Tinjauan Ulang Metode Packing paska Insisi dan Drainase Abses

Oleh dr. Wendy Damar

Packing untuk Abses adalah salah satu metode yang sering kali digunakan dalam penanganan Abses namun saat ini dipertanyakan efektivitas dan dampak buruknya sehingga perlu ditinjau ulang.

Abses adalah akumulasi nanah pada area yang bersifat lokal di bagian tubuh karena adanya infeksi. Penyebab terjadinya infeksi paling sering pada abses adalah bakteri. Kondisi ini juga disertai dengan adanya bengkak, kemerahan, dan nyeri yang disebabkan oleh proses inflamasi yang sedang terjadi. Lokasi abses yang sering kali ditemukan adalah di bawah permukaan kulit, atau abses subkutan. Abses kulit merupakan salah satu sumber morbiditas yang sangat sering ditemukan oleh seorang dokter dalam praktiknya sehari-hari. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan abses dapat pula ditemukan di organ bagian dalam seperti abses otak, abses hati, dan lainnya.

Insisi dan drainase adalah metode yang lazim dilakukan dalam penanganan abses subkutan. Penanganan dari abses biasanya dengan melakukan insisi dan drainase dari pus yang ada, disertai dengan packing yaitu dimasukannya beberapa kassa steril ke dalam ruangan abses. Metode ini mengharuskan pasien untuk kembali kontrol ke dokter yang menangani dalam waktu 48 jam setelah tindakan insisi dan drainase dilakukan. Pada saat kontrol, kassa yang sudah dimasukan sebelumnya akan dikeluarkan atau diganti dengan yang baru jika dibutuhkan.

Insisi-drainase-packing abses. Sumber: anonim, Openi, 2008. Insisi-drainase-packing abses. Sumber: anonim, Openi, 2008.

Tujuan Packing untuk Abses

Melakukan packing untuk abses yang sudah didrainase pun sering dikerjakan dalam kehidupan klinis sehari-hari. Namun, apakah packing untuk abses yang biasa dikerjakan ini memang perlu untuk dilakukan? Alasan dari diajukannya pertanyaan ini adalah abses ringan yang sudah diirigasi dan didrainase adalah kasus yang sangat lazim ditemukan dalam praktik sehari-hari, bahkan ada begitu banyak kasus abses di Instalasi Gawat Darurat. Tingginya jumlah kasus abses akan menyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan akan alat dan bahan hingga biaya tindakan, meningkatkan ketidaknyamanan pasien, serta secara potensial tidak memberikan hasil akhir yang berbeda dengan yang tidak dilakukan apabila metode packing ini diaplikasikan pada semua kasus abses.

Pengambilan keputusan diperlukan atau tidaknya melakukan packing untuk abses didasarkan pada 3 hal yaitu :

  • Lamanya waktu penyembuhan yang dibutuhkan
  • Penurunan kebutuhan dilakukannya intervensi lanjutan saat pasien kontrol kedua kalinya
  • Kenyamanan pasien

Beberapa sumber teori mendukung dilakukannya packing untuk abses karena metode ini diharapkan dapat mencegah terjadinya pengumpulan kembali pus di ruangan yang ada. Faktor lain yang mendukung metode ini adalah karena penggunaan kasa dapat menyerap pus dan debris serta mencegah terjadinya penutupan luka insisi dalam waktu singkat sehingga pus yang masih diproduksi tetap memiliki jalan untuk keluar. Namun demikian, metode ini masih kontroversial untuk dikerjakan, mengingat pasien akan kembali mengalami rasa sakit pada saat kassa dikeluarkan atau dimasukan kembali untuk kedua kalinya.[1,2]

Bukti Ilmiah Metode Packing untuk Abses

Faktanya, tidak ada teori yang tercatat dalam buku ajar bahwa metode packing untuk abses harus dilakukan pada semua kasus abses. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa tindakan packing hanya akan memperpanjang waktu penyembuhan tanpa menurunkan angka terjadinya abses berulang. Beberapa penelitian observasional yang dilakukan sejak tahun 1951 pun menjelaskan bahwa penyembuhan pada abses setelah dilakukan tindakan, tidak memberikan hasil yang berbeda antara abses yang ditutup atau dengan metode packing. Selain dari kurangnya evidence akan metode packing untuk abses, terdapat beberapa alasan yang menyatakan bahwa metode ini sebaiknya tidak dilakukan. Alasan pertama adalah metode packing untuk abses akan menyakitkan, dan sering kali tidak tersedia obat-obatan yang cukup untuk mengatasi nyeri yang timbul. Salah satu solusi yang bisa dilakukan selama prosedur adalah pemberian sedasi dengan menggunakan ketamin atau propofol yang dikombinasikan dengan penambahan analgesik sistemik. Alasan kedua adalah penerapan metode packing pada wanita yang sedang hamil dengan menggunakan kasa yang mengandung iodoform berhubungan dengan kejadian hipotiroidisme transien pada bayi baru lahir. Alasan ini menerangkan bahwa tindakan metode packing untuk abses juga memiliki risiko apabila diterapkan. [3]

