Ciclesonide Inhalasi dan Intranasal untuk Terapi COVID-19 – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr.Meili Wati

Inhaled and Intranasal Ciclesonide for the Treatment of COVID-19 in Adult Outpatients: CONTAIN Phase II Randomised Controlled Trial

Ezer N, Belga S, Daneman N, et al. Inhaled and intranasal ciclesonide for the treatment of covid-19 in adult outpatients: CONTAIN phase II randomised controlled trial. BMJ. 2021 Nov 2;375:e068060. PMID: 34728476.

Abstrak

Tujuan: mengevaluasi apakah ciclesonide inhalasi dan intranasal bersifat lebih efektif untuk meresolusi gejala pernapasan pada pasien COVID-19 dewasa yang dirawat jalan bila dibandingkan dengan plasebo.

Desain: uji ini adalah uji klinis acak terkontrol yang buta ganda dan dilengkapi dengan kontrol plasebo. Studi dilakukan di tiga provinsi di Kanada, yaitu Quebec, Ontario, dan British Columbia.

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Intervensi: sebanyak 203 pasien dewasa (usia ≥18 tahun) yang terkonfirmasi COVID-19 melalui polymerase chain reaction (PCR) dan yang memiliki gejala batuk, sesak, atau demam diikutsertakan dalam penelitian ini. Pasien secara acak menerima ciclesonide inhalasi (2 x 600 µg) dan ciclesonide intranasal (1 x 200 µg) atau menerima plasebo salin hidung dan inhaler dosis terukur selama 14 hari.

Luaran: luaran primer studi ini adalah resolusi gejala respirasi pada hari ke-7. Analisis dilakukan pada populasi intention-to-treat yang dimodifikasi (partisipan yang minimal menerima satu obat studi dan menyelesaikan satu survei follow-up) dan disesuaikan untuk pengacakan terstratifikasi sesuai jenis kelamin.

Hasil: dari total 203 peserta yang ikut, sebanyak 105 peserta masuk ke dalam kelompok intervensi ciclesonide dan 98 peserta masuk ke dalam kelompok kontrol plasebo. Usia rerata peserta penelitian adalah 35 tahun dan sebanyak 54% adalah perempuan.

Proporsi partisipan yang mengalami resolusi gejala pada hari ke-7 tidak berbeda signifikan antara kelompok ciclesonide (42/105, 40%) dan kelompok kontrol plasebo (34/98, 35%). Perbedaan risiko absolut yang disesuaikan adalah 5,5% (95% confidence interval −7,8% hingga 18,8%).

Hasil mungkin hanya aplikatif untuk populasi studi yang mayoritas terdiri dari orang usia muda yang tidak memiliki komorbiditas. Studi ini dihentikan lebih awal dari jadwal yang direncanakan, sehingga hasil mungkin bersifat underpowered.

Kesimpulan: dibandingkan dengan pemberian plasebo, pemberian ciclesonide inhalasi dan intranasal tidak menunjukkan peningkatan resolusi gejala yang signifikan secara statistik pada pasien COVID-19 yang berusia dewasa muda dan yang memiliki gejala respirasi prominen. Bukti yang ada saat ini tidak cukup untuk mendukung manfaat obat kortikosteroid inhalasi dan intranasal sebagai terapi COVID-19.

Ciclesonide Inhalasi dan Intranasal untuk Terapi COVID19-min

Ulasan Alomedika

Pasien COVID-19 dapat menunjukkan gejala yang berat maupun gejala yang ringan. Kortikosteroid seperti dexamethasone telah terbukti dapat bermanfaat untuk pasien COVID-19 derajat berat yang dirawat inap dengan ventilasi mekanik. Namun, data tentang terapi yang efektif untuk pasien COVID-19 yang dirawat jalan masih terbatas.

Ciclesonide merupakan kortikosteroid yang memiliki efek antiviral dan diduga dapat melawan SARS-CoV-2. Obat ini tersedia dalam bentuk inhalasi, sehingga mudah digunakan oleh pasien dan diharapkan dapat menjadi salah satu opsi terapi rawat jalan COVID-19. Studi ini ingin membuktikan apakah ciclesonide efektif untuk meresolusi gejala COVID-19 pada pasien dewasa yang dirawat jalan pada hari ke-7.

Ulasan Metode Penelitian

Uji klinis acak terkontrol yang buta ganda dan dilengkapi dengan plasebo ini melibatkan 205 pasien yang direkrut dari tiga pusat kesehatan di Kanada dengan kriteria: (1) usia ≥18 tahun; (2) terinfeksi SARS-CoV-2 yang terkonfirmasi dengan PCR; (3) memiliki gejala respirasi seperti batuk, sesak, dan demam dalam 5 hari terakhir.

