Efektivitas dan Keamanan Asam Traneksamat Untuk Perdarahan Post Partum

Oleh dr. Paulina Livia Tandijono

Asam traneksamat merupakan salah satu pilihan untuk penanganan perdarahan post partum yang masih diperdebatkan efektivitas dan keamanannya.

Sumber: Mark Oniffrey, Wikimedia commons, 2017. Sumber: Mark Oniffrey, Wikimedia commons, 2017.

Perdarahan post partum masih menjadi penyebab utama kematian ibu, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Padahal, perdarahan post partum memiliki prognosis yang baik jika cepat dikenali dan segera diberi tata laksana yang sesuai. Sekitar 70–80% kasus perdarahan post partum disebabkan oleh atonia uteri. Oleh karena itu, berbagai panduan/guideline di dunia menyatakan bahwa obat pilihan pertama untuk kasus perdarahan post partum adalah golongan uterotonik, yaitu oksitosin 10 IU intramuskular.[1-3]

Selain agen uterotonik, asam traneksamat diperkirakan dapat mengatasi perdarahan post partum. Asam traneksamat adalah golongan antifibrinolitik yang bekerja dengan cara mencegah hancurnya clot darah akibat proses fibrinolisis. Satu jam setelah persalinan, ternyata terjadi peningkatan aktivitas fibrinolisis, terutama pada wanita yang mengalami perdarahan post partum. Hal inilah yang diperkirakan akan dihambat oleh asam traneksamat sehingga perdarahan dapat berhenti.[4]

Namun, efektivitas asam traneksamat dalam mengatasi perdarahan post partum masih diperdebatkan. Penelitian-penelitian yang dilakukan juga mengalami kendala etik. Sebab, perdarahan post partum adalah kegawatdaruratan sehingga sebaiknya ditatalaksana berdasarkan panduan yang sudah ada. Selain itu, hanya sedikit penelitian dengan jumlah sampel yang mencukupi dan melakukan blinding. Salah satunya adalah penelitian “Woman Trial 2017” yang melibatkan 20.060 subjek.[3-5]

Rekomendasi Terkait Penggunaan Asam Traneksamat pada Perdarahan Post Partum

Panduan dari World Health Organization (WHO) 2017 menyatakan bahwa asam traneksamat (1 gram secara intravena) sebaiknya diberikan sesegera mungkin setelah onset perdarahan dan sebelum 3 jam. Rekomendasi ini dianjurkan untuk segala jenis perdarahan post partum tanpa memedulikan penyebabnya. Hal ini berbeda dengan rekomendasi sebelumnya (WHO 2012) yang menyatakan bahwa asam traneksamat digunakan untuk kasus trauma jalan lahir atau atonia uteri yang tidak berhenti dengan obat golongan uterotonik.[2]

Namun, panduan dari American College of Obstetrician and Gynaecologist (ACOG) 2017 menyatakan bahwa asam traneksamat diberikan jika obat uterotonik lain sudah gagal dan di bawah 3 jam setelah onset perdarahan. Selain itu, ACOG 2018 menyatakan bahwa asam traneksamat dapat diberikan secara intravena atau peroral.[1,3]

Penelitian Terkait Penggunaan Asam Traneksamat untuk Perdarahan Post Partum

Meta analisis Cochrane tahun 2018 membahas mengenai efektivitas pemberian asam traneksamat pada kasus perdarahan post partum. Artikel tersebut mengulas tiga controlled trial (termasuk “Woman Trial 2017”) dengan total jumlah sampel sebanyak 20.412 wanita yang mengalami perdarahan post partum. Dua penelitian di antaranya menggunakan asam traneksamat 1 gram bolus intravena selama 10 menit, dapat diulang setelah 30 menit jika perdarahan belum berhenti. Sementara itu, satu penelitian lainnya menggunakan 4 gram asam traneksamat dalam 50 ml normal saline yang diberikan secara intravena selama satu jam dan dosis rumatan 1 gram/jam selama 6 jam.[4]

Mortalitas Ibu

Terdapat penurunan mortalitas yang tidak bermakna pada kelompok asam traneksamat dibandingkan kelompok kontrol.[4]

Mortalitas Ibu akibat Perdarahan Post Partum

Asam traneksamat menurunkan mortalitas ibu akibat perdarahan post partum. Pemberian asam traneksamat pada 271 pasien akan mencegah satu kematian ibu. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa asam traneksamat dapat menurunkan mortalitas pasien trauma akibat perdarahan sebesar 15%.[4,6]

