Terapi Pijat untuk Manajemen Bekas Luka

Oleh dr. Hunied Kautsar

Terapi pijat (massage therapy) sering disarankan sebagai terapi tambahan dalam manajemen bekas luka karena dipercaya dapat memperbaiki tampilan bekas luka. Terapi pijat juga diyakini dapat mengurangi rasa gatal, nyeri dan memperbaiki elastisitas kulit di daerah bekas luka. Beragam penelitian sudah dilakukan untuk melihat efek terapi pijat terhadap bekas luka. Namun apakah sudah tersedia cukup bukti untuk mendukung terapi pijat sebagai salah satu evidence based medicine dalam manajemen luka?

Depositphotos_40239865_m-2015_compressed

Teori di Balik Terapi Pijat untuk Manajemen Bekas Luka

Dasar rasional dari manfaat terapi pijat untuk manajemen bekas luka masih inkonklusif. Namun tercapai konsensus dalam beberapa literatur yang menyetujui teori di balik pemilihan terapi pijat sebagai terapi tambahan untuk manajemen bekas luka. Johnson (1994) dan Silverberg, et al. (1996) menyatakan bahwa terapi pijat kemungkinan mempunyai efek mekanis yang dapat memecahkan ikatan intermolekuler yang bersifat restriktif dan mendistribusikan ulang cairan interstisial.[1,2] Teori lain menyebutkan bahwa terapi pijat memiliki efek termal yang meningkatkan ekstensibilitas jaringan.[3] Selain itu, terapi pijat juga mencegah fibrosis dengan cara mencegah terjadinya stagnasi dari edema jaringan [4] dan memberikan efek relaksasi kepada pasien sehingga pasien lebih termotivasi untuk melakukan kegiatan fisik (exercise).[2]

Efek dari Terapi Pijat Sebagai Manajemen Bekas Luka

Sebuah tinjauan pustaka yang diterbitkan oleh American Society for Dermatologic Surgery dalam jurnal Dermatologic Surgery menyatakan bahwa belum terdapat cukup bukti yang mendukung manfaat dari terapi pijat sebagai manajemen bekas luka. Durasi dan gerakan dari terapi pijat cukup bervariasi sehingga belum tersedia standar untuk durasi dan gerakan terapi pijat jika digunakan sebagai manajemen bekas luka. Selain itu, hasil yang diharapkan dari beberapa penelitian dinilai tidak terstandardisasi dan tidak objektif.[5]

Tinjauan pustaka tersebut membahas sepuluh penelitian, tujuh di antaranya merupakan uji kontrol terkendali untuk melihat efek terapi pijat pada bekas luka. Tujuh penelitian membahas mengenai luka bakar, dua penelitian membahas mengenai luka pasca operasi, dan satu penelitian mengulas mengenai luka bakar dan luka pasca operasi. Dari tujuh uji kontrol terkendali, hanya dua penelitian yang hasilnya menunjukkan efek positif (secara signifikan) dari terapi pijat sebagai manajemen bekas luka jika dibandingkan dengan terapi bekas luka standar tanpa terapi pijat.[5]

Dua uji kontrol terkendali tersebut adalah penelitian yang diadakan oleh Roh, et al. (melibatkan 35 subyek, 18 subyek di kelompok perlakuan dan 17 subyek di dalam kelompok kontrol) dan Field, et al. (melibatkan 20 subyek, masing-masing 10 subyek di dalam kelompok perlakuan dan kelompok kontrol)[6,7]. Terapi pijat dalam penelitian Roh, et al. diberikan selama 10 menit setiap harinya (teknik yang dipakai tidak disebutkan secara spesifik) dan 30 menit skin rehabilitation massage therapy setiap minggu (usapan ringan pada telapak tangan, acupressure pada area yang tidak terluka di tangan dan lengan bawah, dilanjutkan dengan aplikasi beragam topikal). Total durasi terapi pijat adalah 127,6 hari. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa terapi pijat yang diberikan kepada kelompok perlakuan menunjukkan perbaikan dalam beberapa aspek yang diukur yakni pruritus, VSS (Vancouver Scar Scale), dan scar depression. [6] Uji kontrol terkendali yang diadakan oleh Field, et al. juga menunjukkan hasil yang positif. Pasien dalam kelompok perlakuan menunjukkan perbaikan secara langsung dan jangka panjang dalam semua aspek yang diukur yakni pruritus, nyeri, kecemasan, dan mood.[7]

Kekurangan dari dua uji kontrol terkendali di atas adalah jumlah subyek yang sedikit dan beberapa alat ukur yang bersifat subyektif. Penelitian lain mengenai efek terapi pijat pada bekas luka diadakan di Korea dengan jumlah subyek yang lebih banyak yakni 76 subyek di dalam kelompok perlakuan dan 70 subyek di dalam kelompok kontrol. Karakteristik yang diukur dari luka bakar hipertrofi pada partisipan adalah ketebalan bekas luka, kadar melanin dan eritema pada luka, transepidermal water loss (TEWL), sebum, dan elastisitas bekas luka. Alat yang digunakan untuk mengukur karakteristik bekas luka tersebut adalah ultrasonografi, Mexameter®, Tewameter®, Sebumeter®, dan Cutometer®. Adapun pengukuran rasa sakit dan gatal pada bekas luka dilakukan dengan menggunakan skala VAS (nilai 1-10) dan itching scale (nilai 0-4).[8]

Kelompok perlakuan mendapatkan terapi standar untuk manajemen luka bakar hipertrofi (sama seperti kelompok kontrol) dan terapi pijat yang terdiri dari effleurage, friction dan petrissage massage yang dilakukan setelah aplikasi topikal dari krim Rosakalm®, Emu oil, dan Physiogel® lotion. Terapi pijat dilakukan oleh terapis pijat spesialis rehabilitasi luka bakar sebanyak 3 kali seminggu. Satu sesi berlangsung selama 30 menit untuk setiap area bekas luka hipertrofi. Hasil penelitian menyatakan bahwa terapi pijat terbukti efektif dalam mengurangi rasa sakit, gatal dan memperbaiki karakteristik luka bakar hipertrofi. Kekurangan dari penelitian ini adalah efek jangka panjang yang tidak dapat diketahui karena terapi pijat hanya diberikan selama 34,69 ± 22, 53 hari dan faktor evolusi luka hipertrofi yang tidak masuk ke dalam pertimbangan. Biasanya luka bakar mengalami hipertrofi dalam waktu 6-12 bulan dan mengecil pada 18-24 bulan. Sehingga efek dari terapi pijat bergantung pada tingkat maturasi dari luka bakar itu sendiri.[8]

Kesimpulan

Beberapa penelitian menunjukkan efek positif dari terapi pijat sebagai terapi tambahan dalam manajemen bekas luka. Namun untuk menjadikan terapi pijat sebagai salah satu evidence based medicine dalam manajemen bekas luka dibutuhkan lebih banyak penelitian yang menggunakan alat ukur objektif. Hal ini diperlukan untuk menciptakan standar tipe gerakan pijat, waktu untuk memulai terapi pijat, dan durasi yang paling efektif untuk setiap jenis bekas luka.

Referensi