Metode Pemeriksaan Tekanan Darah di Layanan Primer

Oleh dr. Alexandra Francesca

Hipertensi merupakan kondisi serius yang diderita jutaan orang di seluruh dunia.[1-3] Namun, ketepatan diagnostik dari pemeriksaan tekanan darah di layanan primer pun masih sering dipertanyakan, baik dari segi alat, waktu pemeriksaan, hingga teknik yang dilakukan.[4-6]  Ketidaktepatan pemeriksaan dapat menyebabkan overdiagnosis dan pemborosan anggaran kesehatan.[2, 4]

Tekanan darah dapat dipengaruhi berbagai hal, seperti: stres, rasa nyeri, aktifitas fisik, dan obat-obatan (termasuk nikotin dan kafein). Hal inilah yang mendasari diperlukannya standarisasi dalam pemeriksaan tekanan darah untuk memastikan akurasi pemeriksaan. U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF) menganjurkan untuk memberi interval waktu setidaknya 5 menit dari pasien datang ke layanan kesehatan hingga dilakukan pemeriksaan tekanan darah, kemudian pemeriksaan dilakukan sebanyak 2 kali.[3] Hal tersebut didukung oleh sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Einstadter et al pada tahun 2018, yang dilakukan pada 38.000 pasien hipertensi di pusat kesehatan primer. Studi ini menyimpulkan beberapa hal, yaitu :

  • Pengulangan pemeriksaan tekanan darah menyebabkan penurunan tekanan darah sebesar 2-17mmHg (median 8 mmHg)
  • 36% pasien yang dilakukan pemeriksaan ulang ditemukan memiliki tekanan darah akhir di bawah 140/90 mmHg
  • Pemeriksaan tekanan darah ulang meningkatkan angka kontrol hipertensi sebesar 61-73% [1]

Studi tersebut tidak menjelaskan interval waktu antara kedua pemeriksaan, namun menekankan bahwa pemeriksaan dilakukan pada satu kali kontrol ke pusat kesehatan. Selain perubahan bermakna pada hasil tekanan darah, pemeriksaan ulang dapat mengurangi overdiagnosis dan pemberian obat yang kurang tepat pada 36% pasien yang sebenarnya tidak memerlukan obat.[1]

blood pressure measurement

Metode Pemeriksaan Tekanan Darah yang Tepat

Pemeriksaan tekanan darah yang direkomendasikan adalah berdasarkan pedoman American Heart Association (AHA). Berbagai hal dapat menyebabkan kesalahan hasil pemeriksaan tekanan darah, namun sayangnya hal-hal tersebut seringkali kurang menjadi perhatian tenaga kesehatan.

Kesalahan yang umum dilakukan pada pemeriksaan tekanan darah yaitu:

  • Salah waktu: pasien tidak diminta untuk istirahat/menunggu sejenak sebelum diperiksa
  • Salah alat: misalnya salah dalam memilih ukuran cuff

  • Tidak dilakukan pemeriksaan ulangan
  • Tidak ada kalibrasi alat sehingga hasil tidak akurat [1]

Alat Periksa yang Tepat

Gold standard pemeriksaan tekanan darah masih menggunakan spigmomanometer raksa hingga saat ini. Hal ini disebabkan oleh perubahan desain yang sangat sedikit dari saat pertama kali digunakannya pada 60 tahun lalu, yang menyebabkan akurasi yang tidak jauh berbeda pada berbagai merk yang ada di pasaran. Spigmomanometer aneroid (jarum) banyak digunakan saat ini, namun dinilai tidak lebih akurat dari spigmomanometer raksa dan memerlukan kalibrasi yang lebih rutin untuk memastikan akurasinya. Satu alat yang dinilai lebih baik dari spigmomanometer raksa adalah alat hybrid yang menggabungkan fitur yang terdapat pada spigmomanometer raksa dan alat pemeriksaan elektronik, namun alat ini masih memerlukan validasi lebih lanjut sebelum dapat menggantikan peran spigmomanometer raksa yang perlahan mulai dikurangi penggunaannya karena alasan lingkungan.[6]

Lokasi Pengukuran yang Tepat

Lokasi standar pemeriksaan tekanan darah adalah pada regio antebrachii dengan stetoskop diletakkan pada fossa cubiti di atas arteri brakialis. Saat ini, alat pemeriksaan pada pergelangan tangan bahkan jari banyak diperkenalkan, namun penting untuk diingat bahwa tekanan darah dapat bervariasi pada lokasi yang berbeda. Sebagai prinsipnya, tekanan darah sistolik akan meningkat pada lokasi yang lebih distal, sedangkan tekanan darah diastolik akan menurun pada lokasi tersebut. Oleh karena itu, pemeriksaan pada pergelangan tangan dan jari tangan masih belum dianjurkan.[6]

