Vaksin HPV untuk Mencegah Kanker Kulit

Oleh dr. Hunied Kautsar

Penelitian menemukan adanya hubungan antara infeksi human papillomavirus (HPV) dengan kanker kulit. Hal ini membuat vaksin HPV mulai diteliti mengenai manfaatnya untuk mencegah kanker kulit dan kanker kulit mana yang bisa dicegah oleh vaksin ini.

Sumber: OpenStax College, Wikimedia commons, 2013. Sumber: OpenStax College, Wikimedia commons, 2013.

Karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa merupakan jenis kanker kulit yang paling umum terjadi. Di Amerika, berdasarkan data dari American Cancer Society, setiap tahunnya ada 5,4 juta kasus karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa yang terdiagnosa (diderita oleh sekitar 3,3 juta orang Amerika, beberapa orang menderita lebih dari satu kasus). Sekitar 8 dari 10 kasus ini adalah karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa lebih jarang terdiagnosa.[1] Karsinoma sel skuamosa umumnya tidak menyebabkan kematian namun jika tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan kerusakan jaringan sekitar. Populasi yang rentan terhadap risiko terjadinya karsinoma sel skuamosa adalah pasien transplantasi organ yang menjalani terapi immunosupresan. Populasi ini memiliki risiko hampir seratus kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. Diperkirakan sekitar 40% dari pasien transplantasi organ (seperti transplantasi ginjal atau transplantasi hati) akan mengalami karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa dalam 10 tahun pasca transplantasi organ, bahkan jumlahnya diperkirakan mencapai 80% setelah 20 tahun pasca transplantasi organ.[2]

Salah satu faktor risiko dari karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa yang sudah banyak diteliti dan terbukti melalui penelitian adalah radiasi ultraviolet.[3] Namun, beberapa tahun terakhir, semakin banyak penelitian yang menyatakan bahwa infeksi cutaneous human papillomavirus (HPV) dapat meningkatkan risiko terjadinya karsinoma sel skuamosa.[4-6]

Human papillomavirus (HPV) memiliki beragam genus dan tipe. Genus yang diduga menjadi faktor risiko terjadinya karsinoma sel skuamosa adalah genus β human papillomavirus, namun untuk tipe dari genus β yang lebih spesifik belum dapat ditentukan karena hasil penelitian yang kurang konsisten.[7]

Hipotesis Mengenai Peran Papillomavirus dalam Timbulnya Karsinoma Sel Skuamosa

Penelitian pada tahun 2017 menggunakan tikus Mastomys coucha yang sudah terinfeksi Mastomys Natalensis Papillomavirus (MnPV) mencoba menemukan mekanisme Papillomavirus dalam menginduksi karsinoma sel skuamosa. Diumpamakan sama seperti manusia yang immunocompetent dan terpapar infeksi cutaneous Human Papillomavirus sejak dini, tikus dalam penelitian ini juga immunocompetent dan secara alami sudah terpapar MnPV sejak dini. Dalam penelitian ini tikus dibagi menjadi 2 kelompok yakni tikus yang sudah terinfeksi MnPV dan tikus yang tidak terinfeksi MnPV (virus free rodents yang dijadikan kelompok kontrol).[8]

Dua kelompok tersebut diberi paparan radiasi sinar UVB dengan dosis awal 150 mJ/cm2 sebanyak 3x/minggu dan dosis ditingkatkan sebanyak 50 mJ/cm2 setiap minggunya sampai mencapai dosis yang final (450, 600 atau 800 mJ/cm2). Hasil penelitian menyatakan bahwa paparan radiasi UVB pada tikus yang sudah terinfeksi MnPV menimbulkan lesi kulit karsinoma sel skuamosa yang lebih sering (secara signifikan) jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (virus free rodents).

