Dilema Menangani Rekan Sejawat

Oleh :
dr.Fredy Rodeardo Maringga

Menangani rekan sejawat dapat menyebabkan kebingungan peran sehingga menjadi dilema tersendiri bagi dokter yang menghadapinya.

William Osler pernah mengatakan “Care more particularly for the individual patient than for the special features of the disease”. Apakah ini berarti siapa pasien tersebut lebih penting dari status penyakitnya. Haruskah latar belakang (profesi, status sosial, pendidikan, dan budaya) menjadi faktor penentu dalam penanganan sebuah penyakit? Bagaimana jika pasiennya adalah seorang dokter? [1]

Depositphotos_182451240_m-2015_compressed

Dokter banyak terpapar terhadap risiko masalah kesehatan pada pekerjaannya, seperti risiko infeksi, cedera tertusuk jarum, jam kerja yang panjang, atau tekanan beban kerja, dapat menyebabkan masalah kesehatan pada seorang dokter. Survei British Medical Association menunjukkan lebih dari 50% dokter merasa pekerjaan mereka mempengaruhi kesehatan mereka. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa lebih dari 30% menghadapinya dengan melakukan self-prescribing dan kurang dari 50% yang mengambil izin karena sakit dan memeriksakan diri ke dokter lain. Pada masa lalu, kebanyakan dokter menganggap dirinya mampu untuk merawat dirinya sendiri jika sedang sakit, terutama jika keluhan yang dialami hanya keluhan minor. Namun demikian, sebenarnya hal tersebut harus dihindari karena dapat terjadi “kebingungan peran” akibat faktor emosional yang ada saat mencoba mengobati dirinya sendiri.[2]

Namun ternyata, masalah “kebingungan peran” juga terjadi saat seorang dokter menangani dokter lain yang sedang sakit. Menangani pasien yang merupakan seorang dokter memberikan tantangan tersendiri yang berbeda dengan pasien lain pada umumnya. Interaksi antara dokter dengan pasien yang juga dokter bersifat unik dan merupakan hubungan yang kompleks.[2,3]

Tantangan Merawat Dokter yang Sakit

Sebuah studi menunjukkan terdapat 3 tantangan yang sering dihadapi oleh dokter yang menangani pasien yang juga dokter. Ketiga tantangan tersebut, yaitu

1. Menjaga Batasan dalam Hubungan Dokter-Pasien

Banyak dokter yang merasa kesulitan dalam menjaga batasan dalam hubungan mereka dengan pasien yang juga dokter. Beberapa dokter kadang bersifat terlalu ramah dengan pasien yang juga dokter sehingga cenderung memberikan perawatan yang berbeda pada pasien yang juga dokter. Namun jika usaha tersebut adalah bertujuan memberikan pelayanan yang lebih baik maka sudah seharusnya usaha tersebut dilakukan pada semua pasien.[1,4]

Perawatan terhadap pasien yang juga seorang dokter sering dipengaruhi oleh kedekatan emosional yang dimiliki terhadap pasien karena seringnya pertemuan atau mungkin kerja sama dalam tugas profesional sebagai dokter. Hal ini membuat dokter cenderung untuk melakukan pemeriksaan penunjang yang lebih banyak karena adanya perasaan benar-benar peduli terhadap pasien yang juga rekan kerjanya. Banyak dokter juga merasa kesulitan dalam membahas topik sensitif, seperti masalah kesehatan mental, penggunaan obat-obatan terlarang, ataupun faktor risiko seksual, karena selain hubungan dokter-pasien, juga terdapat hubungan profesional dalam lingkungan kerja. Hal ini semakin dipersulit oleh keraguan banyak pasien yang juga dokter untuk menjadi terbuka karena mereka khawatir mengenai rekam medis terutama terkait siapa saja yang memiliki akses untuk melihat rekam medis tersebut.[2,4]

2. Menghindari Asumsi Terkait Pengetahuan dan Perilaku Kesehatan Pasien

Beberapa dokter mengalami kesulitan dalam menghindari asumsi terkait pasien yang juga dokter. Kebanyakan dokter berasumsi bahwa pasien yang juga dokter memiliki pengetahuan kesehatan di atas rata-rata pasien pada umumnya. Dokter yang sakit sering diasumsikan telah mengetahui apa yang kemungkinan akan menjadi diagnosisnya serta terapi yang kemungkinan akan diberikan. Hal ini dianggap lebih memudahkan dokter yang menangani. Selain itu pasien yang juga dokter sering diasumsikan akan lebih memonitor penyakit dan perawatan mereka, menjadwalkan sendiri follow-up, dan mengetahui kondisi serius yang mengharuskan mereka datang ke layanan kesehatan. Beberapa dokter juga berasumsi bahwa pasien yang juga dokter akan memiliki gaya hidup yang sehat.[4]

