Platelet-Rich Plasma (PRP) Intra-artikular untuk Pengobatan Osteoartritis

Oleh dr. Nathania S.

Salah satu teknik pengobatan untuk Osteoartritis (OA) adalah dengan injeksi Platelet-Rich Plasma (PRP) intra-artikular yang kini banyak diteliti dan dapat menghasilkan hasil fungsional yang lebih baik dan tahan lama.

Penyakit Osteoarthritis (OA) adalah penyakit artritis (radang sendi) yang paling umum ditemukan. Terjadi kerusakan pada kartilago dan tulang yang berada dalam sendi yang terserang OA, sehingga timbul gejala OA seperti nyeri dan kaku sendi[1].

Depositphotos_70287091_m-2015_compressed

Pengobatan non-bedah pada osteoartritis antara lain: obat-obatan oral kondroprotektif, injeksi steroid dan viskosuplemen intra-artikular, dan injeksi Platelet-Rich Plasma (PRP) intra-artikular[2].

Dalam panduannya, American Academy of Orthopedics Surgeon (2013) tidak memberikan rekomendasi atau larangan terapi dengan injeksi growth factor dan/atau PRP untuk OA simtomatik pada lutut. Hal ini dikarenakan studi-studi yang dikutip tidak memiliki kualitas yang baik untuk dinyatakan sebagai rekomendasi[3].

Cara Kerja Platelet-Rich Plasma pada Osteoartritis

Platelet-rich plasma merupakan produk darah sendiri (autologus) yang memiliki konsenstrasi platelet yang lebih tinggi dari nilai dasar setelah proses sentrifugasi dari darah. Platelet sendiri secara fisiologi memiliki peran untuk penyembuhan luka, sehingga saat ini mulai dikembangkan fungsinya untuk pengobatan masalah-masalah muskuloskeletal salah satunya adalah osteoartritis[4].

Pada sendi yang terserang OA, terjadi gangguan metabolisme berupa peningkatan katabolisme dan penurunan anabolisme. Bila kartilago rusak, maka akan sulit sembuh secara alami karena sifatnya yang avaskular. PRP bekerja dengan berbagai cara untuk mencapai kondisi homeostasis pada sendi. Pada kartilago sendi, PRP meurunkan katabolisme, menaikkan anabolisme, merangsang proses remodelling, meningkatkan kapasitas sintetik kondrosit dan produksi matriks serta menghambat proses apoptosis dari kondrosit. Kapasitas sintetik dari kondrosit dinaikkan melalui kenaikan regulasi ekspresi gen, produksi proteoglikan dan deposisi kolagen tipe 2. Selain itu, sitokin-sitokin yang menyebabkan inflamasi dan nyeri juga dihambat oleh Platelet-rich Plasma sehingga pengobatan dengan PRP juga dapat mengurangi gejala dan keluhan nyeri[2,4].

Terjadi perdebatan antara kandungan sel pada Platelet-Rich Plasma, yaitu antara PRP yang kaya-leukosit dan kurang-leukosit. Hal yang mendasari terhadap keuntungan PRP kurang-leukosit adalah karena leukosit dapat menjadi substansi proinflamasi di dalam sendi. Hal yang mendasari terhadap keuntungan PRP kaya-leukosit adalah sitokin dan enzim dari leukosit untuk mencegah infeksi dan membawa sel-sel yang sesuai ke dalam jaringan[2,5].

Studi meta-analisis oleh Riboh et al (2006), menunjukkan bahwa Platelet-Rich Plasma kurang-leukosit memiliki hasil fungsional yang lebih baik dibandingkan dengan Platelet-Rich Plasma kaya-leukosit. Terapi PRP kurang-leukosit memiliki perbaikan skor WOMAC (Western Ontario and McMaster Universities Arthritis Index) yang bermakna dibandingkan dengan injeksi asam hialuronat atau plasebo. Sedangkan PRP kaya-leukosit tidak ditemukan keuntungan ini. Namun, secara umum studi-studi yang diikutsertakan memiliki kualitas bukti yang rendah.

Efek samping lokal yang ditimbulkan dari injeksi PRP, yaitu reaksi inflamasi, tidak bergantung secara langsung pada kandungan leukosit. Perbedaan keluhan nyeri ditemukan, namun indikator ini kurang baik untuk dijadikan tolak ukur karena sifatnya yang subjektif dan rentan terhadap bias[6].

Di samping keuntungan-keuntungan yang telah disebutkan, tidak diketahui apakah Platelet-Rich Plasma dapat memperbaiki osteofit atau meregenerasi kartilago atau meniskus yang telah mengalami kerusakan yang ireversibel[7].

