Basis Bukti Ilmiah Penggunaan Antimikrobial Topikal pada Luka Bakar Area Wajah

Oleh :
dr. Johannes Albert B. SpBP-RE

Obat antimikrobial topikal sering digunakan dalam tata laksana luka bakar area wajah. Luka bakar pada area wajah berpotensi menyebabkan morbiditas yang signifikan, baik secara fungsional maupun estetik. Namun, belum banyak dokter yang mengetahui apakah pemberian antimikrobial topikal akan mempengaruhi luaran pasien.

Luka Bakar Area Wajah dan Potensi Morbiditasnya

Luka bakar akan menyebabkan terbentuknya jaringan parut. Jaringan parut dapat menimbulkan masalah seperti parut hipertrofik, keloid, kontraktur, dan deformitas. Oleh karenanya, luka bakar pada area wajah tidak hanya menyebabkan gangguan fungsi, tetapi juga masalah estetik yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan psikososial.[1,2]

shutterstock_722044645-min

Sebuah penelitian yang dilakukan pada populasi anak-anak menunjukkan bahwa luka bakar pada area wajah menimbulkan morbiditas jangka panjang berupa deformitas pada hidung, alis, dan telinga. Selain itu, parut luka bakar yang timbul akibat luka bakar yang dalam, umumnya tidak lagi memiliki folikel rambut, sehingga menyebabkan terjadinya alopecia. Masalah-masalah tersebut dapat mengakibatkan gangguan kepercayaan diri dan psikososial dalam jangka panjang.[3]

Bila menilik lebih dalam mengenai komplikasi yang disebabkan oleh parut luka bakar, maka masalah yang dihadapi dapat berupa perubahan pigmentasi, perubahan vaskularisasi, parut yang tebal, parut yang kaku, hingga permukaan yang tidak rata. Parut yang kaku dapat menyebabkan hambatan gerak atau kontraktur. Parut juga dapat menimbulkan keluhan nyeri dan gatal pada pasien. Keluhan ini bersifat kronik dan mengganggu kualitas hidup pasien.[1]

Pilihan Terapi dan Target Perawatan Luka Bakar Area Wajah

Salah satu target yang perlu dicapai untuk menghindari terbentuknya parut yang bermasalah di area wajah adalah waktu penyembuhan luka (epitelisasi) yang secepat mungkin. Secara umum, luka bakar full-thickness atau deep partial-thickness yang tidak dapat tertutup epitel dalam waktu 2-3 minggu memerlukan tindakan pembedahan berupa eksisi dan skin grafting. Luka bakar yang tidak terlalu dalam dan tidak memerlukan tindakan pembedahan, dapat dirawat dengan berbagai pilihan terapi topikal.[2]

Pilihan terapi untuk perawatan luka bakar di area wajah antara lain:

  • Antimikrobial: wound dressing berbasis perak seperti krim perak sulfadiazine dan larutan perak nitrat; larutan hipoklorit; dan wound dressing berbasis antibiotik dan antifungal seperti neomycin, polimiksin, bacitracin, dan nystatin

  • Debridement enzimatik: pengobatan topikal berbasis enzim seperti kolagenase, papain, dan bromelain
  • Skin substitute: material pengganti kulit sementara yang dapat berupa allograft, xenograft, atau material biosintetik lain

  • Alternatif lain: madu, wound dressing berbasis povidone iodin, moist exposed burn ointment (MEBO), aloe vera, material biokomposit, material fibroin silk, dan berbagai modern dressing[2,4]

Alasan Penggunaan Antimikrobial Topikal

Pengobatan antimikrobial topikal merupakan pilihan yang paling populer. Infeksi pada luka bakar dapat menghambat proses penyembuhan luka, sehingga waktu penyembuhan luka menjadi lebih lama dan risiko komplikasi meningkat. Obat antimikrobial topikal diharapkan dapat mencegah terjadinya infeksi pada luka bakar, sehingga memperbaiki kemungkinan luaran pasien. Pengobatan antimikrobial juga dianggap dapat mencegah nekrosis jaringan kulit yang progresif, sehingga mengurangi luas area luka bakar yang memerlukan tindakan operatif.[2]

Bukti Ilmiah Efikasi Antimikrobial Topikal pada Luka Bakar Area Wajah

Tinjauan sistematik Cochrane yang dipublikasikan di akhir Juli 2020 mencoba menganalisis efikasi obat topikal, termasuk antimikrobial topikal, dalam tata laksana luka bakar area wajah. Hasil tinjauan menunjukkan tidak ada perbedaan waktu penyembuhan luka yang signifikan antara terapi antimikrobial topikal (sediaan yang mengandung perak) dengan terapi topikal nonantimikrobial (kasa lembap NaCl dan MEBO). Perbedaan yang tidak signifikan juga ditemukan pada analisis proporsi area kesembuhan luka dalam durasi 10 hari, angka kejadian infeksi luka, dan kualitas parut luka bakar. Namun, tingkat kepuasan pasien terhadap terapi antimikrobial topikal lebih tinggi dibandingkan terapi topikal nonantimikrobial.

Perbandingan luaran di antara berbagai terapi antimikrobial (sediaan mengandung perak, sediaan yang tidak mengandung perak, mafenid, dan antibotik) juga tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Skin substitute dilaporkan memberikan efek penyembuhan luka yang lebih cepat dibandingkan terapi antimikrobial topikal. Namun, kualitas studi yang mendukung hasil ini masih kurang baik, sehingga dibutuhkan studi lanjutan untuk memastikan temuan tersebut. Pada analisis luaran pembentukan parut, angka kejadian infeksi, dan nyeri, penggunaan skin substitute belum terbukti secara meyakinkan dapat memberikan hasil yang lebih superior dibandingkan dengan terapi topikal lain, termasuk antimikrobial topikal.[5]

Patut pula diketahui bahwa penggunaan perak sulfadiazine dapat menyebabkan diskolorasi abu atau kecoklatan pada kulit. Selain itu, terdapat studi yang melaporkan bahwa penggunaan perak sulfadiazine dapat menurunkan penyembuhan luka.[6]

Kesimpulan

Luka bakar pada area wajah memiliki potensi morbiditas fungsional dan estetik yang dapat mengganggu kualitas hidup pasien, bahkan menyebabkan gangguan psikosisial signifikan. Obat antimikrobial topikal sering digunakan dalam tata laksana luka bakar area wajah karena dipercaya akan mencegah infeksi, sehingga meningkatkan waktu penyembuhan dan kualitas luaran pasien. Namun, sebuah tinjauan sistematik terbaru yang dipublikasikan pada Cochrane Database of Systematic Reviews menunjukkan bahwa obat antimikrobial topikal tidak lebih superior dibandingkan obat topikal nonantimikrobial dan skin substitute. Uji klinis acak terkontrol dengan kualitas bukti lebih baik masih diperlukan terkait topik ini.

Referensi