunaan sebelumnya dan hasil kultur dan resistensi bila tersedia.
  • Antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga atau keempat, karbapenem, piperacillin-tazobactam, dan fluorokuinolon lebih disarankan dibandingkan dengan golongan beta laktam atau aminoglikosida untuk digunakan pada pasien ISK komplikata dengan sepsis.
  • Antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga atau keempat, piperacillin-tazobactam, dan fluorokuinolon lebih diutamakan dibandingkan dengan golongan karbapenem atau aminoglikosida pada pasien ISK komplikata tanpa sepsis.
  • Durasi terapi bisa lebih singkat (5–7 hari) jika pasien menunjukkan perbaikan klinis dengan antibiotik yang diberikan. Selain itu, transisi dini dari antibiotik intravena ke oral juga bisa dilakukan jika kondisi pasien menunjukkan perbaikan klinis.

Referensi