Kriteria eksklusi adalah pasien yang: (1) dirawat di rumah sakit; (2) hanya bergejala nonrespirasi seperti myalgia, gangguan gastrointestinal, dan kelainan kulit; (3) telah mendapat terapi steroid inhalasi; (4) telah mendapatkan vaksinasi COVID-19.

Peserta dibagi secara acak ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapatkan ciclesonide inhalasi (2 x 600 µg) dan ciclesonide intranasal (1 x 200 µg) atau kelompok yang mendapatkan plasebo (inhaler dosis terukur dan plasebo salin hidung).

Ulasan Hasil Penelitian

Sebagian besar pasien COVID-19 memiliki gejala respirasi. Oleh karena itu, luaran primer yang mempelajari pengaruh ciclesonide terhadap resolusi gejala respirasi pada pasien COVID-19 setelah 7 hari perlakuan dinilai sudah tepat.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa sebanyak 40% peserta di kelompok ciclesonide (42/105) dan 35% peserta di kelompok plasebo (34/98) mengalami resolusi gejala pernapasan. Perbedaan ini dinilai tidak signifikan secara statistik.

Luaran sekunder dalam penelitian ini adalah resolusi gejala respirasi pada hari ke-14 setelah perlakuan. Proporsi peserta dengan gejala respirasi yang sembuh pada hari ke-14 juga tidak berbeda secara signifikan antar kedua kelompok perlakuan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid inhalasi dan intranasal tidak terbukti efektif mempercepat resolusi gejala respirasi pada pasien COVID-19 yang dirawat jalan. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, seperti faktor mayoritas peserta yang berusia dewasa muda dan tidak memiliki komorbiditas, sehingga pada dasarnya akan pulih lebih cepat.

Kelebihan Penelitian

Kelebihan penelitian ini adalah tipe penelitian yang berupa uji klinis acak terkontrol yang buta ganda dan dilengkapi dengan kontrol plasebo, sehingga dapat meminimalkan bias. Penggunaan ciclesonide inhalasi juga dinilai tepat karena obat ini langsung bekerja secara lokal di epitel saluran pernapasan hidung yang merupakan salah satu tempat replikasi virus pertama kali dalam tubuh.

Dosis tinggi inhalasi yang digunakan dalam penelitian ini dapat meminimalkan risiko hasil negatif palsu karena paparan obat yang inadekuat. Pada penelitian ini, rerata usia pasien 35 tahun dinilai dinilai lebih mudah berkomunikasi dan paham bagaimana cara menggunakan obat inhalasi dan intranasal, sehingga angka kepatuhan pengobatan selama studi cukup tinggi.

Limitasi Penelitian

Limitasi penelitian ini adalah jumlah sampel masih relatif kecil. Jumlah sampel yang ditargetkan dari penghitungan adalah 159 partisipan untuk masing-masing kelompok. Akan tetapi, proses rekrutmen partisipan dihentikan sebelum jumlah sampel target tercapai. Hal ini disebabkan oleh penurunan kasus COVID-19 akibat percepatan vaksinasi di Kanada dan keterbatasan waktu penelitian.

Studi ini juga tidak mempelajari orang berusia lebih tua yang berisiko tinggi, sehingga luaran pada populasi tersebut belum diketahui. Selain itu, studi ini tidak melibatkan orang yang telah mendapatkan vaksinasi COVID-19, sehingga luaran pada pasien yang telah divaksin juga tidak diketahui.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ciclesonide inhalasi dan intranasal tidak meningkatkan resolusi gejala respirasi pada pasien COVID-19 (usia dewasa muda tanpa komorbiditas) yang dirawat jalan bila dibandingkan dengan plasebo.

Studi lebih lanjut dengan ukuran populasi lebih besar memang masih diperlukan. Akan tetapi, untuk saat ini, penggunaan kortikosteroid inhalasi dan intranasal untuk terapi COVID-19 belum didukung oleh bukti manfaat yang adekuat.

Oleh sebab itu, pemberian kortikosteroid inhalasi dan intranasal tidak dianjurkan untuk pasien COVID-19 yang dirawat jalan di Indonesia kecuali bila pasien memang memiliki indikasi lain, seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Pemberian terapi yang tidak pada tempatnya dapat meningkatkan biaya medis yang tidak perlu dan memaparkan pasien dengan risiko efek samping.

Referensi