Penurunan risiko lebih besar jika asam traneksamat diberikan 1–3 jam setelah persalinan dibandingkan pemberian <1 jam atau >3 jam. Sebuah penelitian yang dipublikasi tahun 2017 menyatakan bahwa jumlah kematian akibat perdarahan post partum mencapai puncaknya 2–3 jam setelah persalinan. Penundaan pemberian asam traneksamat setiap 15 menit akan mengurangi manfaat obat tersebut sebesar 10%. Bila diberikan >3 jam, asam traneksamat sudah tidak bermanfaat. Hal ini juga sejalan dengan hasil dalam meta analisis yang mengatakan tidak ada perbedaan mortalitas ibu pada kedua kelompok jika asam traneksamat diberikan >3 jam.[4,7] Efek traneksamat terhadap mortalitas ibu tidak dipengaruhi oleh tipe persalinan (normal atau operasi Caesar).[4]

Morbiditas Berat

Morbiditas berat yang dimaksud meliputi gagal ginjal, gagal napas, gagal organ multipel, dan henti jantung. Tidak ada perbedaan insiden morbiditas berat pada kelompok yang mendapat asam traneksamat dan kelompok kontrol.[4]

Jumlah Perdarahan

Pada kelompok asam traneksamat, risiko kehilangan darah >500 ml lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Hal ini sesuai dengan penelitian lainnya yang dilakukan pada subjek yang menjalani operasi.[4,8]

Kebutuhan Transfusi Produk Darah

Tidak terdapat perbedaan jumlah subjek yang membutuhkan transfusi produk darah. Hasil ini berlawanan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa jumlah subjek kelompok asam traneksamat yang membutuhkan transfusi lebih sedikit dibandingkan kelompok kontrol.[4,8]

Tindakan Invasif

Tidak ada perbedaan yang bermakna pada kelompok asam traneksamat dan kontrol mengenai jumlah tindakan invasif, berupa tamponade intrauterin, manual plasenta, histerektomi, ligasi arteri, embolisasi.[4]

Tidak adanya perbedaan yang bermakna ini diduga disebabkan karena penentuan keputusan tindakan invasif yang terlalu cepat sehingga efek asam traneksamat belum terlihat.[4] Risiko tindakan laparotomi lebih rendah pada kelompok asam traneksamat tetapi risiko brace suture (B-lynch suture) meningkat pada kelompok asam traneksamat.[4]

Kejadian Tromboemboli

Secara teori, penggunaan asam traneksamat dapat meningkatkan risiko kejadian tromboemboli pada ibu. Namun asam traneksamat dinyatakan aman dan tidak menimbulkan kejadian tromboemboli, baik trombosis vena dalam, emboli paru, infark miokard akut, dan stroke.

Secara keseluruhan, ternyata, kedua kelompok memiliki kejadian insiden tromboemboli yang hampir sama. Sementara itu, pada kedua kelompok tidak ditemukan kejadian tromboemboli pada neonatus.[4]

Kualitas Hidup Ibu

Tidak ada perbedaan bermakna pada kedua kelompok mengenai kualitas hidup ibu, mobilitas, self-care (kemampuan untuk mengurus diri sendiri), aktivitas sehari-hari, nyeri atau rasa tidak nyaman, serta ansietas atau depresi.[4]

Kesimpulan

Penggunaan asam traneksamat secara intravena dapat mengurangi risiko kematian ibu akibat perdarahan post partum, terutama jika diberikan sebelum 3 jam setelah onset perdarahan. Selain itu, asam traneksamat juga tidak meningkatkan kejadian tromboemboli pada ibu maupun neonatus.

Walau asam traneksamat masih memerlukan penelitian lebih  lanjut mengenai  cara pemberian lain selain jalur intravena, obat ini dapat dipertimbangkan sebagai pilihan penanganan untuk perdarahan post partum. Pertimbangan utama adalah asam traneksamat merupakan pilihan pengobatan dengan biaya rendah, terutama dibandingkan dengan modalitas terapi lainnya seperti transfusi masif, kontrol perdarahan dengan pembedahan, atau prokoagulant lainnya seperti faktor VIIA. Dengan demikian, asam traneksamat cocok untuk digunakan di tempat dengan fasiltias terbatas dan tingkat ekonomi yang rendah.[2,4]

Referensi