Salah satu penelitian yang membandingkan antara teknik penanganan abses secara “terbuka” dan “tertutup” menyimpulkan bahwa terapi yang diberikan secara tertutup memberikan hasil penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan yang terbuka, dan tidak memiliki perbedaan yang berarti dalam rekurensi terjadinya infeksi pada area yang diterapi. Metode tertutup dilakukan dengan insisi dan drainase dari abses, lalu kemudian luka insisi dijahit dan ditutup. Sebaliknya, metode terbuka adalah abses yang sudah dilakukan insisi dan drainase kemudian diberikan kasa di dalamnya sehingga luka insisi yang dibuat akan tetap terbuka. Namun demikian, metode terbuka yang dilakukan pada abses dengan insisi dan drainase pada penelitian ini menggunakan anestesi umum dan mendapatkan terapi antibiotik intravena selama prosedur berlangsung. Hal ini menggambarkan bahwa abses yang diteliti memiliki ukuran lebih besar dibandingkan dengan metode yang tertutup, sehingga nilai penerapan penelitian ini pada pasien rawat jalan kurang begitu berarti.

Penelitian ini juga menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara pasien yang dilakukan packing (4 dari 23 subjek) dengan yang tidak (5 dari 25 subjek), dalam hal kebutuhan intervensi lanjutan pada saat kontrol. Pasien yang dilakukan packing pun merasakan nyeri yang lebih hebat dibandingkan dengan yang tidak paska prosedur dilakukan. Sehingga dapat disimpulkan, tidak melakukan packing untuk abses paska insisi dan drainase tidak meningkatkan morbiditas, serta pasien akan lebih sedikit merasakan nyeri sehingga hanya memerlukan sedikit obat anti nyeri dibandingkan dengan pasien yang dilakukan packing untuk absesnya. [1,4,5]

Sebuah telaah kritis terhadap penelitian RCT dan studi meta-analisis yang dikeluarkan pada Februari 2017 mengenai permasalahan ini, mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan apakah dilakukannya packing untuk abses dapat mengurangi risiko rekurensi dari infeksi atau kebutuhan dilakukannya intervensi lanjutan, dibandingkan dengan yang tidak. Abses yang ditelaah disini adalah abses dengan ukuran kurang dari 5 cm, di luar dari abses yang disebabkan oleh diabetes atau penurunan imunitas tubuh. Abses dengan ukuran lebih dari 5 cm biasanya memerlukan tindakan bedah dan terapi berkelanjutan, sehingga sulit untuk diaplikasikan pada kondisi klinis sehari-hari. Hasil penelusuran literatur menunjukan bahwa melakukan packing untuk abses dengan ukuran kurang dari 5 cm tidak dianjurkan. Metode packing untuk abses tidak menurunkan kebutuhan dilakukannya intervensi lanjutan dan hanya meningkatkan rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien.[4]

Kesimpulan

 Kasus Abses adalah salah satu kasus yang seringkali ditemukan dalam praktek sehari-hari, sehingga diperlukan sebuah penata laksanaan yang tepat agar tidak terjadi rekurensi dari infeksi dan dapat mengurangi jumlah biaya serta angka penderita. Tentu saja tata laksana yang dilakukan pun juga harus memberikan rasa nyaman bagi pasien. Metode packing sebagai salah satu penanganan untuk abses setelah tindakan insisi dan drainase, secara umum berdasarkan tinjauan teori yang ada tidak harus dilakukan pada semua kasus abses, terutama pada abses dengan ukuran kurang dari 5 cm. Hal ini dikarenakan metode packing untuk abses tidak memberikan hasil yang berarti terhadap lama penyembuhan, rekurensi infeksi, hingga hanya akan membuat pasien semakin menderita dengan rasa sakit yang dialami. Penanganan abses cukup dilakukan dengan insisi dan drainase, lalu menutup kembali luka yang telah dibuat dan dikontrol beberapa hari kemudian. Penerapan packing untuk abses sebaiknya hanya dilakukan pada abses yang berat, dan tentu saja dengan menggunakan anestesi dan analgesik yang memadai untuk kenyamanan pasien.

Referensi