Studi Literatur Efektivitas Asam Traneksamat Topikal untuk Epistaksis pada Pengguna Antiplatelet

Oleh dr. Paulina Livia Tandijono

Hampir semua orang pernah mengalami epistaksis alias mimisan. Kondisi ini biasanya tidak mengancam nyawa dan bisa berhenti sendiri tanpa intervensi medis. Epidemiologi epistaksis secara pasti tidak dapat ditentukan karena tidak seluruh kasus dilarikan ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Suatu penelitian pada tahun 2016 oleh Newton, dkk menyatakan bahwa 60% dari populasi pasti pernah mengalami epistaksis minimal satu kali sepanjang hidupnya. Dari angka tersebut, hanya sekitar 6% yang membutuhkan pengobatan medis, sisanya adalah epistaksis ringan yang dapat berhenti sendiri.[1,2]

Sumber: Mark Oniffrey, Wikimedia commons, 2017. (untuk gambar asam traneksamat) Sumber: Mark Oniffrey, Wikimedia commons, 2017. (untuk gambar asam traneksamat)

Epistaksis dan Antiplatelet

Penyebab epistaksis dapat dibagi menjadi penyebab lokal (trauma, iritasi mukosa, abnormalitas mukosa, inflamasi, tumor, dan lain-lain), sistemik (arterosklerosis, hereditary hemorrhagic telangiectasia/HHT, kelainan koagulopati kongenital, dan lain-lain), dan idiopatik (sekitar 10% kasus). Suatu penelitian tahun 2014 menyatakan faktor risiko epistaksis sebagai berikut:[1,3]

  • Perforasi nasal
  • Deviasi septum nasi
  • Rhinitis
  • Sinusitis
  • Infeksi saluran napas atas
  • Hipertensi dan diabetes melitus (menyebabkan arterosklerosis pembuluh darah di hidung)
  • Gagal jantung kongestif (meningkatkan risiko rekurensi epistaksis)
  • Obat antiplatelet dan antikoagulan

Obat golongan antiplatelet dan antikoagulan kerap kali dikonsumsi secara rutin oleh pasien dengan penyakit jantung atau stroke. Peningkatan risiko epistaksis akibat kedua obat tersebut ternyata tidak bermakna secara statistik. Meskipun demikian, keduanya secara signifikan berhubungan dengan epistaksis yang berat, membutuhkan intervensi pembedahan, dan berulang.[4-6]

Tampon Hidung Anterior

Berdasarkan asal pembuluh darahnya, epistaksis dibagi menjadi dua, yaitu epistaksis anterior dan posterior. Dalam artikel ini, akan dibahas mengenai epistaksis anterior yang lebih sering terjadi dibandingkan epistaksis posterior (sekitar 10%). Tampon hidung anterior merupakan lini pertama untuk mengatasi epistaksis anterior yang tidak berhenti dengan kompresi manual.[1,6]

Sayangnya, tampon hidung anterior memiliki beberapa kekurangan, yaitu rasa tidak nyaman saat pemasangan atau pelepasan, trauma pada mukosa, dan pembentukan sinekia. Terapi yang lebih efektif dengan efek samping minimal diperlukan untuk pasien yang mengonsumsi antikoagulan atau antiplatelet karena populasi ini berisiko mengalami epistaksis berat dan berulang.[6]

Asam Traneksamat Topikal

Penggunaan asam traneksamat injeksi secara topikal merupakan metode yang saat ini gencar diteliti untuk menggantikan posisi tampon hidung anterior dalam mengatasi epistaksis. Berikut adalah penelitian-penelitian yang telah dilakukan:

  • Systematic review tahun 2016 melibatkan 2 Randomized Controlled Trial (RCT) untuk menilai efektivitas asam traneksamat topikal pada epistaksis. Satu RCT (n=68) menyatakan tidak ada perbedaan bermakna. Sementara itu, RCT lainnya yang menggunakan sampel lebih besar (n=216) menunjukkan asam traneksamat topikal lebih efektif mengatasi epistaksis dibandingkan tampon hidung anterior.[7]

  • RCT double blinded tahun 2013 menyatakan bahwa asam traneksamat topikal menurunkan perdarahan selama dan setelah adenoidektomi secara signifikan. Selain itu, keperluan tampon hidung dan transfusi darah juga lebih rendah dibandingkan kelompok plasebo.[8]

  • Berdasarkan cara kerjanya, asam traneksamat dapat menghentikan perdarahan akibat gangguan hemostasis dan koagulasi. Hal ini dibuktikan melalui penelitian oleh Sindet-Pedersen yang menyatakan bahwa asam traneksamat topikal dapat menghentikan perdarahan gusi yang terjadi pada pasien hemofilia.[6]
  • Penelitian lain membandingkan obat kumur yang mengandung 5% asam traneksamat dan sediaan oral 1 g. Ternyata, kadar asam traneksamat dalam saliva lebih tinggi pada sediaan obat kumur dibandingkan sediaan oral. Sedangkan kadar dalam plasma lebih tinggi pada sediaan oral. Hal ini menunjukkan bahwa asam traneksamat topikal mungkin lebih efektif untuk mengatasi perdarahan lokal dengan efek samping sistemik lebih minimal dibandingkan sediaan oral.[6]

 

Asam Traneksamat Topikal vs Tampon Hidung Anterior pada Pasien yang Mengonsumsi Antiplatelet

