Efek Konsumsi Multivitamin terhadap Pencegahan Penyakit Jantung

Oleh :
dr. Sunita

Seringkali pada praktiknya, pasien dengan risiko penyakit kardiovaskular diberikan multivitamin sebagai pencegahan. Walaupun penelitian yang mempelajari tentang potensi manfaat vitamin tunggal dan multivitamin terhadap pencegahan penyakit kronik telah mulai dilakukan dalam beberapa dekade terakhir, tinjauan kritis terhadap efikasi dan keamanan suplementasi multivitamin rutin baru dilakukan pada tahun 2006 oleh panel ahli dari National Institutes of Health State-of-the-Science Conference[1].

Kurangnya bukti ilmiah yang menunjukkan manfaat konsumsi vitamin dalam menurunkan insidens penyakit kronik yang disimpulkan oleh panel ahli tersebut mendorong munculnya publikasi berbagai bukti ilmiah lain tentang manfaat konsumsi vitamin terhadap mortalitas, penyakit kardiovaskuler, dan kanker. Penelusuran terhadap bukti mutakhir yang ada tentang peran vitamin, mineral, dan multivitamin terhadap pencegahan penyakit kardiovaskuler menjadi dasar US Preventive Services Task Force (USPSTF) mengeluarkan rekomendasi yang menyatakan bahwa penelitian yang ada belum cukup untuk menilai manfaat dan risiko multivitamin untuk pencegahan penyakit kardiovaskuler. Namun, rekomendasi tersebut tentu saja tidak berlaku sama untuk seluruh populasi, melainkan hanya ditujukan bagi orang dewasa sehat yang tidak memiliki kebutuhan nutrisi khusus yang berusia 50 tahun atau lebih[2].

Rekomendasi tersebut sangat mungkin bertentangan dengan persepsi sebagian pasien mengenai manfaat vitamin. Pengetahuan yang tepat mengenai hal ini sangat esensial untuk membantu dokter dalam mengedukasi pasien sebelum membuat keputusan klinis.

old man take medicine

 

Manfaat Multivitamin Terhadap Pencegahan Penyakit Jantung

Alexander et al melakukan meta analisis dan tinjauan sistematik terhadap penelitian yang mencakup populasi orang dewasa sehat untuk menilai efek penggunaan multivitamin multimineral, maupun penggunaan 3 atau lebih vitamin dan mineral. Dari penelusuran, ditemukan 12 penelitian kohort dan 3 randomized controlled trial (RCT) yang memenuhi kriteria inklusi. Secara khusus, sebagian besar penelitian yang dianalisis tersebut berasal dari Amerika Serikat (AS), sedangkan 3 penelitian berasal dari negara di Eropa dan 1 penelitian dilakukan di Jepang. Berdasarkan kajian bukti ilmiah yang ada, disimpulkan bahwa konsumsi multivitamin dan multimineral tidak berkaitan dengan peningkatan risiko kematian dan insidensi penyakit kardiovaskuler, serta hanya memberikan efek protektif moderat. [3]

Terdapat beberapa keterbatasan metodologi yang mempersulit interpretasi hasil studi ini. Pertama, dengan memasukkan sejumlah penelitian observasional ke dalam sampel penelitian, terdapat potensi adanya faktor perancu perilaku partisipan (contoh: pilihan gaya hidup dan pola diet) yang berpengaruh terhadap risiko penyakit dan insidens kematian. Kedua, masa pemantauan dari berbagai penelitian yang menjadi sampel tinjauan masih belum cukup panjang untuk membantu menyimpulkan hubungan kausalitas penggunaan multivitamin dan tingkat kematian serta insidens penyakit kardiovaskuler. Ketiga, hasil beberapa penelitian kohort prospektif yang menjadi sampel berpotensi dipengaruhi oleh bias seleksi akibat perbedaan tingkat drop out selama periode pemantauan[3].

