Vaksinasi COVID-19 dan Diabetes Mellitus

Oleh :
dr. Hendra Gunawan, Sp.PD

Vaksinasi COVID-19 diperlukan untuk pasien diabetes mellitus karena penyakit ini merupakan salah satu faktor yang dapat memperburuk prognosis coronavirus disease 2019. Pasien diabetes mellitus memiliki asosiasi dengan luaran klinis COVID-19 yang kurang baik, seperti manifestasi klinis berat, perawatan di ruang rawat intensif (ICU), dan peningkatan angka kematian.

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Vaksinasi COVID-19 diharapkan dapat membentuk herd immunity. Oleh karena itu, pemerintah telah menganjurkan tiap individu yang memenuhi kriteria untuk menjalani vaksinasi. Beberapa pasien diabetes mellitus mungkin mengkhawatirkan dampak vaksin COVID-19 bagi dirinya. Namun, mengingat pasien dari grup ini memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami manifestasi klinis yang berat jika terinfeksi SARS-CoV-2, vaksinasi sebenarnya justru perlu diprioritaskan.[1-3]

Peningkatan Risiko pada Pasien COVID-19 dengan Diabetes Mellitus Tipe 1 dan 2

Hingga saat ini, studi melaporkan bahwa COVID-19 memiliki prognosis yang kurang baik pada populasi diabetes mellitus. Namun, belum ada data yang spesifik tentang perbandingan risiko pada diabetes mellitus tipe 1 (DMT1) dan tipe 2 (DMT2). Prevalensi DMT1 lebih rendah daripada DMT2, sehingga data mengenai COVID-19 pada populasi DMT1 masih terbatas.[4]

CME covid diabetes-min

Dalam studi Gregory et al terhadap pasien COVID-19, pasien yang memiliki DMT1 dan DMT2 dilaporkan mengalami peningkatan risiko rawat inap di rumah sakit yang hampir sama (OR: 3,90; 95% IC: 1,75–8,69 vs OR: 3,36; 95% IC: 2,49–4,55). Selain itu, kedua tipe diabetes ini juga memiliki peningkatan risiko perburukan klinis yang hampir sama (OR: 3,35; 95% IC: 1,53–7,33 vs OR: 3,42; 95% IC: 2,55–4,58) dan lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok pasien nondiabetes.[4]

Studi Barron et al di fasilitas kesehatan primer di Inggris juga melaporkan bahwa pasien COVID-19 dengan DMT1 (OR: 3,51; 95% IC: 3,16–3,90) maupun DMT2 (OR 2,03; 95% IC: 1,97–2,09) memiliki risiko kematian di rumah sakit yang lebih tinggi daripada pasien nondiabetes yang menderita COVID-19.[5]

Vaksinasi COVID-19 pada Pasien Diabetes Mellitus

Selama ini, vaksinasi rutin yang dianjurkan oleh Asosiasi Diabetes Amerika Serikat adalah vaksinasi pneumokokus, influenza, dan hepatitis B. Namun, berdasarkan bukti terbaru terkait COVID-19, beberapa studi juga menyarankan untuk memprioritaskan vaksinasi COVID-19 pada pasien diabetes mellitus.[3,6,7]

Hingga saat ini, data mengenai vaksinasi COVID-19 pada populasi diabetes mellitus sebenarnya masih terbatas. Ada kekhawatiran bahwa pasien diabetes mellitus mungkin tidak bisa membentuk respons antibodi adekuat setelah vaksinasi. Hal ini dikarenakan pasien diabetes mellitus umum dilaporkan sulit membentuk respons antibodi terhadap vaksin influenza dan hepatitis B.[8]

Namun, suatu studi di Italia yang melibatkan 150 pasien COVID-19 (sejumlah 40 pasien memiliki diabetes mellitus) melaporkan bahwa diabetes mellitus dan hiperglikemia tidak memengaruhi proses pembentukan neutralizing antibody (Nab) terhadap protein spike SARS CoV-2. Nab ditemukan pada 65–75% pasien COVID-19 dengan diabetes dan memiliki efek protektif terhadap mortalitas saat perawatan di rumah sakit.[9]

World Health Organization juga telah merekomendasikan penggunaan vaksin AZD1222 yang diproduksi oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca pada orang dengan faktor komorbid seperti obesitas, penyakit kardiovaskular, penyakit sistem pernapasan, dan diabetes mellitus. Uji klinis membuktikan bahwa vaksin ini memiliki profil keamanan dan efektivitas yang sama pada orang dengan bermacam komorbiditas tersebut.[10]

Di Indonesia, berdasarkan rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam No. 2309/PB PAPDI/U/III/2021, vaksinasi COVID-19 (Sinovac) dapat disarankan pada pasien DMT2. Namun, penggunaan vaksin ini untuk pasien DMT1 belum memiliki pernyataan tertulis.[11]

Persiapan Vaksinasi pada Pasien Diabetes Mellitus

Hal pertama yang harus dilakukan sebelum vaksinasi COVID-19 pada pasien diabetes adalah mengatasi kekhawatiran pasien. Petugas kesehatan harus dapat menjelaskan manfaat vaksin bagi penderita diabetes dan juga risiko vaksin secara umum.[12]

Bila perlu, tenaga medis dapat menjelaskan hasil uji praklinis maupun uji klinis secara sederhana kepada pasien. Hasil sejauh ini menunjukkan bahwa pembentukan antibodi netralisasi pada pasien diabetes mellitus yang menerima vaksin COVID-19 dapat terjadi dengan baik, sehingga dapat memberikan efek protektif bagi pasien.[12]

Sebelum memberikan vaksin, dokter juga perlu memastikan bahwa pasien memenuhi kriteria vaksinasi. Di Indonesia, sesuai Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/I/368/2021, pasien diabetes mellitus dapat divaksin jika tidak memiliki komplikasi akut. Namun, karena data vaksinasi COVID-19 pada pasien diabetes masih terus berkembang, ada kemungkinan pedoman akan berubah di masa depan.[13]

Kesimpulan

Diabetes mellitus telah dilaporkan sebagai faktor komorbid yang membuat prognosis COVID-19 menjadi lebih buruk bila dibandingkan dengan kondisi tanpa diabetes. Hal ini membuat vaksinasi COVID-19 pada pasien diabetes mellitus perlu diprioritaskan.

Studi melaporkan bahwa pasien diabetes mellitus yang divaksinasi COVID-19 dapat membentuk neutralizing antibody (Nab) terhadap protein spike SARS CoV-2 dengan prevalensi 67–75%. Antibodi ini telah diteliti memiliki efek protektif terhadap kematian di rumah sakit pada saat perawatan COVID-19.

Persiapan sebelum vaksinasi COVID-19 perlu mencakup edukasi kepada pasien dan penyingkiran kontraindikasi vaksin. Menurut Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/I/368/2021, pasien diabetes mellitus bisa divaksin bila tidak memiliki komplikasi akut. Namun, pedoman ini masih mungkin berubah di masa depan seiring dengan bertambahnya data tentang vaksinasi COVID-19.

Referensi