Asam traneksamat dapat menghentikan perdarahan dengan cara menghambat aktivasi plasminogen menjadi plasmin (enzim yang mendegradasi fibrin). Di samping itu, asam traneksamat juga menghambat aktivitas plasmin untuk mengaktifkan jalur komplemen yang kelak akan mengganggu fungsi platelet. Berdasarkan cara kerja tersebut, asam traneksamat dapat menghentikan perdarahan akibat gangguan hemostasis dan koagulasi, seperti epistaksis yang terjadi pada pengguna antiplatelet.[6,9]

Hingga saat ini, hanya ada satu penelitian yang secara langsung membandingkan penggunaan asam traneksamat topikal dan tampon hidung anterior pada populasi yang mengonsumsi antiplatelet (aspirin, klopidogrel, atau keduanya). Penelitian yang dipublikasikan tahun 2017 ini memiliki desain penelitian RCT. Terdapat 124 subjek yang sesuai dengan kriteria inklusi (konsumsi antiplatelet dan epistaksis anterior) dan eksklusi (konsumsi warfarin atau antikoagulan lainnya; INR >1,5; epistaksis akibat trauma; gagal ginjal; penyakit kelainan trombosit kongenital; gangguan koagulasi kongenital; syok; dan tidak bersedia mengikuti penelitian).[6]

Dari 124 subjek, dibagi menjadi 2 kelompok yang masing-masing terdiri dari 62 subjek. Data dasar/baseline kedua kelompok sama, kecuali kategori “riwayat epistaksis sebelumnya” lebih tinggi secara signifikan pada kelompok asam traneksamat. Kelompok pertama mendapatkan kapas yang telah direndam dalam asam traneksamat injeksi (500 mg dalam 5 ml). Kapas dilepaskan setelah perdarahan berhenti. Sementara itu, kelompok kedua mendapatkan kapas yang telah direndam dalam lidokain 2% dan epinefrin 1:100.000. Kemudian, diberikan tampon hidung anterior yang telah diolesi salep tetrasiklin. Tampon dilepas setelah tiga hari.[6]

Berikut adalah hasil yang ditemukan oleh penelitian tersebut:[6]

  • Dalam 10 menit setelah terapi, epistaksis berhenti pada 73% subjek kelompok asam traneksamat. Sedangkan pada kelompok tampon anterior, hanya 29% subjek yang perdarahannya berhenti (p<0,001).
  • Epistaksis berhenti lebih cepat pada kelompok asam traneksamat [(median (IQR), 10 menit (10–15)] dibandingkan kelompok tampon anterior [(median (IQR), 15 menit (10–20) (p<0,001)].
  • Dalam 24 jam, kelompok tampon anterior mengalami epistaksis berulang lebih sering dibandingkan kelompok asam traneksamat (5% vs 10% (p=0,299)).
  • Setelah 1 minggu, epistaksis berulang pada kelompok tampon anterior lebih tinggi dibandingkan kelompok asam traneksamat (5% vs 21% (p<0,007)).
  • Setelah 2 jam, sebanyak 97% dari kelompok asam traneksamat sudah dapat pulang dari IGD. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok tampon anterior yang hanya 13% (p<0,001).
  • Berdasarkan kuesioner yang diisi sendiri oleh pasien, kelompok asam traneksamat [(median (IQR), 9 (8–9,25)] lebih puas dibandingkan kelompok tampon anterior [(median (IQR), 4 (3–5) (p<0,001)].
  • Tidak ada efek samping berat yang terjadi pada kedua kelompok. Efek samping ringan terjadi lebih sering pada kelompok asam traneksamat dibandingkan kelompok tampon anterior (10% vs 5% (p=0,299)). Sayangnya, dalam publikasi tersebut tidak disebutkan lebih rinci mengenai efek samping ringan yang terjadi pada kedua kelompok.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, terlihat bahwa asam traneksamat topikal jauh lebih superior dibandingkan tampon hidung anterior untuk mengatasi epistaksis pada pasien yang mengonsumsi antiplatelet. Namun, hal ini belum dapat diaplikasikan secara luas dalam praktik sehari-hari karena bukti yang ada masih belum cukup. Selain itu, penelitian ini juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu:[6]

  • Tidak ada blinded terhadap pasien dan dokter.
  • Tidak dibedakan subjek yang mengonsumsi aspirin, klopidogrel, atau keduanya. Akibatnya, tidak diketahui hubungan antara asam traneksamat dengan masing-masing obat.
  • Penelitian ini tidak menggunakan tampon yang diproduksi oleh industri sehingga tidak dapat memastikan keunggulan asam traneksamat dibandingkan tampon komersial.
  • Tidak disebutkan mengenai bentuk-bentuk efek samping ringan yang muncul pada kedua kelompok.

Sebelum asam traneksamat topikal digunakan secara luas, diperlukan penelitian lain yang mendukung hasil dari penelitian ini. Selain itu, perlu dikaji mengenai kemungkinan adanya interaksi obat, mengingat asam traneksamat dan antipletelet memiliki cara kerja yang berlawanan. Penelitian juga dapat dikembangkan pada populasi yang mengonsumsi antikoagulan, seperti warfarin. Sebab, antikoagulan juga dikonsumsi secara rutin dan dapat menyebabkan epistaksis berat serta berulang seperti antiplatelet.[6]

Referensi