Penunda Haid – Panduan E-Prescription Alomedika

Oleh :
dr.Airindya Bella Kusumaningrum

Panduan e-prescription menunda haid ini dapat digunakan oleh Dokter saat hendak meresepkan terapi medikamentosa secara online. Penundaan haid biasanya diinginkan pasien untuk beberapa alasan, termasuk persiapan haji dan umroh, perjalanan atau liburan, acara spesial, ataupun saat masa ujian.[1,2]

Tanda dan Gejala

Pada kebanyakan kasus, terapi penundaan haid diperlukan bukan karena pasien mengalami gangguan medis atau gejala khusus. Terapi penundaan haid biasanya diperlukan dalam situasi tertentu di mana pengendalian siklus diinginkan atas alasan non-kontrasepsi.

Salah satu contoh paling umum di Indonesia adalah ketika seorang wanita berencana untuk melakukan ibadah haji atau umrah. Dalam situasi ini, terapi penundaan haid dapat memberikan fleksibilitas bagi wanita untuk mengatur siklus menstruasi mereka agar tidak bersamaan dengan periode ibadah tersebut.

Pada anamnesis, perlu ditanyakan mengenai riwayat menstruasi. Ini mencakup bagaimana siklus menstruasi pasien, kapan haid terakhir, serta berapa hari jarak dengan haid sebelumnya. Dokter juga perlu menanyakan mengenai riwayat kondisi medis yang mungkin menjadi kontraindikasi terapi hormonal, termasuk kehamilan, disfungsi hati, dan riwayat kanker.[1,2]

Peringatan

Terapi penundaan haid memiliki beberapa kontraindikasi yang perlu diperhatikan sebelum digunakan. Wanita yang sedang hamil, memiliki riwayat kejadian tromboemboli, gangguan fungsi hati, gangguan jantung, atau riwayat kanker yang dipengaruhi hormon seks, misalnya kanker payudara, sebaiknya menghindari penggunaan kontrasepsi hormonal untuk regulasi menstruasi.[2]

Noresthisterone

Norethisterone adalah pil mengandung progestin yang paling umum digunakan sebagai penunda haid. Pil norethisterone 5 mg menawarkan tingkat keberhasilan menunda haid sebesar 76%. Kontraindikasi obat ini meliputi riwayat kanker payudara, kanker serviks, stroke, kejadian tromboemboli, kanker hati, dan kehamilan.[3-6]

Perlu diperhatikan bahwa tingkat amenore pada penggunaan norethisterone untuk menunda haid dilaporkan rendah dan tidak konsisten. Selain itu, diperlukan kepatuhan yang ketat dan pemberian dosis harian yang tepat waktu. Sediaan ini juga bisa menyebabkan terjadinya perdarahan tidak teratur di luar siklus haid, serta kekambuhan episode depresi.[8]

Nomegestrol Asetat

Nomegestrol asetat efektif dalam menekan aktivitas gonadotropik dan proses ovulasi pada wanita dengan siklus menstruasi normal. Keterbatasan nomegestrol asetat serupa dengan norethisterone karena keduanya merupakan progesteron sintetik.

Nomegestrol memiliki harga yang umumnya lebih mahal dibandingkan norethisterone dan pil kontrasepsi kombinasi (PKK). Terlepas dari itu, efikasi nomegestrol tidak berbeda bermakna dengan PKK yang mengandung levonorgestrel 150 μg serta etinilestradiol 30 μg sebagai penunda menstruasi.[9,11,12]

Pil Kontrasepsi Kombinasi

Pil kontrasepsi kombinasi (PKK) biasanya mengandung etinilestradiol dan progestin seperti levonorgestrel. Kontraindikasi pemberian PKK adalah riwayat tromboflebitis atau tromboemboli, varises, kanker payudara, perdarahan dengan etiologi yang belum diketahui, disfungsi hepar, riwayat preeklampsia berat, penyakit kardiovaskular, diabetes melitus komplikata, hipertensi, serta sedang dalam terapi antituberkulosis atau hipoglikemik oral.

Potensi efek samping mencakup sakit kepala, mual, perubahan suasana hati, dan peningkatan risiko kejadian tromboemboli. PKK untuk penunda haid juga sering menyebabkan spotting di awal terapi. Angka kejadian spotting diketahui menurun pada PKK yang mengandung etinilestradiol > 20 μg.[5,8,14]

Leuprolin Asetat

Leuprolin asetat merupakan agonis gonadotropin releasing hormone (GnRH). Potensi efek samping obat ini mencakup hot flushes, berkeringat, sakit kepala, berdebar-debar, nyeri otot dan sendi, serta depresi. Untuk mengatasi efek samping tersebut, dapat diberikan tablet estrogen dan progestin.[15]

Medikamentosa

Pemilihan terapi penundaan haid disesuaikan dengan profil klinis masing-masing pasien. Di Indonesia, terapi penundaan haid yang sering digunakan pada individu yang akan menjalani haji dan umroh adalah pil yang mengandung progestin, seperti nomegestrol asetat dan norethisterone, serta pil kontrasepsi kombinasi.[16]

Norethisterone

Untuk menunda haid, norethisterone 5 mg diminum 3 kali sehari. Konsumsi dimulai 3 hari sebelum perkiraan tanggal menstruasi, dan dilanjutkan hingga 14 hari. Haid akan datang 2-3 hari setelah penghentian terapi.[5-7,16]

Nomegestrol Asetat

Nomegestrol asetat digunakan dalam dosis 5 mg. Terapi dijalankan selama 10 hari dalam satu siklus menstruasi, yang dimulai dari hari ke-16 hingga hari ke-25 siklus.[10,16]

Pil kontrasepsi kombinasi (PKK)

Untuk menunda menstruasi, pasien harus terus-menerus mengonsumsi pil yang mengandung hormon dan melewati pil plasebo. Jika menggunakan PKK 28 pil, pasien hanya minum 21 pil hormon dan melewati 7 pil plasebo, selanjutnya ganti ke paket baru. Jika pasien menggunakan PKK 21 pil, setelah habis, langsung mulai paket baru tanpa jeda.

PKK dikonsumsi sejak menstruasi selesai atau hari ke-5 menstruasi. PKK juga dapat diberikan mulai 14 hari sebelum perkiraan menstruasi yang akan datang dan dilanjutkan sampai perjalanan selesai. Bila seorang wanita ingin memajukan menstruasinya 6 hari lebih awal dari menstruasi yang akan datang, maka PKK diberikan antara hari ke-5 sampai hari ke-19 siklus menstruasi.

Penelitian telah menunjukkan bahwa PKK yang mengandung minimal 0,02 mg etinilestradiol adalah yang paling efektif., contohnya :

  • Levonorgestrel 0,15 mg dan etinilestradiol 0,03 mg
  • Cyproterone asetat 2 mg dan etinilestradiol 0,035 mg
  • Drospirenone 3 mg dan etinilestradiol 0,03 mg.[5,8,13,16]

Referensi