Membagi waktu untuk peran sebagai dokter dan juga ibu rumah tangga. - Diskusi Dokter

general_alomedika

Hai dokter, saya ajukan sebagai anonim karena ingin menanyakan diluar medis namun cukup relate dengan kehidupan kedokteran. Jadi merasa perlu untuk...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Membagi waktu untuk peran sebagai dokter dan juga ibu rumah tangga.

    15 Maret 2019, 22:51
    Anonymous
    Anonymous
    Dokter Umum

    Hai dokter, saya ajukan sebagai anonim karena ingin menanyakan diluar medis namun cukup relate dengan kehidupan kedokteran. Jadi merasa perlu untuk mengangkat ini di forum :)

    Sebagai wanita yang bekerja sebagai dokter dan juga sebagai istri dan ibu rasanya cukup sulit untuk berkarir dan mengambil sekolah lebih lanjut karena sulit membagi waktu.ย 

    Dengan usia sudah menjelang 30 tahun, dan minim pengalaman, serta sempat cuti 1 tahun dari mengabdi sebagai dokter di RS pastinya lupa penanganan pasien walaupun mencoba me- recall dengan membaca literatur namun tentu berbeda dengan 'seni' saat praktek langsung.ย 

    Bisa di share kah dok pengalaman membagi waktu, dan jika ingin melanjutkan spesialis bagaimana kiat nya?ย 

15 Maret 2019, 23:32
dr. David, Sp.B, FINACS
dr. David, Sp.B, FINACS
Dokter Spesialis Bedah
Alodokter!
Saya ingin membagi pengalaman teman saya yg sepasang suami istri dan keduanya merupakan ppds, mulai menikah sejak awal ppds hingga memiliki 2 org anak serta menyelesaikan ppds tepat waktu. Kuncinya yaitu selalu melibatkan pihak keluarga (orang tua, ipar, dll) , baik dari istri maupun suami, dalam pengasuhan anak, kedua nya selalu berbagi waktu dalam mengasuh anak ketika ada waktu senggang diluar ppds.
Bila ada keinginan utk melanjutkan pendidikan, baik spesialis maupun lainnya, selalu siapkan modal material dan spiritual, yaitu biaya dan semangat serta mental yg kuat agar tidak sewaktu waktu menyerah ditengah proses pendidikan. Dukungan dari pihak keluarga sangat berperan penting dlm hal ini. Dan bila ingin melanjutkan pendidikan dokter spesialis, akan memberikan nilai tambah bila anda magang di bidang yg akan anda pilih, serta membuat lebih fokus dalam mempelajari bidang yg akan anda ambil karena akan sering dihadapkan pada kasus yg berkaitan dgn bidang yg akan anda pilih td.
Semoga bermanfaat! 
16 Maret 2019, 13:04
Sangat bermanfaat Dok, semoga nanti Saya termotivasi untuk sekolah lagi. 
16 Maret 2019, 00:49
15 Maret 2019, 23:32
Alodokter!
Saya ingin membagi pengalaman teman saya yg sepasang suami istri dan keduanya merupakan ppds, mulai menikah sejak awal ppds hingga memiliki 2 org anak serta menyelesaikan ppds tepat waktu. Kuncinya yaitu selalu melibatkan pihak keluarga (orang tua, ipar, dll) , baik dari istri maupun suami, dalam pengasuhan anak, kedua nya selalu berbagi waktu dalam mengasuh anak ketika ada waktu senggang diluar ppds.
Bila ada keinginan utk melanjutkan pendidikan, baik spesialis maupun lainnya, selalu siapkan modal material dan spiritual, yaitu biaya dan semangat serta mental yg kuat agar tidak sewaktu waktu menyerah ditengah proses pendidikan. Dukungan dari pihak keluarga sangat berperan penting dlm hal ini. Dan bila ingin melanjutkan pendidikan dokter spesialis, akan memberikan nilai tambah bila anda magang di bidang yg akan anda pilih, serta membuat lebih fokus dalam mempelajari bidang yg akan anda ambil karena akan sering dihadapkan pada kasus yg berkaitan dgn bidang yg akan anda pilih td.
Semoga bermanfaat! 
Setuju dok
16 Maret 2019, 00:57
IMHO, untuk masa sekarang mungkin berbeda dengan program pendidikan yang akan dokter tempuh, dan juga berbeda dengan waktu yang kita tempuh di masa lalu.
Ikuti minat dan satu pesan : bila niat berani janganlah takut-takut, bila ragu dan takut jangan berani-berani mencoba.
Kembali ke niat awal, apakah ini yang anda inginkan dalam pencapaian hidup? 
Saya menemukan artikel bagus, mungkin bisa untuk bahan bacaan.
Salam.

