Pedoman Klinis Penanganan Luka Bakar Kimia

Oleh dr. Maria Rossyani

Hal yang harus dilakukan pada luka bakar kimia secara umum sama dengan luka bakar lainnya namun diperlukan pedoman klinis terkait penanganan spesifik yang perlu diperhatikan pada luka bakar kimia.

Luka bakar kimia disebabkan oleh kontak dengan bahan kimia asam atau basa (alkali) dengan tubuh.[1] Luka bakar kimia umumnya terkait pekerjaan (occupational hazard) dan merupakan penyebab 4% dari keseluruhan luka bakar.[1]

Terdapat lebih dari 60.000 agen kimiawi yang dapat menyebabkan luka bakar kimia. Kebanyakan agen kimia merusak kulit melalui reaksi kimia, bukan melalui cedera hipertermik, walaupun beberapa reaksi eksotermik kimia menghasilkan panas.[2] Perubahan kimia yang terjadi tergantung sifat agen kimia, asam, alkali, korosif, oksidator, reducing agents, desikan, vesikan, dan racun protoplasmik [2]. Sebuah agen kimia dikategorikan sebagai hazardous material jika dapat mengancam jiwa dan merusak lingkungan ketika tidak ditangani dengan baik. [2]

Prinsip penanganan luka bakar kimia pada dasarnya sama walau agen kimia penyebabnya berbeda-beda.[1]

Luka bakar kimia akibat siraman asam. Sumber: anonim, Openi, 2010. Luka bakar kimia akibat siraman asam. Sumber: anonim, Openi, 2010.

Prinsip Penanganan Luka Bakar Kimia

Luka bakar kimia berbeda dengan luka bakar termal, di mana selama masih ada komponen aktif kimia di tempat luka, kerusakan jaringan akan masih berlanjut. Penyembuhan luka bakar kimia berlangsung lambat, sekitar 30% lebih lama ketimbang penyembuhan luka bakar termal dengan kedalaman dan luas luka bakar yang mirip.

Bahan alkali berpotensi menyebabkan kerusakan lebih besar daripada asam. Ketika asam mengalami kontak dengan tubuh, terbentuk nekrosis koagulasi yang membentuk koagulum (misalnya eschar). Jaringan ini justru menghambat penetrasi bahan asam lebih lanjut. Sebaliknya, bahan alkali menyebabkan saponifikasi lipid yang tidak membentuk barrier sehingga kerusakan akan terus berlanjut.

Selain penanganan luka bakar pada umumnya yang telah dibahas pada bagian luka bakar, terdapat pendekatan lain untuk luka bakar akibat trauma kimia.

Pendekatan umum

Terdapat dua faktor utama derajat kerusakan jaringan; toksisitas dari bahan kimia serta durasi kontak. Hal-hal lain yang juga mempengaruhi antara lain; pH, volume, dan bentuk fisik agen kimia tersebut. Karenanya, penanganan harus dilakukan sedini mungkin. Langkah-langkah tata laksana awal cedera kimia adalah sebagai berikut:

  • Perlindungan diri penolong
  • Pindahkan pasien dari area pajanan
  • Buka pakaian dan perhiasan pada korban
  • Jika bahan kimia kering, gunakan sikat, handuk atau alat lain untuk mengurangi pajanan
  • Irigasi yang adekuat[3]

Irigasi

Sebagian besar agen kimia akan larut jika diirigasi (mnemonic yang umum digunakan adalah “The best solution for pollution is dilution”). Irigasi merupakan komponen penting dari terapi aktif cedera kimia. Sebaiknya irigasi dilakukan secara adekuat pada semua luka dan area yang terpajan dengan volume air yang besar dan tekanan sedang. Penyemprotan dengan tekanan tinggi justru harus dihindari agar bahan kimia tidak semakin tersebar ke daerah yang sebelumnya tidak terekspos, atau semakin dalam meresap ke jaringan yang sudah terkena.[4]

Inisiasi irigasi dini, terutama di tempat kejadian sangat bermanfaat dalam memperbaiki prognosis, bahkan mengurangi durasi perawatan di rumah sakit.[4]

Jika area wajah dan mata terlibat, maka lokasi tersebut sebaiknya diirigasi terlebih dahulu. Irigasi daerah wajah mencegah bahan kimia terinhalasi atau tertelan sehingga menimbulkan masalah lebih lanjut. Sementara itu, irigasi dini di daerah mata akan mencegah timbulnya konjungtivitis berkepanjangan maupun ulserasi kornea.