MnPV diduga menginfeksi lapisan epitelial basal dari tikus melalui luka-luka kecil pada kulit. Kulit yang terkena paparan radiasi UVB menjadi hyperproliferative sehingga mendukung replikasi virus dan pembentukan virion. Photoproducts yang diinduksi oleh UVB (contohnya Trp53) mulai timbul pada keratinosit. Pada sel yang tidak terinfeksi virus, kerusakan yang diinduksi oleh UVB dapat ditangani. Namun pada sel yang sudah terinfeksi virus, stabilitas kromosom menjadi terganggu dan proses perbaikan DNA menjadi terhambat. Akumulasi mutasi pada sel akan berujung pada neoplasma. Sel skuamosa neoplastik akan mulai membentuk karsinoma sel skuamosa diferensiasi baik dengan keratin dan terus bermutasi menjadi karsinoma sel skuamosa diferensiasi buruk dengan ulserasi.[8]

Vaksin Quadrivalent HPV untuk Pencegahan Karsinoma Sel Skuamosa

Mengacu pada penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara infeksi cutaneous human papillomavirus dengan karsinoma sel skuamosa, Nichols et al. mengadakan observasi terhadap dua orang pasien yang memiliki riwayat karsinoma sel skuamosa dan karsinoma sel basal yang berulang. Pasien pertama seorang laki-laki berusia 70an dan pasien kedua adalah seorang perempuan berusia 80an, keduanya tidak memiliki kelainan pada sistem imun.[9]

Observasi dilakukan sejak bulan Oktober 2011 sampai dengan bulan Juni 2014. Kedua pasien tersebut mendapatkan injeksi vaksin quadrivalent HPV (Gardasil) pada 0, 2 dan 6 bulan. Pemeriksaan menyeluruh (full-body skin examination) dilakukan setiap 3 bulan selama 16 bulan sejak injeksi vaksin yang pertama untuk pasien ke-1 dan 13 bulan sejak injeksi vaksi yang pertama untuk pasien ke- 2. Lesi pada kulit yang terbukti merupakan karsinoma melalui biopsi ditangani dengan operasi dan actinic keratoses ditangani dengan cryotherapy. Selama masa observasi pasien tidak mengkonsumsi oral nicotamide, tidak memakai krim flourouracil topikal atau krim imiquimod topikal.[9]

Sebelum vaksinasi, pasien pertama memiliki rata-rata 12,0 karsinoma sel skuamosa baru dan 2,25 karsinoma sel basal baru per tahun. Setelah vaksinasi, jumlah rata-rata karsinoma sel skuamosa baru yang timbul menurun menjadi 4,4 per tahun dan rata-rata karsinoma sel basal baru yang timbul menjadi 0 per tahun. Hasil ini merepresentasikan penurunan sebanyak 62,5% pada karsinoma sel skuamosa dan penurunan sebanyak 100% pada karsinoma sel basal dalam rentang waktu observasi 16 bulan sebelum vaksinasi dan 16 bulan setelah vaksinasi. Pasien ke-2 memiliki rata-rata 5,5 karsinoma sel skuamosa baru per tahun dan 0,9 karsinoma sel basal baru per tahun. Setelah vaksinasi, rata-rata karsinoma sel skuamosa baru menurun menjadi 1,8 dan rata-rata karsinoma sel basal menurun menjadi 0 per tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan sebanyak 66,5% pada karsinoma sel skuamosa dan penurunan 100% pada karsinoma sel basal dalam rentang waktu observasi 13 bulan sebelum vaksinasi dan 13 bulan setelah vaksinasi.[9]

Vaksin quadrivalent HPV (Gardasil) yang digunakan dalam observasi ini memberikan proteksi terhadap α-HPV tipe 6, 11, 16, dan 18 yang paling banyak menyebabkan genital warts dan karsinoma anogenital. Berdasarkan penelitian, human papillomavirus yang memiliki hubungan dengan karsinoma sel skuamosa adalah genus β-HPV. Jika dilihat berdasarkan teori, vaksin quadrivalent HPV (Gardasil) tidak memiliki sifat protektif terhadap β-HPV, namun hasil observasi yang dilakukan oleh dokter Nichols menunjukkan hasil penurunan kasus karsinoma sel skuamosa dan karsinoma sel basal yang signifikan. Salah satu hipotesis yang mungkin dapat menjelaskan hal ini adalah vaksinasi quadrivalent HPV menimbulkan reaksi imun nonspesifik dan memproduksi sel T sitotoksik serta cross-protective immunoglobulins.

Kesimpulan

Manfaat vaksin HPV untuk mencegah karsinoma sel skuamosa dan sel basal masih belum teruji secara ilmiah. Saat ini, baru terdapat uji pada hewan dan hasil observasi. Hal ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk penelitian uji kontrol terkendali dengan sampel yang lebih besar untuk meneliti efektivitas vaksinasi quadrivalent HPV dalam mencegah karsinoma sel skuamosa dan karsinoma sel basal.

Referensi