Studi lain oleh Jenkins et al terhadap tinjauan sistematik, meta analisis, serta uji klinis tunggal yang dipublikasi antara tahun 2012 hingga 2017, dilakukan untuk melihat kaitan antara konsumsi suplemen terhadap mortalitas maupun kematian terkait penyakit kardiovaskuler dan stroke. Selain multivitamin, Jenkins et al turut menganalisis apabila terdapat studi baru yang mempelajari efek suplemen vitamin dan mineral tunggal (vitamin, A, B kompleks, vitamin C, D, dan E, kalsium, zat besi, magnesium, seng dan selenium). Berdasarkan metode penelusuran yang dilakukan terdapat 179 penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan 15 di antaranya dipublikasi setelah rekomendasi USPSTF diluncurkan[4].

Hasil analisis sampel mengisyaratkan bahwa suplemen yang lazim dikonsumsi masyarakat (multivitamin, vitamin D, kalsium, dan vitamin C) tidak menunjukkan manfaat yang konsisten dalam pencegahan penyakit kardiovaskular, infark miokard, stroke, maupun penurunan tingkat mortalitas. Di sisi lain, konsumsi asam folat tunggal, kombinasi asam folat dan vitamin B, B6, dan vitamin B12 berpotensi menurunkan kejadian stroke, sedangkan konsumsi niasin (B3) dan antioksidan berkaitan dengan peningkatan risiko mortalitas sebesar 10%[4]. Potensi manfaat asam folat dalam penurunan risiko stroke dan penyakit kardiovaskuler hingga 20% tersebut didukung dari hasil uji klinis CSPPT di Tiongkok yang membuktikan bahwa suplementasi asam folat dapat menurunkan insidens penyakit kardiovaskuler dan stroke[6]. Walaupun demikian, suplementasi asam folat ataupun vitamin B kompleks tidak berkaitan dengan penurunan tingkat kematian total maupun spesifik terkait penyakit kardiovaskular[4].

Inklusi sampel penelitian CSPPT di Tiongkok ke dalam analisis tinjauan sistematik, merupakan salah satu keunggulan penelitian tersebut. Pada wilayah dengan tingkat fortifikasi asam folat yang masih jarang seperti Tiongkok, adanya bukti manfaat suplementasi asam folat terhadap penurunan risiko kardiovaskuler dan stroke adalah terobosan dalam bidang pencegahan penyakit kardiovaskuler melalui pemberian suplemen vitamin. Namun, pertanyaan baru dapat muncul terkait seberapa jauh hal tersebut merefleksikan luaran yang serupa di negara maju yang diketahui memiliki tingkat asupan asam folat yang cukup tinggi melalui diet harian. [4].

Studi lain oleh Joonseok et al melakukan pencarian komprehensif terhadap penelitian kohort prospektif dan uji klinis yang mempelajari hubungan antara penggunaan multivitamin dan mineral terhadap luaran kardiovaskuler. Dari metode penelusuran yang dilakukan, didapatkan 18 penelitian yang memenuhi kriteria inklusi [5].

Secara umum, analisis mereka menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara suplementasi multivitamin dan mineral terhadap tingkat kematian spesifik terkait penyakit kardiovaskuler, sindrom koroner akut, stroke, maupun insidens stroke. Analisis subgrup berdasarkan karakteristik tertentu seperti masa pemantauan, rerata usia partisipan, jenis kelamin, lama konsumsi multivitamin, riwayat penyakit jantung koroner sebelumnya, gaya hidup, serta lokasi penelitian tidak menunjukkan kaitan antara suplementasi multivitamin terhadap tingkat mortalitas penyakit kardiovaskuler. Sementara itu, konsumsi multivitamin berkaitan dengan penurunan minimal insidens sindrom koroner akut, tetapi hasil ini tidak signifikan setelah dilakukan analisis subgrup [5].

