Membagi waktu untuk peran sebagai dokter dan juga ibu rumah tangga. - Diskusi Dokter

general_alomedika

Hai dokter, saya ajukan sebagai anonim karena ingin menanyakan diluar medis namun cukup relate dengan kehidupan kedokteran. Jadi merasa perlu untuk...

Diskusi Dokter

16 Maret 2019, 15:08
dr.A.Triadi,SpOG
dr.A.Triadi,SpOG
Dokter Spesialis Kandungan
Pendidikan spesialis berbeda dengan pendidikan profesi lain. Spesialis merupakan long life studi dan menentukan dimana anda bekerja. Tentukan sesuai passion anda. Dan komunikasikan dengan pasangan, apakah bersedia untuk meluangkan waktu pasangan dalam mendidikan anak.
Kebanyakan, spesialis yang sudah bekeluarga akan bermasalah saat pertangahan pendidikan dan ini harus di pertimbangkan.
Lihat juga passion anda kearah emergensi atau tidak, suka diganggu jam malam atau tidak.
Terakhir berdoa dan tawakal. Its ur choice

16 Maret 2019, 15:11
Kita sebagai wanita yang berprofesi sebagai dokter, no 1 benar2 harus mendapat ridho dari suami. Suami harus dapat mengerti mengenai kesibukan kita, apalagi bila kita melanjutkan pendidikan spesialis, saat junior ibaratnya keluarga kita adalah sejawat di PPDS sehingga waktu untuk keluarga berkurang. Suami mau tidak mau harus ikut turun tangan urus anak. Intinya semua harus dikomunikasikan.

Tidak lupa juga menjaga kesehatan tubuh mengingat aktivitas di rumah maupun di pekerjaan akan banyak, faktor stress akan tinggi sehingga segala sesuatunya juga perlu kita memohon kepada Tuhan agar diberi kemudahan. Tetap semangat! Banyak wanita yang seperti anda dan sukses di rumah tangga & pekerjaan 😊 
Sepakat dengan Dr. Sacharissa, ridho suami harus rela di nomer dua puluh...kan demi sekolah. Tentu dikomunikasikan dulu. Cerita yang menarik ya Dok. Sukses untuk Dokter
16 Maret 2019, 15:30
Itulah dok, banyak yang terjadi gesekan di tengah pendidikan padahal sudah komitmen, oleh sebab itu suami harus benar2 mengerti mengenai kesibukan kita 😌
16 Maret 2019, 15:17
16 Maret 2019, 15:06
Iya Dok, untuk saat ini Saya sudah mantap tidak sekolah dulu sampai suami selesai  dan berhubung juga anak-anak masih kecil-kecil. Semoga Saya dan ibu dokter rumah tangga lainnya,  bisa menyuarakan pilihannya dengan keras,  tanpa dibayang-bayangi oleh opini orang lain. 

Semoga terwujud dok, memang semua pilihan ada konsekuensi, termasuk jika "nekat" terjun PPDS tanpa adanya pertimbangan dan keyakinan yang mantap, maka bisa-bisa anak dan keluarga yang ditinggalkan menjadi retak kecuali jika semua keluarga sudah memahami dan mendukung kita saat pendidikan.

Keluarga ttp nomer 1.

17 Maret 2019, 14:36
Terimakasih atas masukannya Dok πŸ™
16 Maret 2019, 15:20
Alodokter, sharing yang menarik.

Sebagai seorang ibu dan PPDS, harus punya fisik yang prima. Olahraga dan makan sehat harus disempatkan agar tubuh punya metabolisme yang efisien. Jadi walaupun setiap harinya tidur hanya beberapa jam tapi masih tetap semangat menjalani hari.

Oh ya harus kompak sama teman seangkatan. Anak bisa sakit kapan saja, saling back up itu perlu. Nanti gantian kita pasang badan kalau teman yg butuh bantuan. Terakhir jangan lupa minta izin dan keikhlasan suami, anak dan ortu. Merekalah support system utama dalam hidup kita.

