Induksi Persalinan dengan Kateter Foley

Oleh dr. Nathania S. Sutisna

Salah satu metode induksi persalinan secara mekanik adalah balon kateter foley yang dapat merangsang pematangan serviks, sehingga dapat digunakan pada skor Bishop yang rendah.

Proses persiapan persalinan didahului dengan serviks yang melunak dan menipis atau dikenal dengan pematangan serviks (cervical ripening), dilanjutkan dengan pembukaan serviks. Proses pematangan serviks dapat terjadi secara alami tanpa bantuan dan dapat pula dibantu dengan obat-obatan farmakologi (contoh: sintetik prostaglandin) atau secara mekanik (contoh: kateter foley). Penggunaan oksitosin sebagai induksi tidak dapat efektif pada induksi persalinan dengan skor Bishop yang rendah, yang menandakan serviks belum siap. Pada persalinan seperti ini, induksi yang direkomendasikan pertama adalah pematangan serviks[1,2].

Depositphotos_26025403_m-2015

Pada prosedur induksi dengan kateter foley, kateter akan dimasukkan ke dalam serviks dan balon dikembangkan proksimal dengan ostium interna dari serviks [2]. Dalam sebuah penelitian, didapatkan bahwa volume balon (80 mL dan 30 mL) selama maksimal 12 dan 24 jam tidak berpengaruh terhadap penurunan waktu induksi dan angka perlunya sectio caesarea[3].

Penggunaan infus salin ekstra-amniotik pada teknik induksi dengan kateter foley lebih menguntungkan dibandingkan dengan teknik kateter foley saja. Dalam suatu penelitian ditemukan bahwa pada kelompok yang mendapatkan infus salin ekstra-amniotik sebanyak 40 mL/jam hingga kateter dilepaskan (maksimal 12 jam, atau lebih cepat bila terjadi komplikasi), waktu dari induksi hingga kelahiran per vaginam lebih cepat dibandingkan kelompok kateter foley (16.58 jam vs 21.47 jam, p < 0.01)[4].

Induksi dengan Kateter Foley vs. Misoprostol

Induksi dengan kateter foley adalah dengan memberikan dilatasi mekanik pada serviks yang kemudian secara alami akan mengeluarkan prostaglandin dari serviks. Penggunaan kateter foley sudah banyak digantikan dengan analog dari prostaglandin, salah satunya adalah misoprostol. Dalam sebuah meta-analisis di Belanda yang membandingkan penggunaan kateter foley dengan misoprostol sebagai induksi, ditemukan bahwa [5]:

  • Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik pada:

    • Jumlah sectio caesarea karena semua penyebab (25% vs 17%, p = 0.29)
    • Jumlah penggunaan instrumen vaginal saat persalinan (14% vs 28%, p = 0.07)
    • Jumlah kasus gawat janin (11% vs 13%, p = 0.76)

  • Jumlah sectio caesaria akibat kegagalan induksi pada kala 1 lebih besar pada kelompok kateter foley dibandingkan misoprostol (14% vs 3%, RR 4.57, p = 0.03) dengan rentang CI 95% yang lebar yaitu 1.01 – 20.6 dan dengan 3 dari 8 kasus sectio caesarea terjadi di bawah 12 jam sejak ketuban pecah dini (ada kemungkinan lahir per vaginam bila tidak dilakukan sectio caesarea)
  • Waktu induksi lebih lama pada kelompok kateter foley (36 jam vs 25 jam, p < 0.001)
  • Penggunaan oksitosin sebagai augmentasi lebih banyak pada kelompok kateter foley (82% vs 50%, p < 0.001). Hal ini memperlihatkan bahwa induksi dengan kateter foley hanya mempengaruhi serviks dan dapat menjadi keuntungan pada janin yang tidak bisa mentoleransi kontraksi, misalnya dengan gangguan pertumbuhan di dalam uterus atau oligohidramnion.
  • Hiperstimulasi uterus dengan atau tanpa perubahan detak jantung janin lebih rendah pada kelompok kateter foley.

    • Studi Cochrane juga menyampaikan bahwa metode mekanis menurunkan risiko hiperstimulasi uterus dengan perubahan detak jantung janin dibandingkan dengan PGE2 (RR 0.16; CI 95%, 0.06 – 0.39) dan misoprostol (RR 0.37; CI 95%, 0.25 – 0.54)[6]

Induksi Kateter Foley pada Kelahiran per Vaginam dengan Riwayat Sectio Caesarea

  • Induksi yang sejauh ini aman digunakan pada kelahiran per vaginam dengan riwayat sectio caesarea (VBAC atau vaginal birth after caesarean section) adalah induksi dengan kateter foley karena tidak merangsang kontraksi dari uterus[3].
  • Induksi dengan oksitosin atau prostaglandin merupakan faktor risiko independen pada kejadian ruptur uteri pada VBAC[7].
  • Panduan dari RCOG (Royal College of Obstetrician & Gynecologists, Inggris) mengenai VBAC adalah induksi mekanik dengan amniotomi atau kateter foley memiliki risiko yang lebih kecil pada ruptur bekas luka dibandingkan dengan induksi dengan prostaglandin[8].