Kedua lengan (kanan dan kiri) dapat memberiksan hasil yang berbeda pada 20% pasien. Perbedaan yang terjadi dapat mencapai > 10 mmHg. Walau hal ini terlihat fatal, belum dapat dipastikan apakah memang fakta ini konsisten pada seluruh populasi. Namun, direkomendasikan bahwa pada awal pemeriksaan tekanan darah, dilakukan pada kedua lengan. Hal tersebut juga bermanfaat dalam mendeteksi koartasio aorta. Jika ditemukan adanya perbedaan tekanan darah pada kedua lengan, tekanan darah yang lebih tinggi sebaiknya digunakan sebagai hasil.[6]

Ukuran Cuff yang Tepat

Ukuran cuff penting dalam menjaga akurasi pemeriksaan. Cuff yang ideal sebaiknya memiliki kantung dalam sepanjang 80% dan selebar 40% dari lingkar lengan, atas dengan kata lain, rasio panjang : lebar adalah 2 : 1. [6] Sebuah studi telah membuktikan adanya minimalisasi kesalahan pemeriksaan jika pemeriksaan dilakukan dengan ukuran cuff yang sesuai.[7]

Rekomendasi ukuran cuff :

  • untuk lingkar lengan 22-26 cm, ukuran cuff sebaiknya 12x22 cm

  • untuk lingkar lengan 27-34 cm, ukuran cuff sebaiknya 16x30 cm

  • untuk lingkar lengan 35-44 cm, ukuran cuff sebaiknya 16x36 cm

  • untuk lingkar lengan 45-52 cm, ukuran cuff sebaiknya 16x42 cm [6]

Posisi Tubuh Pasien yang Tepat

Posisi tubuh pasien juga perlu diperhatikan dalam pemeriksaan tekanan darah. Terdapat dua posisi yang banyak digunakan, yakni posisi duduk dan supinasi, namun keduanya dapat memberikan hasil yang berbeda. Sudah terbukti bahwa posisi duduk dapat memberikan hasil pemeriksaan diastolik yang lebih tinggi (sekitar 5 mmHg) dibandingkan posisi supinasi, walaupun tidak terdapat perbedaan signifikan pada sistolik. Selain itu, posisi punggung dan kaki juga perlu dipertimbangkan, jika pada posisi duduk punggung pasien tidak diberikan sandaran, maka tekanan diastolik dapat meningkat 6 mmHg. Selain itu, menyilangkan kaki juga dapat meningkatkan tekanan sistolik sebesar 2-8 mmHg.

Pada posisi supinasi, atrium kanan terletak pada jarak tengah antara ranjang dan sternum, oleh karena itu, lengan pasien perlu diberikan bantal untuk memastikan posisi lengan sejajar dengan atrium kanan. Posisi lengan yang lebih tinggi dari posisi jantung akan menyebabkan hasil pemeriksaan yang lebih rendah, dan berlaku sebaliknya, dimana terdapat perbedaan kenaikan atau penurunan sekitar 2mmHg untuk tiap inci jarak antara posisi lengan dengan atrium kanan. [6]

Cara Pengukuran yang Tepat

Sebelum meletakkan cuff, pemeriksa sebaiknya melakukan palpasi arteri brakialis, dan bagian tengah cuff (biasanya ditandai oleh produsen cuff) diletakkan tepat di atas arteri brakialis. Cuff sebaiknya tidak dipasang terlalu kencang hingga menyebabkan efek torniket pada lengan pasien dan dipasang pada 2-3 cm di atas fossa cubiti untuk menyediakan tempat meletakkan stetoskop. Jika ukuran cuff tidak mencukupi lingkar lengan (setidaknya 80%), maka ukuran yang lebih besar perlu digunakan. Pemeriksa dan pasien tidak boleh berbicara pada pemeriksaan. Suara Korotkoff 1 dan 5 (sistolik dan diastolik) paling baik didengarkan dengan bagian bell dari stetoskop.[6]

Inflasi dan deflasi udara pada cuff sebaiknya dilakukan perlahan dengan laju maksimal 2-3 mmHg per detik, jika terlalu cepat, akan terjadi underestimasi dari tekanan sistolik dan overestimasi tekanan diastolik.[6]

Kesimpulan

Tingginya angka hipertensi menuntut tenaga kesehatan untuk mampu melakukan pemeriksaan tekanan darah secara akurat untuk memastikan ketepatan terapi dan kontrol tekanan darah. Pemeriksaan tekanan darah sebaiknya dilakukan dengan alat, metode, dan waktu yang tepat. Di layanan primer, penting sekali dilakukan pemeriksaan tekanan darah ulang untuk mendapat hasil yang akurat dan mengurangi overdiagnosis, sehingga pemberian obat hipertensi benar-benar tepat guna. Teknik pemeriksaan tekanan darah yang direkomendasikan adalah berdasarkan pedoman American Heart Association (AHA).

Referensi