Peran Glukosamin-Kondroitin dalam Penatalaksanaan Osteoarthritis

Oleh :
dr. Gisheila Ruth Anggitha

Glukosamin dan kondroitin sulfat merupakan obat bebas yang banyak digunakan dalam penatalaksanaan osteoarthritis (OA). OA adalah peradangan artikular yang ditandai dengan kerusakan progresif kartilago pada sendi akibat gesekan antar tulang. Hal ini menyebabkan terjadinya rasa nyeri, kaku, efusi sendi, dan deformitas sendi.

OA merupakan salah satu jenis arthritis yang paling sering terjadi dan merupakan penyebab utama terjadinya limitasi dan penurunan kualitas hidup pada kelompok usia di atas 50 tahun. Sekitar 75% pasien berusia >65 tahun mengalami OA pada satu atau lebih sendi.

osteoarthritis

Sampai saat ini belum ada penatalaksanaan yang ideal dalam mengatasi OA. Beberapa penatalaksanaan yang diupayakan saat ini ditujukan untuk mengatasi nyeri dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien. Penatalaksanaan dapat diberikan secara farmakologis (obat anti inflamasi non steroid dan steroid), nonfarmakologis (fisioterapi, terapi okupasional, penurunan berat badan, dan latihan fisik), terapi alternatif (akupuntur), dan metode bedah pada OA tahap lanjut.

Saat ini, glukosamin dan kondroitin umum dipakai dalam penatalaksanaan OA. Glukosamin dan kondroitin dapat berperan sebagai kondroprotektor atau ā€œdisease-modifying OA drugsā€. Namun, sampai saat ini efektivitas keduanya masih dipertanyakan.[1,2]

Farmakologi dan Kegunaan Glukosamin dan Kondroitin

Glukosamin adalah aminomonosakarida endogen yang disintesis dari glukosa dan digunakan untuk biosistensis glukoprotein dan glikosaminoglikan. Glukosamin banyak terdapat pada jaringan penghubung dan paling banyak terdapat di kartilago. Efek kondroprotektor dari glukosamin dalam tubuh manusia adalah stimulasi langsung kondrosit, serta menjaga agar tidak terjadi proses degradatif di dalam tubuh melalui perubahan ekskpresi genetik. Namun, sampai saat ini mekanisme pasti glukosamin dalam tubuh belum diketahui.[3]

Kondroitin sulfat merupakan komponen matriks ekstraseluler yang banyak terdapat pada jaringan penghubung, termasuk pada kartilago, tulang, kulit, ligamen, dan tendon. Kondroitin berperan penting dalam biomekanikal kartilago, yaitu untuk resistensi dan elastisitas. Kondroitin sulfat dapat berperan sebagai anti-inflamasi. Secara in vitro, kondroitin sulfat dapat menghambat Cylooxygenase (COX)-2, microsomal prostaglandin synthase (mPGES)-1 dan prostaglandin (PG)E2. Selain itu, kondroitin juga dapat menurunkan sitokin proinflamasi, seperti interleukin (IL)-6.[4]

Rasionalisasi Penggunaan Glukosamin dan Kondroitin pada Osteoarthritis

Glukosamin dan kondroitin dipercaya dapat berguna untuk penatalaksanaan osteoarthritis (OA). Glukosamin dan kondroitin dinilai dapat mengurangi rasa nyeri dan mencegah atau memperlambat kerusakan kartilago. Beberapa penelitian menyatakan bahwa glukosamin dapat berperan dalam sintesis glikosaminoglikan, proteoglikan, dan hialuronat pada sendi kartilago. Selain itu, dapat menginduksi sintesis proteoglikan membentuk kondrosit dan menghambat sintesis metalloproteinase. Kondroitin sulfat berperan sebagai anti inflamasi untuk menurunkan peradangan yang terjadi pada kartilago. Selain itu, kondroitin juga dapat meningkatkan sintesis hialuronat pada sel-sel synovial, kolagen tipe II, dan proteoglikan pada kondrosit. Kondroitin sulfat juga dapat mencegah terjadinya stres oksidatif, mencegah apoptosis, dan degradasi kartilago.[3,4]