Efektivitas Platelet-Rich Plasma untuk Osteoartritis dibandingkan dengan Modalitas Pengobatan Injeksi yang Lain

Penelitian Jubert et al (2017) membandingkan kelompok Osteoartritis yang mendapatkan pengobatan dengan Platelet-Rich Plasma kurang-leukosit dosis tunggal dan kelompok yang mendapatkan injeksi kortikosteroid intra-artikular[8]. Kortikosteroid intra-artikular bekerja dengan cara menekan proses inflamasi yang secara klinis akan tampak penurunan gejala-gejala inflamasi seperti kemerahan, bengkak, hangat dan nyeri[7].

Ditemukan bahwa visual analogue score (VAS) menurun pada kedua kelompok saat dilakukan peninjauan kembali (follow up) pada bulan ke-1, 3 dan 6. Meskipun tidak berbeda bermakna, penurunan skor VAS cenderung lebih besar pada kelompok PRP. Kualitas hidup diukur dengan menggunakan Knee Injury and Osteoarthritis Score (KOOS) pada peninjauan kembali bulan ke-1, 3 dan 6. Ditemukan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan pada kelompok PRP pada bulan ke-3 (17.77 vs 4.91, p = 0.05) dan bulan ke-6 (16.88 vs 3.56, p = 0.03)[8].

Modalitas pengobatan intra-artikular yang berikutnya adalah injeksi asam hialuronat. Secara teori, asam hialuronat adalah komponen yang terdapat dalam minyak sinovial dan matriks kartilago yang mengandung glikosaminoglikan. Senyawa inilah yang membuat minyak sinovial bersifat elastis dan berperan sebagai lubrikan dan peredam guncangan pada sendi. Dalam hal pengobatan untuk OA, asam hialuronat eksogen diharapkan dapat mengembalikan elastisitas dari minyak sinovial yang telah terganggu (bersifat viskosuplemen) dan menurunkan peradangan yang ada di dalam minyak sinovial[7].

Dibandingkan dengan pemberian asam hialuronat, kelompok osteoartritis yang diberikan Platelet-Rich Plasma menunjukkan hasil yang lebih baik dan bertahan lebih lama. Kelompok terapi asam hialuronat menunjukkan efikasi tertinggi pada bulan ke-2 setelah injeksi, kemudian berkurang. Sebaliknya, kelompok PRP menunjukkan hasil yang baik hingga 12 bulan pasca injeksi[9].

Jumlah pemberian PRP untuk OA derajat 3 ditemukan berpengaruh terhadap penurunan VAS, WOMAC dan tes TUG (Timed-Up and Go).  Pemberian PRP 2 dan 3 kali dengan interval 2 minggu ditemukan lebih menghasilkan hasil yang lebih baik dalam penurunan nyeri dibandingkan dengan pemberian PRP tunggal[10].

Platelet-Rich Plasma sebaiknya diberikan pada osteoartritis yang memiliki kerusakan kartilago yang masih ringan (stadium 0 atau kondropati degeneratif) karena ditemukan hasil yang lebih baik dan bermakna dibandingkan dengan OA dini dan OA tahap lanjut[9].

Kesimpulan

  • Platelet-Rich Plasma (PRP) adalah terapi yang menggunakan platelet yang secara fisiologis dapat mengobati luka untuk penatalaksanaan pada sendi yang terserang osteoartritis (OA)

  • PRP merupakan produk darah sendiri (autologus) yang memiliki konsenstrasi platelet yang lebih tinggi dari nilai dasar setelah proses sentrifugasi dari darah
  • PRP bekerja dengan cara mempengaruhi sitokin-sitokin di dalam sendi sehingga dapat mencapai kondisi homeostasis pada sendi, merangsang proses remodelling, meningkatkan kapasitas sintetik kondrosit dan produksi matriks, menghambat apoptosis kondrosit dan menurunkan inflamasi.
  • PRP kurang-leukosit lebih menguntungkan dibandingkan dengan PRP kaya-leukosit dalam hal hasil fungsional, namun, secara umum studi-studi yang diikutsertakan memiliki kualitas bukti yang rendah
  • Efek samping lokal yang ditimbulkan dari injeksi Platelet-Rich Plasma, yaitu reaksi inflamasi, tidak berhubungan secara langsung pada kandungan leukosit pada PRP
  • Kualitas hidup pada pasien osteoartritis yang ditatalaksana dengan PRP lebih baik pada bulan ke-3 dan ke-6 dibandingkan dengan pasien yang ditatalaksana dengan injeksi kortikosteroid intra-artikular
  • Pasien yang ditatalaksana dengan PRP memiliki hasil yang lebih baik dan bertahan lama (hingga 12 bulan) dibandingkan dengan pasien yang ditatalaksana dengan asam hialuronat.
  • Pemberian PRP sebanyak 2 sampai 3 kali dengan selang 2 minggu dari setiap injeksi pada OA derajat 3 ditemukan lebih menguntungkan daripada dosis tunggal.
  • PRP menunjukkan hasil yang lebih baik bila diberikan pada osteoartritis stadium 0 atau dalam tahap kondropati degeneratif

 

Referensi