Tinjauan sistematik Joonseok et al unggul dalam hal jumlah sampel yang tercakup dalam meta analisis, durasi pemantauan yang cukup panjang (rerata 12 tahun), metode statistik yang menyeluruh dalam menilai heterogenitas antar studi, serta menelisik kaitan antara multivitamin dan beberapa luaran kardiovaskuler yang spesifik. Namun, masih terdapat beberapa potensi keterbatasan dalam penelitian tersebut. Pertama, belum ada suatu rumusan dosis dan formulasi multivitamin yang universal pada studi yang masuk dalam sampel penelitian. Kedua, mayoritas sampel penelitian menggunakan kuesioner dalam memantau frekuensi, dosis, dan kepatuhan partisipan dalam mengonsumsi suplemen sehingga akurasi dan keandalan data terkait hal tersebut sulit dipastikan. Ketiga, inklusi studi dengan desain kohort prospektif berpotensi menimbulkan bias seleksi dan perancu[5].

Potensi Efek Samping Konsumsi Multivitamin Jangka Panjang

Potensi efek samping dari konsumsi multivitamin jangka panjang untuk pencegahan penyakit kardiovaskuler masih belum diketahui secara pasti. Kurangnya kebijakan yang sebelumnya berlaku terkait pemantauan keamanan dan kualitas produk merupakan masalah universal yang ditemukan pada hampir seluruh produk vitamin tunggal dan multivitamin. Salah satu penyebab hal ini adalah kelemahan dalam kebijakan terkait keamanan prapemasaran suatu suplemen diet meskipun surveilans pascapemasaran dan pemantauan efek samping melalui suatu sistem pelaporan telah diterapkan[7].

Sejak munculnya rekomendasi US Preventive Service Task Force (UPSTF) tahun 2006, terjadi perubahan peraturan di lingkungan FDA yang mewajibkan pencatatan dan pelaporan seluruh efek samping kepada FDA. Selain itu, penerapan mandatori kepada FDA untuk memperketat praktik manufaktur yang baik bagi produsen multivitamin dan menarik produk makanan yang mengandung suplemen yang dianggap berpotensi membahayakan kesehatan[3].

Terlepas dari kekurangan yang ada terkait pemantauan efek samping penggunaan multivitamin, Sesso et al melaporkan bahwa tidak terdapat gejala gastrointestinal, keluhan lelah, pusing, perubahan warna kulit, dan migrain yang signifikan terkait penggunaan multivitamin. Dibandingkan dengan plasebo, produk multivitamin berpotensi meningkatkan risiko kejadian ruam kulit dan epistaksis. Namun, hasil analisis tersebut dibatasi oleh karakteristik populasi penelitian yang terdiri dari dokter, berkewarganegaraan Amerika Serikat, berusia rerata 64 tahun. Uji klinis serupa pada populasi lain seperti wanita, kelompok usia yang lebih muda, populasi multiras, dengan periode pemantauan yang lebih lama mungkin diperlukan untuk memperlihatkan potensi masalah kesehatan yang bisa ditimbulkan akibat suplementasi multivitamin dalam pencegahan penyakit kardiovaskuler[8].

Kesimpulan

Dari berbagai studi yang ada dapat disimpulkan bahwa belum terdapat bukti yang cukup untuk mendukung penggunaan multivitamin untuk mencegah penyakit kardiovaskuler maupun menurunkan tingkat kematian akibat penyakit kardiovaskuler. Sejumlah bukti dari meta analisis pada populasi terbatas menunjukkan bahwa konsumsi asam folat tunggal maupun dengan kombinasi bersama vitamin B, B6, dan B12 dapat menurunkan risiko stroke dan penyakit kardiovaskuler. Sementara itu, konsumsi B3 dan antioksidan dapat berpotensi meningkatkan risiko kematian sehingga keamanan penggunaannya perlu dipertimbangkan lebih lanjut.

Sejauh ini belum ada penelitian yang menegaskan efek samping konsumsi multivitamin jangka panjang untuk pencegahan penyakit kardiovaskuler. Walaupun demikian, sebuah uji klinis pada populasi individu pria dewasa menunjukkan bahwa konsumsi multivitamin tidak meningkatkan efek samping tertentu seperti gangguan pencernaan, lelah, pusing, diskolorasi kulit, dan migrain. Namun, berisiko meningkatkan kejadian ruam kulit dan epistaksis pada populasi tersebut. Uji klinis lanjutan perlu dilakukan untuk melihat apakah efek samping tersebut juga ditemukan pada subgrup populasi lainnya.

Referensi