Sejauh ini, tidak ada pelaporan efek samping yang bermakna dalam penggunaan glukosamin dan kondroitin. Glukosamin biasanya berasal dari lobster, kerang, atau udang sehingga dapat menyebabkan reaksi alergi pada sebagian orang. Glukosamin dan kondroitin diberikan dalam bentuk oral. Dosis glukosamin sulfat yang biasa diberikan adalah 1500 mg/hari, sedangkan dosis kondroitin 800-1200 mg/hari.[3,4]

Bukti Klinis

Efikasi terapeutik dari glukosamin dan kondroitin cukup banyak diteliti pada berbagai percobaan klinis pada pasien osteoarthritis (OA). Efek dari glukosamin dan kondroitin diduga dapat menurunkan gejala OA maupun modifikasi penyakit, seperti efek pada struktur organ atau mencegah kerusakan lebih lanjut kartilago.

Sebuah meta analisis yang melibatkan 10 Randomized Controlled Trial (RCT) besar, meneliti tentang efektivitas glukosamin, kondroitin, kombinasi kondroitin dan glukosamin pada pasien OA genu atau panggul. Pada meta analisis ini didapatkan suplementasi glukosamin, kondroitin, ataupun kombinasi keduanya tidak memiliki efek yang signifikan terhadap penurunan nyeri pada OA dibandingkan dengan plasebo. Selain itu, meta analisis ini juga menemukan bahwa hanya terdapat efek minimal atau bahkan tidak ada efek yang bermakna terhadap pengurangan penyempitan celah sendi. Heterogenitas dan inkonsistensi meta analisis ini mendekati nol, sehingga validitasnya meta analisis ini cukup baik. [5]

Sebuah RCT dilakukan oleh Sawitzke, et al. yang melibatkan 662 pasien selama 2 tahun. Uji klinis ini meneliti tentang efikasi dan keamanan glukosamin dan kondroitin sulfat (monoterapi maupun kombinasi) dibandingkan dengan celecoxib dan plasebo pada pasien OA genu. RCT ini mendapatkan hasil yang sama dengan meta analisis sebelumnya. Tidak didapatkan hasil yang bermakna secara klinis terhadap penurunan rasa nyeri maupun perbaikan fungsi pada pasien OA berdasarkan Western Ontario and McMaster University Osteoarthritis Index (WOMAC). Pada RCT ini ditemukan adanya perbaikan keluhan pada 24 minggu awal pemberian obat pada semua grup, namun setelah itu tidak ada perbaikan selama dua tahun penelitian. RCT ini dilakukan selama 2 tahun dan dilakukan secara double blinding. Namun pada RCT ini didapatkan selective drop out sehingga mungkin menimbulkan bias. [6]

Pada sebuah tinjauan literatur yang melibatkan berbagai serial kasus, RCT, dan meta analisis mengenai efektivitas suplementasi glukosamin dan kondroitin pada pasien OA. Didapatkan suplementasi glukosamin dan kondroitin memiliki efek positif pada gejala dan temuan radiologis. Namun, efek tersebut tidak bermakna secara klinis. Validitas studi-studi pada review ini memiliki kemungkinan bias yang cukup tinggi. Tetapi, semua studi melaporkan tidak ada efek samping tertentu dari penggunaan glukosamin dan kondroitin. [1]

Kesimpulan

Glukosamin dan kondroitin umum diberikan dalam penatalaksanaan osteoarthritis. Glukosamin dan kondroitin, secara in vivo, dinilai dapat menginduksi sintesis glikosaminoglikan, proteoglikan, dan hialuronat pada sendi kartilago. Selama ini, glukosamin dan kondroitin dinilai beperan sebagai antiinflamasi sehingga diduga dapat mengurangi rasa nyeri dan menghambat kerusakan kartilago. Namun, beberapa penelitian yang ada, melaporkan penggunaan glukosamin dan kondroitin tidak memiliki efek yang signifikan dalam mengurangi nyeri maupun progresivitas penyakit, walaupun juga tidak dilaporkan adanya efek samping ataupun adverse event.

Referensi