Selain itu, ada juga asumsi bahwa seorang dokter yang menjadi pasien harus mendapat tingkat kenyamanan yang lebih. Beberapa dokter berusaha memberikan kenyamanan ini dengan bertanya lebih sedikit ataupun tidak melakukan pemeriksaan yang dianggap kurang nyaman bagi pasien. Beberapa dokter beranggapan bahwa pasien yang juga dokter akan mengetahui informasi apa yang penting untuk diketahui dan akan menyampaikannya tanpa perlu ditanya. Hal ini dapat menyebabkan perawatan yang kurang adekuat atau pada beberapa kasus berlebihan jika dibandingkan perawatan pasien pada umumnya. Selain itu, ada juga dokter yang berasumsi bahwa pasien yang juga dokter memiliki ekspektasi yang lebih tinggi ataupun sedang melakukan penilaian terhadap performa mereka. Hal ini seringkali menimbulkan rasa khawatir atau takut saat sedang melakukan pemeriksaan.[4]

3. Mengatur Penanganan Pasien dalam Konteks Tingginya Akses terhadap Informasi dan Fasilitas Layanan Kesehatan

Beberapa dokter yang sakit lebih senang melakukan konsultasi secara informal dalam menghubungi dokter mereka, seperti melalui email, telepon, ataupun berbicara di tempat kerja. Namun, beberapa dokter yang memberikan perawatan merasa ini malah menghambat perawatan yang baik karena tidak adanya dokumentasi, evaluasi, dan follow-up yang adekuat. Hal ini yang dapat membuat dokter sering mendapat perawatan yang lebih buruk dibandingkan pasien pada umumnya. Sebuah penelitian kualitatif juga menunjukkan bahwa jika seorang dokter harus menunggu lama untuk mendapat perawatan ataupun terdapat sumber daya perawatan yang tidak tersedia, mereka sering kali merespon dengan menyatakan status medis mereka. Hal ini kerap mengganggu sistem pelayanan yang sudah ada di sebuah layanan kesehatan.[2,4]

Pendekatan dalam Menghadapi Tantangan

Secara umum, ada beberapa macam pendekatan yang dilakukan dokter dalam menghadapi tantangan dalam merawat pasien yang juga dokter.

Mengabaikan Latar Belakang Pasien sebagai Dokter

Beberapa dokter memilih untuk mengabaikan latar belakang dokter seorang pasien dan memperlakukan mereka sama seperti pasien lainnya untuk mencegah perubahan perawatan yang diberikan.[4]

Mempertimbangkan Latar Belakang Pasien dan Mendiskusikan Perawatan

Beberapa dokter mempertimbangkan latar belakang dokter seorang pasien dan berdiskusi secara terbuka dengan pasiennya tentang preferensi bagaimana perawatan yang akan dilakukan. Salah satu manfaat melakukan pendekatan ini adalah menolong pasien untuk merasa lebih tenang karena tidak ada asumsi ataupun perawatan yang seadanya.[4]

Mengizinkan Perawatan Ditentukan terutama oleh Pasien yang juga Dokter

Strategi pendekatan ini sering menjadikan pasien mendapatkan perawatan khusus ataupun mengubah strategi perawatan untuk mengakomodir keinginan pasien. Hal yang sering dilakukan misalnya dengan berusaha lebih keras untuk lebih menyediakan waktu dan menyediakan ruangan khusus sebagai tempat konsultasi untuk meningkatkan privasi dokter yang sakit.[4]

Pendekatan terakhir berpotensi menyebabkan masalah, khususnya saat dokter senior yang menguasai bidang tertentu mengalami penyakit yang dikuasainya. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya undertreatment atau overtreatment karena dokter yang menangani cenderung menyerahkan diagnosis dan pengobatan sepenuhnya kepada dokter yang sakit.

Hirearki Perawatan Tenaga Kesehatan

Sebuah penelitian kualitatif menunjukkan terdapat beberapa tingkatan hirearki bagaimana seorang petugas kesehatan memahami perawatan seorang petugas kesehatan.

Usual Care

Pada hierarki terendah, petugas kesehatan menilai meskipun interaksi dengan pasien akan lebih personal tetapi tetap melakukan perawatan sama seperti pasien lainnya.[5]

Dutiful Care

Pada hierarki yang lebih tinggi, petugas menganggap memberikan pelayanan yang sama terhadap dokter yang sakit sebuah kewajiban, salah satunya dengan menjadi lebih profesional (lebih ketat terhadap peraturan, lebih objektif dalam penilaian, dan mengatakan sesuai kenyataan tanpa merasa takut mencederai kebanggaan profesi pasien) untuk mencegah terjadinya kesalahan.[5]

Secure and Prioritized Care

Pada hierarki yang lebih tinggi lagi, yaitu memahami bahwa kualitas pelayanan dan keamanan dipengaruhi status pasien yang merupakan seorang petugas kesehatan. Mereka yang menganut paham ini akan berusaha memberikan pelayanan istimewa, seperti shortcut untuk pemeriksaan dan tatalaksana, melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, mengizinkan pasien memilih lokasi perawatan, oleh siapa perawatan dilakukan, dan berapa lama perawatan.[5]