Semoga lancar sekolahnya dok. Dengan kerja keras dan tawakal Insya Allah semua kan terlewati
Nice sharing Dr. Citra. Memang harus kompak. Sukses untuk Dokter
16 Maret 2019, 15:38
Itulah dok, banyak yang terjadi gesekan di tengah pendidikan padahal sudah komitmen, oleh sebab itu suami harus benar2 mengerti mengenai kesibukan kita 😌
Yesss, harus mengerti apalagi suami yang beda profesi atau bukan Dokter. Semua kuncinya ada di komunikasi. πŸ‘
16 Maret 2019, 15:51
Saya mau ikut menambahkan.. Tapi yang mau saya sampaikan sudah tersampaikan semua di atas😁
Setuju dengan semua sharing di atas.. Tapi sungguh memang untuk mengambil sekolah pendidikan spesialis bagi seorang ibu dan istri haruslah dibicarakan bersama dengan keluarga besar dan perlu kita tanya pada diri kita sendiri apakah tujuannya?
Apakah untuk meningkatkan penghasilan?
Apakah untuk gengsi semata?
Apakah memang benar2 tertarik dan ingin mengembangkan Ilmunya?
Karena sejujurnya dok, setelah lulus nanti pemerintah dan peraturan belum tentu "bersahabat"
Pengalaman saya peraturan pemerintah bisa selalu berubah, contohnya muncul aturan WKDS di tengah 2 studi, dan bisa malah berjauhan dari keluarga setelah lulus. 
Bukan saya menakut2i, tapi memang harus dipikirkan sedemikian rupa dan tentunya mohon petunjuk pada Yang Di Atas😊
16 Maret 2019, 15:51
Saya mau ikut menambahkan.. Tapi yang mau saya sampaikan sudah tersampaikan semua di atas😁
Setuju dengan semua sharing di atas.. Tapi sungguh memang untuk mengambil sekolah pendidikan spesialis bagi seorang ibu dan istri haruslah dibicarakan bersama dengan keluarga besar dan perlu kita tanya pada diri kita sendiri apakah tujuannya?
Apakah untuk meningkatkan penghasilan?
Apakah untuk gengsi semata?
Apakah memang benar2 tertarik dan ingin mengembangkan Ilmunya?
Karena sejujurnya dok, setelah lulus nanti pemerintah dan peraturan belum tentu "bersahabat"
Pengalaman saya peraturan pemerintah bisa selalu berubah, contohnya muncul aturan WKDS di tengah 2 studi, dan bisa malah berjauhan dari keluarga setelah lulus. 
Bukan saya menakut2i, tapi memang harus dipikirkan sedemikian rupa dan tentunya mohon petunjuk pada Yang Di Atas😊
16 Maret 2019, 15:47
16 Maret 2019, 15:06
Iya Dok, untuk saat ini Saya sudah mantap tidak sekolah dulu sampai suami selesai  dan berhubung juga anak-anak masih kecil-kecil. Semoga Saya dan ibu dokter rumah tangga lainnya,  bisa menyuarakan pilihannya dengan keras,  tanpa dibayang-bayangi oleh opini orang lain. 
Sepakat Dokter Nurul, apapun pilihan kita, yang utama adalah menjadi seorang yang bermanfaat ilmunya, manfaat untuk anak dan sesama. Harus ikhlas dg pilihan kita, kunci agar tdk terganggu dg nyinyiran netijen. Sukses ya Dokter.
16 Maret 2019, 16:17
Terimakasih Dok Maya πŸ˜ŠπŸ™
17 Maret 2019, 04:11
dr.Samira
dr.Samira
Dokter Umum
16 Maret 2019, 05:20
Alo Dokter,

Sesuai judulnya adalah menjadi dokter dan ibu Rumah Tangga (RT), saya ingin ikut share cerita saya sendiri.

Agar bs seimbang antara ibu RT dan profesi Dokter dalam emosi, psikis saya, selalu memikirkan PRIORITAS dalam manajemen Waktu. Pemilihan Prioritas ini berdasarkan passion, minat, kemudian Niat.

Setelah berprofesi, dijalani, dan mengambil spesialis, memang sangat dibutuhkan kelonggaran psikis, apa yang seorang ibu, istri juga Dokter inginkan dalam hidup. Capaian apa yang diinginkan. Setelah bulat dengan pilihannya, suatu Spesialisasi bidang apapun, Dokter harus legowo dengan segala risiko yang akan dihadapi, termasuk waktu yang hilang mengikuti perkembangan seorang anak misalnya, waktu yang hilang dalam beberapa pertemuan keluarga, dalam hal ini dibutuhkan dukungan moril yang sangat besar dari suami, kedua orang tua, mertua, maupun dari Asisten RT. Orang di sekitar kita memberikan dukungan, Yang pertama dalam pengambilan keputusan adalah DOA, semoga dimudahkan dalam pendidikan, dilancarkan di kedua tempat kita.
Jika ada jalan Allah masuk ke bidang yang kita sukai, kemudian dukungan dari semua orang di sekeliling kita, maka inshaAllah penjadwalan sehari-hari kita, masalah manajemen waktu akan terselesaikan.

Turunkan ego untuk segala hal, misal ada momen yang mungkin seharusnya seorang ibu inginkan terlibat namun karena jadwal akhirnya ga di tempat, don't blame yourself. Terima ini sebagai suatu TAKDIR, sehingga ikhlas menerima apapun dalam proses kehidupan kita. Sukses hidup sebenarnya dari hati, jika kita bisa mensyukuri segala yang telah dimiliki dan dialami. 
Semoga bermanfaat.

