Panduan Aktivitas Fisik untuk Osteoarthritis

Oleh dr. Audric Albertus

Paradigma larangan melakukan aktivitas fisik pada pasien osteoarthritis sudah ditinggalkan. Aktivitas fisik sekarang sudah dianggap menjadi bagian dari terapi non-farmakologi osteoarthritis.

Sebelumnya, aktivitas fisik pada osteoarthritis masih diperdebatkan karena adanya hipotesis fenomena “wear and tear” yang mengatakan bahwa semakin berat aktivitas fisik yang dilakukan maka proses degenerasi juga akan semakin berat. Oleh karena itu, klinisi sering kali tidak memperbolehkan pasiennya untuk melakukan aktivitas fisik. Akan tetapi, berdasarkan studi terbaru, hipotesis ini sudah ditinggalkan dan aktivitas fisik dilaporkan efektif untuk penatalaksanaan osteoarthritis. [1-3]

aktivitas fisik

 

Manfaat Aktivitas Fisik pada Osteoarthritis

Imobilitas sendi ditemukan dapat menurunkan fleksibilitas pada sendi yang dapat menyebabkan gangguan gait, nyeri, dan disfungsi. Aktivitas fisik pada pasien osteoarthritis dapat meningkatkan range of motion sendi, serta dapat memperbaiki struktur otot dan jaringan lunak sekitar sendi yang menyebabkan perbaikan pada sirkulasi jaringan, gait, dan menurunkan nyeri.

Efektivitas aktivitas fisik pada pasien osteoarthritis telah dilaporkan pada beberapa studi. Salah satunya pada tinjauan sistematik oleh Nelson et al dimana dikatakan bahwa latihan aerobik ringan direkomendasikan untuk penatalaksanaan osteoarthritis lutut dan panggul.

Sebuah tinjauan literatur juga menyatakan bahwa aktivitas fisik aerobik land-based dan water-based, serta progressive strengthening exercise, efektif dalam mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi sendi pada pasien osteoarthritis. Bahkan dikatakan bahwa efek aktivitas fisik setara dengan obat analgesik. Namun perlu dicatat bahwa bukti ilmiah yang ada kebanyakan mendukung pada osteoarthritis lutut dan panggul, tapi belum cukup untuk osteoarthritis sendi lainnya. [4-7]

Jenis Aktivitas Fisik pada Pasien Osteoarthritis

Terdapat beberapa contoh program terapi fisik yang dapat diberikan pada pasien osteoarthritis. Panduan terbaru dari European League Against Rheumatism (EULAR) tahun 2018 menganjurkan agar aktivitas fisik dijadikan bagian dari penatalaksanaan standard untuk pasien osteoarthritis lutut dan panggul.

Latihan Aerobik

Sebuah konsensus pada tahun 2004 melaporkan bahwa, pada tiga randomized controlled trial (RCT) yang dianalisis, latihan aerobic walking bermanfaat menurunkan intensitas nyeri dan memperbaiki fungsi pada pasien dengan osteoarthritis lutut. [16]

Latihan aerobik merupakan aktivitas fisik yang bertujuan meningkatkan metabolisme aerobik oksigen untuk menghasilkan energi. Latihan ini dapat dilakukan pada intensitas sedang sampai berat, dimana ASCM-AHA merekomendasikan pasien melakukan secara rutin 30 – 60 menit / hari selama 5 hari / minggu untuk latihan intensitas sedang, seperti jalan pelan, renang, dan bersepeda santai. Sedangkan untuk latihan intensitas berat, seperti jogging, renang cepat, dan bersepeda cepat, disarankan dilakukan 20 – 60 menit / hari selama 3 – 5 hari / minggu. [8,9]

Latihan Resistensi

Latihan resistensi merupakan latihan yang bertujuan untuk meningkatkan massa, tonus, kekuatan, dan daya tahan otot. Cara kerja latihan ini adalah dengan mengkontraksikan otot terhadap resistensi eksternal yang diberikan. Salah satu contoh yang paling sering digunakan adalah angkat beban. Pada pasien dengan osteoarthritis lutut dan panggul, otot quadriceps, hip abductor, hip extensors, dan hamstring berperan penting dalam pergerakan, sehingga harus menjadi target latihan. [17]

Panduan ASCM-AHA menganjurkan latihan ini dilakukan dengan frekuensi 2 – 3 hari/ minggu pada tiap grup otot besar dengan intensitas sedang-berat, yaitu dengan repetisi minimal 6 sampai 12 kali. Pada pasien usia lanjut, intensitas latihan diturunkan menjadi intensitas sangat ringan, yaitu repetisi sesuai kemampuan pasien, tanpa batas minimal.[8,9]

Latihan Fleksibilitas

Latihan fleksibilitas (stretching) adalah latihan yang bertujuan untuk meningkatkan range of motion, kekuatan, keseimbangan, dan daya tahan pasien. Latihan seperti stretches, forward bend, yoga, dan pilates merupakan beberapa contoh dari latihan fleksibilitas. Latihan ini dapat dilakukan selama 2 – 3 hari / minggu dengan waktu menahan stretch 10 – 30 detik. Pada usia lanjut, menahan stretch selama 30 – 60 detik lebih disarankan. Stretching  dapat dilakukan sampai titik dimana pasien sudah merasa tidak nyaman.