Insecure Care

Paham ini berada pada hierarki yang sama dengan secure and prioritized care, dimana sebagian besar subjek penelitian termasuk dalam kategori ini. Para petugas kesehatan termasuk dokter merasa terintimidasi ketika mengetahui bahwa pasien merupakan seorang dokter. Perasaan terintimidasi ini dapat berupa perasaan takut tampak bodoh, gagal di hadapan pasien dan perasaan tidak menyenangkan karena otoritas sebagai dokter yang goyah. Mereka yang termasuk dalam kategori ini sering terpengaruh pada perilaku dan kondisi emosional pasien sehingga sering melewatkan beberapa hal yang rutin dilakukan sehingga malah terjadi undertreatment. Selain itu, mereka yang termasuk dalam kategori ini sering berasumsi bahwa dokter yang sakit pasti memiliki pengetahuan dan komplians yang baik terkait kondisi medis dan penatalaksanaan yang harus mereka jalani, padahal tidak semua dokter demikian terutama pasien yang berusia tua ataupun pasien yang bekerja dalam spesialisasi yang tidak berhubungan dengan kondisi medisnya.[5]

Responsive Care

Hierarki tertinggi dalam memahami perawatan pasien dengan latar belakang petugas kesehatan adalah dengan mengakui dan menghormati latar belakang pasien. Mereka yang termasuk dalam kategori ini akan lebih sensitif terhadap tingkat pengetahuan pasien dan berusaha untuk memahami pengetahuannya. Di sisi lain, mereka juga memahami bahaya melakukan asumsi mempercayai pengetahuan pasien sehingga memilih untuk memperlakukan mereka seperti pasien pada umumnya, tetapi fokusnya adalah tetap memperlakukan pasien sebagai individu dengan menghormati status pasien sebagai seorang dokter. Hal yang biasa dilakukan adalah memberikan informasi yang sama dengan pasien pada umumnya, tetapi dengan menambahkan “mungkin Anda sudah tahu mengenai hal ini” dan juga mempersilakan pasien untuk bertanya ataupun menjelaskan apa yang mereka ketahui dengan mengajukan pertanyaan pada mereka.[5]

Strategi Merawat Dokter yang Sakit

Ada beberapa hal yang harus dilakukan seorang dokter dalam merawat dokter yang sakit, yaitu

  1. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan lengkap sama seperti pasien lainnya
  2. Menegaskan hubungan dokter-pasien sedini mungkin
  3. Menyediakan waktu yang cukup untuk menjelaskan diagnosis dan penatalaksanaan sama seperti saat menjelaskan pada pasien lainnya dengan tetap mengingat bahwa pasien adalah seorang dokter. Penjelasan bisa dilakukan dengan menambahkan pernyataan “mungkin Anda sudah tahu” dengan harapan pasien tidak merasa tercederai martabatnya saat mendapatkan penjelasan lengkap.
  4. Menyediakan waktu untuk berdiskusi terkait pendapat dan rekomendasi penatalaksanaan untuk menghormati latar belakang pasien yang merupakan seorang dokter serta mengurangi kecemasannya.
  5. Berbicara ke pasien secara langsung, jika ada hal yang harus disampaikan ke keluarga, harus berdasarkan persetujuan pasien.
  6. Membahas masalah privasi, kerahasiaan, asuransi, dan pembayaran sedini mungkin. Rujukan ke dokter di area lain dapat menjadi pilihan jika dokter yang sakit sangat khawatir akan kerahasiaannya ataupun khawatir ditangani oleh kolega yang mereka kenal sehingga ada informasi yang tidak sengaja tersampaikan. Namun, sama seperti pasien lainnya, hak konfidensialitas dokter tidak bersifat mutlak terutama jika kondisi kesehatan mereka menjadi ancaman bagi orang lain sehingga diperlukan penyingkapan setelah diskusi dengan dokter yang sakit.[1-5]

Ada beberapa hal yang sebaiknya tidak dilakukan seorang dokter dalam merawat pasien yang juga dokter:

  1. Menerima tanggung jawab untuk merawat jika memiliki kecemasan yang sangat tinggi
  2. Meninggalkan tanggung jawab sampai menemukan seseorang yang bersedia mengambil tanggung jawab tersebut
  3. Berasumsi terkait pengetahuan dan perilaku pasien yang juga dokter
  4. Berusaha mengenal pasien terlalu dalam karena perasaan empati ataupun simpati[1-5]

Kesimpulan

Merawat seorang dokter yang sakit cenderung mendorong terjadinya pendekatan yang berbeda. Berdasarkan etika perawatan medis, pasien yang juga dokter seharusnya dirawat sama seperti pasien lainnya. Namun, perlu diingat bahwa setiap pasien, termasuk dokter, juga harus mendapatkan person-centred care, yaitu perawatan yang diberikan berdasarkan pada seimbangnya pemahaman bahwa dokter tersebut sedang menjadi pasien yang “lemah” namun di saat yang sama identitas pasien tersebut tetaplah seorang dokter. Dokter yang sakit juga harus diyakinkan bahwa mencari layanan medis secara formal adalah hal yang tepat dibandingkan bergantung pada pengetahuan mereka sendiri terkait kondisi mereka. Selain itu, mereka juga harus dimotivasi untuk membangun hubungan yang berkelanjutan dengan dokter mereka termasuk untuk kontrol rutin jika diperlukan.[2,5]

Referensi