Vaksin HPV Nonavalent vs Kuadrivalent pada Dewasa Muda

Oleh :
dr. Florentina Priscilia

Saat ini, terdapat beberapa tipe vaksin human papillomavirus (HPV), yaitu bivalent, kuadrivalent, dan nonavalent. Vaksin HPV diberikan pada dewasa muda dengan tujuan mencegah infeksi beberapa tipe HPV. Infeksi HPV berpotensi menyebabkan penyakit seperti kanker serviks, kanker vulva, kanker vagina, kanker penis, kondiloma akuminata, dan papillomatosis rekuren.

Prosedur pembuatan vaksin HPV memanfaatkan teknologi rekombinan dari kapsid protein virus yang tidak memiliki kandungan genom, sehingga tidak bersifat infeksius. Perkembangan vaksin dimulai dengan generasi awal pada tahun 2006 berupa vaksin bivalent yang memberi perlindungan terhadap HPV tipe 16 dan 18. Hal ini berlanjut pada tahun 2007, dengan vaksin kuadrivalent yang menambahkan perlindungan terhadap HPV 6 dan 11, kemudian yang terbaru pada tahun 2014 diluncurkan vaksin HPV nonavalent dengan perlindungan tambahan terhadap HPV 31, 33, 45, 52, dan 58.[1,2]

Depositphotos_337856800_s-2019-min (1)

Sekilas Mengenai Pemberian Vaksin HPV

Berdasarkan rekomendasi WHO, vaksin human papillomavirus (HPV) sebaiknya dipertimbangkan menjadi vaksin rutin di setiap Negara, terutama negara dengan angka kejadian kanker serviks atau penyakit terkait infeksi HPV yang tinggi. Vaksin HPV dilaporkan memiliki angka pencegahan paling efektif dan efisien jika diberikan pada usia 9-13 tahun, dengan pemberian 2 dosis yang berjarak 6 bulan dan maksimal jeda antara pemberian adalah 15 bulan.

Pada kondisi belum ada pemberian vaksin HPV pada rentang usia tersebut, maka vaksin sebaiknya tetap diberikan pada usia 13-26 tahun untuk wanita dan 13-21 tahun untuk pria. Namun, untuk usia ini, vaksin diberikan dalam 3 dosis.[3,4]

Studi menunjukkan bahwa respon antibodi yang terbentuk setelah vaksin HPV lebih baik dibandingkan antibodi yang terbentuk pasca infeksi alami. Vaksin HPV juga memiliki profil keamanan yang baik dan efek samping yang umumnya ringan seperti nyeri pada tempat injeksi, demam, atau mual. Kondisi yang menjadi kontraindikasi untuk pemberian vaksin HPV adalah riwayat alergi berat setelah pemberian vaksin HPV dosis sebelumnya seperti ruam pada seluruh tubuh atau urtikaria, kondisi demam sangat tinggi, ataupun wanita hamil.[4,5]

Bukti Ilmiah Vaksin HPV Nonavalent vs Kuadrivalent

Pemberian vaksin human papillomavirus (HPV) kuadrivalent telah dilakukan terlebih dahulu sejak tahun 2007. Kemudian dengan kemunculan vaksin nonavalent yang memiliki perlindungan terhadap jenis HPV yang lebih luas yaitu HPV 6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58, maka mulai dipertimbangkan pemberian vaksin HPV nonavalent.

Sebuah randomized controlled trial (RCT) melakukan intervensi terhadap 14.215 wanita berusia 16-26 tahun yang dibagi secara acak menjadi 2 kelompok, yaitu penerima vaksin HPV kuadrivalent dan nonavalent. Pada studi yang disponsori perusahaan farmasi ini, peneliti ingin mengetahui efikasi dan imunogenitas dari kedua jenis vaksin HPV tersebut. Hasil studi menunjukkan bahwa vaksin nonavalent efektif dalam mencegah infeksi dan penyakit terkait HPV 31, 33, 45, 52, dan 58 pada populasi rentan, serta menghasilkan respon antibodi yang tidak inferior terhadap HPV 6, 11, 16, dan 18 jika dibandingkan vaksin HPV kuadrivalent. Dari sisi efek samping yang ditimbulkan, vaksin HPV nonavalent memiliki angka kejadian reaksi pada tempat injeksi yang lebih tinggi dibandingkan vaksin kuadrivalent. Peneliti menyatakan bahwa hal ini berkaitan dengan  jumlah kandungan partikel antigen yang lebih banyak dalam vaksin HPV nonavalent.[6]