Studi yang ada menunjukkan pasien osteoarthritis yang melakukan yoga memiliki keluhan nyeri, fungsi fisik, dan mobilitas yang lebih baik dibandingkan dengan pasien tanpa aktivitas fisik. Studi lainnya juga menunjukkan efektivitas pilates dalam menurunkan rasa nyeri dan memperbaiki disabilitas dibandingkan latihan terapeutik konvensional lainnya. [8-12]

Latihan Neuromotor

Latihan neuromotor merupakan latihan keseimbangan, koordinasi, cara jalan, dan proprioseptif. Tai chi dan Qigong merupakan salah satu contoh dari latihan ini. Latihan ini direkomendasikan untuk dilakukan setiap 20 – 30 menit/ hari selama   2 – 3 hari / minggu.

Metode ini baru diakui oleh American College of Sports Medicine pada tahun 2011 sehingga studi mengenai tipe latihan ini masih belum sebanyak tipe aktivitas fisik lainnya. Akan tetapi, studi Wang et al menunjukkan bahwa program tai chi 2 kali / minggu selama 12 minggu dapat menurunkan rasa nyeri dan depresi, serta meningkatkan fungsi fisik pasien osteoarthritis. [8,9,13]

Pemilihan Aktivitas Fisik pada Pasien Osteoarthritis

European League Against Rheumatism (EULAR) menyatakan bahwa kombinasi dari berbagai jenis aktivitas fisik yang telah dijabarkan di atas, lebih direkomendasikan untuk diterapkan, dibandingkan penggunaan hanya satu jenis aktivitas fisik saja. [9] Namun, pemilihan jenis aktivitas fisik pada pasien osteoarthritis harus mempertimbangkan usia, mobilitas, dan komorbiditas pada masing-masing pasien. [16,17]

Pada pasien osteoarthritis derajat berat atau pasien dengan obesitas, aquatic exercise lebih bermanfaat dibandingkan land-based exercise karena dapat mengurangi gaya yang dibebankan pada sendi terutama pada masa-masa awal tatalaksana. Selain daripada itu, pada pasien-pasien ini, latihan resistensi sambil duduk, bahkan dengan intensitas berat, dapat lebih ditoleransi dibandingkan weight-bearing aerobic exercise. Pada pasien obesitas yang sedang menjalani program diet, latihan resistensi sangat penting dilakukan untuk meminimalisir hilangnya massa otot tanpa lemak yang akan menyebabkan kelemahan otot.[16,17]

Secara umum aktivitas fisik high impact sebaiknya dihindari karena studi pada hewan percobaan menunjukan efek deteriorasi pada sendi. [17] Selain daripada itu, EULAR merekomendasikan penggunaan “24 hour rule”, dimana apabila setelah aktivitas fisik didapatkan nyeri yang menetap dalam 24 jam maka intensitas aktivitas fisik harus diturunkan. [9]

Aktivitas fisik pada pasien osteoarthritis dapat dilakukan dalam bentuk fisioterapi individual, kelas kelompok di bawah supervisi, ataupun dilakukan secara mandiri di rumah. Ketiga metode ini sama efektif dalam mengurangi gejala nyeri, walaupun supervisi petugas medis dilaporkan memiliki outcome yang lebih baik. [17]

Hingga saat ini, panduan spesifik mengenai peresepan aktivitas fisik pada pasien osteoarthritis di Indonesia masih belum ada. Akan tetapi, panduan tatalaksana osteoarthritis dari  Indonesian Rheumatology Association (IRA) merekomendasikan program latihan aerobik dan terapi fisik lain yang dapat menguatkan otot, sebagai tahap pertama terapi non farmakologi pasien osteoarthritis. [14,15]

Kesimpulan

Aktivitas fisik pada pasien osteoarthritis dapat meningkatkan range of motion sendi, serta dapat memperbaiki struktur otot dan jaringan lunak sekitar sendi yang menyebabkan perbaikan pada sirkulasi jaringan, gait, dan menurunkan nyeri. Jenis aktivitas fisik yang dapat diberikan untuk pasien osteoarthritis adalah latihan aerobik, latihan resistensi, latihan fleksibilitas, dan latihan neuromotor. Pemilihan aktivitas fisik harus didasarkan pada usia, mobilitas, dan komorbiditas masing-masing pasien.

Referensi