kehidupan residen
16 Maret 2019, 05:03
Artikelnya bagus Dokter. Terima kasih
16 Maret 2019, 13:04
Two thumbs up Dok,  semoga nanti ada kekuatan buat Saya menyusul jejak suami untuk sekolah ๐Ÿ˜Š
16 Maret 2019, 04:59
dr. Muhammad Fariz, SpN
dr. Muhammad Fariz, SpN
Dokter Spesialis Saraf
Setuju dg saran ts diatas semua, 
Tambahan dari saya, mungkin bisa memilih program spesialis yang tidak berat, tidak ada jaga malam, tekanan nya tidak terlalu berat, sehingga waktu dg keluarga masih banyak.. 

16 Maret 2019, 05:20
Alo Dokter,

Sesuai judulnya adalah menjadi dokter dan ibu Rumah Tangga (RT), saya ingin ikut share cerita saya sendiri.

Agar bs seimbang antara ibu RT dan profesi Dokter dalam emosi, psikis saya, selalu memikirkan PRIORITAS dalam manajemen Waktu. Pemilihan Prioritas ini berdasarkan passion, minat, kemudian Niat.

Setelah berprofesi, dijalani, dan mengambil spesialis, memang sangat dibutuhkan kelonggaran psikis, apa yang seorang ibu, istri juga Dokter inginkan dalam hidup. Capaian apa yang diinginkan. Setelah bulat dengan pilihannya, suatu Spesialisasi bidang apapun, Dokter harus legowo dengan segala risiko yang akan dihadapi, termasuk waktu yang hilang mengikuti perkembangan seorang anak misalnya, waktu yang hilang dalam beberapa pertemuan keluarga, dalam hal ini dibutuhkan dukungan moril yang sangat besar dari suami, kedua orang tua, mertua, maupun dari Asisten RT. Orang di sekitar kita memberikan dukungan, Yang pertama dalam pengambilan keputusan adalah DOA, semoga dimudahkan dalam pendidikan, dilancarkan di kedua tempat kita.
Jika ada jalan Allah masuk ke bidang yang kita sukai, kemudian dukungan dari semua orang di sekeliling kita, maka inshaAllah penjadwalan sehari-hari kita, masalah manajemen waktu akan terselesaikan.

Turunkan ego untuk segala hal, misal ada momen yang mungkin seharusnya seorang ibu inginkan terlibat namun karena jadwal akhirnya ga di tempat, don't blame yourself. Terima ini sebagai suatu TAKDIR, sehingga ikhlas menerima apapun dalam proses kehidupan kita. Sukses hidup sebenarnya dari hati, jika kita bisa mensyukuri segala yang telah dimiliki dan dialami. 
Semoga bermanfaat.

16 Maret 2019, 13:05
Cerita yang sangat sukses ya Dok,  meski semua resiko sudah dijalani dengan berat. ๐Ÿ™
17 Maret 2019, 18:10
Terima kasih banyak sharingnya dokter
17 Maret 2019, 20:00
Bagus sekali dok terimakasi telah berbagi pengalaman..memang harus ada yang dikorbankan
17 Maret 2019, 20:00
Bagus sekali dok terimakasi telah berbagi pengalaman..memang harus ada yang dikorbankan
16 Maret 2019, 07:36
Lebih baik mengambil spesialis yang tidak memakai jaga malam dan tidak bersifat emergency. Karena pengalaman dari bidang saya. Seringkali waktu dengan keluarga terkikis akibat kasus emergrncy
16 Maret 2019, 13:01
16 Maret 2019, 05:03
Artikelnya bagus Dokter. Terima kasih
๐Ÿ™
16 Maret 2019, 13:08
16 Maret 2019, 05:20
Alo Dokter,

Sesuai judulnya adalah menjadi dokter dan ibu Rumah Tangga (RT), saya ingin ikut share cerita saya sendiri.