Sangat inspiring dokk 😊😊
17 Maret 2019, 15:19
dr.Nurliati Sari Handini,SpBP-RE
dr.Nurliati Sari Handini,SpBP-RE
Dokter Spesialis Bedah Plastik
Dear rekan sejawat, izin ikut berdiskusi ya.
Kebetulan saya saat itu menikah di tengah perjalanan PPDS Bedah Plastik dan suami saat itu sudah selesai PPDS Penyakit Dalam.
Yang kami lakukan saat itu adalah : 

1. Temukan bidang yang menjadi passion utama 

2.  Menyepakati visi dan misi dalam keluarga kecil

3. Berbagi peran dalam keluarga (misalnya saat itu suami mencari nafkah, sementara saya fokus menyelesaikan pendidikan Sp1)

4. Melibatkan keluarga besar untuk mendukung rencana kami (ini penting terutama karena kami perlu dibantu utk hal pengasuhan anak, antara lain dari orangtua dan mertua serta ipar)

5. Memastikan support system selalu tersedia dari keluarga maupun penunjang (misalnya nanny utk anak-anak dan asisten rumah tangga utk urusan memasak,dll)

6. Bersedia selalu berkomunikasi secara terbuka termasuk berkompromi jika ada hal-hal darurat (misalnya tidak bisa pulang ke rumah krn jam jaga memanjang atau ada tugas-tugas tambahan sbg PPDS yg wajib dilaksanakan)

7. Membangun dan menjaga relasi yang baik dengan sesama rekan PPDS supaya bisa kompak saling back up

8. Fokus menyelesaikan sekolah. Ingat bahwa masalah seberat apa pun akan dapat diatasi dan pada saatnya nanti kita bisa lebih leluasa mengatur waktu dan menyeimbangkan hidup setelah lulus dan berpraktik mandiri.

9. Selalu berdoa spy diberi kekuatan dan perlindungan dalam segala situasi

Semoga infonya sedikit membantu. 
Semangat! 
17 Maret 2019, 15:26
Alo Dokter,

Makasih Dokter, nice inspiring
17 Maret 2019, 16:53
17 Maret 2019, 15:19
Dear rekan sejawat, izin ikut berdiskusi ya.
Kebetulan saya saat itu menikah di tengah perjalanan PPDS Bedah Plastik dan suami saat itu sudah selesai PPDS Penyakit Dalam.
Yang kami lakukan saat itu adalah : 

1. Temukan bidang yang menjadi passion utama 

2.  Menyepakati visi dan misi dalam keluarga kecil

3. Berbagi peran dalam keluarga (misalnya saat itu suami mencari nafkah, sementara saya fokus menyelesaikan pendidikan Sp1)

4. Melibatkan keluarga besar untuk mendukung rencana kami (ini penting terutama karena kami perlu dibantu utk hal pengasuhan anak, antara lain dari orangtua dan mertua serta ipar)

5. Memastikan support system selalu tersedia dari keluarga maupun penunjang (misalnya nanny utk anak-anak dan asisten rumah tangga utk urusan memasak,dll)

6. Bersedia selalu berkomunikasi secara terbuka termasuk berkompromi jika ada hal-hal darurat (misalnya tidak bisa pulang ke rumah krn jam jaga memanjang atau ada tugas-tugas tambahan sbg PPDS yg wajib dilaksanakan)

7. Membangun dan menjaga relasi yang baik dengan sesama rekan PPDS supaya bisa kompak saling back up

8. Fokus menyelesaikan sekolah. Ingat bahwa masalah seberat apa pun akan dapat diatasi dan pada saatnya nanti kita bisa lebih leluasa mengatur waktu dan menyeimbangkan hidup setelah lulus dan berpraktik mandiri.

9. Selalu berdoa spy diberi kekuatan dan perlindungan dalam segala situasi

Semoga infonya sedikit membantu. 
Semangat! 
Terimakasih dok, sangat menginspirasi πŸ™πŸ™πŸ™
17 Maret 2019, 17:09
dr. Nico Poundra Mulia, SpOG
dr. Nico Poundra Mulia, SpOG
Dokter Spesialis Kandungan
Kasusnya sama dok, saat ini istri masih ragu untuk sekolah karena perjuangan sekolah yang sangat berat, tidak hanya materi namun juga pengorbanan waktu untuk keluarga...
18 Maret 2019, 20:30
Sebagai tambahan bahan pertimbangan dok, selain minat, pertimbangan kasus emergency, pertimbangan jaga malam & berat atau tidaknya program pendidikan spesialis tsb, perlu dipikirkan juga ada /tidaknya program WKDS untuk tamatan spesialis tsb, dok. Saya sendiri mengalami WKDS 1 tahun di luar pulau. Alhasil, anak saya titipkan di kampung halaman di Jawa Tengah, suami bekerja di Jakarta, saya sendiri nertugas di Bengkulu. Syukurlah komunikasi masih terjalin baik, sehingga tidak ada masalah serius selama hidup 1 tahun terpisah2.