Manfaat Suplementasi Vitamin D Selama Masa Kehamilan

Oleh :
dr. Gisheila Ruth Anggitha

Penelitian membuktikan bahwa suplementasi vitamin D selama masa kehamilan dapat menurunkan risiko kejadian bayi kecil masa kehamilan/KMK (small for gestasional age) atau berat bayi lahir rendah. Walau demikian, hasil penelitian ini belum diadopsi menjadi guideline, baik nasional maupun internasional, untuk suplementasi rutin vitamin D pada wanita hamil.

Vitamin D sejak lama dikenal sebagai vitamin larut lemak yang berfungsi untuk pertumbuhan otot dan tulang tetapi vitamin D diketahui juga memainkan peran penting selama masa kehamilan terutama untuk pertumbuhan janin. Neonatus sangat bergantung pada status vitamin D maternal. Namun, defisiensi vitamin D ternyata masih sering terjadi dan sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan dunia. Sekitar 60% ibu hamil dan 15-65% neonatus mengalami kekurangan vitamin D.[1-3] Adanya defisiensi vitamin D selama kehamilan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas baik pada maternal maupun janin. Kekurangan vitamin D pada ibu hamil dapat mengakibatkan adanya diabetes gestasional, preeklampsia, dan bacterial vaginosis. Defisiensi vitamin D selama kehamilan dapat mengakibatkan restriksi pertumbuhan intrauteri, seperti kecil masa kehamilan/KMK atau berat badan lahir rendah, yang akhirnya meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas neonatus.[4] Beberapa penelitian menyatakan hubungan antara defisiensi vitamin D pada ibu hamil dengan penurunan fungsi skeletal, kardiovaskular, pernapasan, dan neurokognitif bayi.[2] Pemberian suplementasi vitamin D diharapkan dapat mencegah terjadinya berat badan rendah pada bayi sehingga menurunkan risiko morbiditas dan mortalitas bayi.

Depositphotos_97125922_m-2015

Metabolisme Vitamin D pada Janin

Vitamin D merupakan vitamin larut lemak yang bisa didapatkan dari pajanan sinar matahari dan beberapa sumber makanan, seperti minyak ikan, jamur, kuning telur, dan liver. Vitamin D memiliki dua bentuk aktif vitamin D, yaitu kalsiferol D2 dan D3. Vitamin D2 disintesis oleh tumbuhan dan vitamin D3 diproduksi secara subkutaneus pada manusia melalui pajanan radiasi ultraviolet B (UVB). Vitamin D2 dan D3 masuk ke dalam tubuh dan dihidroksilasi di dalam liver membentuk 25-hidroksi vitamin D [25(OH)]D atau kalsidiol. Kemudian kalsidiol akan diubah menjadi kalsitriol di dalam ginjal. Kalsitriol memiliki peran penting dalam menjaga integritas sel, metabolisme mineral tulang, dan homeostasis kalsium dan fosfor.[5]

Vitamin D bekerja pada beberapa organ tubuh, seperti kulit, usus halus, tulang, kelenjar paratiroid, sistem imun, pankreas, dan pada bayi juga bekerja di usus besar. Vitamin D juga dapat membantu menjaga kadar normal glukosa di darah, melalui aktiviasi reseptor vitamin D pada sel beta pankreas dan juga regulasi pengeluaran insulin.[5]

Kalsidiol, merupakan metabolit aktif dari vitamin D yang diberikan dari sirkulasi maternal ke sirkulasi janin via plasenta untuk memenuhi kebutuhan vitamin D janin. Kebutuhan vitamin D pada kehamilan sangat penting karena janin bergantung penuh pada kadar vitamin D dalam tubuh ibunya.[3]

Rasionalisasi Penggunaan Vitamin D pada Kehamilan

Meta analisis yang dilakukan oleh Theodoratou, et al.[6] dan Wei, et al.[7] menyatakan bahwa adanya asosiasi yang signifikan antara status vitamin D yang rendah selama masa kehamilan terhadap kejadian KMK. Terdapat pula beberapa studi observasional yang menyatakan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara kurangnya vitamin D terhadap kejadian kelahiran prematur.[5]

Vitamin D berfungsi dalam pertumbuhan janin melalui metabolisme kalsium, pertumbuhan tulang, dan menjaga fungsi plasenta. Level vitamin D yang cukup pada masa kehamilan juga dapat membantu perkembangan otot skeletal dan jaringan adiposa yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin ketika sudah lahir. Vitamin D menjaga kadar kalsium dan dan fosfor dalam darah, mineral yang berfungsi dalam proses homeostasis ion mineral, aktivitas mioblas, dan pembentukan tulang selama masa pertumbuhan awal.  Pada sebuah penelitian didapatkan rendahnya kalsidiol maternal menganggu pertumbuhan tulang janin yang dideteksi melalui USG.[8]

Bukti Klinis Terkait Manfaat Suplementasi Vitamin D pada Kehamilan

Banyak penelitian yang menyatakan bahwa prevalensi rendahnya level vitamin D selama masa kehamilan masih tinggi dan hal tersebut dinilai menganggu kesehatan janin. Namun, sampai saat ini belum ada organisasi nasional maupun internasional yang merekomendasikan penggunaan suplementasi vitamin D rutin selama masa kehamilan kecuali wanita tersebut mengalami risiko gangguan nutrisi. Efektivitas dan keamanan suplementasi vitamin D selama kehamilan masih sering kali dipertanyakan.