Penggunaan Induksi Kateter Foley pada Ketuban Pecah Dini

Tujuan penggunaan induksi pada ketuban pecah dini adalah mengurangi durasi kelahiran sehingga diharapkan dapat menurunkan angka korioamnionitis. Dalam suatu penelitian (155 rekam medis, 122 dengan induksi kateter foley dan 33 dengan misoprostol) yang membandingkan induksi dengan kateter foley dibandingkan dengan misoprostol (rute pemberian tergantung dari dokter, secara umum diberikan intravagina) pada ketuban pecah dini didapatkan bahwa[9]:

  • Waktu induksi lebih rendah pada kelompok kateter foley (median 736 menit vs 1354 menit, p < 0.01)
  • Suspek korioamnionitis ditemukan lebih sedikit pada kelompok kateter foley (11.5% vs 27.3%, p = 0.05)

Dalam penelitian lain dengan 202 pasien dilakukan intervensi induksi dengan kateter foley dengan misoprostol oral pada KPD dengan ratio 1:1 pada 2 kelompok tersebut, ditemukan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara waktu dari induksi hingga kelahiran (1311 vs 1435 menit, p = 0.31). Tidak juga ditemukan perbedaan bermakna pada angka sectio cesarea dan infeksi pada ibu dan bayi dalam kedua kelompok dengan pemberian profilaksis antibiotik sebelumnya[10].

Pertimbangan Penggunaan Kateter Foley sebagai Metode Induksi

Induksi kateter foley memiliki biaya yang relatif murah, reversibilitas (dapat dilepas dengan cepat), dan lebih rendahnya risiko gangguan detak jantung janin dan takisistol[9]. Komplikasi mayor dilaporkan relatif jarang dan komplikasi minor antara lain perdarahan nyeri, ketuban pecah (amniotomi yang tidak disengaja) dan demam juga jarang dilaporkan. Dari 1083 wanita yang menjalani induksi dengan kateter foley dengan infus salin ekstra-amniotik, ditemukan 8.8% mengalami komplikasi:

  • 3% mengalami reaksi demam transien yang akut
  • 2% detak jantung janin yang meragukan
  • 8% perdarahan per vaginam
  • 7% nyeri hebat
  • 3% berubahnya presentasi dari verteks menjadi sungsang[11]

Kesimpulan

  • Penggunaan balon kateter foley merupakan salah satu metode induksi persalinan yang dapat digunakan pada skor Bishop yang rendah untuk pematangan serviks (cervical ripening)
  • Penggunaan infus salin ekstra-amniotik pada teknik induksi dengan kateter foley lebih menguntungkan dibandingkan dengan teknik kateter foley saja karena dapat menurunkan waktu dari induksi hingga kelahiran
  • Induksi dengan kateter foley dibandingkan dengan misoprostol tidak berbeda bermakna dalam jumlah sectio caesarea karena semua penyebab, penggunaan instrumen vaginal saat persalinan, dan kasus gawat janin. Ditemukan induksi dengan kateter foley membutuhkan waktu yang lebih lama.
  • Penggunaan oksitosin pada kelompok induksi dengan kateter foley lebih banyak dibandingkan dengan kelompok misoprostol yang memperlihatkan bahwa induksi dengan kateter foley tidak banyak mempengaruhi kontraksi sehingga memberikan keuntungan pada janin yang tidak bisa mentoleransi kontraksi
  • Bila diperlukan induksi pada kelahiran per vaginam dengan riwayat sectio caesarea (VBAC atau vaginal birth after caesarean section), metode dengan kateter foley lebih rendah risikonya terhadap ruptur dibandingkan dengan metode dengan oksitosin atau prostaglandin
  • Induksi kateter foley dapat menjadi pilihan pada induksi untuk ketuban pecah dini
  • Induksi kateter foley memiliki biaya yang relatif murah, reversibilitas (dapat dilepas dengan cepat), dan lebih rendahnya risiko gangguan detak jantung janin dan takisistol
  • Komplikasi jarang dilaporkan, beberapa di antaranya: demam transien, detak jantung janin yang meragukan, perdarahan per vaginam, nyeri hebat dan berubahnya presentasi dari verteks menjadi sungsang

Referensi