Agar bs seimbang antara ibu RT dan profesi Dokter dalam emosi, psikis saya, selalu memikirkan PRIORITAS dalam manajemen Waktu. Pemilihan Prioritas ini berdasarkan passion, minat, kemudian Niat.

Setelah berprofesi, dijalani, dan mengambil spesialis, memang sangat dibutuhkan kelonggaran psikis, apa yang seorang ibu, istri juga Dokter inginkan dalam hidup. Capaian apa yang diinginkan. Setelah bulat dengan pilihannya, suatu Spesialisasi bidang apapun, Dokter harus legowo dengan segala risiko yang akan dihadapi, termasuk waktu yang hilang mengikuti perkembangan seorang anak misalnya, waktu yang hilang dalam beberapa pertemuan keluarga, dalam hal ini dibutuhkan dukungan moril yang sangat besar dari suami, kedua orang tua, mertua, maupun dari Asisten RT. Orang di sekitar kita memberikan dukungan, Yang pertama dalam pengambilan keputusan adalah DOA, semoga dimudahkan dalam pendidikan, dilancarkan di kedua tempat kita.
Jika ada jalan Allah masuk ke bidang yang kita sukai, kemudian dukungan dari semua orang di sekeliling kita, maka inshaAllah penjadwalan sehari-hari kita, masalah manajemen waktu akan terselesaikan.

Turunkan ego untuk segala hal, misal ada momen yang mungkin seharusnya seorang ibu inginkan terlibat namun karena jadwal akhirnya ga di tempat, don't blame yourself. Terima ini sebagai suatu TAKDIR, sehingga ikhlas menerima apapun dalam proses kehidupan kita. Sukses hidup sebenarnya dari hati, jika kita bisa mensyukuri segala yang telah dimiliki dan dialami. 
Semoga bermanfaat.

Amin ๐Ÿ™
16 Maret 2019, 13:10
Sangat menarik sharingnya Dok,  Saya sendiri sama, ada niatan untuk sekolah mengikuti jejak suami,  tapi berat meninggalkan anak,  karena sudah parno duluan harus berjauhan dengan anak (titip ke nenek)  ataupun di jaga oleh babysitter. 

Selain terkendala biaya,  harus kerja sambil jaga anak,  rasanya sulit kalau harus sekolah sekarang,  meskipun kadang tidak tahan dengan nyanyian orang "kapan sekolah?  Kok ga lanjut?" Walau terkesan mmberikan excuse,  tapi Saya rasa ada baiknya Saya bersabar untuk sementara,  karena nanti setelah suami Saya selesai,  insya Allah Saya akan sekolah ๐Ÿ™๐Ÿ˜€
16 Maret 2019, 13:14
16 Maret 2019, 13:04
Two thumbs up Dok,  semoga nanti ada kekuatan buat Saya menyusul jejak suami untuk sekolah ๐Ÿ˜Š
Semoga semua dilancarkan, amin.
16 Maret 2019, 13:14
Amiin
16 Maret 2019, 13:33
Alodokter, sharing yang menarik.

Sebagai seorang ibu dan PPDS, harus punya fisik yang prima. Olahraga dan makan sehat harus disempatkan agar tubuh punya metabolisme yang efisien. Jadi walaupun setiap harinya tidur hanya beberapa jam tapi masih tetap semangat menjalani hari.

Oh ya harus kompak sama teman seangkatan. Anak bisa sakit kapan saja, saling back up itu perlu. Nanti gantian kita pasang badan kalau teman yg butuh bantuan. Terakhir jangan lupa minta izin dan keikhlasan suami, anak dan ortu. Merekalah support system utama dalam hidup kita.

