Suplementasi Zinc Rutin untuk Anak Sehat Terbukti Bermanfaat

Oleh dr. Shofa Nisrina

Suplementasi zinc secara rutin dinilai bermanfaat untuk diberikan secara rutin kepada anak. Pemberian suplementasi secara rutin bermanfaat untuk optimalisasi pertumbuhan, serta mencegah diare, pneumonia, dan otitis media. Walau tidak terbukti bermanfaat untuk menurunkan tingkat mortalitas dan morbiditas secara umum, zinc diduga bermanfaat terhadap pertumbuhan, serta untuk mencegah diare, pneumonia, dan otitis media.

Zinc merupakan salah satu mikronutrien penting yang berfungsi dalam proses sintesis protein, pertumbuhan dan diferensiasi sel. Selain itu, zinc juga berperan sebagai agen antiinflamasi dan dapat meningkatkan imunitas seluler sehingga penggunaannya dinilai dapat menurunkan mortalitas dan morbiditas pada beberapa penyakit.[1]

Depositphotos_13850089_m-2015_compressed

Defisiensi Zinc pada Anak

Pada tahun 2011, defisiensi zinc mengakibatkan kematian terhadap 116.000 anak di bawah 5 tahun sehingga pemberian zinc diharapkan dapat menurunkan mortalitas dan morbiditas. Walau demikian, pemberian suplementasi rutin tidak terbukti bermanfaat menurunkan mortalitas dan morbiditas pada populasi anak sehat. Pemberian suplementasi ini hanya bermanfaat pada anak yang terbukti mengalami defisiensi zinc.[2,5]

Efek Suplementasi Zinc terhadap Pertumbuhan

Ada beberapa meta analisis yang telah dilakukan untuk melihat efek suplementasi zinc terhadap pertumbuhan linier anak. Meta analisis oleh Brown, et al. menunjukkan adanya efek positif terhadap tinggi badan dengan pemberian suplemen zinc secara rutin.[3] Sebaliknya meta analisis oleh Ramakrishnan, et al. menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian suplemen zinc dengan tinggi badan pada anak usia < 5 tahun.[4]

Meta analisis tahun 2011 oleh Imdad, et al. memasukkan 36 studi terkait pemberian suplemen zinc dan pertumbuhan linier pada anak < 5 tahun. Dosis suplemen yang diberikan berkisar antara 1-20 mg/hari dengan median 10 mg/hari. Suplemen diberikan dalam bentuk zinc sulfat, zinc asetat, atau zinc glukonat selama 8 – 64 minggu dengan median 24 minggu. Hasil studi menunjukkan bahwa pemberian suplemen zinc memiliki efek positif terhadap pertumbuhan linier. Efek positif ini meningkat jika pemberian suplemen zinc ditambah dengan suplemen besi.[1]

Suplementasi zinc memberikan rerata penambahan tinggi badan sebanyak 0,37 cm pada anak < 5 tahun di negara berkembang pada dosis 10 mg/hari dengan durasi pemberian 24 minggu. Dosis suplemen yang disarankan adalah 10 mg/hari. Pemberian dosis 3 mg/hari dan 5 mg/hari tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Durasi pemberian suplemen yang disarankan adalah selama minimal 24 minggu karena pada waktu tersebut pemberian suplemen baru dapat mengganti defisiensi dan memberikan cadangan zinc di tubuh.[1]

Efek Suplementasi Zinc terhadap Diare

Diare pada anak merupakan salah satu kasus yang cukup sering pada anak dan menyebabkan mortalitas serta morbiditas yang tinggi. Insidensi diare di Indonesia adalah 6,7%.[6]

Telaah literatur oleh Liberato, et al. menunjukkan bahwa pemberian suplemen zinc sebagai profilaksis memiliki efek positif terhadap insidensi dan prevalensi diare dan efek ini lebih terlihat pada anak di negara berpenghasilan rendah di mana defisiensi zinc lebih banyak terjadi. [5] Sebuah meta analisis lain oleh Yakoob et al. menunjukkan adanya penurunan insidensi diare yang signifikan sebanyak 13%. [9] Efek suplementasi zinc paling terlihat pada kelompok usia 12 – 30 bulan.[7]

Melalui sebuah studi oleh Garrene, et al., suplemen zinc juga dinilai dapat memperpendek durasi diare hanya pada anak laki-laki. Perbedaan terkait gender ini kemungkinan disebabkan oleh adanya perbedaan respon zinc terhadap sel T-helper 1 dan sel T-helper 2 pada laki-laki dan perempuan yang berperan dalam berbagai proses infeksi. [8]

Walau bermanfaat untuk mencegah dan memperpendek durasi diare, suplementasi rutin zinc ditemukan tidak berpengaruh terhadap tingkat mortalitas diare yang terjadi.