Penelitian Vesikari et al memiliki rancangan intervensi yang serupa. Penelitian dilakukan pada 600 wanita berusia 9-15 tahun yang dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu penerima vaksin HPV nonavalent dan kuadrivalent. Hasil studi menunjukkan bahwa respon imunitas kedua vaksin tersebut terhadap HPV 6, 11, 16, dan 18 adalah setara. Vaksin nonavalent juga secara efektif menghasilkan imunitas terhadap HPV 31, 33, 45, 52, dan 58. Tingkat keamanan dan tolerabilitas antara kedua vaksin ini juga dilaporkan setara, walaupun reaksi pada tempat injeksi ditemukan lebih banyak pada partisipan yang mendapat vaksin nonavalent.[7]

Tinjauan Cochrane terbaru mencoba menganalisis bukti ilmiah yang tersedia hingga 27 September 2018, ditemukan 20 studi yang melibatkan total 31.940 partisipan. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa pemberian vaksin HPV nonavalent dan kuadrivalent pada partisipan wanita usia produktif (16-26 tahun) tidak berbeda bermakna dalam hal pengurangan penyakit pada wanita yang mendapat vaksin, perbandingan kejadian klinis berupa neoplasia epitel serviks tingkat tinggi, adenokarsinoma in situ, atau kanker serviks. Sedangkan, dilaporkan juga bahwa jenis vaksin nonavalent menimbulkan efek samping lebih sering, namun efek samping ini umumnya tergolong ringan berupa nyeri atau kemerahan pada tempat injeksi.[8]

Efikasi Vaksin HPV Kuadrivalent yang dilanjutkan dengan Vaksin HPV Nonavalent

Garland et al melakukan intervensi yang sedikit berbeda, yaitu memberikan vaksin HPV nonavalent pada populasi yang sebelumnya telah mendapatkan vaksin HPV kuadrivalent dibandingkan dengan pemberian placebo pada populasi yang telah mendapatkan vaksin HPV kuadrivalent sebelumnya. Penelitian ini melibatkan partisipan wanita usia 12-26 tahun. Vaksin nonavalent maupun placebo diberikan dengan cara yang sama, yaitu pada hari ke-1, bulan ke-2, dan bulan ke-6 dengan total pemberian 3 dosis.

Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa respon antibodi terhadap HPV 6, 11, 16, dan 18 tidak mengalami perubahan. Hal ini berkaitan dengan respon memori antibodi terhadap jenis HPV dari paparan vaksin kuadrivalent yang telah didapatkan sebelumnya. Sedangkan, antibodi terhadap HPV 31, 33, 45, 52, dan 58 didapatkan dalam kuantitas yang rendah. Hal ini diduga berkaitan dengan identitas asam amino yang dimiliki HPV 31, 33, 45, 52, dan 58 yang hampir serupa dengan HPV 16 dan 18 (besar kemiripan sekitar 80%), sehingga membuat respon yang lebih rendah pada paparan selanjutnya.

Berdasarkan segi keamanan, didapatkan bahwa pemberian vaksin HPV kuadrivalent  yang dilanjutkan dengan nonavalent tergolong aman dengan angka kejadian alergi yang sangat kecil, namun reaksi pada tempat injeksi didapatkan lebih tinggi dibandingkan plasebo.[9]

Kesimpulan

Pemberian vaksin human papillomavirus (HPV) nonavalent dan kuadrivalent memiliki tingkat proteksi yang setara terhadap lesi prekanker dan kanker yang disebabkan oleh virus HPV 6, 11, 16, dan 18. Vaksin HPV nonavalent juga dilaporkan memiliki efikasi yang baik dalam memberikan proteksi terhadap HPV 31, 33, 45, 52, dan 58, namun tingkat proteksi akan menjadi lebih rendah bila diberikan pada pasien yang sudah pernah mendapat vaksin HPV kuadrivalent.

Seluruh studi yang ada menunjukkan bahwa efek samping pada regio injeksi ditemukan lebih sering pada pasien yang menerima vaksin HPV nonavalent dibandingkan vaksin kuadrivalent. Namun, efek samping ini relatif ringan dan tidak bermakna secara klinis.

Referensi