Semoga lancar sekolahnya dok. Dengan kerja keras dan tawakal Insya Allah semua kan terlewati
16 Maret 2019, 14:53
dr. Fatnan Setyo Hariwibowo, Sp.PD
dr. Fatnan Setyo Hariwibowo, Sp.PD
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
IMHO, untuk masa sekarang mungkin berbeda dengan program pendidikan yang akan dokter tempuh, dan juga berbeda dengan waktu yang kita tempuh di masa lalu.
Ikuti minat dan satu pesan : bila niat berani janganlah takut-takut, bila ragu dan takut jangan berani-berani mencoba.
Kembali ke niat awal, apakah ini yang anda inginkan dalam pencapaian hidup? 
Saya menemukan artikel bagus, mungkin bisa untuk bahan bacaan.
Salam.

kehidupan residen
yes,setuju sekali dengan dr sarwono,SpBTKV, 
sebagai tambahan,jika istrinya juga dokter mungkin akan lebih memahami kesibukan dan senioritas di ppds,
tapi jika bukan dokter,berdoalah akan memahami rutinitas ppdsnya,jika tidak beberapa kawab saya ada yg sampai bercerai. tapi tenang,itu hanya sebagian kecil,banyak juga kok yg sukses,saling memahami.
Keluarga yang utama dan komunikasi yg utama,
segala persoalan di ppds sebaiknya disimpan sendiri tdk perlu mengganggu kehangatan keluarga,
16 Maret 2019, 14:54
dr. Fatnan Setyo Hariwibowo, Sp.PD
dr. Fatnan Setyo Hariwibowo, Sp.PD
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
16 Maret 2019, 07:36
Lebih baik mengambil spesialis yang tidak memakai jaga malam dan tidak bersifat emergency. Karena pengalaman dari bidang saya. Seringkali waktu dengan keluarga terkikis akibat kasus emergrncy
ya dok,setuju
16 Maret 2019, 14:55
dr. Fatnan Setyo Hariwibowo, Sp.PD
dr. Fatnan Setyo Hariwibowo, Sp.PD
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
16 Maret 2019, 13:10
Sangat menarik sharingnya Dok,  Saya sendiri sama, ada niatan untuk sekolah mengikuti jejak suami,  tapi berat meninggalkan anak,  karena sudah parno duluan harus berjauhan dengan anak (titip ke nenek)  ataupun di jaga oleh babysitter. 

Selain terkendala biaya,  harus kerja sambil jaga anak,  rasanya sulit kalau harus sekolah sekarang,  meskipun kadang tidak tahan dengan nyanyian orang "kapan sekolah?  Kok ga lanjut?" Walau terkesan mmberikan excuse,  tapi Saya rasa ada baiknya Saya bersabar untuk sementara,  karena nanti setelah suami Saya selesai,  insya Allah Saya akan sekolah ๐Ÿ™๐Ÿ˜€
Tanyakan dalam hati, prioritaskan hal yang lain,
istri saya juga sampai skrg blm ada niat sekolah,
karena anak2 dirumah lebih butuh dia daripada pembantu atau mertua.
Anak2 buat istri adl yang utama.
Semua memiliki pilihan masing2,dan setiap pilihan mengandung konsekuensi.
16 Maret 2019, 15:06
Iya Dok, untuk saat ini Saya sudah mantap tidak sekolah dulu sampai suami selesai  dan berhubung juga anak-anak masih kecil-kecil. Semoga Saya dan ibu dokter rumah tangga lainnya,  bisa menyuarakan pilihannya dengan keras,  tanpa dibayang-bayangi oleh opini orang lain. 
16 Maret 2019, 15:04
Kita sebagai wanita yang berprofesi sebagai dokter, no 1 benar2 harus mendapat ridho dari suami. Suami harus dapat mengerti mengenai kesibukan kita, apalagi bila kita melanjutkan pendidikan spesialis, saat junior ibaratnya keluarga kita adalah sejawat di PPDS sehingga waktu untuk keluarga berkurang. Suami mau tidak mau harus ikut turun tangan urus anak. Intinya semua harus dikomunikasikan.

Tidak lupa juga menjaga kesehatan tubuh mengingat aktivitas di rumah maupun di pekerjaan akan banyak, faktor stress akan tinggi sehingga segala sesuatunya juga perlu kita memohon kepada Tuhan agar diberi kemudahan. Tetap semangat! Banyak wanita yang seperti anda dan sukses di rumah tangga & pekerjaan ๐Ÿ˜Š