Meta analisis dilakukan oleh Perez-Lopez, et al.[9] yang terdiri dari 13 Randomised Controlled Trials (RCT) menilai efek pemberian suplementasi vitamin D selama masa kehamilan untuk melihat luaran maternal dan bayi. Didapatkan risiko KMK dan BBLR yang lebih rendah tetapi tidak signifikan secara statistik. Meta analisis ini masih memiliki beberapa keterbatasan, seperti studi yang heterogen dalam bentuk dosis, tipe, dan durasi pemberian suplementasi vitamin D. Pada meta analisis ini juga tidak membahas efek samping dari suplemen vitamin D.

Meta analisis lain dilakukan oleh Roth, et al.[10] yang terdiri dari 43 RCT untuk menilai efek pemberian suplementasi vitamin D selama kehamilan baik bagi maternal maupun janin. Terdapat 5 RCT yang menilai kejadian KMK pada meta analisis ini. Didapatkan grup yang mendapatkan suplementasi vitamin D secara signifikan memiliki risiko kejadian KMK 40% lebih rendah kali dibandingkan kontrol. Ditemukan pula adanya perbedaan yang signifikan pada grup suplemen vitamin D memiliki anak dengan risiko asma 20% lebih rendah dibandingkan dengan grup kontrol pada usia 3 tahun. 30 RCT pada meta analisis ini mendapatkan adanya perbedaan rata-rata yang signifikan pada berat lahir bayi sebesar 58.33 gram pada grup suplemen vitamin D. Pada meta analisis ini tidak diteliti lebih lanjut mengenai efek samping mengenai suplemen vitamin D.

Meta analisis terbaru dilakukan Bi, et al.[11] yang terdiri dari 22 RCT untuk menilai efektivitas suplementasi vitamin D selama masa kehamilan pada pertumbuhan janin, mortalitas, dan morbiditas neonatus. Didapatkan adanya hasil yang signifikan pada grup suplementasi vitamin D memiliki risiko 0.72 kali mengalami KMK dibandingkan kontrol. Namun, didapatkan bahwa suplementasi vitamin D selama kehamilan tidak berhubungan dengan risiko malformasi kongenital, mortalitas janin, dan mortalitas neonatus. Analisis subgrup pada meta analisis ini didapatkan hasil bahwa pemberian suplementasi vitamin D ≤2000 IU/hari berhubungan dengan penurunan risiko bayi dengan KMK. Neonatus yang mendapatkan suplementasi vitamin D juga memiliki berat badan lahir yang secara signifikan lebih besar (rata-rata perbedaan 75.38 gram). Pada meta analisis ini didapatkan keterbatasan berupa adanya variabilitas pada metode pengukuran kalsidiol dalam berbagai studi dan beberapa confounding factor yang tidak dapat dikendalikan.

Dua meta analisis menyatakan bahwa suplementasi vitamin D secara signifikan dapat mengurangi kejadian KMK dan bayi lahir dengan berat yang lebih besar dibandingkan dengan grup kontrol. Satu meta analisis menilai adanya pengurangan risiko KMK namun hasil yang diperoleh tidak signifikan. Dari ketiga meta analisis tersebut, belum ada yang membahas lebih lanjut mengenai efek samping penggunaan suplementasi vitamin D selama masa kehamilan.

Kesimpulan

Suplementasi vitamin D selama masa kehamilan diduga memiliki manfaat yang cukup baik untuk mengurangi risiko kejadian KMK dan berat badan lahir rendah. Vitamin D berfungsi dalam pertumbuhan janin melalui metabolisme kalsium dan fosfor, pertumbuhan tulang, dan menjaga fungsi plasenta. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa efektivitas suplementasi vitamin D cukup baik selama masa kehamilan, namun efek sampingnya belum diteliti lebih lanjut. Oleh karena itu, vitamin D dapat menjadi salah satu suplementasi pada ibu hamil dengan risiko gangguan nutrisi. Diharapkan ke depannya akan ada penelitian yang lebih lanjut mengenai efek samping, dosis, dan durasi pemberian suplementasi vitamin D selama masa kehamilan.

Referensi