Setelah diirigasi, dapat pula digunakan sabun untuk membersihkan daerah luka.[3] Irigasi di beberapa organ yang sering terlibat akan dibahas sebagai berikut:

Kulit

Paparan terhadap asam tidak perlu diirigasi terlalu lama (hanya hingga pH mata netral tercapai). Namun, paparan terhadap alkali sebaiknya diirigasi selama 2-3 jam tanpa memperhatikan pH. [4] Sebaiknya pH diukur 10-15 menit setelah irigasi agar menunjukkan pengukuran yang akurat. Terdapat sumber yang menyatakan bahwa penggunaan asam lemah (contoh: asam asetat 5% / cuka rumah tangga) dapat menetralisir bahan alkali, namun masih perlu digali lebih dalam. [5]

Mata

Pada mata, paparan agen alkali dapat menyebabkan saponifikasi membran fosfolipid sehingga menghasilkan kerusakan yang lebih parah. Sel epitel akan segera mati dan agen alkali tersebut akan mempenetrasi lebih dalam ke mata. Pada kasus pajanan agen alkali yang parah, mata dapat berwarna keputihan akibat iskemia konjungtiva dan pembuluh darah skleral. [6] Kerusakan yang terjadi dapat berlangsung dalam waktu singkat antara satu hingga lima menit, tergantung konsentrasi agen penyebabnya.

Sementara itu, paparan agen yang bersifat asam umumnya menyebabkan ulserasi atau jejas pada kornea yang berakibat pada penurunan visus.[6]

Irigasi pada trauma kimia mata yang biasa membutuhkan sekitar 15-30 menit karena umumnya hanya berada pada kedalaman kornea. Namun, jika diketahui agen penyebabnya sangat toksik, maka irigasi dilanjutkan hingga pH netral tercapai (antara 6,5 hingga 7,5), atau bahkan lebih lama jika penyebabnya adalah agen alkali (dapat memerlukan irigasi > 2 jam). pH mata harus diperiksa setipa 15-30 menit. [6]

Bahan kimia tertelan (caustic ingestion)

Pengosongan lambung merupakan kontraindikasi, sementara penggunaan activated charcoal tidak efektif dan justru akan mengganggu endoskopi yang mungkin harus dilakukan. Pasien dapat diberikan air untuk dilusi, jangan diberikan antidotum karena justru akan menghasilkan panas akibat reaksi eksotermik yang dihasilkan antara bahan aktif dan antidotum. [7]

Bahan Kimia yang Tidak Boleh Langsung Diirigasi

Terdapat beberapa pengecualian di mana irigasi langsung justru sebaiknya dihindari, misalnya pajanan terhadap: [3]

  • Fenol, karena tidak larut dalam air. Jika ada polietilen glikol (PEG) 300 atau 400, maupun isopropil alkohol, sebaiknya digunakan spons yang direndam PEG (dengan rasio 50:50) dengan air untuk membersihkan fenol.

  • Logam elemental (contoh: sodium, kalium, fosfor), karena mengeluarkan produk sampingan yang beracun ketika terkena air. Jika terdapat fragmen logam elemental, sebaiknya diambil secara manual menggunakan forsep kering dan diletakkan di medium yang bukan air (berbahan minyak, contoh mineral oil). Ketika selesai bekas luka dapat diolesi mineral oil untuk menghindari terkena air atau lembab.

  • Dry lime, karena mengandung kalsium oksida yang ketika terkena air membentuk kalsium hidroksida, sebuah alkali kuat.

Antidotum

Perlu diingat bahwa antidotum tidak berperan dalam kebanyakan kasus luka bakar akibat bahan kimia kecuali pada kasus penatalaksanaan asam hidroflorida di mana garam kalsium glukonat/magnesium dapat mengurangi racun serta memperbaiki hipokalsemia pada level sel dan secara sistemik.

Konsultasi

  • Untuk luka bakar kimia secara umum harus dikonsultasikan ke bagian bedah.
  • Jika mata terlibat, sebaiknya dikonsultasikan juga ke spesialis mata.
  • Jika bahan kimia tertelan, maka membutuhkan kerja sama berbagai spesialisasi termasuk Penyakit dalam (sub-spesialis gastroenterologi jika diperlukan), bedah digestif, THT, dan bedah anak jika pasiennya dari kelompok usia pediatrik. [9]

Obat-obatan

Peran obat-obatan terbatas dalam luka bakar kimia.

  • Pada luka bakar kimia yang melibatkan kulit dan mata, dapat diberikan antibiotik. Contoh pilihan antibiotik yang dipakai antara lain: Silver sulfadiazine (untuk kulit), Erythromycin ophthalmic / E-mycin (untuk mata), Neomisin/polisitrin B/Basitrasin (untuk kulit, khususnya daerah wajah). [8]
  • Peran steroid masih kontroversial untuk caustic ingestion namun dapat membantu jika ada inflamasi saluran napas atas. [7]
  • Analgetik memegang peranan penting dalam penanganan lanjutan pasien. Bila perlu dapat digunakan morfin saat penanganan pertama, kemudian NSAID atau dengan kombinasi asetaminofen untuk pasien rawat jalan umumnya adekuat. Penggunaan kodein sebaiknya dihindari. [8]

Referensi