Dosis zinc yang diberikan berkisar antara 3 – 20 mg/hari. Untuk anak berusia di bawah 3 tahun, dosis 3 mg/hari dan 7 mg/hari memiliki efek yang lebih signifikan untuk menurunkan prevalensi diare sehingga dosis suplemen perlu disesuaikan dengan usia dan status nutrisi anak. [5,7,9]

Efek Suplementasi Zinc terhadap Pneumonia

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi pneumonia di Indonesia adalah 4,5% dan kelompok usia terbanyak adalah anak usia 0 – 5 tahun dengan tingkat mortalitas yang tinggi [6]. Pemberian suplemen zinc pada kelompok usia ini diduga dapat meningkatkan imunitas tubuh sehingga menurunkan insidensi, morbiditas, dan mortalitas [5]. Selain itu, zinc berperan sebagai prooksidan yang melindungi serta menjaga integritas epitel saluran pernapasan. [10]

Meta analisis oleh Yakoob et al. menunjukkan adanya penurunan morbiditas pneumonia yang signifikan secara statistik, terutama pada kelompok anak yang mengalami stunting. Walau demikian, tidak terdapat penurunan mortalitas pneumonia yang signifikan dari suplementasi zinc.[3,5,9]

Efek Suplementasi Zinc terhadap Otitis Media

Otitis media merupakan inflamasi pada telinga bagian tengah yang disebabkan oleh infeksi. Infeksi ini sering ditemukan pada anak dan 90% berasal dari negara dengan penghasilan rendah. [5]

Pada sebuah studi di Bangladesh, pemberian suplemen zinc pada anak usia 2 – 12 bulan dapat menurunkan angka insidens otitis media. [11] Sementara itu, meta analisis oleh Gulani, et al. menunjukkan hasil yang bervariasi. Penurunan insidensi otitis media didapatkan pada anak usia 2 – 6 bulan pada kelompok yang mendapatkan suplementasi zinc, sedangkan pada anak usia 6 – 36 bulan tidak ditemukan perbedaan insidensi antara kelompok kontrol dan intervensi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian suplemen zinc efektif untuk menurunkan insidensi otitis media pada anak di bawah 6 bulan. [12]

Cara Pemberian Suplemen Zinc

Suplemen zinc dapat diberikan dalam bentuk tablet atau sirup. Preparat zinc yang tersedia sampai saat ini adalah zinc asetat, zinc glukonat, zinc haemoglo, dan zinc oksida. Penggunaan zinc oksida pada anak tidak disarankan digunakan pada anak karena tidak mudah larut dan memiliki daya absorbsi yang rendah. Zinc sebaiknya diberikan secara tunggal dan tidak dikombinasi dengan mikronutrien lain karena dapat menurunkan absorbsi dan bioavailabilitas zinc.[5]

Dosis zinc yang disarankan untuk anak usia 6 bulan – 5 tahun adalah 0,7 – 1,8 mg/kgBB; 1 – 21,4 mg/hari; atau 15 – 140 mg/minggu. Dosis per individu dapat berbeda-beda bergantung dari usia dan status nutrisi. Anak dengan berat badan kurang atau perawakan pendek mungkin membutuhkan dosis yang lebih tinggi karena rawan mengalami defisiensi zinc. [5]

Salah satu efek samping dalam pemberian zinc adalah munculnya mual dan muntah. Hal ini disebabkan oleh iritasi pada lambung, walaupun ada beberapa pendapat yang menyatakan rasa mual ini disebabkan oleh rasa yang tidak enak pada sediaan zinc. [11] Efek samping lain terhadap penurunan konsentrasi hemoglobin, serum ferritin, atau serum tembaga tidak ditemukan jika diberikan sesuai dengan dosis di atas. Tentunya manfaat pemberian zinc di atas sebanding jika dibandingkan dengan risiko efek samping yang minimal.[13]

Kesimpulan

Suplementasi zinc rutin terbukti bermanfaat untuk diberikan bagi anak yang sehat dengan risiko yang minimal. Suplementasi zinc secara rutin akan membantu optimalisasi pertumbuhan pada anak, serta mencegah terjadinya diare, pneumonia, dan otitis media. Risiko efek samping berupa mual dan muntah akibat iritasi pada lambung. Dosis pemberian zinc yang disarankan berkisar antara 3 – 24 mg/hari dan diberikan selama minimal 6 bulan.

Referensi